
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗
🌹HAPPY READING🌹
Grace memegang dadanya yang masih terasa bergemuruh. Kali ini dia kalah oleh hatinya sendiri. Bisanya Grace bisa menahan, tapi ini dia menyerah. "Kamu benar. Jika kamu menjauh akan membuatku semakin sakit. Jadi aku mohon, tetap seperti ini, Wira," ucap Grace sendu.
Bukannya tidak ingin, tapi akan banyak lagi rintangan jika mereka bersama. Besar sekali tembok pemisah antara Grace dan Wira jika mereka bersatu. Tembok yang sangat sulit untuk diruntuhkan.
Grace menghela nafasnya pelan. Wanita itu mulai membersihkan tempat tidur dan membereskan peralatan pembuatan tatonya. Setelah itu dia berjalan keluar dari bilik tersebut.
"Kamu belum pulang?" tanya Grace saat mendapati Wira yang duduk di lobi rumah tatonya.
"Tentu aku menunggumu. Kamu pikir aku kesini hanya untuk singgah?" jawab Wira.
"Maksudmu?" tanya Grace tak paham.
Wira berdiri dari duduknya. Tanpa aba-aba dia langsung menarik tangan Grace dan membawanya keluar rumah tato itu.
"Mau kemana? Nanti kalau aku dimarahi yang lain gimana?" tanya Grace sedikit khawatir setelah dia duduk di mobil Wira.
"Jangan berlebihan. Kamu adalah pemilik rumah tato itu, kamu bosnya, jadi jangan takut ada yang memarahi mu. Yang ada, kamu yang harus membeli nasehat pada mereka agar lebih baik dalam bekerja. Sekarang temani aku makan siang. Aku tidak biasa makan sendiri," ucap Wira sambil mulai menjalankan mobilnya.
Grace terdiam sebentar. Benar juga, dia kan pemilik rumah tato itu, kenapa dia harus khawatir.
"Bukankah biasanya kamu juga selalu makan sendiri? Kenapa sekarang sudah tak biasa?" tanya Grace heran.
"Sejak bertemu denganmu aku tidak biasa makan sendiri," jawab Wira yang membuat Grace mengalihkan pandangannya keluar jendela. Dia tidak mau Wira melihat wajahnya yang memerah karena malu akan omongan lelaki itu.
.....
Zergan kelimpungan di tempatnya. Entahlah, lelaki itu sangat ingin makan rujak. Tapi Wira belum kembali juga dari makan siang bersama Grace. Padahal ini sudah dua jam sejak dia pergi.
Tidak ingin merusak moodnya, Zergan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Lelaki itu menyibukkan diri dengan memeriksa beberapa laporan yang tadi diberikan oleh divisi keuangan.
Saat asik dengan pekerjaan, pintu ruangan Zergan terbuka dari luar.
__ADS_1
"Nih, pesanan Lo," ucap Wira meletakan sekotak rujak di depan Zergan.
Zergan mengentikan kegiatannya. Dengan mata berbinar dia langsung mengeluarkan kotak sterofom itu dari plastik dan membukanya.
Tanpa menghiraukan keberadaan Wira, Zergan langsung melahap rujaknya.
Wira yang melihat itu menelan ludahnya sendiri. Lelaki itu duduk di kursi seberang Zergan. "Enak banget Gan?" tanya Wira pelan.
Zergan mengangguk. "Lo gak boleh minta. Ini punya gue," jawab Zergan menjauhkan rujaknya dari jangkauan Wira layaknya seorang anak kecil menyembunyikan permen dari temannya.
"Apa gak asam?" tanya Wira lagi bergidik ngeri melihat Zergan begitu tenangnya memasukan potongan kedondong yang masih hijau ke mulutnya.
"Enggaklah," jawab Zergan santai.
"Apa gak pedes, Gan?" tanya Wira lagi.
"Enggak," jawab Zergan santai.
"Keringat Lo Segede jagung begini Lo bilang gak pedes? Wah, benar-benar ada yang salah ini mah," ucap Wira tak percaya.
"Mending lo keluar. Lanjut kerjaan Lo wawancara sekretaris baru buat gue. Dan yang penting laki-laki. Gak mau gue perempuan," ucap Zergan.
Wira mengangguk. Dia berdiri dari duduknya dan keluar dari ruangan Zergan untuk segera melaksanakan perintahnya bosnya itu.
