
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗
🌹HAPPY READING🌹
"Di ruang tamu ada tuan Adam, Nyonya," ucap Bibi yang juga di dengar oleh Zergan.
Tangan Zergan mengepal kuat.
Setalah mendengar kabar dari Bibi, Aludra kembali menutup pintu dan mendekati suaminya. Mata Aludra membola melihat sebuah benda tajam yang ada di tangan Zergan. "Apa yang kamu lakukan, Mas?!" tanya Aludra segera merebut benda itu dari tangan Zergan.
"Berikan Sayang. Adam Bailey harus mati!" ucap Zergan dengan mata yang sudah dipenuhi amarah.
"Sadar, Mas. Dia itu ayah kamu," ucap Aludra mencoba menyadarkan pikiran Zergan.
"Tidak ada Ayah yang rela menghancurkan anaknya sendiri, Sayang," ucap Zergan dengan air mata yang mengalir begitu saja.
Sungguh, hatinya sangat sakit saat ini. Dia kira ayahnya tidak sejahat itu, tapi melebihi apa yang dia pikirkan.
"Kita bicara baik-baik, Mas," ucap Aludra lembut mengusap pelan bahu Zergan.
Aludra segera melempar benda tajam itu ke kasur dan memeluk tubuh Zergan. Aludra sadar sekarang, disini bukan hanya dia yang terluka karena dibohongi oleh sandiwara itu, tapi suaminya ternyata lebih sakit lagi. Bersandiwara dengan berpura-pura di depan pelaku utama semuanya. Dan lebih sakit lagi, pelaku itu adalah Ayah kandung dan adik tirinya sendiri yang sudah dia anggap sebagai adik kandungnya.
"Mas, jangan seperti ini," ucap Aludra lembut dengan air mata yang tak kuasa dia tahan. Melihat suaminya yang sangat hancur, membuat Aludra tidak tahan untuk tidak menangis. Hatinya ikut hancur mendengar tangis liku Zergan.
"Sakit sekali, Sayang," ucap Zergan dengan segala sesak di hatinya.
__ADS_1
Aludra hanya bisa mengangguk sambil terus memeluk Zergan. Pelukan yang selalu bisa menenangkan suaminya itu.
Beberapa menit, Zergan melepaskan pelukannya pada Aludra. "Aku akan kebawah. Kamu ke kamar mandi dulu untuk cuci muka," ucap Zergan.
"Kamu juga, Mas," ucap Aludra mengajak Zergan mencuci wajahnya.
Zergan menggeleng. "Aku harus segera menemuinya. Kamu pergilah ke kamar mandi," ucap Zergan mengusap lembut pipi Aludra.
"Janji akan pakai kepala dingin?" tanya Aludra yang dianggukki oleh Zergan.
Aludra mengangguk dan berlalu ke kamar mandi. Setelah Aludra sudah tidak terlihat, Zergan mengalihkan pandanganya pada pisau tajam yang tadi di lempar Aludra ke kasur. Tangan Zergan terulur mengambil pisau tersebut.
Setelahnya Zergan berjalan membuka laci paling bawah di meja sebelah ranjang. Disana terdapat sebuah pistol pribadi milik Zergan. Zergan mengambil benda itu.
"Maaf, Sayang. Tapi aku harus membawa ini. Kita tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan oleh pria brengsek itu," ucap Zergan menatap pisau dan pistol yang sudah ada di kedua tangannya.
Zergan menyimpan kedua benda tajam itu dengan menyelipkan di pinggang celana bahan yang dia gunakan. Bahkan lelaki itu masih belum sempat mengganti pakaiannya setelah kembali dari rumah Rio. Hanya jasnya yang terlepas dari badannya.
Tidak ingin berlama-lama, Zergan berjalan keluar kamar untuk menemui Adam.
Aludra mengusap wajahnya dengan handuk kecil khusus wajah agar lebih cepat kering. Saat akan meletakkan handuk itu di gantungannya, Aludra tak sengaja menoleh ke ranjang dan tidak melihat pisau yang tadi dia lempar kesana.
