Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - BAB 120


__ADS_3

WELCOME TO THE STORY


🌹HAPPY READING🌹


"Maksudnya kan nanti kerjaan aku bakal numpuk, jadi pasti jarang waktu berdua kayak gini," ucap zergan lagi begitu mendapat tatapan tak suka dari aludra.


Aludra menatap memicing pada suaminya. "Kamu lagi gak coba buat nyembunyiin sesuatu dari aku kan, Mas?"


"E-enggak sayang. aku nyembunyiin apa coba. ada-ada aja kamu," jawab Zergan yakin mencoba menghalau kegugupannya.


Aludra menghela nafas pelan. "Mas," panggil wanita itu lembut mengenggam pelan tangan Zergan.


Zergan menoleh dan membalas tatapan aludra. "Kamu bukan orang yang handal dalam berbohong, Mas. Kamu bukan orang yang pandai menyembunyikan perasaan. Tapi jika memang kamu belum siap cerita sekarang, aku gak akan maksa. Tapi satu hal yang harus kamu ingat. sekarang kamu bukan lagi seorang bujang, dan itu terjadi sudah cukup lama. kita berumah tangga itu berdua, Mas. Kita suami istri, bukan orang asing. Kita ini memiliki ikatan yang sah, Mas. Akan sangat merugi jika kamu tidak memanfaatkan hubungan baik ini untuk saling berbagi. Dan akan sangat terluka aku jika kamu menyembunyikan hal penting dari aku, Mas," ucap Aludra lembut mencoba mengajak zergan untuk bercerita.


"beberapa hari yang lalu kamu menasehati aku untuk saling terbuka. Sekarang kenapa kamu yang begini? Jika saat aku menyembunyikan sesuatu membuat kamu terluka, aku juga merasakan lukanya, Mas. Jangan coba untuk membalas, Mas. Karena mencintai itu tidak akan membuat kita merelakan orang yang kita cintai merasakan sakit yang pernah kita dapatkan. Meskipun pemberi sakitnya pasangan kita sendiri," lanjut aludra panjang memberi pengertian pada Zergan.


Zergan menatap lembut aludra. Sungguh, apa yang dikatakan oleh aludra begitu terasa di hati zergan. Apa yang disampaikan wanita itu sama sekali tidak salah. Yang salah disini adalah dirinya sendiri yang belum siap memberi kabar buruk untuk istrinya.


Senyum indah terbit dibibir zergan. "Aku gak nyembunyiin apa-apa, Sayang. Kita kan udah janji untuk saling terbuka. Aku cuma lagi capek kerja aja. Lagi banyak banget proyek yang masih dalam proses," ucap Zergan mencoba meyakinkan Zergan.


Aludra menghela nafas pelan. memang sangat sulit untuk memberi masukan pada seseorang yang sudah yakin dengan keputusannya. "Janji itu di tepati, ya mas. Bukan cuma diucapkan aja lho," ucap aludra sambil menyuapi makanan ke mulut Zergan.


Zergan mengangguk tersenyum. Dia tidak bermaksud untuk menyembunyikan semua ini dari aludra. Dia hanya belum siap jika sang istri menghetahui bahwa kesehatannya tidak baik-baik saja. Zergan takut jika nanti kabar yang akan dia beritahu pada aludra akan menjadi boomerang yang bisa membuat wanita itu sedih sehingga berpengaruh pada kehamilannya.


"Oiya, kapan kita bakal kontrol lagi sama dokter Arumi, Sayang?" tanya Zergan mengusap lembut perut aludra setelah makanan di mulutnya habis.


"Dua hari lagi, mas. Kamu temani aku, ya?" pinta aludra menatap zergan lucu.


Zergan tersenyum dan mengangguk. Setelahnya zergan menghabiskan makanan yang disuapkan aludra ke mulutnya lagi.


.....


"Saya pulang duluan, Niko," ucap wira begitu keluar dari ruangannya dan melihat niko masih asik dengan laptopnya.


Saat ini waktu sudah menunjukan pukul lima sore waktu yang menandakan telah berakhirnya waktu kerja dan dimulai waktu untuk beristirahat dirumah.

__ADS_1


Niko mengangguk. Laki-laki itu berdiri untuk menghormati Wira.


