Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setalah Salah Paham - BAB 54


__ADS_3

Jangan lupa like


Jangan lupa komen


Jangan lupa favorit


Jangan lupa kasih vote


Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗


🌹HAPPY READING🌹


Sesuai apa yang dikatakan oleh Zergan, kini keluarga kecil itu sudah berada di dalam untuk pergi menemui Ana.


"Masih jauh ya, Pa?" tanya Zayn yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan Neneknya.


Zergan tersenyum sambil menyetir. "Sebentar lagi, Nak," jawab Zergan lembut.


"Zayn udah kangen banget sama Nenek, ya?" tanya Aludra lembut sambil mengusap rambut Zayn yang memang duduk di pangkuannya.


Zayn mengangguk. "Udah lama gak celita sama Nenek," jawab anak itu jujur.


Aludra hanya bisa tersenyum. Jujur saja, dalam hati dia terus berdoa agar Mama Ana tak bersikap dingin kepadanya. Mama Ana memang sudah menerimanya sebagai menantu, tapi sikapnya tetap dingin terhadap Aludra.


Entahlah, Aludra tak tahu kenapa. Tapi yang pasti, dia harus tetap bersikap layaknya seorang menantu pada mertua.


Zergan yang menyadari kegelisahan Aludra memegang lembut tangan wanita itu.


Aludra menoleh. "Semua akan baik-baik saja, Sayang," ucap Zergan lembut.


Aludra hanya mengangguk. Dia melepaskan tangannya dari tangan Zergan dan kembali memandang ke depan.


Zergan menghela nafas pelan. Setalah ini kamu akan menjadi kesayangan, Alu. Batin Zergan menatap lembut istrinya.


Setelahnya tidak ada lagi percakapan di dalam mobil. Aludra yang asik dengan pikirannya, Zayn yang sudah tidur di pangkuan mamanya, dan Zergan yang fokus dengan stir kemudi dan pikiran mengenai Aludra.


.....


Sepuluh menit, mobil Zergan sampai di depan rumah besar nan mewah itu. "Ayo Sayang," ucap Zergan mengajak Aludra turun.


Aludra mengangguk. "Zayn, bangun Nak. Kita sudah sampai di rumah Nenek," ucap Aludra lembut membangunkan Zayn.


Bukan hal yang sulit. Zayn langsung terbangun begitu merasakan sentuhan di kepalanya. Anak itu mengucek mata dan memandang Aludra. "Kita udah di lumah nenek, Ma?" tanya Zayn yang dianggukki oleh Aludra.

__ADS_1


"Sini Zayn gendong sama Papa," ucap Zergan dan langsung mengambil alih untuk menggendong Zayn.


"Assalamu'alaikum, Ma," teriak Zergan begitu memasuki rumah Mama Ana.


"Jangan teriak, Mas! Kamu gak lagi di hutan," ucap Aludra memperingati.


"Maaf sayang," ucap Zergan meringis menyadari kesalahannya.


Mama Ana yang sedang menata piring dan makanan di meja makan tersenyum sumringah mendengar suara lantang anaknya. Tanpa pikir panjang, wanita itu langsung berjalan menuju ruang tamu.


"Wah, kalian sudah datang," ucap Mama Ana senang.


Aludra sedikit tertegun. Untuk pertama kalinya, dia melihat Mama Ana yang tersenyum begitu tulus padanya.


Tidak ingin memikirkan yang tidak-tidak, Aludra balik tersenyum. "Mama sedang apa?" tanya Aludra lembut.


"Mama tadi baru selesai masak, Alu. Tapi masih belum selesai menatanya di meja makan," jawab Mama anak yang lagi-lagi membuat Ana terdiam.


Alu? Untuk pertama kalinya Mama Ana memanggil Aludra dengan panggilan lembut itu. Biasanya hanya Zergan dan Adam yang memanggil Aludra seperti itu. Tapi ini? Entah apapun itu, Aludra bahagia mendengarnya.


"Aludra bantu ya, Ma?" ucap Aludra menawarkan diri.


Mama Ana mengangguk. "Mama mau sama Zayn dulu, ya," ucap Mama Ana yang langsung dianggukki oleh Aludra.


"Nenek rindu sekali, Sayang," ucap Mama Ana yang sudah lama tidak bertemu dengan Zayn.


"Cucu Nenek sudah besar ya," lanjut Mama Ana mencium seluruh wajah Zayn.


"Zayn juga lindu Nenek," jawab Zayn.


