Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
BAB 158


__ADS_3

HAPPY READING


“dengarkan hati kamu, nak. Jika kamu masih mendengarkan kepalamu, maka apa bedanya kamu zergan? Bukankah itu akan membuat kalian semakin merasa sakit? Hubungan kalian memang masih baik-baik saja, tapi hati kalian?”


Bu lastri mengenggam tangan aludra lembut. “kamu mengetahi kondisi suamimu baik disini. Tapi disana? Kamu tidak tahu apakah dia benar baik atau tidak. Jangan sampai kamu menyesal nanti, nak. Kesehatan bukan hal yang main-main. Jangan sampai yang kamu sambut disini adalah jenazah, bukan manusia bernyawa.”


Mata aludra berkaca-kaca mendengar apa yang disampaikan oleh bu lastri. Membayangkannya saja sudah membuatnya takut dan bergetar setengah mati, apalagi nanti memang terjadi jika suaminya tak selamat. Apakah aludra bisa memaafkan dirinya sendiri?


“ibu tahu, nak. Kamu memang dibohongi. Tapi tujuan dia membohongi kamu untuk kebaikan kamu kan? Dia memikirkan kamu dan calon anaknya,” ucap bu lastri lagi lembut.


“tapi janjinya untuk saling terbuka sudah diingkari, bu,” jawab aludra dengan suara bergetar.


“disana salahnya zergan. Tapi tujuan dia berbohong bukan untuk hal yang buruk, nak. Jika dia tidak berbohong apa kamu akan kuat mendengar suamimu sakit? Mungkin memang kamu kuat, nak. Buktinya sampai sekarang kandunganmu masih baik-baik saja. Tapi pikiran seorang suami dan ayah berbeda, aludra. Anak dan istri adalah nomor satu untuknya,” ucap bu lastri mencoba membujuk aludra.


“alu akan pikirkan, bu,” jawab aludra sendu.


“maaf jika apa yang ibu sampaikan membuat kamu tak nyaman atau tak suka, bahkan mungkin bisa membuat kamu kesal, nak. Tapi percayalah, semua demi kebaikan rumah tanggamu, zayn dan juga calon anak kalian,” ucap bu lastri tulus.


Aludra tersenyum. Wanita itu menggeleng menatap bu lastri. “apa yang ibu katakana semuanya benar. Hanya saja aludra masih butuh berfikir, bu. Maaf,” ucap aludra tak enak.


Bu lestari mengangguk. “berfikirlan sewajarnya, nak. Jangan terlalu lama hingga kamu terlena dengan sakit itu. Libatkan juga hatimu. Mungkin hati dan pikiranmu akan bertengkar sebentar. Tapi percayalah, musyawarah hati dan pikiran akan menghasilnya mufakat yang baik, nak. Karena bagaimanapun, tidak akan pernah salah jika membawa hati dalam setiap mengambil keputusan,” ucap bu lastri lembut dan tulus.

__ADS_1


Aludra tersenyum dan mengangguk. Apa yang dikatakan bu lastri memang benar, semuanya. “alu akan lakukan apa yang ibu nasehatkan,” ucap aludra lembut.


“kamu masih ingin disini?” tanya bu lastri sambil membereskan peralatan rajutnya.


“kalau ibu masuk kamar, alu juga akan ke kamar,” ucap aludra lembut.


“sekarang kita istirahat dulu. Gak baik buat kamu tidur malam, nak,” ucap bu lestari mengajak aludra.


Setelah semuanya selesai, bu lestari mematikan lampu sebelum masuk kamar. Begitu juga dengan aludra yang kini sudah masuk ke kamarnya.


Aliudra duduk di sisi kasur yang kosong. Kakinya dia selonjorkan agar lebih nyaman dengan punggung bersandar di kepala kasur. Mata aludra menatap anak sulungnya yang tidur dengan sangat nyenyak. “zayn pasti merindukan papa, ya nak,” ucap aludra sendu. Zayn memang tidak pernah mengungkapkan isi hatinya. Tapi aludra tahu, akhir-akhir ini zayn lebih sering menelpon zergan dan beradu mulut dengan papanya itu. Itu semua dia lakukan untuk mengurangi sedikit rasa rindunya dengan zergan. Dan aludra sangat tahu itu.


