
WELCOME BACK TO MY STORY
🌹HAPPY READING🌹
Zergan turun dari kasur dan berjalan mendekati aludra dengan sebelah tangan mendorong tiang infusnya.
"Sayang," panggil Zergan setelah dua duduk di sebelah aludra.
"Aku memaafkan bukan berarti melupakan, Mas," ucap aludra tanpa menoleh menatap Zergan.
"kamu biarin aku pergi sendiri?" tanya Zergan sendu.
"ada mama," jawab Aludra singkat.
"tadi kamu udah gak marah sama aku, Sayang," ucap Zergan.
aludra langsung menoleh. "Begitu mudah kamu menyimpulkan suasana hati aku, Mas," jawab Aludra lirih.
"Kakek keluar dulu," ucap fatih menyela. Jika dia terus berada disana, maka dia sendiri yang akan merasa canggung.
Setelah Fatih keluar, Zergan beralih menggenggam tangan Aludra. "kesalahan aku keterlaluan, ya Sayang?" tanya zergan pelan.
"Sangat, Mas. Makanya kamu sama mama aja, ya? selama ini juga mama yang tahu semua kondisi kamu, Mas. sedangkan aku gak ngerti apa-apa," ucap aludra lagi.
Hati zergan kembali sakit mendengar apa yang dikatakan istrinya. bukan karena perkataan aludra yang menyinggungnya, tapi sakit melihat istrinya yang merendahkan diri karena semua tindakannya.
"jangan berlarut seperti ini, Sayang," ucap Zergan lagi dengan kepala tertunduk dan tangan yang masih setia menggenggam tangan aludra.
Aludra menatap tak percaya pada suaminya. Semudah itu zergan mengatakan padanya untuk tidak larut dalam kesedihan? Apa suaminya itu tidak sadar jika dirinyalah yang menyebabkan semua ini. Sungguh, ingin rasanya aludra berteriak dan memaki Zergan. menjambak rambut zergan dan menampar pipinya dengan keras.
Aludra menghela nafas pelan. Dia menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Zergan. "Biar kamu gak ikut sedih juga jadi adalah pilihan yang baik jika aku gak pergi, Mas. aku takut nanti keadaan aku bukannya membuat kamu sembuh malah membuat kamu lebih kepikiran, Mas. Kamu fokus sama kesehatan kamu, dan biar aku yang fokus sama anak-anak aku disini," ucap aludra mencoba untuk sabar.
Sabar, sabar dan sabar. Aludra benar-benar dituntut untuk sabar saat dirinya dijadikan alasan sebuah kebohongan. Dia dituntut untuk diam dan tak marah saat dirinya sendiri di jadikan pembungkam kemarahannya sendiri.
__ADS_1
"Anak aku juga, Sayang," ucap zergan sendu.
Aludra mengangguk. "Sekarang kembalilah ke kasur, Mas. jangan buat kondisi kamu semakin buruk karena aku," ucap Aludra mencoba melepaskan genggaman tangannya dari tangan Zergan.
"kamu adalah obatnya, Sayang," ucap Zergan dengan suara bergetar.
Aludra menatap lama mata Zergan setelah mendengar apa yang laki-laki itu sampaikan.
"jika obat, kenapa harus aku yang tidak mengetahui semua ini, mas? kalau aku obat, berarti aku orang yang harusnya pertama tahu selain kamu, mas. Tapi apa? bahkan jika aku tidak menemukan kertas itu, maka selamanya aku gak bakal tahu," ucap aludra tegar. lain dengan Zergan yang sudah menitikan air matanya.
"kamu tahu, mas? aku malu saat membanggakan bahwa diri aku adalah istri yang paling sempurna. aku istri yang selalu menjaga pola hidup kamu agar tetap sehat dan baik-baik saja. Tapi nyatanya, dibalik itu semua aku adalah istri yang paling gagal. aku malu pada dunia, mas," ucap aludra lagi menyampaikan apa yang dia rasakan.
"Maaf, sayang. Maaf," ucap Zergan yang sudah mengangkat kepalanya dan menatap aludra dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. lelaki itu sangat cengeng akibat kesalahannya sendiri.
"Bagaimana jika seandainya aku menyembunyikan kehamilan aku sama kamu, mas?" tanya aludra menatap lekat Zergan.