Anak itu nampak melihat ke seluruh rumah. "Kakek tidak ikut pulang, Nek?" tanya Zayn yang membuat Mama Ana terdiam.


Mama Ana dan Zergan saling pandang. Pertanyaan polos dan sederhana dari Zayn mampu membuat suasana seketika terdiam.


Zergan yang menyadari itu tersenyum lembut menatap anaknya. "Kakek lagi banyak kerjaan disana, Nak. Jadi gak bisa pulang ikut Nenek. Nenek saja pulang sama Papa tadi pagi," jawab Zergan.


Zayn mengangguk mendengar jawaban Zergan. "Zayn mau keluang main dulu, ya Nek," ucap Zayn. Anak itu selalu dimanjakan dengan berbagai mainannya yang sangat banyak dirumah ini. Bahkan Mama Ana menyediakan ruangan khusus untuk tempat bermain Zayn dengan luas ruangan dua puluh kali dua puluh. Benar-benar sangat luas.


Selain merindukan Neneknya, ini lah yang Zayn rindukan. Para mainannya yang sudah lama tidak dia sentuh disini.


"Kamu sudah bicara dengan Aludra?" tanya Mama Na. begitu melihat kepergian Zayn.


"Zergan sudah menceritakan semua mengenai sandiwara itu. Tapi mengenai salah dibalik semuanya, belum bisa Zergan katakan. Zergan mau mama yang bicara pada Aludra," jawab Zergan yang membuat Mama Ana menghela nafasnya.

__ADS_1


"Nanti Mama akan bicara dengan Aludra. Bagaimanapun tanggapannya nanti, Aludra harus mengetahui semua ini. Sudah cukup semua ketidaktahuannya yang membuat dia semakin merasa menjadi orang bodoh," ucap Mama Ana sendu.


Zergan mengangguk setuju. Saat perbincangan mereka, Aludra datang untuk mengajak makan bersama karena dia telah selesai menatap makanan di meja makan.


Mama Ana dan Zergan mengangguk. Zergan terlebih dahulu memanggil Zayn untuk mengajak anak itu makan. Jika tidak dipanggil, bisa-bisa anak itu akan lupa waktu dan melupakan waktu makannya.


Semuanya makan dengan tenang. Hingga tidak terasa, mereka selesai dengan makan siang. "Kenyang," ucap Zayn mengusap perutnya.


"Bilang apa, Nak?" tanya Aludra.


"Alhamdulillah," ucap Zayn dengan senyumnya.


Zergan dan Mama Ana yang melihat itu tersenyum senang. Mama Ana membantu Aludra untuk membersihkan bekas makan siang mereka. Sedangkan Zergan pergi dengan Zayn untuk duduk diruang tamu.


"Aludra," panggil Mama Ana lembut.


"Iya Ma," jawab Aludra setelah selsai mencuci tangan di wastafel.


"Bisa ikut mama ke kamar, Nak. Ada sesuatu yang mau mama jelaskan sama kamu," ucap Mama Ana menatap lembut Aludra.


"Ada apa, Ma?" tanya Aludra bingung.


"Akan lebih baik jika di kamar mama saja. Mama tunggu ya, Nak," ucap Mama Ana dan berjalan meninggalkan Aludra menuju kamarnya.


"Ada apa, ya? Apa masih ada sesuatu yang tidak aku ketahui?" gumam Aludra bertanya-tanya.


Tidak ingin semakin penasaran, Aludra berjalan menaiki tangga untuk menyusul Mama Ana.


Zergan yang melihat itu menatap punggung Aludra dari ruang keluarga. Semoga kamu bisa mengatasi kecewamu terhadap Papa mertuamu, Sayang. Batin Zergan sendu. Mengingat bagaimana Aludra sangat menyayangi Adam bagai Papa kandungnya sendiri, membuat Zergan takut Aludra akan kembali kecewa untuk kesekian kalinya.


Aludra berhenti di depan kamar Mama ana yang tidak tertutup sempurna.


"Ma," panggil Aludra masuk.


"Sini, Nak," ucap Mama Ana menepuk sisi ranjang sebelahnya dan meminta Aludra untuk duduk disan.


"Kenapa, Ma? Ada apa?" tanya Aludra sedikit khawatir melihat wajah Mama Ana yang seperti habis menangis.


"Maafkan sikap Mama, Nak."


......................


Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗

__ADS_1


Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yang lainnya. Tentunya ada info Alu dan Zergan jugaa. Terimakasih 🤗😉


__ADS_2