
HAPPY READING
Kini mereka bertiga sudah duduk di kursi yang sudah di pesan oleh grace. Zayn menatap berbinar es krim yang disediakan khusus untuknya. “ini sesuai janji tante pada zayn,” ucap grace menggeser cup es krim ukuran besar itu ke depan zayn.
“wah! Terimakasih banyak, tante,” jawab zayn senang dan semangat.
Grace tersenyum senang dan mengangguk. Aludra yang melihat senyum anaknya ikut tersenyum. “secukupnya aja ya, nak,” ucap aludra mengingatkan zayn.
“siap ma-, lho? Uncle Wira?!” ucap zayn terkejut melihat seorang lelaki yang sangat dia kenal dengan baik.
“itu uncle wira, ma,” ucap zayn memberitahu aludra dengan menunjuk pada kursi paling pojok yang berjarak sangat jauh dari tempat mereka duduk.
“mana, nak?” tanya aludra mengikuti arah tunjuk zayn. Begitu juga dengan grace yang ikut melihat.
Dan benar saja, dengan jelas mereka melihat wira duduk bertiga dengan anwar, dan satu perempuan berhijab yang sangat manis. Nampak wajah perempuan itu nampak mencolok karena kulitnya yang putih bersih.
“itu siapa?” tanya aludra menatap grace yang dibalas gelengan oleh Wanita itu. Sepertinya rencana grace kali ini kurang tepat. Niatnya yang ingin menenangkan hati dan pikiran malah berbalik. Hatinya kembali terganggu, begitu juga dengan pikirannya
“eh zayn mau kemana?” tanya aludra mencegah zayn yang akan turun dari kursinya.
“mau nyamperin uncle wira,” ucap anak itu menjawab.
Aludra menggeleng. “zayn tetap disini. Jangan ganggu acara uncle wira, nak. Barangkali uncle wira dan kakek anwar lagi ada acara penting. Lagian jika nanti zayn kesana, es krimnya bisa cair,” ucap aludra mencegah zayn.
Zayn menurut. Anak itu kembali duduk dengan benar di kursinya sambil menikmati es krim yang tadi pesan khusus oleh grace untuknya.
“kamu baik-baik saja?” tanya aludra menggenggam lembut tangan grace.
Grace tersenyum dan mengangguk. “aku tidak apa-apa,” jawab grace mencoba tenang. Jujur saja, saat ini badan grace terasa panas dingin dengan apa yang baru saja dia lihat. Rasa tidak pantas dalam dirinya menjadi semakin besar melihat Wanita yang kini duduk bertiga dengan wira dan ayahnya. Mereka nampak akrab dan dekat sekali.
“jangan membandingkan dirimu dengan Wanita lain, grace. Jangan membuat dirimu berkecil hati. Setiap Wanita memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Jika kamu melihat Wanita lain lebih dari dirimu, apalagi kamu tidak mengenalnya, jangan meklaim dirimu buruk. Karena bisa jadi, ada kelemahan dalam dirinya yang tidak kita ketahui,” ucap aludra mencoba memberi ketenangan pada grace.
“tapi setidaknya, mereka seiman,” jawab grace sendu dengan pandangan menatap wira.
“orang seiman belum tentu berjodohkan?” ucap aludra yang berhasil mengalihkan atensi grace padanya.
Grace tersenyum. dia mengangguk membenarkan apa yang disampaikan oleh aludra. “terimakasih karena menengkan hatiku,” ucap grace tulus.
__ADS_1
“aludra mengangguk. Kita makan?” tanya aludra.
“ayo,” jawab grace dan mereka melakukan makan malam diselingi candaan dan tingkah lucu zayn.
…..
Pukul setengah Sembilan malam, aludra sampai di panti asuhan. Setelah memastikan mobil grace pergi, aludra dan zayn membuka pintu panti.
“lho, ibu belum tidur?” tanya aludra melihat ibu panti yang masih duduk di sofa ruang tamu.
“ibu masih lanjutin ini dulu, nak,” jawba bu panti menunjukan rajutan yang masih ditangannya.
Aludra tersenyum. “alu mau ke kamar dulu, ya bu. Mau tidurin zayn dulu, udah ngantuk dianya,” ucap aludra melihat zayn yang kini sudah mengantuk.
Ibu lastri mengangguk. Setelah melihat aludra masuk kamar bersama zayn, dia kembali melanjutkan kegiatannya.
Sampainya di kamar, aludra duduk di kasur dan mengusap perutnya yang kini sudah membesar. “mama capek?” tanya zayn perhatian mengusap lembut perut aludra.
