Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Kenapa Diriku?


__ADS_3

Pagi yang cerah membuka awal yang baru bagi setiap manusia dipelosok bumi ini, matahari sudah membumbung tinggi seperti sebuah harapan yang harus segera dicapai. Begitu pula dengan hangat sinarnya yang mampu membakar semangat jiwa-jiwa sang pemimpi dan sang pejuang untuk meraih suatu impian serta kesuksesan.


Terus berharap, meski harus selalu terjatuh, tertatih bahkan tersungkur lebih perih. Namun, tetaplah berpegang teguh pada suatu keyakinan, pendirian serta kepercayaan bahwa mimpi dan harapan itu bisa kau raih. Meski harus menempuh jalan yang cukup terjal dan berkerikil tajam.


*******


Pagi itu, semua para lelaki sudah berangkat untuk melakukan aktivitas dan kewajibannya. Sedangkan Ibu Riska, sudah berkutat dengan kesibukannya didapur toko untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk memenuhi semua orderan kue dari para pelanggannya.


Sementara Raina bergumul dengan segala aktifitas dirumah, melakukan segala pekerjaan ibu rumah tangga semestinya. Raina tidak menyia-yiakan waktunya, jika Al masih tertidur pulas, dengan gesit Raina mengerjakan semua pekerjaannya.


Hingga suara tangisan si kecil Al menghentikan sejenak pekerjaannya yang hampir rampung. Raina beranjak dari tempat pencucian pakaian dan segera berlari menuju kamar tidurnya.


Raina terkejut saat mendapati Al yang sudah berada dilantai dengan posisi tengkurap dan menangis. Raina segera mengangkat tubuh gembul Al itu ke dalam pelukannya. Hatinya serasa hancur, saat melihat ada benjolan dikepala pelipis Al akibat terbentur ke lantai.


"Maafin, bunda ya sayang. Bunda sudah lalai dan gak bisa jagain Al dengan baik. Maafin bunda ...." Raina terus memeluk dan menciumi anaknya itu dengan isak tangis.


Namun, tangis Al hanya berhenti sejenak. Lalu kembali menangis lagi dengan kencangnya. Entah kenapa saat mendengar suara tangis Al yang semakin mengencang, Raina seperti tersulut emosi dan tanpa sadar Raina langsung meletakkan Al kembali dilantai.


Raina menghindar dari anaknya itu, Raina terus ketakutan dan menjauh dari Al. Karena dia tidak ingin bila emosinya akan terus meledak dan akan membuat anaknya itu terluka.


"Ibu ... ibu ...!" teriak Raina memanggil ibunya.


Sebenarnya ibu Riska sudah keluar dari toko saat mendengar jeritan dari cucunya, maka dirinya pun segera berlari ke dalam rumah. Ibu Riska berlari menuju kamar Raina.


Dia langsung meraih Al yang terbaring dilantai dan terus menangis.


"Ibu ... Raina takut, Bu." ucap Raina lirih.


Ibu Riska seakan tahu akan ketakutan anaknya itu, dia pun meraih tangan Raina untuk duduk disampingnya serta memberikan air minum kepada anak perempuannya itu agar lebih tenang.


"Sudah kamu jangan nangis lagi. Nih, lihat Al sudah gak menangis lagi. Coba jelaskan sama ibu kenapa Al menangis dan kamu sampai histeris ketakutan seperti ini?" Ibu Riska mencoba berbicara setenang mungkin agar Raina tidak kembali takut.


"Raina, sudah lalai. Raina gak bisa jaga Al dengan baik, Bu. Al jatuh dari kasur dan lihat ini, dia terluka, Bu." Raina menunjukkan pelipis Al yang sudah membengkak dan kebiruan.


"Gak apa-apa, nanti kita obati Al, biar dia tidak sakit lagi. Terus, apa yang kamu takutkan?" Ibu Riska kembali bertanya dengan tenang.

__ADS_1


"Gak tahu, Bu. Raina gak ngerti apa yang terjadi dengan diri Raina. Tiba-tiba Raina ingin marah pada Al yang terus menangis, Raina gak suka dengar suara tangisan Al, Bu. Kepala Raina rasanya sakit dan ingin pecah bila mendengar Al menangis dengan menjerit-jerit seperti tadi. Raina memilih untuk menghindar dari Al, Bu. Raina takut, jika Raina akan berbuat sesuatu yang akan menyakiti Al." jawab Raina yang kembali menangis.


"Sudah, gak apa-apa. Kamu harus tenangkan dirimu, banyak-banyak beristighfar jika rasa amarah mulai menguasai dirimu." Ibu Riska berbicara setenang mungkin sembari mengelus punggung Raina.


Bukan sekali Raina seperti ini, ini kedua kalinya ibu Riska mendapati anak perempuannya bersikap seperti ini. Ada kekhawatiran dihatinya melihat perubahan sikap anaknya setelah melahirkan. Meski pun, untuk yang kedua ini Raina lebih memilih menghindar dari anaknya tapi tidak menutup kemungkinan Raina akan melakukan hal diluar kesadarannya yang akan melukai anaknya sendiri.


"Apa mungkin Raina stres dan depresi pasca melahirkan, ya?"


