
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗
🌹HAPPY READING🌹
Rea yang masih berada di kamar tamu mendengar suara berisik dari kamar Adam.
"Mas Adam," gumam Rea pelan dan langsung berlari keluar kamar untuk menyusul dan melihat apa yang terjadi pada Adam. Rea tidak mau lelaki itu melakukan hal nekat seperti yang akan dia lakukan tadi.
Dengan langkah besarnya Rea menaiki tangga satu persatu. Sampai di depan pintu kamar Adam, Rea menghentikan langkahnya. Sebenarnya dia takut, tapi dia harus tetap masuk untuk menghentikan tindakan konyol lelaki itu yang bisa saja dia lakukan.
Perlahan tangan Rea terangkat memegang gagang pintu. Dia menekan gagang ke bawah.
PRANG.
"AAAA!" jerit Rea ketika sebuah botol parfum yang cukup besar hampir saja mengenai kepalanya. Beruntung wanita itu bisa dengan cepat menghindar.
Adam yang mendengar jeritan Rea menoleh. Pandanganya semakin berkabut emosi menatap kedatangan Rea. Dengan langkah besarnya Adam mendekati wanita itu.
"Kemari kau!" ucap Adam menarik kasar tangan Rea.
Adam menghempaskan tubuh Rea ke ranjang dengan kasar.
Plak.
"Ini semua terjadi karena kau, ******!" ucap Adam setelah menampar keras pipi Rea.
Plak.
"Kau harus membayar semuanya dan aku akan menunjukan apa dan dimana posisimu sebenarnya, bajingan!" ucap Adam lagi setelah menampar pipi Rea yang lain.
Rea sudah tidak bisa menahan tangisnya. Antara takut, marah, sedih dan kecewa menjadi satu dalam hatinya saat ini. Percayalah, punggung Rea saat ini terasa sakit. Mungkin tidak sengaja punggungnya mengenai pecahan beling yang ada di kasur Adam. Tapi itu tidak kalah sakit dengan hatinya. Hatinya bukannya lagi terluka, tapi sudah hancur hingga tak berbentuk.
"Aku mohon sadarlah, Adam," ucap Rea mencoba menyadarkan Adam dan melepaskan dirinya.
__ADS_1
"Sadarlah. Kendalikan emosimu. Kita bisa bicara baik-baik dan menyelesaikan semua ini dengan kepala dingin," ucap Rea lagi menatap Adam dengan tatapan teduhnya.
"Kapala dingin katamu? Semuanya sudah hancur, sialan!" jawab Adam tak terima.
Adam tersenyum devil menatap Rea. Rea yang melihat itu semakin takut. Dengan sekuat tenaga Rea berusaha melepaskan dirinya dari Adam. Namun kekuatan Rea tidak sebanding dengan kekuatan Adam saat ini. Apalagi lelaki itu sedang dalam keadaan marah. Kekuatan tenaganya bertambah dua kali lipat.
Tangan Adam dengan kasar merobek pakaian yang dipakai oleh Rea hingga tidak berbentuk. Adam mencampakkan pakaian itu ke lantai hingga kini atas Rea hanya tertutup benda berbentuk kaca mata itu.
Rea menggeleng takut. "Mas Adam aku mohon, kendalikan diri kamu, Mas," ucap Rea mencoba menyadarkan Adam.
"Kau harus menjadi pelampiasan mulai sekarang!" desis Adam tajam menatap Rea.
Sungguh, Adam sangat dikuasi amarah saat ini. Dia bisa saja melakukan hal yang tak diinginkan, termasuk membunuh Rea saat ini juga.
Senyum jahat kembali terbit di bibir Adam. Dengan cepat dia juga melepas bajunya dan juga celana yang dia pakai. Dengan kasar Adam juga menarik celana Rea hingga pakaian dalamnya juga terlepas. Kini mereka semua sudah sama-sama tidak tertutup sehelai benangpun. Adam juga dengan kasar menarik begitu saja benda pembungkus kedua bukit kembar Rea. Wajah wanita itu sudah sembab karena air mata. Ketakutan terlihat jelas di matanya.
"Jangan Mas Adam," ucap Rea memohon berangsur mundur dengan kedua tangan menutupi dadanya.
Adam yang melihat itu terkekeh merendahkan Rea. "Tidak ada gunanya kau tutupi, Rea. Bukankah kau dengan senang hati memberikannya padaku kapanpun? Lalu kenapa sekarang kau seperti ini? Sadarlah, rasa malu sudah lama hilang dari dirimu, ******!" ucap Adan tajam.
