
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗
🌹HAPPY READING🌹
Tanpa pikir panjang, Zergan segera mengangkat panggilan itu. "Kenapa?" tanya Zergan tanpa basa-basi.
Senyum terbit di bibir Zergan mendengar info yang dia dapatkan. "Saya dan Kakek akan segera kesana."
Zergan tersenyum penuh kemenangan setelah mendapat berita dari orang kepercayaannya disana. "Maafkan aku harus menghancurkan mu seperti ini, Ayah. Tapi Kakekku lebih berhak untuk semuanya," gumam Zergan penuh kemenangan.
Zergan kembali meletakkan ponselnya di meja dan berbalik memandang Aludra yang masih tertidur. Dia menatap jam yang masih menunjukan pukul lima lewat sepuluh menit. Tanpa membangunkan Aludra, Zergan menggendong istrinya ala bridal style. Tapi sebelumnya Zergan lebih dulu membalut tubuh Aludra dengan jubah tidurnya agar tidak terlihat. Karena baju yang semalam Aludra gunakan sudah tidak berbentuk.
Zergan tersenyum senang menatap wajah Aludra terlebih dahulu. "Teman ranjang, teman cerita, teman tertawa, teman sedih, dan teman di segala kondisi. I love you, Sayangku," gumam Zergan tulus. Setelahnya dia benar-benar berjalan keluar ruangan dan menuju kamar mereka.
.....
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi. Zergan sudah kembali rapi dengan pakaian kantornya. Sedangkan Aludra masih tertidur pulas di kamarnya. Zergan sengaja tidak membangunkan istrinya karena tahu bahwa Aludra pasti sangat kelelahan karena permainan mereka semalam.
Setelah mengecup seluruh wajah Aludra, Zergan berjalan keluar kamar. Dia berjalan menuju meja makan dimana semua keluarga sudah berkumpul.
"Papa, Mama mana?" tanya Zayn tidak melihat Aludra turun bersama Zergan. Tadi Mamanya itu juga tidak membangunkannya dan tidak membantunya mandi.
"Mama masih tidur, Nak. Mama kecapean karena pulang larut kemaren malam. Biar Mama istirahat dulu, ya," ucap Zergan yang dibalas anggukan oleh Zayn. Anak itu sama sekali tidak ada rasa curiga dengan Zergan.
Tapi lain hal dengan Mama Ana dan Kakek Fatih.
"Pulang larut malam," ejek Mama Ana. Padahal semalam mereka pulang jam sepuluh malam dari konferensi pers. Dan itu bukanlah waktu yang cukup malam untuk tinggal di ibukota seperti ini.
"Pulang larut malam atau main ditengah malam," tambah Kakek Fatih dengan santai.
Zergan hanya tersenyum. Dia saat ini sedang senang-senangnya, jadi dia tidak akan membiarkan ejekan mamanya dan Kakek Fatih mempengaruhi moodnya.
Selesai sarapan, Aludra juga belum menunjukan kehadirannya.
"Ma, nanti minta Bibi untuk mengantar sarapan ke kamar, ya. Biar Aludra istrinya dulu," ucap Zergan selesai menyesap kopinya dan bersiap-siap pergi ke kantor.
Mama Ana mengangguk. Zergan dan Kakek Fatih pergi ke kantor. Hari ini Zergan akan memberikan sedikit kejutan yang akan menjadi sedikit obat untuk setiap sakit hati Fatih karena Adam.
.....
__ADS_1
Dua puluh menit, Zergan dan Kakek Fatih sampai di AluZer Corp. Zergan mengendarai mobilnya sendiri kali ini. Kedua lelaki dengan usia yang berbeda itu berjalan tegas penuh percaya diri. Kaki mereka melangkah lebar dengan serentak.
"Ayo Kakek," ucap Zergan mengajak Fatih memasuki ruangannya setelah mereka sampai di lantai paling tinggi.
Fatih hanya diam dan menurut. Mereka berdua duduk di sofa dengan Zergan yang langsung berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil laptop.
Tidak berapa lama Zergan dan Fatih sampai diruang Zergan, pintu kembali terbuka. Nampak Wira memasuki ruangan tersebut.
"Ayahmu tidak ikut?" tanya Fatih.
Wira duduk disebelah Fatih dan menggeleng. "Jarang-jarang libur, jadi lelaki tua itu menghabiskan waktu dengan ikan-ikannya diruang, Kakek," jawab Wira.
Fatih terkekeh. "Aku tidak membuat Ayahmu gila karena tidak pernah libur," jawab Fatih yang dibalas kekehan oleh Wira.