Mengingat anaknya yang selalu mendapati masalah hingga kini, Ibu Riska jadi berfikir jika masalah yang dihadapi anaknya berdampak pada psikis Raina.


Ibu Riska menatap sendu pada Raina yang kini mulai tenang dan sudah mulai menyusui anaknya itu.


"Rai, nanti kita bawa Al berobat, ya?" ajak Ibu Riska.


"Iya, Bu." Raina menyetujui ajakan ibunya.


Sebenarnya, bukan hanya untuk mengobati Al saja, ibu Riska akan turut membawa anaknya itu untuk segera diperiksakan ke psikiater. Ia ingin anak perempuannya itu mendapat penanganan yang tepat, agar dapat terlepas dari hal-hal yang lebih berbahaya.


Tiga puluh menit kemudian, ibu Riska, Raina dan Al sudah siap untuk menuju ke rumah sakit. Setibanya dirumah sakit, ibu Riska dan Raina membawa Al terlebih dahulu untuk berobat.


"Iya, Bu. Raina ingin tahu kenapa penyebabnya Raina seperti ini. Memangnya ibu tahu, apa penyebabnya?" Raina kembali bertanya pada ibunya.


"Ibu juga tidak tahu, tapi kita akan mencari tahu pada seseorang. Apa kamu bersedia untuk menghilangkan rasa takutmu itu?" Kembali Ibu Riska mengajukan pertanyaan pada anaknya itu.


"Iya, Bu. Raina mau." jawab Raina mantap.


"Ok. Setelah obatin Al, kita akan menemui seseorang yang akan bantu kamu mengatasi ketakutanmu ini." ujar Ibu Riska yang diberi anggukan kepala oleh Raina sebagai jawaban.


Setelah Al selesai diobati, kini giliran Raina yang harus melakukan pemeriksaan dengan seorang psikiater. Ibu Riska sudah mendaftarkan nama Raina terlebih dahulu sebelum akhirnya menemui sang dokter. Dan beruntungnya dirumah sakit yang mereka tuju itu sudah tersedia layanan dokter psikolog sehingga tidak perlu ke rumah sakit lainnya.


"Bu, Raina deg-deg an." ucap Raina yang memilin ujung bajunya.


"Tarik nafasmu terus hembuskan perlahan, lakukan berulang-ulang sampai kamu merasa tenang. Ini tidak menakutkan, hanya saja dokter akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan padamu. Jawab dengan jujur apa pun yang ditanyakan oleh dokter nanti, karena itu akan membantu pemulihan untuk dirimu." ujar Ibu Riska.


"Iya, Bu." jawab Raina.

__ADS_1


Tanpa Raina sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan dirinya dilorong lain yang tidak jauh dari tempatnya.


"Bukannya itu istrinya mas Satria? Buat apa dia ke dokter psikolog?" gumam wanita itu yang tak lain adalah Erlina.


Lagi-lagi, Erlina kembali bertemu dengan perempuan yang kini telah menjadi istri dari mantannya itu.


Tak lama kemudian, nama Raina dipanggil dan Raina pun langsung masuk ditemani dengan ibu dan juga anaknya sebagai penyemangat.


Erlina mencoba mendekat ke arah ruangan yang dimasuki oleh Raina. Erlina berdiri didepan pintu untuk mencoba menguping pembicaraan orang yang berada didalam ruangan itu, namun hasilnya nihil. Tak ada satu kata pun yang dapat ia dengar.


"Hmmm, apa sebaiknya nanti aku mencari tahu dari Yumna aja, ya. Semoga dia mau menceritakan tentang pasiennya." Erlina berinisiatif untuk mencari tahu lewat sahabatnya Yumna yang bertugas sebagai dokter psikolog yang sekarang sedang menangani Raina.


Di dalam ruangan, Raina diminta untuk menceritakan awal pertama kali dia merasakan hal yang berbeda dalam dirinya.


Raina pun menuruti perintah sang dokter, Raina mulai menceritakan bagaimana dirinya merasa marah yang berlebih dan kadang hingga melampiaskan kemarahannya itu pada Al anaknya.


Sang dokter pun mendengarkan cerita Raina dengan teliti dan dengan seksama tanpa terlewat satu kata pun dari Raina.


"Apa hanya itu? Apa kah, ada hal lain misalnya sesuatu yang membuat dirimu tertekan?" tanya Yumna dokter psikolog yang menangani Raina.


Raina menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya secara perlahan.


"Katakan, jika memang harus kamu katakan. Keluarkan semua yang membuat dadamu terasa sesak. Saya akan membantumu untuk menghadapi rasa takut yang berlebih pada dirimu." ucap Yumna lagi yang mencoba meyakinkan Raina untuk berbagi kisahnya.


Bibir Raina bergetar, Raina meremas-remas kedua tangannya yang mulai berkeringat. Tatapan matanya mengarah pada ibunya yang duduk di sofa yang terletak tidak jauh darinya.


Ibu Riska mengerti dengan tatapan mata yang diberikan pada anak perempuannya itu. Dia pun menganggukan kepalanya tanda menyetujui untuk Raina bercerita.


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.

__ADS_1


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author 😜


__ADS_2