
WELCOME TO THE STORY
🌹HAPPY READING🌹
"Mama tidak menyinggung kesehatan kamu, Nak," jawab Mama Ana yang membuat zergan terdiam. lelaki itu merutuki dirinya yang keceplosan ngomong sama mama ana.
Zergan menolehkan pandangannya ke luar jendela. Bibirnya tertutup rapat setelah mengatakan hal tadi pada mama ana.
"ALS dan dokter Ryan."
DEG
"APA?!"
Zergan dan mama ana langsung menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara keras disana.
"Wira," lirih zergan ketika matanya melihat wira yang datang bersama grace
Ya, yang datang adalah wira bersama grace. lelaki itu menepati janjinya untuk. menemui zergan setelah marvareth juga dipindahkan ke ruang perawatan yang tepat berada satu lantai dibawah zergan. Tapi wira sudah menawarkan agar margareth satu lantai saja dengan wira, tapi grace menolak. wanita itu tentu tahu jika lantai tempat zergan di rawat memakan uang yang sangat banyak. dan grace tidak mau jika lagi dan lagi wira harus berkorban untuk itu.
Wira langsung menarik tangan grace untuk memasuki ruangan zergan. "Apa gue salah denger, Gan?" tanya Wira menatap zergan yang kini sudah mengalihkan pandangannya.
"Tante?" tanya wira beralih pada Mama ana.
Grace yang melihat itu merasa tak enak. "Aku akan menunggu diluar saja, Wira," ucap grace dan berbalik untuk segera keluar ruangan.
Kini di ruangan itu hanya ada mama ana dn wira. wira yang melihat zergan selalu menoleh ke jendela memilih untuk berjalan memutari kasur dan berdiri tepat di depan lelaki itu untuk menghalangi pandangannya. "Jadi sakit itu yang buat lo sampai pingsan?" ucap Wira menatap Zergan.
"Lo udah tahu jawabannya," jawab Zergan singkat.
"Gan, lo-?" tanya wira tercekat serasa tak sanggup melanjutkan apa yang akan dia sampaikan.
"ya, Gue sakit, Wir. gak sehat," ucap zergan dengan suara bergetar menatap wira.
Wira yang mendengar itu menolehkan kepalanya. melihat wajah zergan yang penuh dengan putus asa seperti itu membuat dia sangat tidak suka. Sejak kecil mereka bersama, hal inilah yang tidak disukai wira. Zergan yang selalu berusaha menahan semuanya sendiri.
"Gue di diagnosa Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). Salah satu penyakit langka yang menyerang syaraf motorik hingga bisa mengganggu otot pernafasan dan menyebabkan penderita gagal nafas kapanpun," ucap zergan dengan pandangan kosong menjelaskan pada wira dan mama ana.
"Tapi tidak harus dengan menyembunyikan semua ini, gan," ucap Wira tak habis pikir dengan pemikiran sahabatnya itu.
Mendengar apa yang wira katakan, zergan menatap sahabatnya itu. "Terus gue harus gimana? gue harus mengumumkan pada dunia kalau gue ini penyakitan, begitu wira? gue harus bilang pada semua orang kalau gue ini gak sehat? gue harus bilang pada semua orang kalau umur gue bahkan gak bakal sampe setahun lagi, wira. gue bisa mata kapan aja," ucap Zergan penuh penekanan menatap wira.
"Bukan cuma lo, gan. semua orang juga bisa mati kapan aja. Gak cuma lo," ucap wira menyanggah.
zergan menggeleng. "lo gak bakal. tahu gimana rasanya karena lo gak ada di posisi gue, wir," jawab zergan lirih.
"Gan, dengan menyambunyikan ini semua gak bakal. buat lo cepat sehat juga kan. justru ini semakin membuat lo drop karena tekanan itu lo pendam. sendiri. Tidak ada yang salah dengan saling terbuka, gan," ucap Wira menasehati.
Zergan hanya diam. Lelaki itu menatap kosong ke depan dengan pikiran yang tak menentu.
"Apa aludra tahu soal ini, gan?" tanya wira lagi.
__ADS_1
Zergan diam. setelah itu wira beralih menatap. mama ana. Mama ana menggeleng memberi jawaban pada Wira.
Wira menghela nafas pelan. "Aludra bukan orang sembarangan, gan. Dia yang paling berhak untuk tahu semua ini," ucap wira tak paham akan apa yang zergan pikirkan.
"Bener apa yang dikatakan oleh wira, Nak. Aludra sangat berhak tahu tentang ini. jangan sampai semua ini membuat hubungan kamu dan aludra renggang, nak," ucap mama ana ikut membenarkan apa yang wira sampaikan.
