Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setalah Salah Paham - BAB 52


__ADS_3

Jangan lupa like


Jangan lupa komen


Jangan lupa favorit


Jangan lupa kasih vote


Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗


🌹HAPPY READING🌹


Zergan menghempaskan dirinya di kasur. Lelaki itu tidak langsung mandi. Banyak hal yang harus dia lakukan sekarang ini. Tapi yang penting, dari sekian banyak hal itu, membuat Aludra tidak marah adalah tugas utamanya.


Zergan memandangi langit-langit kamarnya. Tiba-tiba senyum tengil terbit di bibir lelaki itu. "Punya anak lagi seru kali ya. Zayn harus punya adik," ucap Zergan menghayal membayangkan bagaimana dulu Aludra hamil Zayn. Bukannya jelek atau gemuk, bagi Zergan Aludra semakin cantik dan seksi ketika hamil.


Benar-benar Zergan. Bukannya usaha agar Aludra tidak kesal, malah berpikir mesum untuk membuat anak. Isi pikiran lelaki mesum emang.


Tidak ingin berlanjut dan membuat dirinya tegang, Zergan segera bangkit dan pergi ke kemar mandi untuk membersihkan dirinya. Perutnya sudah sangat meronta untuk diisi. Tapi jika tidak mandi, maka Aludra akan semakin marah.


.....


Aludra berjalan memasuki kamarnya. Mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Zergan. "Masih mandi ternyata," gumamnya ketika mendengar suara gemercik air dari kamar mandi.


Aludra berjalan ke arah walk in closed untuk menyediakan baju Zergan. Setalah dapat celana jeans pendek dan baju koas, Aludra meletakkan di ranjangnya.


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka. Zergan keluar dengan wajah segar dan handuk hitam yang melilit dari pinggang sampai lututnya. Satu tangannya dia gunakan untuk mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil hitam.


"Sayang," panggil Zergan ketika melihat Aludra yang duduk di ranjang dengan memainkan ponselnya.


Aludra tetap diam. Dia tidak menoleh sama sekali dan tetap fokus pada ponsel ditangannya.


"Sayang," panggil Zergan lagi. Namun nihil, Aludra tidak menoleh.


"Sayang," panggil Zergan lagi dengan suara sedikit keras.


Aludra menoleh. "Kamu panggil aku?" tanya Aludra dengan wajah polosnya.


"Siapa lagi, Sayang," ucap Zergan gemas dengan tingkah sang istri.


"Kirain manggil yang lain. Soalnya aku udah lama gak dipanggil Sayang begitu, jadi agak lupa," jawab Aludra sambil berdiri dan berjalan menuju meja rias.


Zergan menghela nafas mendengar jawaban Aludra. Sindiran ini belum seberapa, tapi rasanya lelaki itu tidak bisa terima. Sabar Zergan. Jika kau marah, maka Aludra bisa lebih marah. Batin Zergan dengan mengingatkan kesabaran dalam dirinya.

__ADS_1


Zergan melempar handuk kecilnya ke kasur. Dengan santai laki-laki itu memakai bajunya di depan Aludra yang sudah menutup matanya diam-diam. Tentu Aludra melihat apa yang Zergan lakukan. Pantulan dari kaca rias membuatnya mendapat pemandangan indah pagi ini. Tapi Aludra harus tahan. Wanita itu harus sangat jual mahal untuk menghukum Zergan.


Setelah selsai, lelaki itu berjalan mendekati sang istri. "Jangan begitu, Sayang," ucap Zergan memeluk Aludra dari belakang.


Aludra hanya diam. Dia mengambil sisir dan berbalik. Tangannya bergerak untuk menyisir rambut Zergan yang berantakan.


Zergan memandangi wajah damai Aludra. Sangat teduh dan anggun. Meskipun marah, tapi tidak menakutkan. Meskipun jengkel, tapi tidak melupakan tugas sebagai istri. Tangan Zergan terus melingkar di pinggang Aludra.


"Istri idaman," ucap Zergan tersenyum. Meskipun jengkel dan kesal, wanita itu tetap menyiapkan pakaian dan menyisir rambutnya.


Aludra tersenyum kecut. "Marah tidak harus membuatku melupakan tugas sebagai istri. Aku tidak ingin berdosa," jawab Aludra setelah selesai menyisir rambut Zergan.


Zergan terdiam. "Sayang," panggil Zergan pelan.


Aludra hanya menatap sekilas lalu membalikkan badan. Meletakkan sisir di meja rias tanpa terlepas dari lingkaran tangan Zergan di pinggangnya.


