Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - BAB 87


__ADS_3

Jangan lupa like


Jangan lupa komen


Jangan lupa favorit


Jangan lupa kasih vote


Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗


🌹HAPPY READING🌹


"Kau masih tanya kenapa?" tanya Anwar menatap anaknya yang tidak mengerti dengan kode yang dia berikan.


Wira menatap Anwar dari kaca depan mobil. Senyum mengembang di bibirnya begitu mengerti maksud permintaan sang Ayah. "Siap ayahanda" jawab Wira semangat memenuhi perkataan Anwar.


Anwar memang sangat bisa dalam memberinya kesempatan untuk berduaan dengan grace dalam waktu yang lama.


Lima belas menit, mobil Wira sampai di depan sebuah rumah besar yang sangat mengagumkan untuk Grace. Ternyata rumah Anwar dan Wira tidak kalah mewah dengan rumah Zergan. Tidak Grace ragukan lagi, Wira merupakan orang kaya asli.


"Kalian berhati-hatilah. Dan senang berbincang denganmu, Nak Grace. Semoga suatu hari kita bertemu kembali," ucap Anwar sebelum turun dari mobil.


Grace mengangguk. "Kembali kasih, Paman. Dan hati-hati," ucap Grace lembut. Setelah bicara dengan Anwar tadi, Grace merasa bicara dengan Ayahnya sendiri. Anwar selalu lembut memanggilnya dengan embel-embel Nak. Itu sungguh sebuah kesopanan yang patut untuk di hargai.


Anwar mengangguk. Dia turun dari mobil Wira dan berjalan memasuki rumah. Setelah Anwar benar-benar memasuki rumah, Wira kembali menjalankan mobilnya untuk mengantar Grace.


"Ayahku mertua idaman, bukan?" ucap Wira setelah beberapa menit mereka terdiam.


Grace mengangguk tersenyum. "Tapi sayang anaknya bukan suami idaman," celetuk Grace yang membuat Wira kesal.


Grace yang melihat itu tersenyum. Satu hal yang baru dia ketahui dari Wira, dia adalah lelaki yang manja jika bersama Anwar. Meskipun mereka saling ledek, tapi Wira suka sekali merengek kepada Anwar. Dan itu sebuah hiburan sendiri untuk Grace.


"Aku hanya bercanda. Jangan dibawa serius begitu. Siapapun yang menjadi istrimu nanti, dia pasti orang yang sangat beruntung. Mendapat lelaki baik sepertimu dan mertua yang penyayang seperti Paman Anwar," ucap Grace menatap Wira tulus.

__ADS_1


"Dan wanita itu ada di sampingku sekarang," ucap Wira lebih keyakinan.


Grace hanya tersenyum getir. Melihat dirinya yang seperti gadis nakal, tato memenuhi tubuhnya, membuat dia merasa sangat tidak pantas untuk Wira.


"Aku percaya bahwa alasan utama yang membuatmu menolak ku bukan karena perbedaan agama kita," ucap Wira yang membuat Grace kembali menoleh.


"Maksudmu?" tanya Grace.


"Ya. Bukan perbedaan agama yang membuatmu menolak ku, melainkan rasa tidak percaya dirimu yang selalu membandingkan kita berdua. Kau selalu memandang rendah dirimu sendiri dan terlalu memandang ku sebagai lelaki sempurna hingga merasa tidak pantas. Jangan egois pada dirimu sendiri, Grace," ucap Wira dengan pandangan ke depan sambil menyetir.


Grace hanya bisa tersenyum. Wira sangat tahu isi pikirannya. "Itu tandanya kita memang tidak pernah bisa untuk bersama, Wira. Ditambah lagi perbedaan agama kita. Tembok pemisah kita terlalu kuat," jawab Grace.


"Tapi tidak ada salahnya kita mencoba, Grace," ucap Wira yang tak habis pikir dengan Grace yang sangat keras kepala.


Grace menggeleng. Dia menatap keluar jendela menyembunyikan wajah sedihnya dari Wira. Aku takut terlalu nyaman nanti hingga tidak bisa melepas mu, Wira. Lebih baik kita tidak pernah mencoba sama sekali. Batin Grace sendu. Mungkin memang takdirnya untuk tidak bersama Wira. Karena penghalang mereka untuk bersatu sangat nyata di depan mata.