Zergan menggeleng. "aku akan sangat marah dan bahkan bisa melakukan apa saja, sayang," ucap Zergan sedikit tak suka.
Zergan bungkam. dia terdiam setelah sadar jika pertanyaan yang aludra berikan adalah untuk dirinya sendiri.
"sayang."
"bagaimana jika aku meminta sebuah perceraian?"
Deg.
Zergan menggeleng kuat. Waktu terasa berhenti saat itu juga. Dunia Zergan seakan hancur mendengar apa yang dikatakan oleh aludra.
"Jangan katakan itu, Sayang. ingat janji kita untuk selalu bersama," ucap Zergan lirih.
"Harusnya kamu juga ingat janji kita untuk selalu menjaga komunikasi ini, mas," jawab aludra telak.
lagi dan lagi Zergan hanya bisa diam. dirinya sungguh tak bisa menjawab apa yang dikatakan aludra selain mengungkapkan kata maaf dan penyesalan.
__ADS_1
"pukul aku. tampar aku. maki aku, sayang. tapi jangan pernah meminta perceraian. lebih baik kamu bunuh aku daripada harus hidup sebagai mantan suami kamu, sayang. aku hanya akan hidup sebagai suami kamu," ucap Zergan sakit. sungguh, membayangkan saja sudah membuatnya sangat tidak rela. apalagi memang nyata? lebih baik zergan dibunuh saat ini juga.
"Perkataan kamu sama sekali tidak mencerminkan apa yang udah kamu lakuin sama aku, Mas. kamu memang gak main tangan. kamu memang gak selingkuh. tapi kamu menghancurkan mental aku sebagai seorang istri dengan semua kebohongan ini," ucap aludra menangis. tidak sanggup lagi rasanya jika harus menahan air mata di depan orang yang dia cintai sekaligus membuat hatinya terluka.
Aludra menghapus air matanya. dia memegang pundak Zergan dan mengangkat dagu lekaki itu agar menatapnya.
Senyuman aludra berikan untuk sang suami. Senyum tulus aludra membuat rasa bersalah dalam diri Zergan semakin dalam.
"Obati semua air mata aku ini dengan kesehatan kamu, Mas. berjanjilah untuk kembali kesini dengan mas Zergan yang baru. kembalilah kesini dengan mas Zerganku yang sesungguhnya. Cukup kamu tetap sehat, maka itu sudah cukup, mas," ucap aludea lembur setelah bisa berdamai dengan emosinya.
"lalu gimana sama kamu, Sayang?"
Aludra menggeleng. "aku gakpapa, Mas. Aku disini akan selalu baik-baik aja. aku disini akan selalu menjadi istri kamu yang setia menunggu kepulangan kamu, Mas," jawab aludra meyakinkan zergan.
"Dan calon anak kita?"
"kami semua akan baik-baik aja. Aku percaya zayn pasti akan selalu lindungi aku, Mas. Percayalah, mas jika zayn sudah besar, aku pastikan dia akan menghajar kamu habis-habisan karena sudah membohongi mamanya dan membuat mamanya menangis," ucap aludra sedikit tertawa menghibur suaminya.
Zergan tanpa basa-basi memeluk Aludra. "aku akan kembali dengan kesehatan aku, Sayang. aku janji," ucap Zergan yakin.
Aludra mengangguk. dengan perlahan tangan wanita itu terangkat membalas pelukan Zergan. Dan aku disini akan mengobati hatiki sendiri, Mas. Batin Aludra sendu.
Saat sakit hati seperti ini, dia masih berusaha membuat zergan tertawa dengan melupakan keadaan hatinya. sungguh, tidak mudah menjadi aludra. sabar dan tegar harus dituntut banyak dalam dirinya saat sakit dan kecewa itu datang menghajar batinnya.
Aludra melepaskan pelukannya. "Sekarang kamu istirahat, ya. untuk sampai malam ini, izinkan aku jadi istri yang baik di dunia, Mas."
...----------------...
Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @nonamarwa_ (ganti nama dari yus_kiz ke nonamarwa_) untuk melihat info mengenai novel aku yaa!!!!
SELAMAT MEMBACAAAA!!!!!
__ADS_1