Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham BAB-48


__ADS_3

Jangan lupa like


Jangan lupa komen


Jangan lupa favorit


Jangan lupa kasih vote


Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗


🌹HAPPY READING🌹


Saat Aludra akan meletakkan ponselnya kembali, terdengar notifikasi pesan masuk. Tanpa pikir panjang Aludra membuka pesan tersebut.


DEG


"Mas Zergan," ucap Aludra dengan tangan bergetar melihat gambar yang dikirim oleh nomor yang tidak di kenal itu.


Aludra menggeleng kuat bersamaan dengan air mata yang tidak bisa dia cegah.


"Mama kenapa?" tanya Zayn yang sudah berdiri tepat disebelah Aludra.


Aludra segera menghapus air matanya. Wanita itu menggeleng menjawab pertanyaan Zayn. "Ayo kita turun, Nak," ucap Aludra berusaha bersikap tenang.


Dia tidak boleh gegabah. Aludra harus memastikan terlebih dahulu. Dia tidak ingin percaya begitu saja dengan apa yang dia lihat. Aludra sangat tahu bagaimana rasanya tidak di percaya dan berada dalam salah paham itu. Sangat tidak enak dan terasa menyesakkan di dadanya.


Nanti aku akan bertanya pada Kak Wira. Batin Aludra meyakinkan dirinya sendiri.


.....


"Zayn tinggal sama Bibi gakpapa ya, Nak?" tanya Aludra lembut menatap Zayn.


Setelah selesai sarapan, Aludra segera bersiap untuk pergi ke kantor suaminya untuk bertemu dengan Wira.


Zayn mengangguk. "Zayn gakpapa Ma. Tapi nanti Zayn mau main sama Bima, ya," ucap Zayn meminta izin.


"Bima kesini?" tanya Aludra memastikan.


Zayn menggeleng. "Nanti kamu main di taman komplek. Boleh ya Ma," ucap Zayn meminta izin.


Aludra mengangguk. "Asal jangan bikin repot Bibi dan gak boleh nakal, ya. Mama pergi sebentar," jawab Aludra mengizinkan.


Zayn tersenyum dan mengangguk. Setelah berpamitan, Aludra keluar dari rumah dan langsung naik mobil untuk pergi ke kantor suaminya.

__ADS_1


Lima belas menit, Mobil yang ditumpangi oleh Aludra sampai di depan perusahan Zergan. Aludra langsung turun dan berjalan memasuki perusahaan.


Sesekali Aludra tersenyum membalas sapaan para karyawan padanya. Wanita itu sangat ramah dan sopan meskipun dia berstatus sebagai istri dari pemilik perusahaan itu.


Sampai di lantai ruangan Zergan, Aludra segera berjalan menuju ruangan Wira yang menjadi tujuannya.


"Assalamu'alaikum," ucap Aludra membuka pintu.


Wira yang nampak sibuk dengan laptop di depannya menoleh. Lelaki itu nampak tersenyum dan bangun dari duduknya. "Waalaikumsalam. Duduklah, Aludra," ucap Wira sopan.


Aludra mengangguk. Wanita itu duduk di kursi yang bersebrangan dengan kursi kerja Wira. Mereka saat ini dibatasi oleh meja kerja Wira.


"Ada apa Kak?" tanya Aludra to the poin. Sejak dari rumah wanita itu menahan rasa penasarannya.


"Ada banyak hal yang harus kamu ketahui, Aludra," ucap Wira menghela nafas pelan.


"Banyak hal?" tanya Aludra.


Wira mengangguk. "Jangan marah jika nanti kau sudah mengetahui semuanya," ucap Wira lebih dulu mengantisipasi kemarahan Aludra. Karena jika wanita itu marah, maka dia yang akan kena amuk Zergan karena tidak bisa menjalankan tugas ini dengan baik.


"Tergantung apa yang akan kak Wira sampaikan. Memangnya ada apa, Kak?" tanya Aludra.


"Kau harus berjanji untuk tidak marah, Aludra," ucap Wira tanpa mau memberitahu sebelum Aludra berjanji.


Wira menghela nafas sebelum menceritakan semuanya. Lelaki itu nampak memainkan pulpen yang ada ditangannya sambil menatap Aludra.


Lagi dan lagi, Wira menghela nafas pelan. "Sebenernya semua hanya sandiwara, Aludra," ucap Zergan pelan yang membuat dahi Aludra berkerut.


"Kakak bilang apa?" tanya Aludra yang memang tidak mendengar jelas apa yang Wira katakan karena suara lelaki itu yang sanga pelan sekali.


"Sebenarnya semua hanya sandiwara, Aludra," ucap Wira sedikit lebih keras mengulang perkataanya.


