
🌹HAPPY READING🌹
"Aku benar-benar sendiri sekarang. Hanya Zayn yang akan menjadi penyemangat ku," gumam Aludra sendu berbalik menatap lurus ke depan.
Sedangkan dibalik pohon taman, Adam masih memperhatikan Aludra. Lelaki itu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Ya Tuan besar," jawab seseorang dari balik telepon.
"Periksa kebersihan seluruh keluarga Bailey!" ucap Adam tegas tanpa mau dibantah.
"Tuan, itu berarti ..."
"Ya, semuanya!" jawab Adam cepat.
"Baiklah, Tuan. Akan saya laksanakan," ucap seseorang dari balik telepon dengan patuh pada Adam.
Setelah itu, Adam memutus sambungan teleponnya dan menatap sendu pada punggung mungil Aludra yang masih setia duduk di kursi taman.
"Meskipun tidak berpendidikan tinggi, tapi setidaknya kau adalah gadis yang memiliki attitude baik, Nak," gumam Adam.
.....
"Ayah sudah datang," ucap Zergan ketika melihat Adam yang memasuki ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Apa Ayah mengganggu pekerjaanmu?" tanya Adam yang langsung duduk di sofa ruang kerja Zergan.
"Tentu tidak, Ayah. Bagaimana kabar Ayah?" tanya Zergan menyusul Adam duduk di sofa.
"Sangat baik. Begitu juga Ibumu," jawab Adam singkat.
"Apa Ibu tidak ikut?" tanya Zergan.
Adam menggeleng dan tersenyum. "Ibumu lebih mencintai tanamannya daripada Ayah," ucap lelaki tua itu bergurau.
"Ya, dan aku ikut kasihan akan hal itu," jawab Zergan yang dibalas kekehan oleh Adam.
Adam berdeham pelan. Lelaki itu mengamati setiap sudut ruangan Zergan. Dan matanya terhenti pada sebuah komputer yang terletak di ruang kecil yang dikhususkan untuk komputer canggih itu.
"Jadi apa yang ingin kau katakan pada Ayah?" tanya Adam.
"Aludra berkhianat pada keluarga Bailey dan ... pada perusahaan ini, Ayah," jawab Zergan pelan.
"Apa kau punya bukti?" tanya Adam tenang.
Zergan mengangguk. Lelaki itu berjalan mengambil laptopnya yang ada di atas meja. Zergan membawa laptop itu untuk diperlihatkan kepada Adam.
__ADS_1
Dengan sangat berat hati, Zergan membuka sebuah video rekaman CCTV lengkap dengan rekaman audionya.
Zergan memalingkan wajah ketika video itu diputar. Adam yang nampak tenang melihat sekilas isi video itu. Video itu sama persis seperti apa yang tadi diceritakan oleh Aludra.
"Kau percaya video ini?" tanya Adam setelah dia menekan tombol exit untuk menutup video itu.
"Aku ingin untuk tidak mempercayainya, Ayah," jawab Zergan.
"Maka itu yang harus kau lakukan," ucap Adam yang membuat Zergan menatap Ayahnya tak percaya.
"Aludra memang menantu kesayangan Ayah, tapi kita harus buka mata untuk hal ini, Ayah," ucap Zergan.
"Harusnya kau yang menyadarkan Ayah bahwa istrimu ini sebenarnya tidak bersalah. Tapi ini, malah aku yang membelanya," jawab Adam.
"Orang yang ada didalam video itu, wanita itu adalah Aludra, Ayah. Apa Ayah tidak dengar apa yang dia katakan dalam video itu? Dalam setiap desahannya dia mengutuk keluarga kita," ucap Zergan dengan mata memerah menahan emosinya.
"Melihat video ini memang membuat aku sakit hati, Zergan. Bahkan dia dengan berani mengatai istriku adalah wanita yang tidak tahu diri," ucap Adam.
"Lalu kenapa Ayah masih saja membela Aludra?" tanya Zergan tak percaya.
"Apa kau sudah memeriksa keaslian video ini?" tanya Adam tanpa menjawab pertanyaan Zergan.
Zergan mengangguk. "Aku sudah memeriksa pada orang terpercaya. Video ini memang asli, Ayah. Memang istriku yang ada di video itu," jawab Zergan sendu.
"Jangan menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah pasti Ayah ketahui," ucap Zergan.
"Ingat anakmu, Zergan!" ucap Adam tegas.
"Yang bermasalah adalah hubungan suami istri antara aku dan Aludra, Ayah. Bukan hubungan Ayah dan ibu untuk anakku," jawab Zergan.
