Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - Bab 21


__ADS_3

Jangan lupa like


Jangan lupa komen


Jangan lupa favorit


Jangan lupa kasih vote


Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗


🌹HAPPY READING🌹


"Aku bilang bekas cakaran ini tidak sakit, Aludra," ucap Zergan menatap Aludra.


Aludra membalas tatapan Zergan. "Kamu pasti mandi tidak bersih karena darah kecil ini saja tidak hilang, Mas," ucap Aludra mencoba sabar.


Zergan menggeleng. "Bukannya aku yang mandi tak bersih, tapi memang matamu yang selalu menangkap luka agar ingat dengan semua ke-"


"CUKUP MAS!" bantah Aludra tegas dengan cepat ketika tahu apa yang akan Zergan sampaikan.


"Kenapa? Apa kau tidak mau jika kesalahanmu selalu ingat?" tanya Zergan.


Aludra hanya diam. Tangannya kembali bergerak dengan mengoleskan salep di dada Zergan.


"Kamu mungkin bisa lupa, tapi bagaimana dengan aku yang merupakan korbannya, Aludra?" tanya tanya Zergan lagi.


"Kamu hanya akan capek membersihkan luka ini. Padahal itu tidak harus kamu lakukan. Yang harus kamu lakukan-"


"Kenapa kamu senang sekali mengungkap hal yang membuat kita berdua sedih, Mas?" tanya Aludra.


Zergan menggeleng. "Bukan suka mengungkap. Tapi setiap melihat kamu aku melihat rekaman menjijikan itu," jawab Zergan menatap Aludra sayu.


Aludra terkekeh pelan. "Kamu memang bisa sekali merusak suasana, Mas," ucap Aludra.


"Kenapa kamu kelihatan marah kalau aku membicarakan kesalahanmu itu, Aludra? Apa kamu sekarang mengakuinya?" tanya Zergan.


"Kamu ini kenapa sih, Mas? Sikap kamu selalu berubah.

__ADS_1


Terkadang kamu sangat baik seolah lupa dengan salah paham itu. Sekarang, kami kembali bersikap layaknya aku memang benar bersalah. Sikap kamu kembali dingin seperti orang yang sangat membenci aku, Mas. Kamu ini mau apa sebenarnya? Jangan buat aku bingung dengan sikap kamu," ucap Aludra mengungkapkan isi hatinya pada Zergan.


"Dan satu lagi, Mas. Sampai kapanpun aku akan mengatakan bahwa aku tidak bersalah. Karena pada kenyataanya memang bukan aku yang ada di video itu, Mas. Bukan aku yang menjadi musuh dalam selimut yang ingin menghancurkan perusahaan kamu. Jika memang aku ingin perusahaan kamu hancur, sudah sejak dulu aku lakukan, Mas," sambung Aludra dengan mata berkaca-kaca.


"Bagaimana aku bisa melupakan pengkhianatan itu jika setiap hari aku melihat wajahmu, Aludra? Setia melihatmu, aku selalu ingat akan semua itu," ucap Zergan dengan wajah berubah datar setelah mendengar perkataan Aludra yang panjang lebar.


Aludra tertawa hambar dalam sedihnya. "Jadi kamu meminta aku pergi agar bisa melupakan pengkhianatan itu dan membuat hidup kamu merasa lebih nyaman, Mas?" tanya Aludra


Zergan menggeleng. "Saat ini, hidup bersamamu memang membuat aku sakit, Aludra. Tapi tanpamu, aku akan semakin hancur," jawab Zergan.


Aludra menghela nafas pelan dan mengusap kasar air mata yang jatuh begitu saja di pipinya. "Kenapa kamu hanya bisa memikirkan perasaanmu sendiri tanpa bertanya bagaimana keadaan hatiku setiap mendengar tuduhan dan perkataan mu yang menyakitkan, Mas?" tanya Aludra lagi.


"Jangan bersikap layaknya korban, Aludra," ucap Zergan datar.


"Karena memang begitu yang terjadi, Mas. Aku adalah korban yang selalu kamu anggap sebagai tersangka," ucap Aludra dan berlalu keluar dari kamarnya meninggalkan Zergan yang terdiam menatap kepergian wanita itu.