"Jangan marah," ucap Zergan merengek manja.


"Marah? Kenapa aku harus marah?" tanya Aludra menatap Zergan bingung.


Zergan menggeleng. "Aku semakin bersalah jika kamu bersikap seperti ini," ucap Zergan lembut.


"Kamu bersalah kenapa?" tanya Aludra dengan raut bingungnya. Wanita itu harus bisa bermain peran seperti apa yang dilakukan oleh Zergan.


"Maaf atas sandiwara itu," ucap Zergan menunduk takut. Dia tidak kuat rasanya menatap mata Aludra yang kini menatapnya teduh. Meski hatinya gundah dan kesal, namun wanita itu tetap manatap lembut suaminya.


"Bukan begitu, Sayang. Ada hal yang tidak bisa aku jelaskan. Nanti ikut aku ke rumah Mama, ya," ucap Zergan.


"Mama disini?" tanya Aludra senang.


Zergan mengangguk.


"Papa juga?" tanya Aludra yang membuat Zergan merubah raut wajahnya seketika.


Tidak mau membuat Aludra cerita, Zergan kembali tersenyum. "Hanya Mama, Sayang. Biar Mama yang jelaskan semuanya," lanjut Zergan membatin.


"Kapan kita ke rumah Mama?" tanya Aludra.


"Nanti sore," jawab Zergan lembut yang dianggukki oleh Aludra.


"Kalau begitu ke bawah lah. Kamu harus isi perut," ucap Aludra melepaskan tangan Zergan dari pinggangnya.


"Sayang," rengek Zergan.


"Jangan manja lebih dari anak kamu," ucap Aludra berjalan ke luar.

__ADS_1


"Jangan begini, Sayang. Hukuman kamu sangat berat," ucap Zergan putus asa.


Aludra menghentikan langkahnya. Wanita itu terkekeh pelan.


Aludra kembali berjalan mendekati meja rias. Dia mengambil ponselnya disana dan mencari sesuatu dari galerinya.


"Bisa jelaskan ini?" tanya Aludra memperlihatkan sebuah foto dan video pada Zergan.


Mata Zergan membola melihat apa yang ada di ponsel Aludra. Disana, dirinya sedang bercumbu dengan Rea dengan sangat nikmat. Tanpa busana apapun dan suara ******* yang seperti sangat menikmati.


"Demi Tuhan, itu bukan aku," ucap Zergan meyakinkan Aludra.


"Apa aku harus percaya?" tanya Aludra.


Zergan mengangguk yakin. "Itu bukan aku, Sayang. Sungguh," ucap Zergan mengangkat tangan mencubit kecil kedua telinganya dengan tangan menyilang.


"Aku percaya. Makanya aku tidak marah karena itu," ucap Aludra menatap Zergan sendu.


Zergan tersenyum. "Terimakasih, Sayang," ucap Zergan senang.


Aludra meletakkan ponselnya di ranjang.


Saat akan teringat sesuatu, Zergan kembali memegang tangan Aludra yang hendak berjalan keluar kamar. "Kenapa kamu percaya dengan mudah?" tanya Zergan lembut.


"Karena aku tahu sakitnya tidak dipercayai oleh orang yang kita cintai," jawab Aludra langsung melepaskan tangan Zergan dan keluar dari kamar.


Zergan terdiam. Dirinya mendapat tamparan keras atas apa yang dilakukan oleh Aludra. Sungguh, Zergan sangat malu dan penyesalan itu semakin dalam.


"Cepatlah turun. Nanti sarapan kamu dingin," ucap Aludra di ambang pintu. Setelahnya wanita itu benar-benar keluar dari kamar.


Tangan Zergan mengepal. Dia mengambil ponsel Aludra dan melihat apa yang tadi Aludra perlihatkan.


Tanpa pikir panjang, Zergan mengirim video itu ke ponselnya.


Setalah terkirim, Zergan melakukan panggilan pada Wira.


"Kenapa?" tanya Wira dari seberang sana.


"Ke rumah gue sekarang. Gue tunggu setengah jam," ucap Zergan yang tidak mau dibantah. Zergan langsung mematikan ponselnya dan memasukkan ke saku.


"****** sialan!"


......................


Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗

__ADS_1


Masih dalam suasana lebaran, aku ucapin selamat hari raya idul Fitri teman-teman. Semoga kita semua mendapatkan berkah dan kembali fitrah 😉😉. Minal aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir batin 🤗🙏


__ADS_2