
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗
🌹HAPPY READING🌹
"Apa kita perlu kasih tahu semua ini pada Tuan besar Fatih?" tanya Wira meminta persetujuan Zergan.
Zergan menggeleng. "Belum saatnya. Kita ikuti dulu permainan mereka. Aku akan membongkar kejahatan mereka dengan cara yang sangat menjijikan. Rasa malu tidak akan bisa mereka hindari ketika saatnya nanti semua terbongkar," jawab Zergan menatap tajam ke depan.
Wira yang mendengar perkataan Zergan mengangguk setuju. Mungkin memang harus dengan sandiwara begini untuk melawan apa yang sudah dilakukan oleh Adam dan Rea.
"Jangan lupa nanti untuk tetap meminta Aludra datang kesini. Aku ingin kau yang mengatakan pada Aludra untuk datang kesini," ucap Zergan tetap pada rencana mereka.
Wira mengangguk. "Baiklah," jawab Wira patuh.
.....
Aludra duduk di taman depan rumah sambil menatap Zayn yang sibuk bermain dengan para kelincinya bersama salah satu anak tetangga mereka yang suka bermain dengan Zayn.
Karena tidak mau bosan, Aludra menyibukkan a diri dengan bermain ponsel. Saat akan membuka aplikasi sosial media dari ponselnya, ponsel Aludra berdering dan menampilkan nama Wira di layar.
"Kak Wira, ada apa?" gumam Aludra bertanya.
Tanpa pikir panjang, Aludra langsung menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan Wira.
"Assalamu'alaikum, Kak Wira," ucap Aludra lembut.
Wira dan Zergan yang masih berada di mobil Wira saling tatap ketika mendengar suara Aludra yang menjawab telepon.
Zergan berdecak malas. Dia sangat kesal sekali ketika Aludra berbicara lembut dengan lelaki lain selain dirinya.
Wira yang melihat kelakuan Zergan hanya terkekeh pelan. "Waalaikumsalam, Aludra. Apa siang ini kamu sibuk atau ada kegiatan lain?" tanya Wira.
Aludra diseberang sana menggeleng meskipun Wira tidak melihatnya. "Tidak ada, Kak. Aku hanya bermain dengan Zayn. Ada apa Kak?" tanya Aludra menjawab.
"Nanti akan ada sopir perusahaan yang menjemputmu. Kamu sekarang bersiap-siaplah untuk kesini," ucap Wira memberitahu.
Dahi Aludra berkerut. "Kenapa bukan Mas Zergan yang masih tahu, Kak? Apa terjadi sesuatu? Mas Zergan baik-baik saja kan?" tanya Aludra sedikit khawatir. Karena biasanya, dalam hal ini Zergan yang selalu menelponnya untuk datang.
Zergan menggeleng.
"Tidak terjadi apa-apa, Aludra. Sekarang kamu bersiaplah," ucap Wira dan langsung memutus sambungan teleponnya dengan Aludra.
__ADS_1
Wira dan Zergan menghela nafas pelan. Zergan menyandarkan tubuhnya di kursi mobil sambil mengirup nafas pelan.
"Apa yang kau cemaskan?" tanya Wira menatap Zergan.
"Semuanya," ucap Zergan pelan.
"Adam Bailey sangat menyayangi Aludra, yang aku tahu begitu. Dan sebaliknya juga, Aludra menyayangi Adam Bailey layaknya Ayah kandung sendiri. Aku tidak tahu bagaimana nanti semua terjadi jika Aludra tahu semua ini. Entah bagaimana hancurnya hati istriku," ucap Zergan sendu.
Wira yang mendengar perkataan Zergan menatap iba temannya itu dari samping. Harusnya kau yang harus dicemaskan, Zergan. Semua orang terdekatmu memberikan sakit dari sebuah pengkhianatan. Batin
Wira iba.
"Kau iba padaku, Wira?" tanya Zergan tanpa menolehkan pandangannya.
Wira terkekeh pelan. "Sedikit," jawab Wira seadanya.
"Jangan iba padaku, Wira. Aku bisa mengendalikan sakit dan lukaku. Dan jangan lupa untuk kirimkan sopir perempuan pada Aludra," ucap Zergan dan langsung keluar dari mobil.
Wira menatap punggung Zergan yang menjauh dari balik kaca mobilnya. "Dia terlalu memaksa untuk kuat," gumam Wira peduli.
.....
