Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - BAB 98


__ADS_3

WELCOME TO THE STORY


🌹HAPPY READING🌹


"Ayah," panggil Adam pada Fatih.


Fatih menatap Adam datar.


"Aku akan menyerahkan semuanya jika Ana tetap bersamaku," ucap Adam beralih menatap dalam. mama Ana.


Mama Ana yang mendengar perkataan Adam langsung mengangkat kepala dan menatap lelaki yang menjadi ayah dari anaknya. "Jangan memanfaatkan keadaan," ucap mama Ana berani menatap Adam.


"Aku memang seperti ini dari dulu, Ana. Adalah sebuah kerugian jika kita tidak memanfaatkan sebuah peluang," jawab Adam menatap mama Ana.


Zergan terkekeh sinis. "Peluang? pikiranmu ini sebuah kelicikan, Tuan Adam Bailey," ucap Zergan menyanggah.


"Aku ingin bicara berdua dengan istriku," ucap Adam.


"Untuk apa? menambah luka menantuku?" tanya Fatih angkat bicara.


"Aku mencintainya. Tidak mungkin aku menyakitinya," jawab Adam mantap.


Zergan dan Fatih tertawa geli. Sedangkan mama Ana dia hanya menahan gejolak hati yang kini ingin sekali melampiaskan kemarahan, sedih, kesal, sakit, kecewa dan benci kepada Adam.


"Sudah terlambat jika kau mengatakan seperti itu sekarang ini, Adam. Aku bahkan geli mendengarnya," ucap Fatih menertawakan Adam.


"Apa kau juga mengatakan ini pada hatimu saat akan berkhianat, Ayah?" tanya Zergan pelan yang membuat Adam menatap sendu anaknya itu.


Mama Ana yang sejak tadi mendengar menghela nafas pelan. Pertemuan tidak akan pernah dimulai jika permintaan Adam belum terpenuhi.


"Bisa tinggalkan kami berdua?"


Pertanyaan yang terlontar keluar begitu saja dari bibir Ana yang membuat semua menatap ke arahnya.


"Ma?"


"Ana?"


"Nyonya?"


Zergan, Fatih dan Anwar reflek memanggil wanita itu mempertanyakan apa yang baru saja dia minta.


Ana mengangguk. "Ada hal yang harus aku sampaikan padanya," jawab mama Ana menatap Adam.


"Ayo zergan. "


"Tapi Kek,?"

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja," ajak Fatih meyakinkan Zergan bahwa akan lebih baik memberi waktu kepada Ana dan Adam untuk bicara berdua.


.....


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Ana setelah kini hanya ada dia dan Adam diruangan lelaki itu.


Ana dan Adam kini duduk saling berhadapan di sofa yang berbeda dan dibatasi meja.


"Bukankah tadi kamu yang bilang jika ada yang akan kita bicarakan?" tanya Adam berbalik.


"Aku tahu tabiatmu. Waktu tidak akan berjalan jika apa yang kau minta tidak dipenuhi," jawab Ana menatap Adam.


"Aku minta maaf, Ana," ucap Adam menatap dalam mata Ana.


Ana membalas tatapan adam. Ana melihat penyesalan di mata lelaki itu, tapi tetap saja itu tidak serta merta bisa menjadi obat untuk segala sakitnya.


"Aku sudah memaafkanmu," ucap Mama Ana pelan.


Senyum terbit dibibir Adam mendengar perkataan Ana. Adam yakin wanita itu pasti akan memaafkannya. Ana pasti akan sangat sulit berpisah darinya.


"Bisa kita mulai pertemuan ini? Waktu orang lain terlalu berharga hanya untuk menunggu kita," lanjut mama Ana.


Adam langsung mengangguk. Dia tidak ingin bicara lebih banyak karena itu bisa saja merubah pendirian Ana. Mendengar Ana sudah memaafkan itu adalah satu hal yang cukup untuk saat ini bagi Adam.


.....


"Maaf sebelumnya jika aku memotong pembicaraan ini. Aku secara tegas menolak untuk memimpin perusahaan. tapi aku pasti akan mendampingi kakekku untuk menjalankan perusahaan ini jika dibutuhkan," ucap Zergan yang tidak mau memberi celah para investor untuk memaksanya memimpin di BAILEY GROUP.


Para investor hanya bisa diam menerima. Itu semua adalah hak Zergan untuk menentukan. Karena jika dipaksa itu tidak akan baik untuk melanjutkan kepemimpinan nantinya.


Adam menghela nafas pelan. Melepaskan kepemimpinan di BAILEY GROUP tidak akan membuatnya miskin, karena lelaki itu masih ada usaha lainnya di bidang restoran dan juga fashion. Tapi BAILEY GROUP adalah perusahaan sang ayah yang membesarkan namanya. Tempat dia belajar dan tumbuh sebagai seorang pemimpin. Namun sayang, sebuah kesalahan membanting semua usaha baik Adam.


