
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗
🌹HAPPY READING🌹
Zergan yang mendengar itu hanya tersenyum dan mengangguk. Ada yang nggak beres. Batin Zergan yang tidak mau bertanya lebih lanjut lagi. Jika bertanya sekarang, maka itu bisa membuat Aludra bingung dan menyulitkan wanitanya.
"Eh tapi aku ingat, Mas," ucap Aludra tiba-tiba.
"Apa Sayang?"
"Di swalayan kemarin, aku ketemu Papa dan Rea, Mas," ucap Aludra memberitahu apa yang dia ingat pada Zergan.
"Memang Papa disini, Mas? Kenapa gak nyamperin kita?" tanya Aludra bingung dengan raut wajah polosnya.
Papa disini? Bukankah kemarin saat telponan sama Mama, mama bilang Papa lagi disana? Batin Zergan.
Kemarin sore memang Zergan menelpon Mamanya karena memang sudah rindu dengan wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya dengan sangat baik itu.
"Mungkin Papa kangen sama anak bungsunya, Sayang," ucap Zergan menjawab santai agar Aludra tidak bingung.
"Kamu tahu Papa disini, Mas?" tanya Aludra menengadah menatap Zergan.
Zergan dengan sedikit ragu mengangguk. "Kemarin papa ngabarin kalau dia akan kesini," jawab Zergan.
Aku harus memastikan semua ini. Batin Zergan. Jika memang ada yang tak beres, berarti ada main dalam keluarganya sendiri.
"Kamu nggak ajakin Papa ke rumah, Sayang?" tanya Zergan lagi.
Aludra mengangguk. "Udah, Mas. Tapi kami bertiga minum dulu di tempat duduk swalayan yang diluar itu lho. Kami minum dulu, ngopi bertiga. Padahal aku minum kopi lho Mas. Tapi tetap aja ngantuk. Papa yang telepon kamu kemarin buat jemput aku di swalayan, Mas?" tanya Aludra bercerita dengan wajah polosnya.
Zergan lagi-lagi hanya mengangguk. Dia tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada tubuh Aludra.
Aludra tersenyum melihat Zergan yang mendekapnya begitu penuh dengan cinta. Sungguh, Aludra sangat cinta sekali dengan lelaki ini. Lelaki yang membawa hidup Aludra dari kelam menjadi gelap. Rasanya, setiap susah yang dilalui oleh Aludra dulu, kini dibalas oleh semua Kebahagiaan yang diberikan oleh Zergan.
Rasanya aku lupa gimana caranya sedih dan menangis, Mas. Batin Aludra jujur dengan apa yang dia rasakan.
Saat asik dengan pelukan mereka, ponsel Zergan yang berada diatas meja sebelah ranjang berdering.
Dua kali.
Tiga kali.
Empat kali.
__ADS_1
"Angkat dulu, Mas," ucap Aludra.
"Biarin, Sayang. Paling Wira," jawab Zergan malas.
"Karena itu Kak Wira. Pasti ada hal penting hingga dia telepon kamu berkali-kali gitu. Biasanya mana pernah dia nelpon kamu sampai sebanyak itu," ucap Aludra dengan tujuan agar Zergan paham bahwa mengangkat telepon itu penting.
Zergan berdecak kesal. Lelaki itu melonggarkan sedikit pelukannya pada Aludra tanpa melepaskannya. Sehingga tubuh mungil Aludra ikut terbawa kesamping.
Zergan menekan tombol hijau.
"Ke perusahaan sekarang! Data bocor!"
Tut. Tut. Tut.
Tanpa mendengar apa yang Zergan akan katakan, Wira langsung memutus sambungan teleponnya begitu saja.
Zergan yang mendengar itu buru-buru kembali memeluk Wira untuk mendapat penjelasan. Namun, nomor lelaki itu tengah sibuk. Mungkin dia menelpon pihak lain untuk mengatasi apa yang sedang terjadi.
"Aku harus segera ke kantor, Sayang," ucap Zergan melepaskan pelukannya dari Aludra dan langsung turun dari ranjang.
Aludra mengernyit heran melihat Zergan yang nampak. buru-buru.
