
🌹HAPPY READING🌹
"Percaya sama aku, Mas. Ini pasti fitnah. Ada orang yang sedang mencoba menghancurkan hubungan kita, Mas. Percaya sama aku," ucap Aludra lirih.
"Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana sekarang padamu, Aludra," ucap Zergan dan langsung keluar begitu saja dari ruang kerjanya.
Melihat Zergan yang pergi, Aludra langsung mengejar lelaki itu.
Rea yang melihat itu tersenyum menyeringai. "Rea dilawan," gumam wanita itu tersenyum puas.
*Flashback On*
Rea memandangi Aludra dan Grace yang akan pergi ke bilik yang mereka gunakan untuk membuat tato. Dengan sengaja, wanita itu mengikuti Grace dan Aludra dari belakang. Rea mengintip dan mendengar percakapan dua orang itu dari pintu yang tidak tertutup rapat.
Wajah Rea memerah dengan tangan mengepal mendengar Grace yang memberitahu secara tidak langsung pada Aludra bahwa dia adalah wanita yang tidak baik. "Kau berani denganku, Grace," gumam Rea tajam.
"Kita pakai hena saja, Aludra," ucap Grace yang didengar oleh Aludra. Dengan cepat, Rea pergi pergi ke bilik khusus tempat meletakkan berbagai macam tinta hena dan tato milik toko Grace.
Rea tersenyum licik. Dia memasukan campuran ke dalam tinta Hena yang akan digunakan oleh Grace untuk Aludra. "Dengan begini, henamu akan terlihat seperti tato, kakak iparku tersayang," gumam wanita itu senang setelah selesai dengan pekerjaannya.
Takut Grace akan sampai, Rea bersembunyi dibalik pintu. Senyumnya semakin mengembang ketika melihat Grace mengambil wadah yang tadi dia campurkan isinya.
Tidak ingin ketahuan, Rea segera keluar dari ruangan itu dan pergi ke biliknya untuk melukis tato di tubuhnya.
*Flashback Off*
Rea masih setia berdiri diruang kerja Zergan. Wanita itu benar-benar puas dengan perbuatannya. "Jika aku tidak bisa memiliki Bang Zergan, maka tidak ada perempuan lain yang bisa," ucapnya menyeringai jahat dengan tatapan tajam ke depan.
.....
Aludra mengejar Zergan sampai ke kamar mereka. Wanita itu terus memanggil suaminya yang sama sekali tidak mendengar apa yang dia katakan.
"Mas, demi Tuhan. Aku tidak melakukan hal yang seperti kamu tuduhkan, Mas," ucap Aludra setelah mereka berdua sampai di kamar.
Zergan berbalik. "Jangan berani membawa Tuhan, Aludra. Setidaknya itu tidak akan menambah dosa mu," jawab Zergan datar.
__ADS_1
"Apa tujuanmu memakai baju seperti itu?" tanya Zergan menatap Aludra.
"Salah jika aku memakai pakaian seperti ini di depan suamiku sendiri?" tanya Aludra sendu.
Zergan tertawa hambar. "Kau ingin memperlihatkan gambar indah itu, bukan? Kau ingin semakin menyakitiku dengan memperjelas bahwa wanita yang ada di video itu adalah dirimu, Aludra," ucap Zergan tajam.
Aludra menggeleng pelan. "Aku tidak sejahat itu, Mas. Percayalah, adikmu yang berbohong," ucap Aludra meyakinkan Zergan.
"Jangan berani menuduh orang lain hanya untuk menyelamatkan dirimu, Aludra. Jangan membuat dirimu semakin terlihat buruk," jawab Zergan membelakangi Aludra.
"Kamu mempercayai adikmu daripada aku, istri kamu Mas?" tanya Aludra sendu.
"Bukan aku yang ingin seperti ini, Aludra. Tapi kamu yang membuatku begini," jawab Zergan.
Aludra berjalan dengan kaki bergetar dan berdiri tepat di depan Zergan. Kedua mata itu saling memandang satu sama lain.
"Dia hanya adik tirimu, Mas. Tapi aku adalah istrimu," ucap Aludra berani.
"Aku tahu itu. Tapi setidaknya dia tau cara berterimakasih dengan tidak berkhianat," jawab Zergan.
Mulut Zergan tertutup rapat mendengar pertanyaan Aludra. Entahlah, hatinya sangat sulit untuk percaya pada apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Hatinya masih dibayangi oleh video-video itu.
"Aku tidak masalah jika kamu ingin menyebarkan data perusahaanku pada siapapun, Aludra. Perusahan hancur, aku masih bisa bangkit. Tapi jika hatiku, bagaimana aku bangkit jika memang tonggaknya yang sudah kamu patahkan, Aludra?" jawab Zergan sendu menatap Aludra dengan pandangan sayu.