“capek, tapi mama senang,” jawab aludra tersenyum. “sekarang zayn ganti baju terus cucui muka, gosok gigi sama cuci kaki dan tangan dulu. Setelahnya baru bisa tidur,” lanjut aludra yang dianggukki patuh oleh zayn.
“bisa sendiri, nak?” tanya aludra menatap pintu kamar mandi yang terbuka. Memang begitu zayn, karena kalau pintu kamar mandi di tutup maka dia akan takut.
Aludra tersenyum. anaknya itu sudah besar sekarang. Anaknya sudah bisa melakukan apapun yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Setelah lima belas menit, zayn keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar dan baju yang sudah berganti dengan baju tidur.
“mau langsung tidur?” tanya aludra lembut.
Zayn mengangguk. Anak itu langsung merebahkan dirinya di kasur dan tidak lama matanya terpejam karena Lelah dan mengantuk.
Melihat anaknya yang sudah tertidur, aludra berjalan ke kamar mandi setelah mengambil pakaian dan membersihkan dirinya. Tidak butuh waktu lama, aludra telah selesai dari kegiatannya. Karena belum merasakan kantuk, aludra berjalan keluar kamar menemui bu lastri.
“ibu belum selesai?” tanya aludra duduk di sebelah bu lastri.
“belum nak,” jawab bu lastri yang masih sibuk dengan rajutannya.
Aludra diam memperhatikan Gerakan tangan bu lastri. Timbul dipikirannya untuk membuat baju rajut untuk calon anaknya dan juga zayn.
“ibu istirahat dulu, bu. Ini udah cukup malam,” ucap aludra perhatian.
__ADS_1
Bu lastri mengangguk. Dia menyelesaikan rajutannya dan akan melanjutkannya besok.
“kamu kenapa belum tidur?” tanya bu lastri lembut.
“alu belum ngantuk, bu,” jawab aludra jujur.
“apa ada yang kamu fikirkan?” tanya bu lastri perhatian.
Aludra menggeleng. “hanya belum ngantuk aja, bu,” jawab aludra.
“nak,” panggil bu lastri lembut yang dibalas tatapan teduh oleh aludra.
“apa kamu tidak ingin menyusul suamimu?” tanya bu lastri sedikit hati-hati.
Aludra terdiam. Dia ingin sekali, tapi ada dorongan dari pikiraanya untuk menolak itu. Aludra memang sudah menceritakan semuanya kepada bu lastri untuk meringankan sedikit bebannya.
“susul suamimu, nak. Kamu memang selalu mendoakan dan mendukung kesehatannya. Tapi kehadiran kamu juga sangat dia butuhkan,” ucap bu llastri lembut.
Aludra termenung. Tangannya bergerak mengusap perutnya yang membuncit. “aludra masih belum siap, bu,” jawab aludra pelan.
“apa yang membuat kamu belum siap? Kamu mengantar suamimu ke bandara. Kamu mengemaskan pakainnya untuk pergi berobat. Kamu memeluk suamimu saat dia akan menaiki pesawat. Lalu apa yang membuat kamu belum siap, nak?” tanya bu lastri menatap aludra.
“kebohongannya, bu,” jawab aludra menunduk.
Bu lastri mengangguk. “bukan maksud ibu mengusir kamu dari panti, nak. Tapi daripada disini, akan lebih baik buat kamu, zayn dan zergan untuk berada di tempat yang sama. Apalagi kondisinya zergan bukan pergi untuk bekerja, nak. Dia pergi untuk memperjuangkan kesehatannya. Dia pergi untuk umur yang Panjang agar bisa hidup lama bersama kamu dan anak-anak kalian,” ucap bu lastri lembut.
“dan kebohongannya, ibu tahu zergan salah. Tapi harus kamu fikirkan lagi nak, untuk alasan apa dia berbohong,” tambah bu lastri.
Aludra mengangkat kepalanya dan menatap bu lastri. “aludra bingung, bu,” jawab aludra sendu.
“dengarkan hati kamu, nak. Jika kamu masih mendengarkan kepalamu, maka apa bedanya kamu zergan? Bukankah itu akan membuat kalian semakin merasa sakit? Hubungan kalian memang masih baik-baik saja, tapi hati kalian?”
Bu lastri mengenggam tangan aludra lembut. “kamu mengetahi kondisi suamimu baik disini. Tapi disana? Kamu tidak tahu apakah dia benar baik atau tidak. Jangan sampai kamu menyesal nanti, nak. Kesehatan bukan hal yang main-main. Jangan sampai yang kamu sambut disini adalah jenazah, bukan manusia bernyawa.”
...****************...
Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @nonamarwa_ untuk melihat info mengenai novel aku yaa!!!!
__ADS_1
SELAMAT MEMBACAAAA!!!!!