Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - BAB 40


__ADS_3

Jangan lupa like


Jangan lupa komen


Jangan lupa favorit


Jangan lupa kasih vote


Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗


🌹HAPPY READING🌹


Aludra yang melihat itu menyusul Zergan dan ikut merebahkan diri di sebelah Zergan. "Zayn sudah benar-benar tidur, Mas?" tanya Aludra yang dibalas anggukan oleh lelaki itu.


"Aludra," panggil Zergan.


"Iya Mas," jawab Aludra.


"Bagaimana jika nanti orang yang paling kau sayangi, ternyata orang yang paling menyakiti?" tanya Zergan menatap lekat Aludra.


Aludra terdiam. Kenapa tiba-tiba Zergan bertanya seperti itu? "Orang tersayangku adalah kamu, Mas. Apa kamu berniat untuk menyakiti?" tanya Aludra balik tanpa menjawab pertanyaan Zergan.


Zergan menggeleng. "Cukup aku yang merasakan sakit. Rasanya tidak enak sekali, Aludra. Aku menjamin bawah kamu tidak akan merasakan apa yang aku rasakan karena pengkhianatanmu," jawab Zergan.


Aludra tersenyum kecut. Wanita itu merebahkan tubuhnya disebelah Zergan dan menghadap lelaki itu. "Cinta tidak membuat orang untuk saling meninggalkan. dan menyakiti, Mas," ucap Aludra lembut.


Karena itulah aku tidak pernah meninggalkan dan selalu mempercayaimu, Aludra. Batin Zergan sendu.


Tidak ingin terlibat dalam argumen yang akan membuat mereka saling menyakiti, Zergan ikut merebahkan diri dan berhadap memunggungi Aludra. Lelaki itu terlalu lemah untuk melihat tatapan Aludra yang surat akan kesedihan.


.....


Sesuai apa yang dia katakan, Kinzi Zergan sedang bersiap untuk terbang ke New Zealand. Rea sudah datang sejak pagi jam tujuh ke rumahnya. Kini Zergan masih berada di kamarnya bersama Aludra yang memasangkan dasi lelaki itu.


Zergan memandangi wajah Aludra yang nampak serius dengan kegiatannya.


Cup.

__ADS_1


Tanpa aba-aba Zergan mengecup dahi Aludra singkat. "Mas," ucap Aludra tersenyum. Inilah yang membuat Aludra bingung, sikap Zergan yang selalu berubah-ubah. Terkadang lelaki itu dingin bagaikan es, terkadang dia sangat manis, dan terkadang lelaki itu bersikap seolah dia sangat membenci Aludra.


"Pagi ini aku akan bahagia karena setelah ini kita akan selalu bahagia," ucap Zergan tersenyum cerah.


"Apa terjadi sesuatu yang baik, Mas?" tanya Aludra lembut.


Zergan tersenyum dan mengangguk. Sebentar lagi kita lepas dari sandiwara ini, Aludra. Batin Zergan senang.


"Kamu baik-baik dirumah selama seminggu ini, ya. Aku akan usahakan pulang lebih awal jika semua pekerjaanku selesai," ucap Zergan berpesan.


Aludra mengangguk. "Cepat kembali, Mas," ucap Aludra lembut.


"Aludra," panggil Zergan pelan.


"Hem," ucap Aludra melanjutkan untuk memasang dasi Zergan.


"Apapun nanti yang terjadi, jangan pernah berpikir untuk menyerah," ucap Zergan lembut.


Aludra terdiam. Kenapa tiba-tiba Zergan bicara seperti itu? Sudah dua hari ini Zergan bersikap aneh dengan segala pertanyaan yang membuat Aludra bingung. Lelaki itu bertanya seolah-olah memberi sebuah isyarat dibalik setiap katanya.


Aludra mengangguk dan tersenyum. "Kamu hati-hati disana, Mas. Aku dan Zayn menunggumu pulang," ucap Aludra lembut setelah selesai memasang dadi Zergan.


Aludra membalas pelukan Zergan. Sungguh, Aludra sangat bingung saat ini. Sikap Zergan yang seperti ini membuat Aludra kembali merasakan Zergan yang dulu. Tapi Aludra senang akan hal itu, dia berharap sikap Zergan lebih sering begini daripada dingin dan benci padanya.


