
Selamat datang kembali teman-teman. kisah aludra dan zergan balik lagi nih, yeaaayyy!!!!
Selamat membaca dan semoga kalian selalu menikmati walau sudah lama kita tak bersatu hati. HAPPY READING
"Mama gak habis pikir dengan hati teman kamu," jawab Mama Ana heran.
"Gak ada yang tahu hati kan, Ma?"
"Iya sih, tapi kan gak harus-. Ah! Sudahlah, bukan urusan kita juga," ucap Mama Ana tak habis pikir.
Zergan terkekeh pelan melihat rekasi mamanya. Sama seperti dirinya yang juga heran, tapi kalau sudah urusan hati, manusia tak ada yang bisa menetapkannya.
Zergan berbalik menoleh ke jendela. Dia tersenyum melohat Zayn yang bermain dengan anak lainnya, mungkin itu anak salah satu pasien disini. Anaknya itu pandai dalam berbahas Inggris, jadi tidak heran jika dia mudah untuk bicara dengan orang yang tidak berasal dari Indonesia.
Mata Zergan beralih menatap Aludra, kini wanita itu duduk di kursi panjang sambil memperhatikan Zayan bermain dengan tangan yang terus mengusap perut buncitnya.
"Ada satu yang bisa dipastikan dalam hidup, ma?" ucap Zergan tanpa mengalihkan pandangannya dari Aludra.
"Apa?" tanya Mama Ana.
__ADS_1
"Cinta Zergan pada Aludra," jawab Zergan yang mendapat cibiran dari Mama Ana.
"Cinta sih, tapi masih sanggup buat dibohongin," jawab Mama Ana mengejek.
Zergan tidak marah, dia malah tersenyum mendengar apa yang dikatakan Mama Ana. "Kadang kita harus melakukan itu agar orang yang kita cintai tidak bersedih, ma," ucap Zergan.
Mama Ana tersenyum. Itu juga yang dulu dia lakukan saat menyembunyikan semuanya, dia hanya ingin menjaga perasaan semua keluarganya agar tak kecewa dengan perlakuan Adam juga Rea.
"Bersyukurlah karena kamu mendapat wanita sebaik Aludra, Nak," ucap Mama Ana yang ikut melihat Aludra.
Zergan tersenyum. "Aludra adalah bentuk syukur paling tinggi yang Zergan miliki, Ma, dan akan Zergan pertahankan sampai mati," ucap lelaki itu yakin dengan ucapannya.
Mama Ana tersenyum. Dia senang melihat rumah tangga anaknya lebih baik dari dirinya. Semoga Allah selalu berkahi kebahagiaan dalam rumah tangga kalian, Nak. Batin Mama Ana berdoa untuk keharmonisan Zergan dan keluarga kecilnya.
Waktu jam makan siang sudah masuk, dan Wira masih duduk manis di mejanya menunggu kedatangan seseorang yang biasanya datang membawakan makan siang.
"Tumben banget belum datang," gumam Wira heran.
"Biasanya Grace udah datang, nih," lanjutnya bingung.
__ADS_1
Ya, yang ditunggu kedatangannya oleh Wira adalah Grace. Beberapa hari ini, Grace memang beberapa kali datang membawakan makan siang untuk Wira, tapi lelaki dengan gaya jual mahalnya menolak pembawaan Grace.
"Giliran ditungguin gak dateng," gumam Wira kesal.
Wira segera berdiri dan berjalan keluar dari ruangannya. Perutnya bisa kelaparan jika hanya menunggu grace sekarang, lebih baik Wira makan di kantin perusahaan saja untuk mengisi perutnya.
Berjalan memasuki lift, Wira akhirnya sampai di lantai satu dan segera berjalan menuju kantin. Saat badan Wira akan berbelok mengarah ke kantin, dia melihat manusia yang sejak tadi dia tunggu datang dan sekarang sedang bicara dengan resepsionis. "Aku kembali ke ruangan saja," ucap Wira senang dan dengan semangat membalikkan badannya untuk kembali memasuki lift.
Sedangkan di resepsionis, Grace tersenyum setelah dipersilahkan oleh resepsionis untuk segera ke ruangan Wira. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara lembut seorang wanita yang menyebut nama Wira.
"Apa Pak Wira ada di ruangannya?" ucap suara itu dengan lembut bertanya.
Grace berbalik. Matanya memicing menatap wanita cantik dengan hijabnya yang kini bicara dengan resepsionis. "Dia..."
DEG
Dia wanita yang makan malam bersama Wira waktu itu.
...----------------...
__ADS_1
Peluk jauh dari Nona Marwa dan enjoy your reading 🤗🥰**
Jangan lupa masukan cerita ini ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya ya teman-teman, dan follow juga akun penulis aku untuk dapatin notifikasi karya baru, terimakasih.