
Dengan langkah gontai Satria pun menuruti perintah istrinya untuk segera ke kamar mandi membersihkan dirinya.
Setelah menuntaskan ritual mandinya, Satria segera keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Menampilkan dada bidangnya.
Saat dirinya masuk ke dalam kamar tidurnya, istrinya sangat asik dengan handphone yang berada ditangannya itu hingga tidak menyadari kehadiran dirinya. Raina sudah terlihat cantik dengan sedikit polesan make up natural diwajah nya, dengan hanya menggunakan kaos dan celana jeans membuat perempuan yang sudah berstatus sebagai seorang istri dan seorang ibu dengan satu anak itu terlihat masih seperti gadis yang belum menikah.
"Cantik sekali istriku." puji Satria yang kini sudah berdiri diujung kasur.
Raina mengangkat kepalanya dan memandang ke arah suaminya yang masih bertelanjangkan dada itu.
"Terimakasih, Ayah." Raina tersenyum pada suaminya dan terpancar semburat merah muda dikedua pipinya.
"Bayar!" Satria mengulurkan telapak tangannya meminta imbalan pada Raina layaknya seorang anak kecil.
"Bayar? Bayar apa?" Raina mengernyitkan dahinya merasa bingung dengan permintaan suaminya itu.
"Iya, bayar. Karena Ayah sudah memuji Bunda, jadi Bunda harus membayarnya. Karena kata pujian Ayah itu tidak gratis." jawab Satria.
"Apaan sih, Yah? Gak jelas banget deh, masa muji aja minta di bayar? Ayah pamrih banget, sih?" Raina menggelengkan kepalanya saat mendengar jawaban dari suaminya.
"Hehehe, biarin. Tapi, Ayah gak mau dibayar pakai uang lho, ya?" Satria kembali membuat istrinya itu mengernyitkan dahinya karena bingung.
"Jadi, Ayah mau dibayar pakai apa?" tanya Raina yang sudah meletakkan handphonenya diatas kasur dan fokus dengan suaminya yang terlihat begitu manja hari itu.
"Ini." Tunjuk Satria pada bagian-bagian diwajahnya yang dimulai dari dahi hingga ke bibirnya, dia meminta sebuah ciuman dari sang istri sebagai imbalannya karena dirinya sudah memuji istri cantiknya itu.
Raina terkekeh geli melihat tingkah suaminya yang sangat manja kali ini, Raina pun beringsut dari tempat duduknya menghampiri sang suami dengan wajah yang masih tersenyum-senyum. Raina setengah berdiri dengan lutut sebagai penopang tubuhnya diatas kasur saat sudah dekat dengan suaminya.
__ADS_1
Dengan senyum yang masih terukir disudut bibirnya, Raina pun melingkarkan kedua tangannya dileher suaminya itu. Raina melakukan apa yang diminta sang suami, yang kata suaminya adalah sebagai bentuk pembayaran. Raina mulai mencium kening suaminya, dilanjut kedua mata, kedua pipi, hidung dan terakhir, Raina mendaratkan ciuman lembut dibibir tipis sang suami.
Sebelum sang suami benar-benar membalas lebih dalam mencium bibirnya, dengan cepat Raina melepas ciumannya, lalu mencubit pinggang suaminya dengan gemasnya.
"Aw, kenapa Ayah dicubit?" tanya Satria yang mengaduh kesakitan.
"Itu bayaran, karena Ayah sudah mulai nakal lagi. Sudah sana cepat pakai pakaian Ayah, terus kita ke rumah ibu. Bunda sudah kangen sekali dengan Al, tadi kurang puas meluknya dirumah sakit siang tadi." jawab Raina, sambil mendorong tubuh suaminya itu agar segera bergegas bersiap-siap.
Satria pun melakukan perintah sang istri tanpa bantahan lagi. Sengaja Raina menghentikan aksinya tadi sebelum suaminya melakukan serangan yang kedua. Raina pun tertawa dalam hati karena mengingat tingkah konyol suaminya itu.
"Kalau berdua seperti ini, kita seperti pacaran ya, Bun?" ucap Satria yang sedang mengenakan pakaiannya.
"He'em." Hanya deheman dari Raina menandakan setuju dengan ucapan suaminya itu.
Setelah beberapa menit menunggu, mereka pun sudah bersiap untuk menuju ke rumah ibu Riska, ibu kandung dari Raina itu dan nenek dari Al serta mertua untuk Satria.