"Kakek," panggil Zergan pelan sambil membuka laptopnya.
"Hem," jawab Fatih.
"Lihat ini," ucap Zergan menyodorkan laptopnya kepada Fatih.
Mata Fatih hanya menatap lurus grafik-grafik yang terus saja bergerak. Itu hanya sebuah gambar, tapi makna gambar itu cukup membuat hatinya sedih.
"Jadi Bailey Group diambang kebangkrutan?" tanya Fatih setelah puas mengamati apa yang ada di laptop Zergan.
Zergan mengangguk. "Bahkan ini sudah terjadi sejak beberapa hari saat berita skandal itu terjadi, Kakek. Apalagi setelah konferensi pers kita kemarin, keadaan Bailey Group semakin memburuk," jawab Zergan.
Wira dan Zergan saling pandang. Wira nampak mengangguk.
"Ada satu cara yang sudah diambil oleh para petinggi Bailey Group, Kakek," ucap Zergan.
Fatih menoleh. "Apa?" tanya Fatih menatap Zergan.
"Para petinggi meminta Adam Bailey untuk mengundurkan diri sebagai pemimpin Bailey Group. Dan,,,"
"Dan apa?" tanya Fatih mendesak.
"Dan mereka meminta Kakek untuk kembali memimpin perusahaan," ucap Zergan meneruskan perkataanya.
Fatih nampak terdiam. Pandanganya lurus ke depan. Zergan dan Wira hanya bisa saling pandang. Apa yang dipikirkan oleh Fatih, hanya dia yang tahu. Lelaki itu sangat sulit untuk ditebak.
"Lalu apa keputusan Adam?" tanya Fatih setelah lama terdiam.
"Adam Bailey menyetujuinya," jawab Zergan singkat.
Fatih mendengar dengan pandangan datarnya. Dalam hati masih ada sedikit kesenangan mendengar apa yang dikatakan Zergan. Setidaknya kau masih memikirkan nasih banyak orang, Adam. Batin Fatih.
Fatih menganggukkan kepalanya. "Aku akan segera kesana. Tapi dengan satu syarat," ucap Fatih.
__ADS_1
"Apa?" tanya Zergan dan Wira serentak.
"Ajak Ana untuk ikut serta denganku. Sudah saatnya menantuku itu menunjukan taring yang sebenarnya," jawab Fatih yang membuat Zergan dan Wira saling pandang tak mengerti.
Tapi mereka hanya bisa mengangguk. Mungkin ini dan seterusnya akan menjadi urusan Mama Ana dan Kakek Fatih.
.....
Waktu terus berjalan. Jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Mama Ana yang sejak tadi tidak melihat Aludra turun menjadi heran seketika. "Tidak biasanya menantuku bangun siang seperti ini. Kelelahan pun dia akan sempat untuk bangun demi membuat sarapan," gumam Mama Ana curiga.
Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Mama Ana memutuskan untuk pergi ke kamar Aludra. Dia harus memastikan sendiri jika Aludra benar-benar tidur.
Tanpa mengetuk pintu, Mama Ana langsung masuk. Dan benar saja, Aludra masih memejamkan mata di tempat tidur.
Mama Ana berjalan mendekat. Dia menyibak sedikit selimut Aludra. Mama Ana bernafas lega. Ternyata Aludra sudah memakai bajunya. Mungkin Zergan yang memakaikan bajunya tadi.
"Alu," panggil Mama Ana lembut.
"Alu bangun, Nak," ucap Mama Ana lembut sambil mengguncang tubuh Aludra dari balik selimutnya.
Merasa Aludra tidak akan bangun. Mama Ana menyentuh tubuh Aludra.
Mata Mama Ana membulat sempurna merasakan panas di telapak tangannya. "Alu bangun, Nak," ucap Mama Ana khawatir.
"ZAYN!"
"ZAYN!"
"ZAYN!" teriak Mama Ana memanggil Zayn.
"Iya Nenek," jawab Zayn berlari dari kamarnya yang berada di sebelah kamar Aludra.
"Telfon Papa kamu, Sayang," ucap Mama Ana.
"Mama kenapa, Nek?" tanya Zayn khawatir melihat Aludra yang tidak bergerak.
"Telfon Papa kamu cepat, Nak. Telfon dari telepon rumah dan tekan angka dua. Akan langsung terhubung sama Papa kamu," ucap Mama Ana panik.
"Zayn halus bilang apa?" tanya Zayn ikut bingung.
"Bilang Mama kamu pingsan."
................
Dukung novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yang lainnya. Tentunya ada info Alu dan Zergan jugaa. Terimakasih 🤗😉
__ADS_1