"Keras hatimu akan membuatmu sendiri terluka, Grace," ucap Wira pelan yang masih bisa di dengar oleh Grace. Grace hanya diam. Semakin menjawab nanti, maka akan semakin terjadi perdebatan yang nantinya akan saling menyakiti mereka.


.....


Zergan yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap Aludra yang duduk termenung di ranjangnya. "Sayang," panggil Zergan lembut mengaliri Aludra.


Aludra menoleh dan menatap Zergan yang berdiri dengan handuk melilit di pinggangnya. "Mas sudah selesai?" tanya Aludra.


"Kalau belum aku gak bakal berdiri disini, Sayang," ucap Zergan tak habis pikir dengan pertanyaan Aludra.


Aludra tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


"Kamu mikirin apa?" tanya Zergan lembut bersimpuh di depan Aludra dan memegang kedua tangan istrinya itu.


Aludra menunduk menatap Zergan. Dia ragu apakah harus mengatakan sesuatu yang ada dipikirannya saat ini atau tidak.


"Kenapa Sayang?" tanya Zergan lagi.

__ADS_1


"Emm, Mas," ucap Aludra ragu.


"Iya," jawab Zergan lembut.


Aludra kembali diam. Dia ragu untuk mengatakan ini karena takut Zergan akan marah kepadanya nanti.


"Kenapa Sayang? Apa yang menganggu pikiran bidadari ku ini?" tanya Zergan lembut.


Aludra menghela nafasnya. "Aku mikirin Rea, Mas," ucap Aludra menunduk.


Sebelah alis Zergan naik mendengar jawaban istrinya. "Rea?" beo Zergan.


Aludra mengangguk. "Kamu bilang sama aku kalau Ayah sudah tahu bahwa wanita yang di video itu adalah Rea sendiri. Ayah pasti marah pada Rea. Aku takut Ayah melakukan sesuatu diluar kendali pada Rea, Mas," ucap Aludra mengutarakan apa yang sejak tadi dia pikirkan.


"Jangan pikirkan dia, Sayang. Itu bukan urusan kita. Lagi pula dia mencintai Rea bukan? Jadi tidak mungkin di berbuat macam-macam. Palingan juga akan dimaafkan setelah Rea memberikan selangk*ngnya pada Adam Bailey," jawab Zergan.


Aludra menggeleng. "Ayah adalah orang lain ketika marah, Mas. Cinta tidak akan mungkin bisa mengendalikannya menjadi tenang. Mas lihat saja pada Mama dan kita, dia mencintai Mama tapi masih bisa menyakiti. Apalagi Rea yang hanya cinta sesaat dan karena nafsu, Mas? Pasti mereka disana tidak baik-baik aja," ucap Aludra. Entahlah, nalurinya sebagai wanita mengatakan bahwa Rea saat ini tidak baik-baik saja. Bagaimanapun juga, Rea pernah bersikap baik padanya meskipun hanya sebuah kepura-puraan.


Zergan berdiri dan melepaskan tangan Aludra. "Aku gak suka kamu mencemaskan wanita itu. Dia sudah bukan siapa-siapa kita," ucap Zergan tegas.


"Kita juga harus tetap bersikap seperti manusia, Mas," jawab Aludra.


"Jangan memicu perdebatan, Alu," jawab Zergan berjalan ke walk in closed.


Aludra menghela nafas pelan. Mungkin memang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan ini sekarang dengan Zergan. Emosi suaminya itu masih belum stabil setelah pulang dari konferensi pers.


Aludra mengambil ponselnya dari tas selempang yang ada di sebelahnya. Dia mencari kontak dengan nama 'Rea' disana. Aludra menimbang kembali apakah yang akan dia lakukan ini benar atau tidak. Karena rasa khawatirnya akan keadaan Rea. Entah kenapa Aludra bisa cemas begini dengan Rea, padahal mereka tidak sedekat itu dulunya.


Zergan yang baru keluar dari walk in closed menatap Aludra yang tengah memang ponsel. "Jangan coba-coba melakukan hal gila, Sayang."


......................


Dukung novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗

__ADS_1


Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yang lainnya. Tentunya ada info Alu dan Zergan jugaa. Terimakasih 🤗😉


__ADS_2