Adam menghela nafas pelan. Lelaki paruh baya itu menyandarkan punggungnya ke sandaran Sofa dan mengeluarkan sebatang rokok yang memang menjadi kebiasaannya. Adam emang seorang perokok, namun dia tau tempat dan batasan. Berhubung Zergan adalah seorang perokok, maka tidak ada salahnya mereka melakukan kegiatan itu di ruangan Zergan.
"Lalu bagaimana keadaan keamanan sistem data perusahaan mu sekarang?" tanya Adam sambil menghirup sebatang rokoknya.
"Sudah lebih baik dari sebulan yang lalu, Ayah. Beruntung lelaki itu tidak sampai menjebol data penting perusahaan yang hanya aku ketahui kuncinya," jawab Zergan.
Adam mengangguk mendengar perkataan Zergan. "Sebenarnya masalah besar bukan dalam perusahaan mu, Zergan. Karena data penting perusahaan masih bisa diselamatkan. Yang menjadi masalah besar saat ini adalah hubunganmu dan Aludra yang renggang karena kasus ini," ucap Adam.
"Tapi bagaimanapun, Aludra sangat keterlaluan dalam hal ini, Ayah. Dia seolah tidak menghargai perjuanganku," jawab Zergan sendu.
"Itu mulutmu yang berbicara, lalu bagaimana kata hatimu?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Adam yang membuat Zergan terdiam.
"Jika lelaki itu adalah seorang yang handal dalam menyabotase, maka dia pasti sudah bisa membocorkan data penting perusahaanmu. Tapi apa? Dia hanya melakukan sedikit dan lebih mempermainkan emosimu lewat Aludra. Apa kau yakin tujuan lelaki itu mengincar data perusahaanmu dan bukan ingin merusak hubunganmu dan Aludra?" ucap Adam lagi yang membuat Zergan kembali berpikir.
Zergan menjambak pelan rambutnya dan mengacak kasar. "Lalu aku harus bagaimana, Ayah?" tanya Zergan frustasi.
__ADS_1
Adam terkekeh pelan melihat reaksi anaknya. "Dalam hubungan, menuruti kata hati akan lebih baik, Nak. Tapi dalam urusan bisnis, logika adalah nomor satu," ucap Adam singkat dan segera pergi keluar dari ruangan Zergan setelah mengabiskan satu batang rokoknya.
Zergan menatap pintu ruangan yang tertutup rapat. Lelaki itu kembali memandangi laptopnya. Dengan meyakinkan diri, Zergan kembali membuka video itu.
Zergan menjeda video saat video itu memperlihatkan seluruh tubuh wanita itu tanpa sensor. Zergan memperbesar dan mengamati setiap lekuk tubuh wanita itu. Bukannya suka, tapi Zergan ini memastikan sesuatu.
"Aku harus memastikannya."
.....
"Kak Aludra!" panggil Rea sedikit keras.
Aludra yang baru akan pergi dari taman langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Rea.
"Rea? Kamu disini?" tanya Aludra.
Rea tersenyum. "Tadi Rea abis dari luar disuruh Kak Zergan buat ketemu klien. Waktu mau balik liat Kakak disini, aku samperin deh," ucap Rea.
Aludra tersenyum dan mengangguk. Sikap Rea yang berubah-rubah padanya memuat wanita itu kadang bingung harus bertindak bagaimana.
"Kakak abis ketemu Abang, ya?" tanya Rea.
Aludra mengangguk. Tidak apa jika harus berbohong sedikit saja. Karena itu akan lebih baik rasanya.
"Kakak sudah makan? Ini udah masuk jam makan siang, Kak," ucap Rea.
Aludra menggeleng. "Kakak makan dirumah sama Zayn saja, Rea," jawab Aludra.
"Sesekali kita makan bareng yuk, Kak. Sekalian jalan-jalan. Jarang banget loh kita main berdua, Kak," ucap Rea sedikit merengek.
"Ayolah Kak," ucap Rea sedikit memaksa.
Aludra tersenyum. Tidak ada salahnya menerima ajakan Rea. Mana tahu ini bisa membuat Zergan menjadi sedikit berubah sikap padanya karena bisa akrab dengan Rea, adik kesayangan Zergan.
"Baiklah. Tapi jangan lama, ya. Kaka takut abang mu akan marah nanti. Kita hanya makan siang, kan?" jawab Aludra sambil bertanya.
"Tenang Kak. Abang akan jinak sama Rea. Dan temani Rea buat Tato ya."
..................
Terimakasih sudah mampir di cerita baru ini, semoga kalian suka dan bermanfaat 🤗😉
Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
Kalian bisa follow Instagram aku @yus_kiz buat lihat visual dan segala perkataan indah yang berkaitan dengan novel ini 😉🤗
__ADS_1