Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - BAB 17


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Aku ingin sekali mempercayaimu, Aludra. Tapi ini? Aku harus bagaimana?" ucap Zergan sendu mengelus tato yang ada di tubuh Aludra itu. Tubuh keduanya sudah sangat basah karena keringat cinta mereka.


Zergan terkekeh pelan mengingat betapa ganas dia dan Aludra tadi. "Andai semua baik-baik saja. Ini adalah hal yang sangat menyenangkan, Sayang," cicit Zergan pelan.


Tangan Zergan menghapus keringat yang membasahi dahi Aludra. Wanita itu nampak sangat nyaman tidur dalam dekapan Zergan.


Setelah beberapa bulan, ini adalah pertama kalinya Aludra tidur dalam dekapan Zergan.


Zergan dengan perlahan merebahkan Aludra di kursi mobil. Lelaki itu mengambil baju dan celananya untuk dipakai kembali. Setelah selesai, Zergan mengambil baju Aludra yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai mobil. Zergan kembali memasangkan baju itu dengan pelan agar tak membangunkan Aludra.


Selesai dengan pakaian mereka, Zergan membuka.ointu mobil. Dengan sedikit kesusahan, Zergan membawa Aludra keluar mobil dengan menggendongnya.


Langkah demi langkah yang begitu hati-hati Zergan lakukan akhirnya sampai di ruangannya. Beruntung dari basemen ke ruangannya hanya perlu naik lift tanpa melewati banyak karyawan. Jika tidak, maka akan banyak karyawan menduga-duga atas apa yang telah mereka lakukan.


Zergan menidurkan Aludra di kasur kamar pribadi yang ada di ruangannya. Aludra memandang wajah Aludra yang masih nampak damai dalam tidurnya. Wanita itu bahkan sama sekali tak terganggu dengan semua gerakan yang terjadi.


"Kamu ibu dari anakku, Aludra. Hanya itu untuk saat ini," gumam Zergan dan pergi melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


.....


Diruangan lain, Wira sedang duduk berhadapan dengan seorang lelaki yang sudah sangat ketakutan di kursinya.


"Jadi kamu yakin tidak punya karyawan seperti yang tadi aku katakan?" tanya Wira mengintimidasi.


Lelaki itu mengangguk. "Benar, Tuan. Saya berani sumpah. Dia bukan salah satu dari karyawan saya. Tuan juga sudah melihat rekaman CCTV nya kan," ucap lelaki itu menjelaskan.


Wira memandang lelaki didepannya ini. Dia adalah manager cafe tempat Wira dan Aludra mengadakan pertemuan tadi. Wira tahu lelaki didepannya ini berkata jujur. Karena dia sudah memperlihatkan semua foto dan data karyawannya. Dan itu tidak ada foto pelayan yang tadi memberikan minum pada Aludra.


"Aku ingin ambil rekaman CCTV ini," ucap Wira tegas.


Lelaki itu mengangguk. "Sekali lagi, saya minta maaf atas semua ini, Tuan. Maaf atas kelalaian saya dalam menjaga keamanan sehingga menganggu kenyamanan Tuan," ucap lelaki itu menyesal.


Wira mengangguk. Dia tidak marah. Karena dengan rekaman CCTV itu, Wira sudah bisa menebak semuanya. "Sekarang kau boleh pergi," ucap Wira yang langsung dianggukki oleh lelaki itu.

__ADS_1


Wira tersenyum senang menatap pintu ruangannya yang kembali tertutup. "Rea," gumam Wira dan langsung berdiri untuk keluar dari ruangannya.


Wira mencekal lengan Rea yang akan memasuki ruangan Zergan.


Rea yang merasakan itu langsung berbalik dan menatap bingung pada Wira. "Ada apa, Kak?" tanya Rea.


Tanpa bicara apapun, Wira membawa Rea ke dalam ruangannya.


"Kakak apa-apaan sih!" ucap Rea kesal saat Wira melepaskan tangannya dengan kasar sehingga meninggalkan bekas kemerahan.


Wira hanya diam. Dia mendudukkan Rea di kursi seberang meja kerjanya. Lelaki itu beralih membuka laptopnya dan membuka sebuah video dan memperlihatkan pada Rea.


Rea terlihat santai. Dia masih bersikap layaknya orang bingung yang tak tahu apa-apa. Sampai pada akhir video, wanita itu masih memasang wajah bingungnya. "Lalu?" tanya Rea pada Wira setelah video rekaman CCTV cafe selesai di putar.


