Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - BAB 127


__ADS_3

WELCOME TO THE STORY


🌹HAPPY READING🌹


Zergan mengangguk. "Kamu tolong siapin, ya. Aku ke ruang kerja sebentar," ucap Zergan yang dianggukki aludra tanpa curiga.


Zergan berdiri dengan menopang tubuhnya untuk sampai ke ruang kerja. Lelaki itu melupakan obatnya hingga dia harus kambuh disaat yang tidak tepat seperti ini. "Hanya sampai ruang kerja, betahan lah!" ucap Zergan menyeret kakinya untuk sampai di ruang kerja. Dia harus tetap sadar karena sekali dia sudah jatuh, maka kecil kemungkinan bagi zergan untuk bangun lagi.


Dengan tangan bergetar zergan memegang handel pintu ruang kerja dan langsung membukanya. Lelaki itu menutup pintu dan dengan tenaga yang tersisa dia mengunci pintu itu.


Menyeret langkah akhirnya zergan bisa duduk di kursi kerjanya dan segera mengeluarkan obat yang diberikan dokter rizal. Tanpa meminum air zergan langsung menelan dua butir obat tersebut.


Zergan memejamkan mata dengan punggung menyender ke sandaran kursi. lelaki itu membuka mulutnya lebar-lebar karena kesulitan bernafas. Jangan sampai di gagal dalam bernafas untuk hari ini. sungguh, zergan belum siap meninggalkan keluarga yang menjadi semangatnya


Ya Allah, panjangkan umur ku. Batin Zergan sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya.


.....


"Mas makanan sudah si-, lho kok dikunci?" tanya Aludea saat tangannya mencoba membuka pintu ruang kerja suaminya.


"Pintunya dikunci dari dalam," gumam Aludra lagi.


"MAS!"


"MAS!"


"MAS!"


"MAS! Buka pintunya. Makan siangnya udah aku siapin. MAS?!" panggil Aludra berteriak.


"Ini mas Zergan ngapain sih di dalam?" tanya Alideaagi dengan perasaan khawatir.


"Alu."


Aludra menoleh ke belakang mendengar suara memanggilnya.


"Mama," jawab perempuan itu memasang wajah khawatirnya.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Mama ana melihat wajah khawatir aludra.


"Ini, mas zergan katanya mau makan siang. tapi gak keluar dari ruang kerja. pintunya dikunci lagi," ucap Aludra memberitahu.


"Dikunci? gak biasanya," gumam mama ana heran dan dianggukki olen aludra yang masih bisa mendengarnya.


"Kita tunggu sebentar lagi, nak. Mungkin zergan punya kerjaan yang gak bisa diganggu," ucap Mama ana mencoba menenangkan aludra


"Tapi meskipun gitu gak biasanya mas zergan ngunci pintu gini, Ma," jawab aludra khawatir.


"Tapi Nak-"


"Aludra panggil satpam dulu buat tolong dobrak pintu. perasaan aludra gak enak, Ma," ucap Aludra yakin dan segera berlari keluar rumah untuk memanggil satpam.


"JANGAN LARI, NAK. INGAT KANDUNGAN KAMU!" teriak Mama ana yang membuat aludra langsung menghentikan larinya dan berjalan menuju gerbang rumah.

__ADS_1


"Pak," panggil aludra pada satpam rumah.


"Eh Nyonya. ada apa nyonya?" tanya Pak satpam sopan.


"Ikut saya, pak. Ayo!" ucap aludra tanpa banyak bicara dan langsung meminta pak satpam untuk mengikutinya


Pak sopir yang juga kebetulan ada di pos satpam rumah aludra saling pandang dengan pak satpam. Mereka tidak ada waktu untuk bertanya lagi karena aludra langsung pergi begitu saja memasuki rumah. Tidak ada pilihan lain selain mengikuti majikannya itu.


"Ada apa, Nyonya?" tanya Pak satpam begitu sampai di depan ruang kerja Zergan.


"Dobrak pintunya, Pak. Tolong!" ucap aludra menatap pak satpam dan sopir rumahnya dengan penuh harap.


"Tapi nyonya-"


"Tolong, pak. suami saya ada didalam. Saya khawatir suami saya kenapa-napa. Sudah dipanggil sejak tadi tapi gak ada sahutan. Tolong, pak," ucap aludra lagi.


"Lakukan saja," ucap Mama ana ikut angkat bicara


"Baiklah. Permisi, bu," ucap pak satpam meminta aludra untuk sedikit menjauh, begitu juga dengan Mama ana.


pak satpam yang masih nampak segar itu mendobrak pintu dengan sekuat tenaganya. Sudah tiga kali mencoba namun belum berhasil. Akhirnya pak sopir ikut membantu dan mereka berdua mendobrak pintu ruang kerja Zergan.


BRAK.