"Jangan terlalu dipaksakan bekerja. masih ada hari esok. Lagi pula pak zergan tidak memaksa, bukan? jadi perhatikan kesehatanmu," ucap wira menasehati Niko.


"Baik, pak. ini sebentar lagi selesai," jawab niko sopan.


"Baiklah. kalau begitu saya pergi dulu," ucap wira dan berjalan meninggalkan niko sendiri disana.


wira melajukan mobilnya ke studio tato milik Grace. sejak saat mereka berdebat untuk membantu grace, wira belum lagi menemui atau menghubungi wanita itu. grace tetap dengan keras hatinya menolak pertolongan Wira.


Lima belas menit, wira sampai di studio milik grace.


Kedatangan lelaki itu langsung disambut dengan senyum ramah resepsionis. "Maaf tuan, hari ini grace tidak datang ke studio," ucap resepsionis itu yang tahu maksud kedatangan wira.


Alis wira terangkat. "Grace tidak datang?" tanya wira lagi yang dibalas anggukkan oleh sang resepsionis.


"Dia memang tidak datang sejak pagi atau bagaimana?" tanya wira lagi.


"Grace memang tidak datang dari pagi, tuan," jawab resepsionis itu jujur.


"Grace hanya mengatakan jika dia tidak bisa ke studio karena ada urusan lain."


Tanpa menunggu lama, wira langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan studio tato milik grace. Jika memang grace tidak datang ke studio, itu berarti wanita itu masih di rumah.


wira menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai di rumah grace. perasaannya jelas tidak baik sekarang. "Semoga semua baik-baik saja," gumam wira dengan perasaan khawatir.


Empat puluh lima menit berkendara, wira sampai di sebuah rumah besar yang berhadapan dengan panti asuhan tempat aludra dulu.


Wira turun dari mobil. langkah kakinya dengan tergesa menuju pintu rumah. Beberapa kali mengetuk, namun tidak ada jawaban. Wira mencoba mendorong pintu ternyata tidak dikunci.


Mata wira menatap sekeliling rumah. ada tanda salib besar yang menempel di dinding ruang tamu. Rumah ini benar-benar menunjukan identitas agama si pemilik rumah. Saat hendak melangkah menaiki tangga, wira mendengar sebuah suara tangis dan erangan dari kamar yang ada di sebelah tangga naik. Dengan segera lelaki itu masuk tanpa permisi.


Mata wira membulat sempurna. Sungguh ini sangat menjijikan. Wira menatap sudut kamar dan melihat grace yang duduk di sebuah kursi tepat di sudut kamar dengan tangan dan kaki terikat tali.


Dengan perlahan wira berjalan mendekati grace.

__ADS_1


sedangkan grace, wanita itu hanya bisa menangis menyaksikan apa yang terjadi di depan matanya. ini sudah sering terjadi, tapi tetap saja sakit hati itu tidak bisa dielakkan.


Dengan sekuat tenaga grace mencoba melepaskan tali yang mengikat kuat tangannya di belakang. Namun, saat usahanya berjalan dia merasakan tangan lain membuka tali itu.


DEG


"Wira."


"Huussst."


Tanpa ketahuan, wira berhasil membuka tali dan dengan diam-diam mereka berdua keluar dari kamar itu.


Tangis grace kembali pecah saat kini mereka berdua sudah ada di mobil wira.


"Tempat seperti ini yang kamu tinggali, grace?" tanya Wira lirih.


Grace hanya bisa menangis.


"Seberapa sering kamu melihat hal menjijikan seperti itu?" tanya wira lagi.


Grace hanya menggeleng dalam tangisnya. wanita itu sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan wira saat ini. semua sangat menyakitkan.


"Jawablah, grace. bagaimana bisa kamu sekuat ini saat kamu sering menyaksikan penyiksaan seksualitas seperti itu?" tanya wira lagi dengan pandangan sendu.


Dengan sesegukan grace menatap wira. Mata wanita itu sungguh memancarkan luka, kecewa, takut, benci, trauma dan semua sakit yang dia rasakan.


"aku harus bagaimana, wira? Haruskah aku melawan? Orang yang mereka perlakukan layaknya budak **** itu adalah kedua orang tuaku."


DEG


................


Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yaa!!!!


SELAMAT MEMBACAAAA!!!!!

__ADS_1


__ADS_2