Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - BAB 151


__ADS_3

WELCOME TO THE STORY


🌹HAPPY READING🌹


Saat ini zergan dan mama ana telah sampai di Rumah Sakit Internasional Bangkok. Rumah sakit yang menjadi tujuan mereka untuk berobat zergan. Berbekal surat yang diberikan oleh dokter rizal, kini zergan dan mama ana sudah berada diruangan seorang dokter yang menjadi tujuannya.


“Selamat datang. Aku sudah mendengar mengenai dirimu dari dokter rizal,” ucap dokter dengan kacamata


bertengger di hidungnya.


Zergan mengangguk. Sedangkan mama


ana menampilkan senyumnya. “apakah anda yang akan menangani anak saya, dokter?” tanya mama ana sedikit ragu. Pasalnya dokter yang kini bicara dengan mereka itu adalah dokter muda.


Dokter muda dengan nama Channarong itu tersenyum. “kalian bisa memanggilku dokter Chan. Dan aku adalah


asisten professor yang akan menangani anak anda, Nyonya,” jawab dokter Chan ramah.


“Ah iya. Maaf bukan maksud saya,” ucap mama ana tak enak.


“tidak ada-apa. Saya sangat paham apa yang anda maksud. Tentu semua orang ingin sesuatu yang terbaik untuk kesembuhan anaknya,” jawab dokter Chan dengan senyumnya.


“Kapan kami bisa bertemu Professor Chai?” tanya zergan yang mengetahui nama professor itu dari dokter rizal.


“Professor sedang menyelesaikan pemeriksaannya mengenai keadaanmu. Dalam beberapa menit lagi professor akan datang,” jawab dokter Chan memberitahu.


Tidak berselang lama, seorang lelaki paruh baya dengan jas putihnya memasuki ruangan itu. “oh, kalian sudah datang ternyata,” ucapnya masuk dengan suara tenang namun penuh semangat.


Zergan dan mama ana berdiri. Mereka saling berjabat tangan untuk menghormati satu sama lain.


“Selamat datang, zergan dan nyonya ana. Semoga kita berjodoh dalam tahap pengobatan kamu ini, nak,” ucap


professor dengan senyumnya menatap zergan.


Saat mama ana akan bertanya, dokter Chan lebih dulu menyela untuk meminta izin pamit keluar dari ruangan.


“saya akan melakukan pemeriksaan rutin dulu, prof,” ucapnya sopan yang dibalas anggukkan oleh professor Chai. Dokter chan juga mengangguk dan tersenyum


berpamitan pada mama ana dan zergan.


Kini tinggal mereka bertiga diruangan itu. Zergan kali ini nampak semangat. Dia bahkan rela untuk tidak

__ADS_1


beristirahat di hotel dan memilih langsung ke rumah sakit. Dia benar-benar ingin cepat kembali ke Indonesia dengan kesehatannya yang benar-benar pulih.


 “Kalian tidak ingin melihat-lihat kota Bangkok terlebih dahulu?” tanya professor chai sedikit bercanda sambil


mengeluarkan sebuah kertas dari map besar ditangannya.


“masih banyak waktu untuk itu, dokter,” jawab zergan sopan.


 Professor chai menggangguk. “kausangat optimis, nak,” ucap professor menatap zergan.


“bisa langsung saja, prof?” tanya zergan yang sedang tak ingin bercanda.


Mama ana memegang lembut tangan anak itu agar lebih sabar. Dia tersenyum kaku merasa tak enak kepada professor chai atas sikap zergan. “anak saya memang sangat menghargai waktunya, professor,” ucap mama ana pelan.


Professor chai tersenyum dan mengangguk. Dia menatap sebuah kertas yang kini sudah ada ditangannya. “Penyakit memang sangat mengincar hal yang paling kita butuhkan,” ucap professor chai.


“maksud prof bagaimana?” tanya zergan tak paham.


Professor chai mengangguk. “ALS yang kamu alami menyerang otot pernafasanmu, nak. Itu yang membuatnya menjadi berbahaya. Jika otot pernafasan sudah bermasalah, maka dalam waktu yang tiba-tiba kamu bisa saja mengalami sesak nafas hingga sampai pada gagal nafas dan berakhir pada kematian,” ucap professor menjelaskan tanpa ada yang ditutupi.


“tapi tenanglah. Setiap nyawa ada jatah dan rezekinya. Yang penting saat ini adalah semangatmu untuk sembuh dan terlepas dari ALS ini. Satu yang harus kamu pastikan, nak. Selama pengobatan ini, tetaplah tegus dan yakin dengan kesehatanmu. Baik itu fisik dan juga mentalmu. Karena tekanan dari pikiran juga akan mempengaruhi pengobatan yang kita lakukan,” ucap professor chai yang dianggukki oleh zergan.


hilang dari ingatannya.