Zergan menggeleng. "Jika mam dan wira tidak bicara mengenai ini di depan aludra, maka aludra gak akan pernah tahu. Biar ini semua jadi rahasia kita. Zergan akan terus berusaha untuk sembuh dan bisa bertahan lama dengan penyakit ini," ucap zergan kekeuh dengan apa yang dia sampaikan.
"Gan lo-"
"Tolong ngertiin gue, Wir. Aludra saat ini lagi hamil. Kesehatannya saat ini bukan hanya tentang dirinya sendiri, tapi juga tentang anak gue yang masih belum. lahir jika aludra banyak pikiran dan stres, itu akan mengganggu kesehatannya. Jadi akan lebih baik aludra tidak tahu mengenai semua ini."
"Lo gak akan pernah bisa rasain gimana, wir. Gue gak mau kalau aludra tahu tempat dia pulang sudah tidak sekokoh dulu lagi. gue gak mau aludra tahu kalau tempat dia mengadu sudah tidak setegar dulu lagi. gue gak mau aludra tahu kalau tempat dia bersandar sudah tak sekuat dulu lagi, Wir. Dan gue juga gak mau kalau nanti anak gue tahu bahwa orang yang dia anggap pahlawan sudah sangat sakit saat ini," lanjut wira sendu mengeluarkan seluruh isi hatinya pada Wira dan mama ana.
"Nak," ucap mama ana yang rasanya sangat tidak sanggup mendengar apa yang zergan sampaikan.
"Mama tenang aja. Zergan kuat dan zergan gak. akan biarin penyakit ini mengatur hidup zergan, ma," ucap Zergan menenangkan ana yang sudah menangis sesegukan di kursi sebelah ranjangnya.
wira menghapus sudut matanya yang sedikit berair karena perkataan zergan yang sangat menyayat itu. "Tapi aludra tidak pernah menuntut lo buat selalu uat, gan," ucap Wira lagi.
"Tapi sebagai laki-laki dan suami serta ayah, gue harus kuat, wir," jawab Zergan kekeuh dengan apa yang dia mau.
"Gue mohon, wir. Zergan mohon, ma. bersikaplah seolah semuanya baik-baik saja. Bersikaplah seolah-olah tidak terjadi apa-apa. bersikaplah seolah lo gak tahu apa-apa, wir. Gue mohon! gue janji bakal sehat dan rutin untuk periksa," ucap Zergan menatap wira dan mama ana bergantian.
"Nak."
"Gan."
"Gue meminta sama lo, Wir," ucap Zergan bergantian menatap mama ana dan wira bergantian
dengan berat hati mama aja dan wira mengangguk. tidak ada pilihan lain selain mengikuti apa yang zergan katakan.
"Mama jangan sedih. zergan gak mau lagi air mata mama ini jatuh hanya karena zergan. dia terlalu berharga, ma," ucap lelaki itu lembut dengan mencondingkan badannya mengusap lembut air mata yang ada di pipi mama ana.
Mama gak tahu rencana apa yang Tuhan sediakan buat kamu nantinya, nak. Bukan main-main besarnya cobaan yang Tuhan berikan pada keluarga kita. Semoga memang ada kebahagiaan dibalik semua ini. terutama untuk kamu, Nak. Batin mama ana menatap sendu pada zergan senyum lembut agar lelaki itu ikut tersenyum.
Lo manusia kuat, gan. gue beruntung jadi sahabat lo. gue janji, sebagai sahabat gue bakal selalu ada buat lo. kesulitan lo adalah kesulitan juga buat gue. dan kebahagiaan lo adalah kebahagiaan juga buat gue. Gue janji bakal jadi saudara lo yang baik, gan. gue janji. Batin Wira menatap lekat pada sahabatnya itu. sungguh, harta memang tidak menentukan seseorang akan menerima kebahagiaan di dunia. meskoun cukup harta, Allah memberi cobaan melalui keluarga dan kesehatan. Allah sungguh maha adil.
.....
Sedangkan di tempat lain, Aludra masih berusaha membujuk Zayn yang sejak tadi tidak mau bicara padanya. anak itu mogok bicara karena saat bangun tidur siang tadi, dia tidak menemukan mamanya di rumah.
"Nak, dosa lo diemin orang tua," ucap aludra lagi. untuk kesekian kalinya wanita itu mencoba membujuk Zayn yang kini menyembunyikan tubuhnya dari balik selimut anak itu.
"Mama juga dosa kalena ninggalin zayn," jawab anak itu teredam dari balik selimut.