Dengan segera Zergan memberikan laci paling bawah meja sebelah ranjang. Karena dia tahu bahwa Zergan biasa menyimpan senjata untuk berjaga-jaga disana.
"Ya Allah, Mas," ucap Zergan tak habis pikir. Bahkan Zergan juga membawa pistol miliknya.
Aludra tak hilang akal. Dia dengan segera menelpon Wira dan Fatih untuk datang kesini. Karena jika tidak ada mereka, Aludra tidak akan sanggup menghentikan jika nanti Zergan kelepasan dan berakhir perkelahian dengan Adam Bailey.
Setelah menelpon Fatih dan Wira, Aludra segera turun ke bawah menyusul Asam dan Zergan.
.....
Zergan duduk dengan tenang di sofa yang berhadapan dengan Adam. Kedua lelaki dengan beda usia itu hanya diam.
__ADS_1
Melihat anaknya yang hanya diam, Adam yang sejak tadi menatap Zergan membuka suara.
"Aku seperti orang asing ke rumah anakku sendiri," ucap Adam mengarahkan pandanganya ke sekeliling rumah Zergan.
Zergan terkekeh pelan. Bukan kekehan senang, namun lebih tepat kekehan sinis menatap Adam. "Anak? Ah iya. Aku baru sadar jika lelaki di depanku ini adalah Ayahku sendiri. Aku kira orang gila," jawab Zergan menusuk.
Adam emosi? Tentu saja. Hatinya sakit? Tentu saja. Tapi dia mencoba untuk menahan agar tak terjadi perkelahian dengan anaknya itu.
"Kenapa kamu menghancurkan perusahaan Ayah, Zergan?" tanya Adam langsung pada tujuannya.
"Apa Ayah yakin bertanya padaku? Pertanyaan itu membuat Ayah terlihat seperti orang bodoh," ucap Zergan menjawab dengan pedasnya. Dia tidak peduli meskipun Adam Bailey adalah ayahnya. Yabg pasti dia akan mengeluarkan segala kata kasar yang sudah dia simpan untuk lelaki itu. Urusan dosa? Nanti dia akan meminta maaf pada Tuhan jika umur panjang. Namun jika tidak, maka dia akan mati dengan kepuasan karena telah melampiaskan sakit hatinya.
"Kamu meminta untuk lepas dari perusahaan pusat dan menjadi perusahaan sendiri, ayah mengabulkan itu, Zergan. Tapi kenapa kamu membuat saham perusahaan Ayah turun?" tanya Adam menatap Zergan.
Zergan terkekeh. "Perusahaan Ayah? Itu punya Kakekku," jawab Zergan yang membuat Adam terdiam.
"Kau sungguh pintar bicara," ucap Adam yang sudah tak bisa menahan kesalnya lagi.
Saat Zergan akan menjawab, Aludra datang dari dapur membawa nampan berisi minuman untuk Zergan dan Aludra. Tadi saat turun, Aludra memutuskan untuk langsung turun ke dapur.
"Terimakasih, Nak," ucap Adam ramah.
Aludra tersenyum dan mengangguk. Meskipun dia tahu bagaimana kelakuan ayahnya, dia harus tetap hormat sebagai menantu.
Setelah meletakkan minum, Aludra kembali ke dapur dan menuju kamarnya. Dia ingin Zergan dan Adam bicara berdua. Toh jika ada hal-hal yang tidak diinginkan, sebentar lagi Wira dan Fatih akan segera datang untuk membantu. Dia merasa tak enak jika harus berada disana. Lebih baik dia menyusul Zayn yang berada di kamar anak itu.
"Aku harus pintar untuk menghadapi orang sepertimu, Ayah," jawab Zergan.
"Menghancurkan perusahaan pusat Bailey, itu artinya kamu menghancurkan kerja keras Kakek mu, Zergan."
"Tapi aku sudah memberi Zergan izin untuk itu!"
................
__ADS_1
Dukung novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yang lainnya. Tentunya ada info Alu dan Zergan jugaa. Terimakasih 🤗😉