
Selamat datang kembali teman-teman. kisah aludra dan zergan balik lagi nih, yeaaayyy!!!!
Selamat membaca dan semoga kalian selalu menikmati walau sudah lama kita tak bersatu hati. HAPPY READING!!
Zayn yang tadinya menangis kini menghentikan tangisnya dan berbalik menatap Zergan. benar saja, lelaki itu tidak bisa menahan suara tangisnya lagi saat melihat Zergan.
"Hati Zayn sakit melihat Papa seperti ini," ucap Zayn menyentuh dadanya yang terasa sesak. Anak itu sangat terluka melihat Papanya yang berjuang sendiri melawan sakit seperti ini.
"Papa baik-baik aja, nak," ucap Zergan lemah.
Zayn menggeleng. "Kalau baik, papa gak bakal tidur disini. kita akan tidur di rumah kita," jawab anak itu menggeleng tak percaya dengan apa yang Papanya sampaikan.
"Kenapa semuanya bohong sama Zayn, Papa? Gak ada yang bilang sama Zayn kalau Papa sakit. Dan mama, kenapa mama bilang kalau papa pergi kerja jauh, kenapa Mama juga ikutan bohong? Mama yang selalu ajarin Zayn untuk gak bohong kan? Lalu kenapa mama sendiri yang kasih contoh sama Zayn?" tanya Anak itu menuntut menatap Aludra.
Aludra menggeleng, wanita itu tak kuasa menahan tangisnya mendengar apa yang Zayn katakan. "Bukan gitu maksud mama, Nak," ucap Aludra menangis.
"Lalu apa?" tanya Zayn lagi.
"Zayn, jangan bicara seperti itu sama mama, Nak. Zayn buat mama sedih," ucap Zergan memperingati anaknya.
"Zayn juga sedih, papa," jawab anak itu sendu. Sungguh, Zayn paling tidak suka jika kedua orang tuanya berbohong seperti itu.
"Zayn cuma berharap, jika nanti Zayn dewasa, Zayn gak kayak Mama dan Papa," ucap Zayn dan segera turun dari kursi. anak itu kembali berlari ke kasur yang tadi dia tiduri dan merebahkan dirinya dengan posisi memunggungi kedua orang tuanya.
"Zayn," panggil Aludra lirih.
__ADS_1
Zergan memejamkan matanya. Sungguh, hatinya sakit mendengar apa yang Zayn katakan, tapi semua ini bukan salah anaknya, jika dia jadi Zayn, mungkin Zergan juga akan merasakan kekecewaan yang sama dan mungkin akan lebih marah dari ini.
"Mas," panggil Aludra mengadu pada Zergan.
"Bantu aku bangun, Sayang," ucap Zergan meminta bantuan Aludra.
"Apa tidak apa-apa semua ini dibuka?" tanya Aludra menunjuk semua kabel yang menempel di dada Zergan.
Zergan menghela nafas pelan. "Maaf," ucap Zergan menatap Aludra sendu. Jika saja semua kabel ini bisa dilepaskan, maka sudah Zergan lepaskan dari tadi, tapi dia harus tetap memasangnya saat malam hari.
"Biar aku yang bujuk Zayn, mas istirahat aja, ya," ucap Aludra lembut.
"Sekali lagi maaf, Sayang," ucap Zergan yang dianggukki oleh Aludra.
Aludra menghela nafas, tangannya bergerak menghapus air mata yang tadi mengalir membasahi pipinya. Dengan perlahan kaki Aludra berjalan mendekati Zayn.
Zayn diam, anak itu masih dengan posisinya memunggungi Aludra.
"Maaf atas kebohongan ini, Nak. Tapi mama punya alasan, untuk itu semua. Mama cuma mau Zayn jagain mama di rumah, dan Papa fokus berobat disini, nak. Kalau Zayn juga ikut jagain Papa disini, terus yang jagain mama sama adik dirumah siapa? waktu itu mama gak bisa ikut karena kesehatan adik di dalam perut lagi gak baik, Nak," ucap Aludra mencoba memberi penjelasan kepada Zayn.
"Dan juga, ada beberapa alasan, Nak. Ada alasan kenapa Mama dan yang lainnya gak kasih tahu Zayn. Mama tahu mama salah, nak. Mama salah karena udah buat Zayn kecewa, tapi jangan marah sama Mama sama Papa, Mama sedih kalau Zayn kayak gini," ucap aludra mengusap punggung anaknya.
Zayn bergerak. Dengan perlahan anak itu berbalik menatap sang mama. Zayn mengubah posisinya menjadi duduk agar lebih nyaman saat bicara dengan Aludra.
"Maaf," ucap anak itu dan memeluk tubuh Aludra.
__ADS_1
"Mama juga minta maaf ya, Nak," ucap Aludra mengusap lembut rambut Zayn.
"Jangan bohong lagi ya, Ma?" tanya Zayn menengadah menatap sendu pada anaknya itu.
Aludra mengangguk dan memberi senyum kepada sang anak. "Kita jaga Papa sama-sama disini, ya?" tanya aludra lembut.
"Pasti! Zayn pasti jaga Papa sampai sembuh," ucap anak itu semangat.
Zergan yang melihat itu ikut tersenyum. dia bersyukur karena anaknya bisa diberi pengertian dengan mudah, tidak sepertinya yang suka melakukan kecerobohan.
.....
Wira menatap kosong televisi di depannya. Saat ini, bukan wira yang menonton televisi, tapi malah sebaliknya. Ini sudah larut malam, tapi lelaki itu masih terjaga.
"Kenapa?" tanya Anwar yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.
Wira menggeleng pelan. lelaki itu kembali meneguk minuman kaleng yang ada di tangannya.
"Kau cocok dengan wanita itu?" tanya Anwar duduk disebelah Wira.
Wira menghela nafas pelan. "Bibirku mungkin bisa mengatakan cocok, tapi tidak dengan hatiku, Ayah. Sulit sekali."
...----------------...
Bagi yang lupa kalian boleh baca bab sebelumnya dulu biar rasanya nyampe ke hati menusuk jiwa yaaa, hehe.
__ADS_1
Peluk jauh dari Nona Marwa dan enjoy your reading 🤗🥰