
🌹HAPPY READING🌹
"Apa siang ini Mas ada waktu?" tanya Aludra lembut.
"Kenapa?"
"Ikut aku, Mas. Aku akan buktikan bahwa yang kemarin itu adalah hena, bukan tato," jawab Aludra.
"Aku akan pulang jam makan siang," ucap Zergan dan segera menaiki mobil untuk pergi ke kantor.
Aludra memandang kepergian Zergan dengan sendu. "Sudah lama sekali dahi ku merindukan kecupan dari bibir kamu, Mas," gumam Aludra.
Saat Aludra memandangi mobil Zergan yang mulai keluar dari pagar, sebuah tangan mungil melingkar di pahanya. Aludra menunduk dan tersenyum melihat jagoan kecilnya yang menatapnya lembut.
"Anak Mama sudah selesai sarapan?" tanya Aludra. Tadi saat Zergan berangkat, Zayn memang masih asik dengan sereal di mulutnya. Anak itu membiarkan Zergan pergi bekerja dan Aludra mengantarnya keluar.
"Apa Papa membuat Mama sedih pagi ini?" tanya Zayn menengadah menatap Aludra.
Aludra tersenyum. Wanita itu bersimpuh untuk menyamakan sedikit tinggi badannya dengan tinggi badan Zayn. "Tidak Nak. Papa tidak buat Mama sedih kok. Kan Papa sayang sama Mama," ucap Aludra meyakinkan Zayn.
"Zayn benci Papa kalau Papa buat Mama menangis," ucap Zayn cemberut.
"Zayn," panggil Aludra pelan yang langsung ditatap eh anak itu.
"Kalau suatu saat mama buat Zayn menangis, apa Zayn akan benci Mama?" tanya Aludra lembut.
Zayn memandang lekat mata mamanya itu. Anak itu menggeleng. "Zayn hanya akan malah sedikit," jawab anak itu yakin.
"Kenapa begitu?" tanya Aludra lagi.
"Mana mungkin Zayn benci sama cinta peltama Zayn," jawab anak itu bangga.
Aludra tersenyum senang. Tangannya terulur mengusap lembut pipi mulus Zayn. "Jika hari itu terjadi, jangan benci Mama, ya. Ada alasan dalam setiap hal yang Mama lakukan. Kamu jangan cepat mengambil kesimpulan atas apa yang terjadi sebelum benar-benar tahu penyebabnya," ucap Aludra lembut menasehati Zayn.
"Mama mau tahu satu rahasia?" tanya Zayn dengan sedikit berbisik.
Alis Aludra berkerut. "Rahasia apa, Nak?" tanya Aludra.
"Ini lahasia khusus Zayn saja, Ma. Mama olang peltama yang tahu," ucap anak itu lagi.
"Apa Nak?" tanya Aludra lagi.
__ADS_1
"Zayn bisa hidup tanpa Papa. Tapi tanpa Mama, Zayn nggak bakal baik-baik aja," ucap anak itu dengan sedikit berbisik dan menunjukkan senyum manisnya pada Aludra.
Aludra tak percaya anaknya bisa mengatakan hal seperti itu. Dia langsung memeluk Zayn dan mengecup pelan pucuk kepala anak itu berkali-kali.
Semoga kamu tumbuh menjadi lelaki bijaksana, Nak. Batin Aludra penuh ketulusan.
.....
Aludra mendapat pesan dari Zergan bahwa lelaki itu tidak bisa pulang siang ini. Alhasil, dia meminta Aludra untuk datang ke perusahaan.
Aludra sudah siap dengan dress putih selututnya. Wanita itu nampak anggun sekali dan sangat keibuan.
"Zayn," panggil Aludra pada Zayn yang asik menggambar di ruang tamu ditemani oleh bibi yang biasa menjaga Zayn.
"Iya Ma," jawab anak itu tanpa menoleh pada Aludra.
"Zayn yakin nggak mau ikut Mama, Nak?" tanya Aludra lagi. Pasalnya, sudah berkali-kali Aludra mengajak Zayn untuk ikut ke kantor Zergan, tapi anak itu tetap saja menolak.
Zayn menggeleng. "Zayn mau sama bibi saja di rumah," jawabnya dengan tangan sibuk mewarnai.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Biar Zayn main sama bibi di rumah," ucap Bu Nurma. Wanita paruh baya yang dipercaya oleh Aludra untuk membantunya di rumah. Karena Aludra senang mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, akhirnya Bi Nurma banyak bermain dengan Zayn dan menemani anak itu.