Tangan Zergan terkepal kuat setelah Aludra meninggalkannya sendiri di kamar. Maafkan aku, Aku. Batin Zergan setelah sadar dengan apa yang dia katakan pada Aludra sudah sangat keterlaluan Hinga membuat wanita itu habis kesabaran. Aludra hanya manusia biasa yang memiliki batas sabar. Bukan malaikat atau nabi yang memiliki sabar seluas lautan.


"Semoga sabar mu tidak habis untuk sikapku sekarang, Aludra."


.....


"Lho, Nak. Kenapa bangun?" tanya Aludra khawatir. Karena pasalnya, tadi saat dia tinggal di kamar, Zayn sudah dalam keadaan tidur setelah dibacakan dongeng oleh Aludra.


Zayn menoleh ketika mendengar suara Aludra. Aludra yang melihat wajah anaknya basah karena air mata segera menghampiri.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Aludra cemas.


"Ma," panggil Zayn pelan.


"Kenapa, Sayang?" tanya Aludra sambil mengusap air mata di pipi Zayn.


"Kenapa Mama dan Papa seling sekali beltengkal sekalang?" tanya Zayn takut.


DEG


Jantung Aludra berdetak hebat mendengar pertanyaan anaknya itu. Entah kenapa, pertanyaan Zayn membuat hatinya ngilu. Apa selama ini anaknya mendengar pertengkarannya dan sang suami? Apa selama ini Zayn mengetahui semuanya?

__ADS_1


"Kenapa Zayn bertanya seperti itu, Nak?" tanya Aludra lembut.


Zayn menggeleng. "Mama selalu bilang kalau mama dan papa tidak beltengkal. Tapi kenapa suala papa selalu kelas waktu ngomong sama Mama?" Tabya Zayn sendu.


"Olang yang ngomongnya kelas itu lagi malah kan, Ma? Tadi zayn dengal mama sama papa sualanya sama-sama kelas. apa papa malah sama mama?" Tanya anak itu sendu.


Aludra mencoba tersenyum dan menggeleng. "Papa nggak marah sama mama, Nak. Papa tadi cuma lagi nyari sesuatu makanya teriak begitu," jawab Aludra mencoba mengalihkan pikiran Zayn.


"Apa setiap hari Papa mencali sesuatu, Ma?" tanya Zayn menatap lekat Aludra.


"Tidak, Nak," jawab Aludra dengan raut bingung akan pertanyaan Zayn.


"Telus kenapa setiap hali papa ngomongnya kelas sama mama?" Tanya zayn telak yang membuat aludra terdiam.


"Mama tidak bisa jawab?" Tanya Zayn lagi yang melihat aludra terdiam.


"Kenapa papa selalu saja malah, Ma?" Tanya zayn lagi.


Aludra menggeleng. "Papa nggak marah, Nak. Papa cuma lagi capek. Kerjaan di kantor buat papa harus fokus. Makanya kalau udah pulang pasti capek dan bucaranya sedikit tinggi begitu," ucap aludra mencoba menjelaskan.


"Tapi mama pasti capek setiap membelsihkan lumah kan. Kenapa tidak malah sama zayn? Kan zayn ganggu mama dan selalu panggil mama buat bantuin Zayn," ucap anak itu lagi.


"Bukan salah papa, Nak. Mama aja yang selalu bertanya sama papa sampai papa sedikit kesal," ucap aludra.


Aku rela menyalahkan diriku sendiri asal anakku tidak merasakan neraka dirumahnya sendiri. Batin aludra sedih.


Zayn menggeleng mendengar perkataan aludra. Mama selalu bohong sama zayn. Batin anak itu dengan pandangan tak lepas dari mata aludra.


"Mama," panggil Zayn lembut. Mata anak itu berkaca-kaca menatap Mamanya.


"Iya Nak," jawab Aludra dengan suara bergetar menatap anaknya yang nampak sekali memancarkan wajah sendu.


"Kalau nanti mau pelgi, bawa Zayn, ya. Kalena lebih baik hidup tanpa Papa daripada halus beltahan tanpa Mama."


................


Untuk visual Zergan dan Aludra, silahkan lihat di instagram aku yaaa @yus_kiz

__ADS_1


Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗


Oiya, selamat berpuasa untuk emua yang menjalankan puasa hari ini. Semoga menjadi berkah untuk kita semua 🤗


__ADS_2