"Apa kau mengenal wanita yang membuat minuman itu, Rea? Aku tidak bisa mengenalnya karena dia menggunakan topi cafe hingga menutupi wajahnya," ucap Wira.


Ya, dalam rekaman CCTV itu adalah rekaman dari bagian dapur. Dima seorang wanita membuat minuman dan memasukan sesuatu kedalam minuman tersebut. Dan orang itu juga yang membawa minuman dan memberikannya pada Aludra. Suasana dapur yang kosong mempermudahkan orang itu untuk bekerja.


Setiap karyawan cafe menggunakan topi sebagai identitas cafe mereka. Dan topi itu memiliki bagian depan yang cukup panjang dan lebar sebagai ciri khasnya. Karena kesibukan setiap karyawan dengan pelanggan yang ramai, tidak ada yang ngeh dengan karyawan gaib itu yang sudah menjebak Aludra.


"Aku hanya meminta pendapatmu, Rea. Kenapa kau marah begini?" tanya Wira.


Rea segera menormalkan mimik wajahnya. Wanita itu menghirup nafas banyak dan menatap Wira. "Tidak ada orang yang tidak marah jika dituduh, Kak," ucap Rea menatap Wira.


"Apakah aku menuduhmu, Rea? Aku hanya bertanya pendapatmu tentang orang di video itu. Kenapa kau bilang aku menuduhmu? Apakah aku ada mengatakan bahwa kau adalah pelukannya?" tanya Wira menatap Rea dengan pandangan mengintimidasi.


"Kakak memang tidak mengatakan itu. Tapi arah perkataan Kakak menuduhku," ucap Rea marah.


Wira terkekeh pelan. "Kenapa kau jadi emosi begini, Rea. Aku hanya bertanya padahal," jawab Wira santai.


Rea mengalihkan pandanganya dari Wira. Wira yang melihat itu terkekeh pelan. Lalu pandangannya beralih pada pergelangan tangan Rea yang menunjukkan sebuah tato kecil.


Wira mengangguk-angguk. Lelaki itu kembali memutar video tersebut dan menjeda pada bagian yang menjadi incarannya. "Tato yang indah bukan, Rea?" tanya Wira pada Rea setelah memperlihatkan video yang dia jeda pada Rea.


Mata Rea membulat sempurna melihat itu. Dengan reflek wanita itu menyembunyikan pergelangan tangannya dari Wira.

__ADS_1


"Indah bukan?" tanya Wira lagi berbisik dekat dengan telinga Rea sehingga membuat wanita itu tak tenang.


"Apa yang indah?" tanya sebuah suara dari arah pintu ruangan Wira.


Wira menatap kebelakang. "Kau selesai dengan kegiatan favoritmu?" tanya Wira pada orang tersebut.


Orang itu berdecak malas. Pandangannya beralih pada Rea dan laptop yang ada di meja. "Apa itu?" tanyanya sedikit berjalan masuk.


"Bukan apa-apa, Pak," ucap Wira menutup laptopnya.


Ya, orang itu adalah Zergan yang tiba-tiba datang ke ruangan Wira.


Rea? Wanita itu sedikit berterimakasih karena Zergan datang diwaktu yang tepat. Tapi kini dia takut jika Zergan juga melihat video itu.


Wira yang dapat menangkap wajah ketakutan Rea tertawa dalam hati. Kau bermain dengan orang yang salah, gadis kecil. Batin Wira.


"Rea, kenapa kamu disini Dek?" tanya Zergan.


"Tadi ada berkas yang harus Rea minta sama Kak Wira Bang," jawab Rea beralasan.


Wira yang mendengar itu tersenyum miring. Berbohong untuk keselamatan diri. Batin Wira.


"Bagiamana main kuda-kudaanmu?" tanya Wira menatap Zergan.


Zergan mendengus kesal. "Aku menunggumu di ruanganku," ucap Zergan dan langsung berbalik meninggalkan ruangan Wira.


Saat akan teringat sesuatu. Zergan kembali berbalik dan menatap Rea. "Rea," panggil Zergan.


"Kenapa Bang?" tanya Rea.


"Tato yang indah."


......................


Untuk visual Zergan dan Aludra, silahkan lihat di instagram aku yaaa @yus_kiz

__ADS_1


Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗


__ADS_2