Aludra terkekeh pelan mendengar apa yang disampaikan Zayn. anaknya itu benar-benar bisa membalikan apa yang dia katakan.
"Jadi Zayn tetap gak mau ngomong sama mama?" tanya Aludra lagi.
Zayn hanya diam. Anak itu mengunci bibirnya agar tak mengeluarkan suara menjawab perkataan aludra.
__ADS_1
"Zayn juga gak mau ketemu papa?" tanya aludra lagi.
anak itu masih tetap menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut.
"Mama mau ke rumah sakit lo, nak," ucap aludra lagi.
Zayn yang mendengar kata rumah sakit langsung membuka selimut bagian kepalanya. "Siapa yang sakit?" tanya anak itu dengan wajah sedikit ketus.
Aludra tersenyum. Melihat wajah anaknya yang seperti ini nampak sangat lucu dan menggemaskan. "Tadi papa pingsan di ruang kerjanya, Nak. Terus dibawa ke rumah sakit. sekarang papa masih di rumah sakit," jawab aludra jujur uang berhasil membuat Zayn menyibakkan selimut sehingga memperlihatkan semua tubuhnya.
"Papa sakit?" tanya anak itu dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan sedih, Nak. Papa pasti akan sedih juga kalau Zayn kayak gini. Papa cuma kecapean aja. tiga hari lagi juga sembuh," jawab aludra lembut.
"Papa kerja keras karena jajan Zayn banyak ya, Ma?" tanya Zayn menatap Aludra menyesal.
Aludra terkekeh. Yang benar saja, uang zergan bahan tak akan habis hanya karena memberi Zayn jajan. Sejuta seharipun zergan sanggup memberinya. "bukan, Nak. Papa capek karena memang kerjaannya banyak aja. nanti Zayn bilangin papa biar banyakin istirahat ya, Nak," ucap aludra penuh kasih sayang.
Zayn mengangguk. Anak itu menayap lama wajah mamanya dengan dalam. "Kenapa, Nak?" tanya aludra bingung.
"Maafin Zayn karena tadi udah ngambek sama mama, ya. Pasti mama tadi panik kalna papa pingsan, makanya Zayn dibiarin di rumah dulu sama bibi. Maafin Zayn ha, Ma," ucap anak itu dengan mata penuh iba.
Aludra tersenyum dan mengangguk. Menurutnya sangat wajar jika anaknya ini ngambek dan mogok bicara. Karena pada dasarnya, dia hanya ingin mencari perhatian pada kedua orang tuanya. Karena sampai kapanpun, yang namanya anak pasti akan sangat membutuhkan orang tuanya. Aludra sekarang merasa bersalah karena menganggap dia masih belum sepenuhnya perhatian pada Zayn.
"Kalau begitu, sekarang kita ke rumah sakit, ya. Mama udah selesai beres-beres barang papa. tinggal kita bawa," ucap aludra lembut yang dianggukki anak itu dengan semangat.
.....
Grace duduk dengan tenang di ruang tunggu. Sesekali dia menatap dari balik jendela dan masih melihat wira bicara serius bersama zergan dan mama ana. Tidak ingin bosan, grace mengeluarkan ponselnya untuk mengusir kejenuhan.
Dari ujung lorong, garce mendengar suara langkah kaki. wanita itu mengangkat kepalanya. Mata grace membulat sempurna melihat kedatangan aludra bersama Zayn. Grace juga melihat ke dalam ruangan zergan dimana wira masih bicara dengan Zergan dan mama ana. kenapa aludra harus kembali di waktu yang tidak tepat seperti ini? Grace tidak tahu sepenting apa yang dibicarakan, tapi ini hal serius menyangkut kesehatan zergan yang belum diketahui aludra.
"Grace," panggil aludra tersenyum.
"Tante Glace," sapa Zayn riang.
Grave tersenyum menatap ibu dan anak itu. "Kalau udah kembali?" tanya grace basa-basi.
Aludra mengangguk. "Kamu kemari dengan kak wira?" tanya aludra yang dianggukki oleh grace.
"Kak wira mana? dan juga kenapa kamu diluar begini?" tanya aludra heran.
"Ah itu. Wira ada di dalam. aku tadi harus menelpon dulu karena ada kepentingan dari studio ku, Aludra," jawab grace yang dianggukki aludra.
"Sekarang kamu sudah selesaikan menelponnya? ayo kita masuk," ajak aludra.
Grace hanya bisa mengangguk. Dia berharap permbicaraan di dalam ruangan zergan tidak akan membuat hal buruk terjadi nantinya. Semoga saja.
................
Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yaa!!!!
__ADS_1
SELAMAT MEMBACAAAA!!!!!