Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setalah Salah Paham - BAB 61


__ADS_3

Jangan lupa like


Jangan lupa komen


Jangan lupa favorit


Jangan lupa kasih vote


Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗


🌹HAPPY READING🌹


"Lo yakin, Gan?" tanya Wira sekali lagi.


Zergan mengangguk yakin.


"Adam Bailey Ayah kandung Lo sendiri, Gan," ucap Wira mengingatkan.


"Itu dulu sebelum dia melakukan ini semua. Dan sekarang, kehancuran dia adalah kebahagiaan buat semuanya," jawab Zergan yakin.


"Apa kita perlu pendapat Kakek?" tanya Wira.


Zergan langsung menatap lelaki itu. Setelahnya Zergan mengangguk. "Iya. Lo tahu gimana tengilnya Kakek kalau gak dikasih tahu," jawab Zergan ngeri mengingat kelakuan Fatih yang tidak bisa dibohongi. Sangat sulit untuk menyembunyikan rahasia dari lelaki tua itu. Mata dan telinganya sangat banyak sehingga ada dimana-mana.


"Mau kemana?" tanya Zergan melihat Wira berdiri dari duduknya dengan menenteng laptop milik lelaki itu.


"Grace," jawab Wira singkat.


"Heh! Gak bisa!" jawab Zergan tegas tidak mengizinkan Wira untuk pergi meninggalkan kantor.


"Kenapa sih? lagian sebentar lagi makan siang. Jamnya istirahat ini," ucap Wira kesal berbalik menatap Zergan.


"Lo harus wawancara untuk sekretaris baru," ucap Zergan.


"Bisa nanti abis jam istirahat," ucap Wira memelas seolah meminta penegerian Zergan.


"Emang Lo mau ngapain ke tempat Grace?" tanya Zergan penasaran.


"Ya terserah gue lah. Mau ngapain kek, mau bikin anak kek, mau buat Tato kek," ucap Wira kesal.


Zergan terkekeh pelan melihat reaksi Wira yang seperti anak kecil. Grace benar-benar merubah Wira yang kaku menjadi Wira yang lebih ekspresif.


"Gue izinin. Tapi pulang nanti Lo harus bawain rujak buat gue," ucap Zergan.

__ADS_1


"Rujak?" beo Wira yang yang dianggukki oleh Zergan.


"Lo ngidam?" tanya Wira.


Zergan menggeleng. "Ya enggaklah. Orang Aludra datang tamu," jawab Zergan tak bersemangat.


Wira hanya mengangguk. "Mau berapa?" tanya Wira.


"Satu porsi aja. Tapi banyakin nanas sama kuahnya," jawab Zergan.


Wira mengangguk. Setelah itu dia berjalan keluar dari ruangan Zergan.


"Apa benar Alu hamil? Tapikan lagi datang tamu? Gak mungkin kayaknya," ucap Zergan lesu. Padahal dia sangat berharap Aludra hamil dan itu menambah kekuatan hubungannya dengan Aludra.


.....


Wira mengentikan langkahnya di depan rumah tato milik Grace. Rumah tato milik Grace memang tempat baru, karena tempat lama sudah dihancurkan oleh Zergan dan Wira. Itu sebagai agar Aludra tidak curiga dengan sandiwara mereka dulu. Dan juga untuk mengecoh Rea berserta Adam.


Dengan senyum mengembang, lelaki itu turun dari mobil dan dengan penuh semangat dia memasuki rumah tato Grace.


Senyum yang tadinya mengembang itu seketika pudar melihat Grace yang sedang memberi tato pada seorang lelaki.


"Heh, turun!" teriak Wira tanpa memikirkan konsekuensi yang akan terjadi pada tubuh lelaki itu.


"Eh, apa-apaan sih!" ucap Grace yang tidak terima. Hampir saja lukisannya salah dan bisa melukai kulit lelaki tersebut.


"Tapi gue udah bayar, Bang," ucap lelaki itu tak terima.


"Nanti uang Lo gue balikin. Dan sekarang cari yang lain. Gratis," ucap Wira.


"Siap bang!" jawab lelaki itu semangat dan turun dari tempat tidur dan segera pindah ke bilik lain untuk melanjutkan pembuatan tatonya.


"Apa-apaan sih? Kamu buat aku rugi," ucap Grace kesal.