Kejujuran yang sulit diungkapkan pasti akan berakhir pada kesalah pahaman. Inilah yang saat ini terjadi dalam hubungan aludra dan zergan. Rumah tangga mereka bai, tapi dalam hati sepasang suami istri itu masih menyimpan sedih. Zergan yang sedih karena harus menerima kecewa sang istri, dan aludra yang kecewa karena pilihan suaminya. Hubungan harmonis dan komunikasi yang masih mereka lakukan hanya sebatas obat hati agar semuanya nampak baik-baik saja. Padahal di dalam hati masing-masing ada luka yang menganga.


“mungkin mas zergan masih istirahat. Apa aku telfon mama?” gumam aludra menimbang.


“mama pasti juga istirahat. Aku akan telfon besok pagi,” lanjut aludra. Wanita itu meletakkan ponselnya kembali dan ikut berbaring sambil mencari posisi nyaman untuk perutnya. Setelah dirasa posisi miring dengan bagian lain badannya di sanggah dengan bantal, aludra mulai menutup mata menyusul anaknya ke dunia mimpi.


…..


Sedangkan di tempat lain, mama ana menunggu dengan cemas di luar ruangan. Zergan tiba-tiba mengalami susah nafas saat tadi dia akan memulai tidurnya. Melihat anaknya yang seperti gagal akan bernafas membuat mama ana tidak kuasa menahan tangisnya. Ternyata seperti itu jika ALS yang menyerang Kesehatan zergan kambuh. Selama mereka di Thailand, baru kali ini mama ana melihat penyakit anaknya itu kambuh.

__ADS_1


“apa aku harus memberitahu aludra? Apa aku minta dia datang kesini? Zergan sangat butuh aludra dan zayn ada disini,” ucap mama ana menimbang.


Mama ana menatap dari kaca jendela luar ruangan zergan. Dari sini dia bisa melihat dengan jelas bagaimana kabel dan alat yang ana tidak ketahui namanya itu melekat di dada dan hidung zergan. “Ya Allah, nak. Tolong kuat dan bertahan,” ucap mama ana dengan suara bergetar menahan tangis.


Di dalam ruangan, terjadi ketegangan. Professor dan beberapa dokter lainnya saat ini sedang bekerjasama untuk kembali menormalkan pernafasan zergan. ALS ini tidak berbahay. Tapi yang terjadi pada zergan ini langka. ALS yang dia alami adalah als yang menyerang saraf pernapasan hingga bisa menyebabkan lelaki itu gagal nafas hingga meninggal.


“nadi pasien mulai melemah, professor,” ucap perawat perempuan yang sejak tadi fokus menjaga denyut nadi zergan selagi yang lain menormalkan pernafasannya. (berbicara dalam bahasa Thailand).


“tingkatkan kekuatan kejutan jantungnya,” ucap professor pada asistennya yang lansgung dianggukki oleh dokter muda itu.


Diluar ruangan mama ana masih terus berdoa untuk keselamatan zergan. Selang bebarapa menit, para dokter dan perawat memberaskan peralatan mereka. Sungguh, kekhawatiran saat ini benar-benar menyelimuti hati mama ana.


“bagaimana professor?” tanya mama ana setelah professor keluar dari ruangan zergan sendiri.


“zergan berhasil melewatinya kali ini. Sekarang dia hanya butub istirahat,” ucap professor yang membuat mama ana bernafas lega.


Mama ana mengucapkan ribuan terimakasih dan syukurnya atas keselamatan zergan. Setelah professor kembali ke dalam ruangan zergan entah untuk apa, mama ana duduk di sofa yang ada disana. “jika langsung menelpin aludra aku rasanya tidak akan sanggup,” gumam mama ana.


“aku akan bicara dengan ayah dan memintanya untuk membawa aludra kesini,” putus mama ana dan langsung melakukan panggilan pada Fatih.


Tanpa menunggu lama, panggilan ana langsung diangkat saat dering pertama. “ada yang ingin ana sampaikan, ayah. Dan ada yang ingin ana minta kepada ayah,” jawab ana setelah mendengar suara dari fatih di seberang telepon.

__ADS_1


“zergan kritis. Tolong bawa aludra dan zayn kesini.”


...****************...


__ADS_2