"Sudah sampai, ayo turun." ucap Satria mengingatkan istrinya.
"Iya, Yah. Ini juga memang sudah mau turun." balas Raina yang sudah melepas pelukannya dan turun dari sepeda motor tersebut.
"Masih pengen peluk Ayah, ya?" gida Satria.
"Ih, kepedean deh." Raina meletakkan helm nya diatas sepeda motor suaminya itu dan langsung melangkah menuju pintu rumah ibunya.
Tak lama setelah Raina mengetuk pintu dan mengucapkan salam, pintu rumah itu pun terbuka. Berdiri seorang bocah kecil yang tak lain adalah Al disamping kaki pamannya.
"Unda, Unda, (bunda, bunda)" panggil bocah itu saat melihat kedatangan Raina dan langsung maju serta memeluk kaki bundanya dan meminta untuk segera digendong.
__ADS_1
Dengan senang hati Raina langsung meraih tubuh Al dan menggendongnya. Begitu pula dengan Satria yang melihat Al begitu menggemaskan langsung menghujami bocah itu dengan ciuman, meski Al sudah menolak untuk dicium oleh Satria, namun ayah sambungnya itu terus saja makin menciumi pipi tembam Al yang menggemaskan.
Mereka pun masuk ke dalam rumah itu bersama.
"Assalamualaikum ...." ucap Raina dan Satria kembali mengulang salam ketika sudah sampai di ruang keluarga.
"Walaikumsalam ...." jawab Aldo yang lagi menonton televisi, serta suara jawaban salam dari Ibu Riska yang sedang berada didapur.
"Adek turun dulu ya, Bunda mau ke belakang datangin nenek. Al sama ayah dulu disini." ucap Raina pada anaknya itu.
Namun Al sama sekali tidak ingin turun dari gendongan sang bunda. Alhasil, dengan segala macam rayuan dari sang ayah akhirnya bocah laki-laki itu pun mau ikut dengan ayahnya.
Raina segera menuju ruang makan dan dapur yang menjadi satu itu. Disana ibu Riska terlihat sedang mengaduk-aduk masakan dikuali.
"Masak apa, Bu? Sini, biar Raina bantuin." tanya Raina yang langsung mengambil alih pekerjaan ibunya.
"Itu ibu masak pakcoy cah udang kesukaanmu. Entah kenapa ibu ingin sekali masak itu, ternyata benar feeling ibu, kamu datang kesini juga." tutur Ibu Riska.
Raina hanya tersenyum mendengar jawaban sang ibu. Ikatan batin, mungkin itu yang dirasakan seorang ibu dengan anaknya. Raina terdiam sejenak lalu kembali melanjutkan aktifitasnya.
Setelah dirasa sudah mateng, Raina pun menyajikan sayur tumis itu diatas piring dan meletakkan nya diatas meja makan yang juga sudah tersedia ikan nila goreng dan juga perkedel jagung sebagai pelengkapnya.
Tak lama kemudian, adzan maghrib pun berkumandang. Semua langsung bersiap untuk menunaikan kewajiban tiga rakaat itu. Mereka pun memutuskan untuk sholat berjamaah dirumah. Berhubung ada Raina yang jarang sekali datang ke rumah itu.
Setelah selesai, ibu Riska langsung mengajak anak-anaknya serta menantunya untuk makan malam bersama. Tentu saja, tak ada penolakan dari Raina mau pun Satria. Mereka semua makan dengan khidmat. Begitu pula dengan Al yang ikut makan disamping bundanya dengan menu yang lain. Hanya dengan nasi putih dan suiran-suiran ikan serta kuah sayur sop menjadi menu makanannya. Karena sejak umur setahun anak lelaki tersebut sama sekali tidak mau makan sayur, jadi pintar-pintarnya Raina mengakali makanan anaknya tersebut agar tetap mau makan sayur.
Namun, jika sang bunda ketahuan memasukkan sayuran didalam tumpukan nasinya, Al langsung memuntahkan makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya itu. Raina sampai heran dengan tingkah anaknya itu, semenjak MPASI Al sudah makan dengan bubur tim sendiri yang Raina racik dengan berbagai sayuran dan Al mau memakannya hingga habis. Tapi sekarang anaknya itu sama sekali tidak mau menyentuh sayuran.
__ADS_1
Setelah selesai makan bersama dan sedikit berbasa-basi, Raina dan Satria pun pamit pulang karena harus kembali ke rumah sakit.