“jadi kapan kita mulai, prof?” tanya zergan.


“ikut aku. Sekarang juga kita akan lakukan cek ulang mengenai kondisimu.”


…...


Sedangkan di panti asuhan, zayn nampak sangat asik bermain dengan anak panti yang lainnya. Sedangkan aludra hanya menatap dari kursi taman panti dengan tangannya yang selalu memegang ponsel. Sejak semalam dia menantikan kabar dari zergan.


Indonesia Thailand hanya butuh waktu lebih kurang empat jam. Tapi sejak tadi subuh aludra memeriksa ponselnya belum ada tanda-tanda pesan dari mama ana ataupun zergan.


Aludra memang marah, tapi bukan berarti dia melupakan kondisi suaminya. Dia memang kecewa, tapi bukan berarti aludra tidak peduli. Aludra memang tidak ikut menemani zergan berobat, tapi bukan berarti dia tidak mementingkan Kesehatan zergan.


Saat sedang asik dengan pikiraanya, zayn datang menghampiri. “Mama,” ucap anak itu memanggil aludra dan duduk disebelah mamanya.


“zayn udah selesai mainnya?” tanya aludra sedikit terkejut dengan kedetangan anaknya yang tiba-tiba.


Zayn mengangguk. “zayn mau nemenin mama aja disini,” jawab anak itu dengan senyum mengembangnya.

__ADS_1


“kan mama disini sambil liatin zayn juga,” jawab aludra lembut.


“zayn lebih suka nemanin mama daripada main,” ucapnya memeluk aludra dari samping dengan kepala yang dia sejajarkan dengan perut buncit aludra.


“adek gak nakal kan, ma?” tanya zayn perhatian.


Aludra tersenyum. anaknya begitu manis sekali. “adik baik banget, nak. Dia gak rewel kok,” jawab aludra jujur.


“adek yang pintal. Nanti kalua udah lahil kita jahilin papa ya, dek,” ucap anak itu sedikit bercanda.


“kok papanya dijahilin?” tanya aludra bingung.


“soalnya papa seling nakal,” jawabnya polos dengan senyum manis menatap aludra.


Aludra tersenyum. tangannya terulur mengusap lembut kepala zayn. Anaknya satu ini memang senang sekali


mejahili zergan. Tapi dalam lain waktu mereka kadang juga jadi teman yang membuat aludra kesal karena tingkah absurd mereka.


Zayn teringat sesuatu. Anak itu melepaskan lingkaran tangannya dari perut aludra. “zayn ke kamar sebentar ya, ma,” ucapnya pamit yang dianggukki oleh aludra.


Aludra menggeleng melihat anaknya yang berlari menuju kamar. Entah apa yang akan zayn lakukan, tapi dia senang melihat anaknya yang tersenyum lepas bermain bersama anak panti disini.


…..


Zergan duduk di ruang rawatnya. Lelaki itu memang harus tinggal dirumah sakit agar dokter bisa memantau keadaanya setiap waktu. Tidak peduli berapa uang yang akan dia keluarkan, zergan hanya ingin sembuh dan kembali bersama istri serta anaknya.


Zergan menempati ruang kelas atas dengan fasilitas lengkap sehingga mama ana juga bisa tidur disana tanpa mereka harus menyewa hotel. Ruangan zergan ini dibagi atas dua bagian. Bagian pertama untuk dia khusus pasien, dan bagian yang lain untuk penunggu pasien yang dilengkapi dengan meja makan, kulkas dan juga kamar mandi. Serta sofa tamu yang ada di ruang bagian zergan bersama dengan televisi dan juga sebuah meja kecil khusus tempat makannya.


“oiya, ponsel zergan mana, ma?” tanya zergan setelah sadar bahwa dia tidak memegang ponselnya sejak datang kesini.


“astaga mama juga lupa, nak. Kita belum kabarin siapapun di rumah,” ucap mama ana dengan cepat mengambil ponsel mereka yang disimpan dalam saku kecil tas yang dipakai mama ana.


“ini. Ponsel kita mati dari semalam,” ucap mama ana memberikan ponsel zergan. Mama ana memilih keluar ruang rawat zergan untuk mengabari faith. Sedangkan zergan tetap disana sambil memeriksa ponselnya.


Mata zergan menatap nama anak buahnya yang dia tugaskan untuk menjaga aludra dan zayn. Saat dia hendak menekan pesan itu, sebuah notifikasi panggilan tak terjawab mengalihkan fokusnya. “Zayn.”


...----------------...


Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @nonamarwa_ untuk melihat info mengenai novel aku yaa!!!!


SELAMAT MEMBACAAAA!!!!!

__ADS_1


__ADS_2