Pintu berhasil terbuka.


Aludra langsung masuk. Dia menghela nafas melihat suaminya yang tidur di kursi kerja. begitu juga dengan Mama ana yang nampak lega karena zergan tidak kenapa-napa.


"Tidur ternyata," gumam aludra.


"Mas."


"Mas."


"Mas."


tiga kali membangunkan Zergan lelaki itu tidak kunjung bangun.


"Mas bangun, mas," ucap aludra sedikit mengguncang tubuh Zergan.


"Kenapa nak?" tanya Mama ana yang masih berada disana. Pak satpam dan pak sopir juga masih ada disana karena majikan mereka belum mempersilahkan untuk pergi.


"Mas Zergan gak bangun-bangun, ma," ucap aludra khawatir.


"Zergan."


"Zergan bangun, Nak," ucap Mama ana mencoba membangunkan laki-laki itu sambil mengguncang tubuhnya.


Mama ana dan aludra saling pandang. "Zergan pingsan, Nak."


Aludra menggeleng dengan perasaan teramat sangat khawatir. "Mas. MAS ZERGAN! MAS!"


"Pak, bantu angkat suami saya, pak. Kita ke rumah sakit sekarang!"

__ADS_1


.....


Di tempat lain, Wira, grace dan pak fredy sampai di rumah yang ditempati grace.


"Hendro dan sinta tidak dirumah?" tanya Pak fredy begitu mereka sampai diruang tamu. Rumah itu nampak sepi dan tidak terlihat keberadaan seseorang disudut manapun.


"Ayo ikut grace paman," ucap Grace dan langsung dianggukki oleh pak Fredy. tapi sebelumya wanita itu mengambil sebuah kunci terlebih dahulu yang tergantung di dinding ruang tamu.


Mereka bertiga kini berjalan menaiki tangga rumah. langkah grace membawa mereka menuju ruangan paling ujung pada lorong lantai dua.


"Nak wira, kau sudah melakukan tugasmu?" tanya Pak fredy disela perjalanan mereka menuju lantai dua.


Wira mengangguk yakin.


"Gudang?" gumam Pak fredy menatap pintu di depan mereka.


Grace mengangguk. Tangan wanita itu bergetar membuka pintu gudang. sungguh ketakutan kini menggerogoti hati dan pikirannya.


"Jangan takut. Semua demi dirimu dan juga orang tuamu," ucap wira lembut yang peka akan kondisi grace.


Grace menghela nafas pelan. dia membuka pintu gudang dan melangkah masuk diikuti wira dan pak fredy.


"Bisa bantu aku, wira?" tanya grace menatap wira.


Wira mengangguk.


"Bantu aku geser lukisan besar ini," ucap grace menatap sebuah lukisan abstrak yang lebarnya setengah dinding itu. Lukisan itu nampak sangat usang dengan debu yang cukup tebal.


Sreeet.


Wira mengibaskan abu yang berterbangan dengan tangannya. benar-benar tidak terawat.


Dibalik lukisan itu, nampak sebuah pintu. "Pintu apa ini, Nak?" tanya Pa fredy bingung. Dia tahu mengenai seluk beluk rumah adiknya ini. tapi dia tidak pernah tahu jika ada ruangan lain dibalik gudang ini.


"Ayo paman," jawab grace tanpa menjawab pertanyaan Fredy.


Grace menatap wira sejenak sebelum tangannya benar-benar membuka pintu ruangan itu.


"Semua akan baik-baik saja," ucap wira lembut. Meskipun wira juga tidak tahu apa yang ada dibalik ruangan itu, tapi dia harus tetap meyakinkan grace.


Tangan grace mulai bekerja membuka kunci pintu. Setelah berhasil dia membuka pintu hingga lebar. Mereka bertiga masuk ke ruangan tersebut.


Mata mereka langsung disuguhkan pemandangan yang mengenaskan. Seorang lelaki dan wanita yang nampak saling menguatkan dengan kondisi tubuh mereka jauh dari kata baik.


Wanita yang tiduran di paha sang lelaki dengan wajah menghadap ke perut lelaki itu dan lekaki yang duduk bersandar ke dinding dengan mata terpejam. mata mereka memang terpejam, namun nampak sekali kecemasan dan ketakutan di wajah mereka. entah itu tidur, atau hanya menutup mata karena tidak sanggup menatap dunia.


Badan kurus, kantung mata serta lingkaran mata yang hitam. Wajah mereka juga terdapat beberapa lebam dan darah segar yang sudah mengering di sudut bibir.


"Nak," panggil Fredy lirih dengan suara tercekat menatap Grace sendu.


Grace mengangguk dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. "Itu orang tua kandungku, paman."


................

__ADS_1


Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yaa!!!!


SELAMAT MEMBACAAAA!!!!!


__ADS_2