"Eergghhh," sendawa Zergan saat dia menghabiskan rujak itu tanpa sisa. Bahkan kuahnya pun tidak ada yang tersisa sedikitpun. Zergan benar-benar membalas rasa inginnya dengan menghabiskan rujak tersebut.
.....
Aludra terkikik pelan mengingat wajah Zergan semalam yang sangat frustasi karena ulahnya. Sungguh, Aludra puas sekali karena itu. Sesekali dia harus bisa memberi Zergan pelajaran bahwa apa yang dia inginkan tidak selalu bisa didapatkan saat itu juga. Ya, meskipun paginya Aludra memang harus merelakan tangannya untuk bekerja keras.
"Ma," panggil Zayn mendekati Aludra.
"Iya Nak," jawab Aludra menghentikan khayalanya.
"Mau es klim," rengek Zayn membenamkan kepalanya dipangkuan Aludra.
"Minggu udah minum berapa es krim?" tanya Aludra.
Zayn mengangkat kepalanya. Lalu dia menggeleng menatap Aludra. "Belum ada, Ma," ucap Zayn lagi.
"Oke. Tapi kita jalan kaki saja, ya Nak. Kita ke mini market depan komplek aja," ucap Aludra yang langsung dianggukki oleh Zayn.
Aludra dan Zayn berjalan keluar pagar rumah. Ibu dan anak itu saling bergandengan tangan menyusuri jalanan komplek yang nampak sepi.
__ADS_1
Sepuluh menit berjalan kaki, Aludra dan Zergan sampai di mini market. Dengan semangat dia berlari ke lemari pendingin tempat kumpulan semua es krim.
"Zayn mau lima ya, Ma?" pinta Zayn dengan sangat memelas menatap Aludra.
"Tapi makannya tiga hari satu," ucap Aludra yang dianggukki lemah oleh Zayn. Anak itu mau makan es krim tiap hari, tapi untuk kesehatannya dia harus menuruti apa yang dikatakan oleh Aludra.
Aludra mengangkat Zayn untuk mengambil es krim kesukaanya. Tangan mungil Zayn menjangkau es krimnya dengan semangat. Setalah sesali, Aludra dan Zayn segera membayar belanjaan Zayn.
"Zayn gak mau main ke taman komplek dulu?" tanya Aludra saat mereka sudah keluar dari mini market dan berjalan untuk pulang.
Zayn mengangguk. "Nanti sore aja, Ma. Sekarang masih sepi, jadi gak ada teman nanti," jawab Zayn yang dianggukki oleh Aludra.
Sesekali Aludra menyapa ibu-ibu komplek yang berpapasan dengannya. Begitu juga dengan Zayn. Namun, saat melewati satu rumah, langkah Aludra terhenti saat melihat seseorang yang wajahnya tidak asing untuknya. Orang itu sedang mencuci mobil bersama Bima depan rumah Rio.
Dia adalah lelaki yang ada di video itu. Batin Aludra mengingat wajah lelaki tersebut. Dari sini Aludra nampak melihat dengan jelas wajahnya.
"Kenapa, Ma?" tanya Zayn.
"Zayn kenal sama laki-laki yang cuci mobil sama Bima?" tanya Aludra.
Zayn mengalihkan pandangannya kearah yang ditunjuk oleh Aludra. Anak itu menggeleng. "Gak tahu, Ma. Kan Zayn ****** ke lumahnya Bima," jawab anak itu yang dianggukki oleh Aludra.
"Aku harus kasih tahu mas Zergan," ucap Aludra sambil mengeluarkan ponselnya dan memfoto laki-laki tersebut. Setelah selesai, Aludra membuka aplikasi pesan dan mengirimnya pada Zergan.
.....
Zergan duduk dengan tenang di kursinya dengan tangan yang terus menari diatas kertas putih membentuk pola abstrak untuk tanda tangannya.
Di depannya, ada Wira yang baru saja selesai melakukan wawancara terhadap beberapa kandidat sekretaris baru Zergan.
"Sebentar lagi Kakek akan datang, Gan," ucap Wira memberitahu yang langsung dianggukki oleh lelaki itu.
Zergan mengangguk.
Ting.
Bunyi notifikasi pesan dari ponsel Zergan mengalihkan perhatian lelaki itu. Dia mengambil ponsel yang diletakkan diatas laptop yang tertutup dan langsung membuka pesan dari Aludra.
a picture
Ini laki-laki yang di video itu kan, Mas?"
......................
__ADS_1
Dukung novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yang lainnya. Tentunya ada info Alu dan Zergan jugaa. Terimakasih 🤗😉