"Sandiwara? Sandiwara apa, Kak?" tanya Aludra tak paham.


"Kemarahan Zergan terhadapmu. Semua hanya sandiwara, Aludra," jawab Wira tanpa ragu.


"Apa maksud Kakak?" tanya Aludra lagi.


"Zergan hanya pura-pura marah padamu, Aludra. Ada satu hal yang membuat dia harus melakukan itu semua," jawab Wira lagi.


"Jangan bercanda, Kak," ucap Aludra bingung dengan semua yang baru saja dia dengar.


"Apa wajahku terlihat seperti bercanda, Aludra?" tanya Wira menatap Aludra lekat.

__ADS_1


Aludra diam. Dia menatap Wira dan tidak menemukan kebohongan disana. "Jadi selama ini aku di jadikan orang bodoh?" tanya Aludra pelan.


"Tidak. Semua yang dilakukan Zergan memiliki alasan. Zergan pura-pura marah padamu untuk membongkar siapa dalang dari semuanya," ucap Wira.


"Siapa?" tanya Aludra lagi.


Wira nampak diam. Haruskah dia memberitahu siapa sebenarnya dalang dibalik semua ini? Haruskah dia memberitahu bahwa Adam dan Rea adalah otak dari semua kejahatan ini? Rasanya Wira tak berhak memberitahu itu. Zergan lebih berhak. Dia yang lebih pantas untuk memberitahu pada Aludra. Tugas Wira sekarang hanya untuk memberitahu mengenai sandiwara yang mereka jalankan.


"Bukan hak ku untuk memberitahu itu, Aludra. Aku hanya ingin memberitahumu, bawah Zergan tidak pernah marah ataupun membencimu. Kau tetaplah satu-satunya dalam kehidupannya," ucap Wira.


"Jadi, Mas Zergan sudah tahu jika wanita yang di video itu bukan aku?" tanya Aludra pelan.


Wira mengangguk. "Maka dari itu Zergan selalu meminta untuk berhenti membuktikan bahwa kau tidak bersalah. Karena memang begitu kenyataannya. Kamu tidak bersalah, Aludra," ucap Wira.


Aludra menyandarkan punggungnya ke kursi. Wanita itu memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing dan berdenyut. "Apa semua ini?" tanya Aludra bagaikan orang linglung.


Dengan mata berkaca-kaca, Aludra kembali menatap Wira. "Jadi selama ini kebodohan ku dimanfaatkan?" tanya Aludra pelan.


Wira menggeleng. "Tidak ada yang begitu, Aludra. Kamu tidak bodoh. Kami terpaksa melakukan itu semua untuk menyelamatkanmu. Dan satu lagi, Zergan tentu melakukan ini untuk rumah tangga kalian," ucap Wira mencoba memberi pengertian pada Aludra.


"Tapi kenapa harus bohong, Kak?" tanya Aludra tak paham dengan jalan pikiran dua orang ini.


"Zergan akan menjelaskan lebih detail, Aludra. Aku tidak punya hak untuk itu. Mungkin dengan Zergan, dia bisa memberimu pengertian," ucap Wira.


"Dengan Mas Zergan ataupun Kakak, itu sama saja. Apapun alasannya, kebohongan tidak bisa dibenarkan. Dan disini, akulah orang paling bodoh dimata kalian," ucap Aludra dengan suara bergetar.


"Kamu sudah berjanji untuk tidak marah, Aludra," ucap Wira kembali mengingatkan Aludra.


Aludra hanya terdiam dengan senyum pedihnya menatap Wira. Rasanya sakit sekali mendengar ini semua. Jadi selama ini dia adalah wanita bodoh yang tidak tahu apa-apa? Meskipun memiliki alasan, tetap saja dia adalah orang yang dibohongi disini.


"Bahkan setelah dibohongi begini, aku juga tidak berhak marah, Kak. Sebegitu tidak berhaknya aku mendapatkan hak sebagai manusia," ucap Aludra menatap sendu Wira.


"Bukan begitu, Aludra," ucap Wira mencoba untuk menyampaikan maksudnya.


Aludra mengangkat tangannya meminta Wira untuk menghentikan perkataanya. Wanita itu berdiri dari duduknya dan hendak pergi. Namun sebelum pergi, Aludra menatap sendu pada Wira.


"Aku memang tidak marah, Kak. Tapi sedikit kecewa hinggap disini."


......................


Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗


Masih dalam suasana lebaran, aku ucapin selamat hari raya idul Fitri teman-teman. Semoga kita semua mendapatkan berkah dan kembali fitrah 😉😉. Minal aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir batin 🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2