"Nanti aku yang ganti berkali lipat," ucap Wira santai.


"Lagian apa-apaan coba ngusir pengunjung? Gak profesional," ucap Grace masih menggerutu kesal.


"Gak masalah kalau dia wanita. Tapi ini lelaki. Ya kali dibiarkan begitu saja. Gak bisa lah!" jawab Wira tegas.


Grace hanya bisa mendengus kesal mendengar perkataan Wira. Lelaki itu sangat sulit untuk dikalahkan jika sudah berdebat.


"Kamu gak berhak tau," ucap Grace yang langsung menghentikan kegiatan Wira saat akan mengaduk-aduk tinta tato milik perempuan itu.

__ADS_1


"Sangat berhak. Kamu itu jodohku," ucap Wira tenang.


"Dih, ngaku-ngaku," ucap Grace dengan wajah jijiknya.


"Bukan ngaku-ngaku. Tapi kali ini memang benar," ucap Wira santai sambil duduk di sofa yang ada di bilik itu.


"Kalau memang takdirnya bukan jodoh, yang aku paksa. Kali ini aku benar-benar maksa," tambah Wira yang membuat Grace semakin kesal.


Makin kesini, Grace makin terkejut dengan sikap Wira yang ternyata cerewet, tak sabaran, dan juga pemaksa. Karena awal bertemu, dia adalah lelaki yang kalem dan penuh dengan wibawa. Tali sekarang, Wira sudah tidak peduli dengan wibawanya sendiri.


"Gimana caranya mau dipaksa coba?" tanya Grace tak habis pikir dengan pemikiran Wira.


"Beneran mau tahu caranya?" tanya Wira menatap Grace lekat.


"Gimana?" tanya Grace dengan polosnya.


Wira berdiri dari duduknya. Lelaki itu berjalan pelan memutari tempat tidur tunggal itu. Grace yang masih belum mengerti hanya menatap polos pada Wira. Wanita itu hanya diluar ya saja nampak galak, tapi sebenarnya dia hanya gadis polos yang dipaksa dewasa.


Wira semakin dekat. Grace yang baru menyadarinya langsung berjalan mundur. Hingga tubuhnya mentok di dinding.


"Ma-mau ngapain?" tanya Grace penuh hati-hati.


Wira hanya tersenyum lembut dan tetap melanjutkan langkahnya. "Mau memaksa," jawab Wira pelan tanpa melepaskan pandanganya dari Grace.


Menggemaskan sekali, Ya Allah. Batin Wira tak kuasa menahan kesenangannya melihat wajah Grace yang nampak sangat menggemaskan jika gugup begini.


Wira masih terus berjalan hingga jaraknya hanya berkisar tiga puluh senti meter dari Grace.


Wira mencondongkan wajahnya kepada wajah Grace. Grace gugup bukan main. Wira semakin tampan dari jarak dekat seperti ini.


Cup.


Bibir Wira mendarat di pipi sebelah kanan Grace. Grace menutup matanya tak kuasa menatap Wira.


Setelah selesai Wira menjauhkan sedikit wajahnya. Lelaki itu mengalungkan sebelah tangannya di pinggang Grace dan menarik pinggang wanita itu hingga tak ada jarak diantara mereka.


"Jangan terlalu menjauh. Karena aku yakin, menolakku membuatmu sakit, dan jika aku menjauh, kamu akan lebih sakit," ucap Wira berbisik tepat ditelinga Grace.


Setalah mengakan itu, Wira melapaskan tubuh Grace dan pergi keluar dari bilik meninggalkan Grace sendiri yang sibuk mengatur nafasnya karena gugup. Sungguh, berdekatan seperti tadi dengan Wira membuat tubuh Grace panas dingin. Tenaganya terasa habis untuk menopang dirinya sendiri yang lemah saat di depan Wira.


Grace memegang dadanya yang masih terasa bergemuruh. Kali ini dia kalah oleh hatinya sendiri. Bisanya Grace bisa menahan, tapi ini dia menyerah. "Kamu benar. Jika kamu menjauh akan membuatku semakin sakit. Jadi aku mohon, tetap seperti ini, Wira."


......................

__ADS_1


Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗


Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yang lainnya. Tentunya ada info Alu dan Zergan jugaa. Terimakasih 🤗😉


__ADS_2