"Kamu boleh buru-buru, tapi jangan lupa buat hati-hati, Mas," ucap Aludra ketika melihat Zergan mengambil baju dari walk in closet dengan sembarangan.
"Buru-buru, Sayang. Ada sedikit masalah di kantor," jawab Zergan.
Mendengar jawaban Zergan, Aludra ikutan panik. Bahkan wanita itu lupa dengan nasehat yang diberikan pada Zergan agar lelaki itu hati-hati.
Setelah selesai berkemas, Zergan segera berangkat ke kantornya.
Aludra yang melihat itu menatap cemas mobil Zergan yang hilang dari pandangannya. "Semoga nggak terjadi apa-apa," gumam Aludra berdoa.
.....
Sedangkan di perusahaan, Wira nampak sangat kelimpungan mengahadapi semuanya sendiri. "Zergan kenapa lama banget sih. Mantap-mantap dulu ini pasti," gerutu Wira kesal.
Tangan laki-laki itu nampak sangat lihat di atas keyboard laptopnya. "Apa kamu sudah menghubungi Zergan, Rea?" tanya Wira pada Rea yang juga nampak panik disebelahnya.
"Nggak diangkat, Kak," jawab Rea.
Wira mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Zergan. Pada dering ke empat, baru teleponnya diangkat.
"Ke perusahaan sekarang! Data bocor!"
Tut. Tut. Tut.
Wira langsung memutus sambungan teleponnya setelah mengakan inti dari permasalahannya.
"Aku akan coba telepon Ayah," gumam Wira.
Rea yang mendengar itu langsung menghentikan gerakan tangan Wira pada ponselnya. "Jangan, Kak! Kita coba tunggu Bang Zergan dulu," ucap Rea cepat.
__ADS_1
"Ini harus diurus cepat, Rea," jawab Wira.
"Bang Zergan nggak bakal suka kalau keputusannya dilangkahi, Kak," ucap Rea mengingatkan Wira.
Wira mendengus kesal. "Kenapa lama banget sih," gerutu Wira kesal.
Tangan kembali sibuk pada keyboard laptop mengatur pergerakan data perusahaanya itu. "Jangan sampai semua ini diketahui oleh investor," ucap Wira berdoa.
Mereka berdua benar-benar nampak sibuk. Beberapa menit, pintu ruangan Zergan terbuka.
Wira dan Rea menoleh. "Cepetan sini!" teriak Wira kesal melihat Zergan yang berjalan tergesa-gesa ke arahnya.
"Apa apa?" tanya Zergan.
"Data perusahaan pada komputer inti bocor," jawab Wira.
"BAGAIMANA BISA?!" tanya Zergan sedikit berteriak.
Zergan langsung mengambil alih laptop yang ada di depan Wira dan meletakkan di pangkuannya. Mata dan jari-jari Zergan saling berkerjasama dengan sangat lincah diatas keyboard laptop itu.
"Sudah cek CCTV ruanganku, Wira?" tanya Zergan disela kegiatannya.
Wira menggeleng. Dia langsung berjalan keluar ruangannya. Beberapa detik, laki-laki itu langsung kembali dengan satu laptop lain ditangannya.
"Periksa CCTV, Wira," titah Zergan yang langsung dianggukki oleh lelaki itu.
"Syukurlah," ucap Zergan sedikit lega.
"Kenapa Bang?" tanya Rea.
"Dia tidak sampai menyabotase data inti perusahaan," jawab Zergan.
Wira yang mendengar itu ikut menghela nafas pelan. "Setidaknya kita tidak rugi lebih banyak," ucap Wira.
"Apa sudah dapat?" tanya Zergan beralih tempat duduk disebelah Wira yang duduk di sofa sebelahnya.
Rea yang penasaran dengan rekaman CCTV ikut berpindah duduk. Jadilah Wira duduk diantara kakak beradik itu.
"Dapat," ucap Wira.
Tanpa aba-aba, Wira langsung menekan enter untuk membuka rekaman CCTV itu.
DEG
"Aludra."
................
Flashback masih panjang ya bestie, jadi sabar nunggu ya 🤗😉
Untuk visual Zergan dan Aludra, silahkan lihat di instagram aku yaaa @yus_kiz
__ADS_1
Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga setiap ikhlas menjadi berkah, dan setiap sabar menjadi anugrah