"Iya Nyonya," jawab Bu Nurma sopan.
Aludra beralih menatap anaknya. Wanita itu mengecup pelan dahi Zayn serta kedua pipinya. "Kamu tidak mau cium Mama?" tanya Aludra.
Zayn tersenyum. Anak itu menghentikan kegiatannya dan membalas kecupan sang Mama. "Mama hati-hati," ucapnya.
Aludra mengangguk. "Mama pergi dulu, ya. Saya pamit ya, Bi," ucap Aludra pada Zayn dan Bu Nurma bergantian.
.....
Beberapa menit menempuh macet, Aludra sampai di perusahaan Zergan. Aludra diantar oleh sopir yang sudah dikirim Zergan untuknya. Meskipun marah, lelaki itu selalu mengutamakan keselamatan istrinya. Zergan meminta sopir pribadinya untuk menjemput Aludra dari rumah dan mengantarnya ke kantor.
Aludra turun dari mobil setelah mengucapkan terimakasih. Wanita itu berjalan dengan anggun dan senyuman membalas sapaan dari beberapa karyawan Zergan. Aludra bukanlah istri atasan yang angkuh. Wanita itu dikenal dengan sikap ramah dan rendah hatinya. Banyak karyawan, baik wanita maupun pria yang memuji kecantikan dan keanggunan wanita itu.
Aludra keluar dari lift setelah sampai di lantai ruangan Zergan. Dengan langkah pasti, wanita itu melangkah menuju ruangan suaminya.
Tanpa mengetuk pintu, wanita itu langsung masuk.
Langkah Aludra terhenti diambang pintu melihat pemandangan yang cukup menyayat hatinya. Aludra berusaha keras menghalau rasa sedihnya sekarang. Dia harus bisa menjaga emosinya karena tidak mau membuat Zergan semakin marah padanya.
__ADS_1
Zergan yang menyadari kedatangan Aludra langsung menoleh. "Kau sudah datang," ucap Zergan pelan.
Aludra mengangguk. Dia berjalan mendekati sofa dan duduk di sofa yang berhadapan dengan Zergan dan Rea.
"Tidak bisakah dia istirahat di ruangannya, Mas?" tanya Aludra menatap Rea sekilas yang tertidur dengan paha Zergan sebagai bantalnya.
"Rea memang manja seperti ini, Aludra. Jangan mulai mencari gara-gara," jawab Zergan pelan.
"Aku tidak melihatnya sebagai gadis kecil yang manja lagi. Lebih tepatnya gadis dewasa yang menggoda suami orang," jawab Aludra pelan namun tegas.
Zergan menatap tajam Aludra. Aludra dengan berani menatap tenang mata elang Zergan. "Jangan marah, Mas. Aku hanya menyampaikan perasaanku sebagai seorang istri," ucap Aludra.
Zergan mengatur nafasnya. Lelaki itu menepuk pelan pipi Rea untuk membangunkannya. Tidak lama, Rea bangun dari tidurnya.
"Eh, ada Kak Aludra," ucap Rea setelah duduk dan semua nyawanya telah kembali.
"Kamu kembali ke ruangan ya, Dek. Abang ada urusan sama Kakak ipar kamu," ucap Zergan lembut pada Rea.
Rea menatap Aludra sebentar yang juga menatapnya. Setelah itu Rea mengangguk dan berdiri untuk pergi ke ruangannya.
Melihat pintu ruangan Zergan yang sudah tertutup setelah Rea keluar, Aludra beralih duduk disebelah suaminya. "Apa aku diperbolehkan duduk disini, Mas?" tanya Aludra sebelum wanita itu benar-benar duduk.
Zergan menoleh dan menatap istrinya. "Tempat istri memang disebelah suaminya," jawab Zergan.
Aludra tersenyum. "Tapi tadi tempat ini diisi oleh orang lain," jawab Aludra sambil duduk.
"Dia adikku, Aludra" jawab Zergan tegas.
"Aku tidak mau berdebat hanya karena hal yang sama, Mas. Jadi, kapan kita pergi?" tanya Aludra.
"Ayo."
............
......................
Untuk visual Zergan dan Aludra, silahkan lihat di instagram aku yaaa @yus_kiz
Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
Kalian bisa follow Instagram aku @yus_kiz buat lihat visual dan segala perkataan indah yang berkaitan dengan novel ini 😉🤗
__ADS_1