"Aku tahu, saat ini bukan waktunya untuk egois. Tapi bisakah kalian memberikan aku satu kesempatan lagi?" tanya Adam.


"Maaf, Tuan Adam," jawab beberapa investor dan yang lainnya menggeleng.


Adam hanya bisa menunduk. dia menatap semua keluarga bergantian dan menatap cukup lama pada Ana yang tidak menatapnya sama sekali.


"Baiklah. Mulai sekarang aku mengembalikan jabatan ini pada Ayahku" jawab Adam yang membuat para investor lega dan petinggi perusahaan lainnya.


"Terimakasih karena kau masih memikirkan banyak orang, Tuan," ucap salah satu petinggi perusahaan.


"Aku masih memiliki hati," jawab adam lirih.


"Aku ingin menyampaikan sesuatu," ucap fatih menginstruksi semuanya hingga semua pandangan kini mengarah pada lelaki itu.


"Perusahaan ini akan menjadi atas nama menantuku, aku hanya akan menjalankan saja yang dibantu oleh Zergan. Jadi pemilik sebenarnya perusahaan ini adalah menantuku saat ini. Aku juga sudah menandatangani semua file yang berkaitan dengan ini," ucap Fatih sembari menerima sebuah file yang diberikan oleh Adam.

__ADS_1


Fatih membuka file itu dan memperlihatkannya. Sedangkan Ana, Adam dan Zergan yang mendengar itu cukup terkejut. Tapi Zergan tidak marah karena ini berhak untuk mamanya. sedangkan Adam menatap tak percaya pada apa yang disampaikan Fatih. Menyanggahpun saat ini percuma karena dia sudah bukan pemimpin perusahaan ini.


"Apa kalian keberatan?" tanya Fatih.


"Kami setuju. Semua tidak ada yang merugikan karena anda tetap yang akan menjalankan perusahaan ini, Tuan Besar," ucap salah seorang petinggi perusahaan dan diangguki oleh yang lainnya.


"Ayah?" ucap anak menatap tak percaya pada apa yang dilakukan Fatih.


"Aku ingin kamu menandatangani ini, Ana," ucap Fatih tanpa menjawab panggilan Ana.


"Tapi Ayah-"


"Ini perintah, Ana. Bukan permintaan," jawab Fatih lagi yang tidak menerima alasan apapun dari menantunya itu.


Tidak ada pilihan lain selain menurut. Tangan Ana bergerak membubuhkan coretan tak berbentuk itu di tempat yang sudah disediakan dengan namanya dibawah tanda tangan itu.


"Selamat Tuan Fatih. Kami rindu akan kepemimpinanmu. dan kami akan menunggu kebijakan barumu," ucap para investor bergantian saling memberi selamat kepada Fatih.


"Dan selamat kepada Nyonya Ana atas semuanya," sambung yang lain juga menatap hormat pada Ana.


Kini di ruangan itu hanya ada mereka berlima ditambah dengan sekretaris Adam.


"Aku sudah menyerahkan semuanya, jadi ayo kita kembali, Ana," ucap adam menahan tangan ana yang akan berjalan keluar ruangan meeting.


"Kembali?" tanya mama Ana menatap balik Adam.


Adam mengangguk. "Bukankah kamu sudah memaafkanku?" tanya Adam balik.


"Memaafkan tidak harus dibuktikan dengan kembali, Adam Bailey," jawab Ana tegas.


Fatih, Anwar, Zergan dan Wiliam yang ada disana masih menjadi pendengar bagi keduanya.


"Ayo Anwar," ucap Fatih mengajak Anwar pergi. lelaki itu benar-benar tidak mau lagi mendengar segala ucapan dari Adam. Mungkin anaknya itu memang menyesal, tapi kecewa yang dia dapat lebih dalam dari penyesalan Adam.


Sebelum pergi Anwar memberi kode kepada sekretaris Adam untuk ikut pergi juga bersama mereka.


Kini di ruangan itu hanya ada keluarga kecil lengkap dengan ayah, ibu dan anak. Zergan yang berdiri dibelakang Adam, sedangkan Adam berdiri berhadapan dengan Ana.


"Ayah," panggilan lirih dari Zergan membuat pegangan tangan Adam terlepas dari lengan Ana tanpa memutar tubuhnya.


"Apa sebenarnya yang kau inginkan, Ayah?"


................


Hai temanku semua Aludra dan Zergan masih berlanjut, ya. Bagi yang sedikit lupa, kalian bisa baca bab sebelumnya ya, dijamin tetap seru.


Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yaa!!!!

__ADS_1


Selamat membaca!!!!!!!!


__ADS_2