Aludra mengernyit heran ketika sambungan telepon di tutup begitu saja oleh Wira.
"Ada apa ya? Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk," gumam Aludra khawatir.
Aludra mengangkat kepalanya dan menatap Zayn. "Zayn!" panggil Aludra sedikit berteriak.
"Kesini sebentar, Nak," ucap Aludra lembut.
Dengan patuh anak itu mengangguk dan berlari mendekati Aludra.
"Kenapa, Ma?" tanya Zayn setelah sampai di depan Aludra.
"Mama ada perlu ke kantor Papa, Sayang. Zayn mau ikut?" tanya Aludra.
Zayn menggeleng. "Zayn mau main aja, Ma. Kan ada teman juga," jawab anak itu menolak.
Aludra hanya mengangguk saja. Dia bersyukur anaknya tidak meminta ikut.
"Kalau begitu nanti Mama akan pulang cepat, ya. Zan. nanti main sama Bibi kalau temannya udah pulang, ya," ucap Aludra lembut.
"Oke Ma," jawab Zayn patuh dan kembali bergabung dengan teman kompleknya.
.....
Aludra dengan sedikit khawatir menatap jalanan ibu kota yang begitu padat. Jelas sekali dari mata wanita itu bahwa saat ini hatinya sangat tidak tenang. Berkali-kali dia mencoba untuk menelpon Zergan, tapi tidak diangkat oleh lelaki itu.
"Mbak," panggil Aludra pada sopir perempuan yang menjemputnya.
__ADS_1
"Iya Nyonya," jawab sopir itu lembut.
"Apa di perusahaan baik-baik saja? Tidak ada masalah kan?" tanya Aludra tak sabaran.
"Setahu saya semua baik-baik saja, Nyonya," jawab sopir itu sekenanya.
"Ah, baiklah," jawab Aludra yang tidak bertanya lebih jauh lagi.
Sepuluh menit, mobil yang Aludra tumpangi sampai di perusahaan. Aludra segera turun dan berjalan dengan sedikit tergesa menuju lift untuk sampai di ruangan suaminya. Bahkan Aludra sampai tak mengindahkan sapaan para karyawan Zergan.
Ting.
Lift berbunyi. Aludra segera keluar lift dan berjalan lurus menuju ruangan Zergan yang ada di depan matanya. Tiba-tiba hatinya terasa tak karuan dan jantung yang berdegup kencang.
Sebelum masuk, Aludra lebih dulu untuk mengetuk pintu ruangan Zergan.
Setalah mendengar perintah masuk, Aludra segera membuka pintu.
"Mas," ucap Aludra ketika masuk. Pandangan tertuju pada Zergan yang duduk di kursi kerjanya dengan laptop didepannya. Serta Wira dan Rea yang duduk.di kursi seberang lelaki itu.
"Kamu sudah datang, Aludra," ucap Wira yang berdiri. Bukan Zergan. Dan itu membuat Aludra sedikit heran.
Aludra hanya mengangguk. "Mas," panggil Aludra lagi pada Zergan.
"Duduklah Aludra," ucap Zergan berdiri dari kursinya dan duduk di sofa mengajak mereka semua.
"Mas, ada apa?" tanya Aludra khawatir.
Zergan hanya diam. Rea yang melihat reaksi Zergan tersenyum senang. Ada seringai licik di bibirnya, dan itu tidak luput dari pandangan Wira.
"Tenangkan dirimu, Aludra. Ada sedikit yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Zergan membuka suara.
"Kenapa Mas?" tanya Aludra dengan suara sedikit takut mendengar suara Zergan yang berubah dingin terhadapnya.
"Jangan takut, Aludra. Aku ini suamimu, bukan orang lain," ucap Zergan terkekeh pelan.
Tapi aku merasa seperti sedang bicara dengan orang lain. Batin Aludra.
Zergan membuka laptop yang tadi ada di atas mejanya. Tangan lelaki itu tergerak untuk mencari sesuatu dan memperlihatkan pada Aludra.
"Lihat ini!"
DEG
................
Flashbacknya dikit lagi ya bestie, jadi sabar nunggu ya 🤗😉
Untuk visual Zergan dan Aludra, silahkan lihat di instagram aku yaaa @yus_kiz
__ADS_1
Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Nanti berbukalah dengan yang manis-manis ya 🤗😉 Semoga setiap ikhlas menjadi berkah, dan setiap sabar menjadi anugrah.