"Hiks, aku mohon sadarlah, Mas Adam," ucap Rea dengan menangis. Dia berharap tangisnya bisa membuat Adam mengendalikan dirinya.
"Aaww!" jerit Rea ketika Adam menarik kakinya hingga wanita itu telentang dengan begitu mengenaskan. Semua anggota tubuhnya kini terekspos begitu saja.
Tanpa aba-aba, Adam menghentakkan pusaka miliknya kepada inti Rea.
"AAAAWWWW, HIKS!" jerit Rea dalam tangisnya merasakan sakit yang teramat pada tubuhnya.
Adam memasukan miliknya tanpa pemanasan terlebih dahulu. Dia memasukkan dengan paksa hingga membuat Rea tidak kuasa menahan sakitnya.
Dengan kasar Adam menghentakkan miliknya. Dia juga menggigit kasar gunung Rea secara bergantian hingga ada yang terluka dan berdarah.
Rea hanya bisa menangis dan menahan sakitnya. Tenaganya habis dan tidak bisa melawan. Hanya tangis yang bisa Rea keluarkan diiringi dengan rintihan kesakitan dari mulutnya.
Apapun yang Adam lakukan pada Rea saat ini benar-benar tidak ada kelembutan. Tangan lelaki itu mencari leher Rea dengan pinggul yang terus bergoyang kasar dibawah sana.
"Aaakkhh!" rintih ketika merasakan dia sulit untuk bernafas. Tangan Rea mencoba menggapai tangan Adam yang kini melilit lehernya.
Kepala Adam mendongak mencapai puncaknya diiringi dengan tangannya yang semakin mencengkram leher Rea.
"Aaahhh," desah Adam ketika dia mengeluarkan semua miliknya di dalam rahim Rea.
__ADS_1
Tangan Adam lepas dari leher Rea. Rea membuka matanya dengan nafas yang tidak teratur. Wanita itu sangat kacau.
Dengan kasar Adam segera mencabut miliknya dari milik Rea dan segera turun dari ranjang. Matanya menatap puas pada Rea yang kini menatapnya penuh kesakitan. Tanpa bicara apapun, Adam pergi begitu saja menuju kamar mandi.
Rea hanya bisa menangis. Dia masih bersyukur karena tidak kehilangan kesadaran karena perbuatan Adam. Tubuh Rea terasa sangat sakit sekali. Tulangnya terasa remuk karena perbuatan Adam.
"Aku mohon ampun, Ya Allah, hiks," ucap Rea memohon ampun atas segala kesalahannya.
Rea mencoba duduk dan melilitkan selimut untuk menutupi tubuhnya. Dengan sisa tenaganya Rea turun dari ranjang.
"Aawwsss," rintih Rea merasakan sakit pada bagian bawahnya ketika akan melangkah.
"Ini sakit sekali, hiks," ucap Rea menangis entah mengadu pada siapa.
Dengan terseok, Rea memaksa kakinya melangkah keluar dari kamar Adam. Rea sedikit membungkuk dan menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Dia menatap miris pangkal pahanya yang sedikit berdarah dan banyak lecet disana.
"Hiks, sakit sekali," gumam Rea menangis.
Sepanjang jalan menuruni tangga dan menuju kamar tamu, Rea hanya bisa menangis. Mungkin memang ini yang harus dia terima atas semua kesalahannya. Mungkin ini adalah balasan dari setiap rasa sakit yang dia berikan kepada Mama Ana dan Aludra.
"Maafkan Rea, Mama Ana."
.....
Grace menatap kesal pada orang yang kini duduk disebelahnya. Sekali lagi Wira memaksa untuk mengantarnya pulang setelah konferensi pers selesai. Dia tidak bisa menolak itu. Tidak mungkin dia menolak terang-terangan ajakan Wira didepan semuanya. Apalagi ada Anwar disana.
"Dasar pembohong!" ucap Grace ketus.
Wira hanya terkekeh. "Aku tidak berbohong. Kita memang mengadakan konferensi pers," jawab Wira tak bersalah.
"Tapi aku sama sekali tidak berfungsi disana!" jawab Grace kesal.
"Ada," jawab Wira tegas yang membuat Grace menatap serius lelaki itu.
"Kau ada sebagai calon istriku."
................
Dukung novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yang lainnya. Tentunya ada info Alu dan Zergan jugaa. Terimakasih 🤗😉
__ADS_1