Aludra menangis mendengar pertanyaan Zergan. Wanita itu mengangkat kedua tangannya dan mengatupkan di depan dadanya. "Aku mohon untuk kali ini percaya, bahwa wanita itu bukan aku," ucap Aludra dengan suara bergetar karena tangisnya. Kepalanya menunduk berharap sedikit kepercayaan Zergan pada apa yang dia katakan.
"Aku ingin sekali mempercayai mu, Aludra. Aku sengaja kembali memutar video biadab itu untuk mencari bukti. Aku menemukan satu kecurigaan. Saat aku ingin memastikan, kamu malah membuktikan lebih dulu bahwa wanita itu memang kamu, Aludra," jawab Zergan sendu menatap Aludra dengan mata berkaca-kaca.
Aludra mengambil tangan Zergan dan menggenggamnya lembut. "Aku bisa buktikan bahwa yang di tubuhku ini hena, Mas, bukan tato. Dan aku juga bisa membuktikan bahwa bukan aku wanita yang ada di video itu," ucap Aludra lembut menahan tangisnya.
"Jangan terlalu lama. Jangan biarkan rasaku pudar karena usahamu yang tidak bisa membuktikan semuanya," jawab Zergan pelan.
Aludra menatap lekat Zergan. "Aku takut hatiku lelah membuktikan, namun kamu tetap dengan pendirianmu yang mempercayai apa yang kamu lihat. Kamu tahu, Mas. Terkadang mata bisa mengkhianati hati untuk membuatnya terluka," ucap Aludra sendu.
Aludra mengecup pelan punggung tangan Zergan. Zergan hanya diam dan menatap sayu apa yang Aludra lakukan. "Aku tidak akan lama. Jika memang waktuku sudah habis, maka aku akan berikan kebahagiaan untuk kamu, Mas. Meskipun aku yang harus mengalah untuk kebahagiaan kita semua," lanjut Aludra lembut setelah mengecup punggung tangan Aludra.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Aludra keluar dari kamar meninggalkan Zergan sendiri yang masih berdiri mematung disana.
Aludra berhenti tepat dibalik pintu yang sudah tertutup itu. Air matanya menetes begitu saja dengan badan bergetar. Aku takut perceraian, Ya Tuhan. Bukannya aku takut karena tidak bisa hidup tanpa suamiku, tapi aku tidak mau dia mendapat penyesalan seumur hidupnya. Batin Aludra dengan mata terpejam.
Setelah menenangkan dirinya dan mengatur deru nafasnya, Aludra beralih menatap kamar Zayn. Karena jarak kamar yang dekat, Aludra bisa mendengar suara tawa Rea dan Zayn yang begitu bahagia.
"Aku ikuti permainanmu, Rea," gumam Aludra dengan tangan mengepal mengingat bagaimana raut wajah Rea yang memberikan kebohongan dengan wajah polosnya.
.....
Zergan duduk di ranjangnya dengan tatapan kosong. Perkataan Aludra dan Rea yang saling memberikan kesaksian mengenai terus terngiang di telinga lelaki itu.
"Siapa yang harus aku percayai? Hati atau pikiranku?" gumamnya bertanya pada diri sendiri.
Zergan menjambak rambutnya sendiri menghalau rasa pening yang tiba-tiba datang melanda. Satu sisi ada adik yang sangat dia sayangi, satu sisi ada seorang wanita yang sangat dia cintai. Entahlah, yang pasti sekarang, Zergan akan menunggu pembuktian yang Aludra berikan.
.....
Keesokan harinya, sikap Zergan masih saja dingin pada Aludra. Hanya di depan Zayn dia bisa bersikap manis dan benar-benar berperan menjadi suami dan Ayah yang sangat baik. Seolah diantar dia dan Aludra tidak terjadi apa-apa. Aludra mengantar Zergan ke depan rumah setelah dia selesai sarapan. Wanita itu menahan tangan Zergan yang akan menaiki mobil untuk segera pergi ke kantor. "Ada apa?" tanya Zergan pelan.
"Apa siang ini Mas ada waktu?" tanya Aludra lembut.
"Kenapa?"
"Ikut aku, Mas. Aku akan buktikan bahwa yang kemarin itu adalah hena, bukan tato," jawab Aludra.
"Aku akan pulang jam makan siang."
............
......................
Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
Kalian bisa follow Instagram aku @yus_kiz buat lihat visual dan segala perkataan indah yang berkaitan dengan novel ini 😉🤗
__ADS_1