.....


"Papa hati-hati, ya. Cepat pulang," ucap Zayn pada Zergan.


Kini mereka berada di teras rumah Zergan untuk mengantar lelaki itu. Aludra dan Zayn ingin mengantar sampai Bandara, namun Zergan menolak. Dia tidak mau Aludra dan Zayn kelelahan karena menunggu nanti.


"Papa pasti akan cepat pulang, Nak. Setalah pekerjaan papa selesai, Papa akan segera kembali," ucap Zergan lembut.


"Pak," panggil Wira dengan gaya formalnya memberi isyarat pada Zergan bahwa waktu penerbangannya sebentar lagi.


Zergan mengangguk. "Aku pergi dulu. Kalian baik-baik di rumah. Jika ada apa-apa, hubungi aku segera. Dan jika perlu sesuatu, hubungi Wira," ucap Zergan berpesan.


"Iya Mas. Kamu hati-hati, ya," jawab Aludra lembut sambil melirik Rea yang berdiri di sebelah Wira.

__ADS_1


"Jaga batasan disana, Rea," ucap Aludra berani.


Zergan mengangkat sebelah alisnya mendengar perkataan Aludra yang memberi peringatan pada Rea. Dalam hati lelaki itu tertawa senang melihat keberanian Aludra. Begitu juga dengan Wira yang terkekeh pelan.


Rea yang mendengar itu merenggut kesal dalam hati. Namun wanita itu mencoba menampilkan senyumnya menatap Aludra. "Tenang saja, Kak. Aku tidak seperti dirimu," jawab Rea menyindir.


Bukannya tersendiri, Aludra terkekeh pelan. "Aku percaya itu. Jaga baik-baik abang mu ini dari perempuan diluar sana, ya," jawab Aludra lagi.


Rea mengangguk. Tapi tidak janji dari diriku. Batin Rea puas.


Setelah berpamitan, Zergan dan Rea segera pergi dari rumah ke Bandara dengan diantar oleh Wira. Aludra memandangi mobil Zergan yang berjalan menjauh dari pekarangan rumah mereka.


Wanita itu memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sedikit tak enak dengan detak jantung yang begitu cepat. Semoga tidak terjadi apa-apa disana. Batin Aludra berdoa.


.....


"Apa kita langsung ke tempat investor itu, Bang?" tanya Rea.


Kini mereka sudah berada di pesawat sejak dua jam yang lalu. Penerbangan yang cukup lama dengan beberapa kali transit itu akan memakan waktu yang cukup lama.


Zergan menggeleng. "Kita ke tempat Papa dan Mama dulu," jawab Zergan.


Rea mengangguk. Wanita itu tersenyum senang mendengar bahwa dia akan ke rumah Papa dan Mamanya.


Zergan yang melihat senyum Rea terkekeh sinis dalam hati. Dasar ******! Dia nampak sangat bahagia akan bertemu dengan anjing tua itu. Benar-benar memalukan. Batin Zergan.


Rea mendekatkan dirinya dengan Zergan. Wanita itu menyandarkan tubuhnya ke tubuh Zergan dengan kepala di bahu Zergan. "Ngantuk, Bang," ucap Rea mencari kesempatan. Dia paling suka dengan perjalan bisinis begini, apalagi tidak ada Wira. Ini kesempatan untuknya menikmati momen berdua dengan Zergan.


"Sandaran di kursi pesawat dan bantal lehermu lebih nyaman, Rea," ucap Zergan pelan mengangkat kepala Rea dan memindahkan dari bahunya. Disaat begini, Zergan benar-benar tak ingin meladeni wanita ****** itu. Kecuali jika didepan Aludra. Dia akan bersikap sebagai Abang yang posesif, sekalian untuk membuat istrinya itu cemburu.


Rea mencebikkan bibirnya kesal. "Nanti leher Rea sakit Rea aduin Papa," ucap wanita itu merajuk kesal.


Dih! Menjijikan. Batin Zergan jijik melihat wanita itu.


"Nanti kamu bisa minta kenyamanan sama Papa sepuasnya."


................

__ADS_1


Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Nanti berbukalah dengan yang manis-manis ya 🤗😉 Semoga setiap ikhlas menjadi berkah, dan setiap sabar menjadi anugrah.


__ADS_2