Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
BAB 161


__ADS_3

HAPPY READING


“Mama ana meminta kakek untuk membawamu kesana, nak. Kehadiranmu akan sangat dibutuhkan oleh zergan,” ucap fatih lirih.


“doa aludra pasti cuku-”


“tidak, nak. Doa saja tidak cukup untuk kesembuhan zergan disana. Zergan kritis, nak.”


DEG


Jantung aludra terasa akan berhenti mendengar apa yang fatih sampaikan. “maksud kakek apa?” tanya aludra penuh kekhawatiran.


“kemarin zergan kambuh. Sebenarnya ini bukan yang pertama kali zergan kambuh. Tapi kemarin adalah yang paling parah, nak. Zergan sempat kehilangan detak jantungnya beberapa detik,” ucap fatih menjelaskan sesuai apa yang dia dengan dari ana.


Reflek aludra mengusap perutnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. “alu akan siapkan pakaian dulu. Alu minta tolong kakek panggil zayn, yak kek,” ucap aludra yang rasanya ingin sekali menangis tapi ditahannya karena tak mau membuat fatih khwatir.


Tanpa menunggu jawaban fatih, aludra langsung berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Rasa bersalah mendadak kini sangat menyeruak dalam dirinya. “maafin aku, mas,” gumam aludra dengan tangan yang bekerja membereskan pakaiannya dan juga zayn dengan air mata yang tak bisa dia tahan.


“andai aku gak ikuti ego dan rasa kecewa, pasti kamu gak bakal selama ini sembuhnya. Aku tahu bahwa keberadaan aku sangat penting buat kamu, tapi aku malah milih buat nunggu kamu disini. Maafin aku, mas,” gumam aludra dengan terus menyalahkan dirinya sendiri. Rasanya ingin sekali aludra memaki tapi dia masih ingat bahwa saat ini di dalam tubuhnya ada nyawa lain. ada calon buah hatinya yang akan ikut sedih jika dia mencaci dirinya sendiri.


Ditengah kegiatannya, zayn datang memasuki kamar. Anak itu nampak sangat senang dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Aludra yang menyadari kedatangan zayn dengan cepat menghapus air matanya. “zayn ganti baju, ya nak. Tapi mandi dulu,” ucap aludra lembut.


Zayn mengangguk semangat. “ zayn mandi dulu ya, ma,” jawabnya patuh dan segera memasuki kamar mandi.


Tidak sampai sepuluh menit, zayn sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuh kecilnya. Hanya sebentar, tapi anak itu keluar dari kamar mandi dengan bau yang sangat wangi, sama seperti suaminya. Aludra heran, dia saja yang bisa mandi satu jam tidak sewangi itu jika keluar dari kamar mandi.


“udah, ma,” ucap zayn mendekati aludra.


Aludra mengangguk. “mama sudah siapkan baju zayn. Zayn pake sendiri, ya. mama susah, nak,” ucap aludra duduk dengan memegang perutnya.


“zayn bisa kok ma,” jawab zayn dan segera melakukan apa yang dikatakan oleh aludra.

__ADS_1


“ma,” panggil zayn ditengah kegiatannya memakai baju kaos.


“iya nak,” jawab aludra lembut.


“kita beneran ketemu papa kan?” tanyanya antusias.


Aludra mengangguk. “zayn kangen papa, ya?” tanya aludra menatap lekat anaknya.


“kangen banget,” jawab anak itu jujur. Padahal kalau sedang telponan dia selalu membuat zergan kesal.


“katanya ditelfon gak kangen,” ucap aludra bercanda.


Zayn tersenyum polos melihat giginya yang berderet rapi. “kan malu kalau harus bilang langsung, ma,” jawab zayn memberikan sisir kepada aludra. “sisirin ya, ma,” ucapnya lembut yang langsung dibalas anggukkan kepala oleh aludra.


“udah. Sekarang zayn temuin kakek dulu di luar, ya. bentar lagi mama susul,” ucap aludra yang sudah selesai dengan tugasnya.


“zayn bawa tasnya keluar, ya?”


Zayn menggeleng tegas. “nanti mama bisa kesusahan. Pasangin baju zayn aja susah apalagi bawa tas besar begini. Biar zayn yang bawa,” ucap anak itu yang langsung menyeret koper itu keluar tanpa mengangkatnya. Untuk roda kopernya masih berfungsi, jadi zayn tidak kesusahan.


Aludra tersenyum menatap punggung anaknya yang sudah menjauh. “aku ternyata juga memisahkan anak dari ayahnya. Maafkan mama ya, nak. Setelah ini kita akan terus sama-sama,” gumam aludra sendu.


Mendengar ungkapan rindu zayn untuk zergan membuat aludra semakin merasa bersalah. Ternyata benar, meredam ego akan memberikan kebaikan untuk banyak pihak meski hati haris terpaksa dulu untuk menerima kenyataanya.


…..


Setelah mengudara selama lebih kurang empat jam, dan melakukan perjalanan darat menuju rumah sakit sekitar satu jam, mobil yang ditumpangi aludra, fatih dan zayn sampai di parkiran rumah sakit tempat zergan menginap. Matahari sudah bersembunyi dan digantikan oleh bulan untuk menerangi bumi. Itu artinya saat ini zergan pasti sedang istirahat.


“apa kita langsung ketemu mas zergan, kek? Apa tidak sebaiknya besok pagi aja? Mas zergan pasti lagi istirahat,” ucap aludra tak enak.


“alu, kamu akan menemui suamimu atau orang lain?” tanya fatih dengan nada suara yang sedikit naik.

__ADS_1


Mendengar apa yang aludra katakan seolah menjelaskan bahwa zergan adalah orang lain untuknya. Dan fatih tidak suka itu.


“maaf,” ucap aludra menyadari kesalahannya.


Fatih menghela nafas pelan. Untuk zayn masih tertidur, jika tidak mungkin dia akan diomeli karena memarahi aludra. “maaf kakek sedikit emosi. Kamu adalah kesembuhan untuk zergan, tidak ada kata tidak enak untuk dalam hubungan suami istri, nak. Kalian bukan orang lain. jadi jangan menempatkan dirimu sebagai tamu. Kamu adalah tuan rumah yang pulang setelah menenangkan diri,” ucap fatih dengan suara yang lebih lembut.


Aludra mengangguk. “kalau begitu, ayo kek. Kakek bisa gendong zayn?” tanya aludra.


Fatih mengangguk. Dia masih kuat untuk menggendong cucunya itu. biar aludra yang menyerer kopernya.


…..


Mama ana duduk di kursi depan rungan zergan. Dia baru saja berdebat dengan zergan perihal menyuruh lelaki itu untuk istirahat. Keras kepala, tapi akhirnya zergan mengalah melihat mama ana yang sudah terlanjur kesal.


Mama ana menghela nafas pelan. Ini sudah malam, dan dia bisa menebak jika fatih tidak bisa membawa alidra ke Thailand. “semoga doa kamu lebih kuat daripada segala obat disini, nak,” gumam mama ana menatap langit-langit lorong rumah sakit.


Sedangakan di ujung Lorong, aludra melihat mama ana yang duduk di posisinya. Rasa bersalah kembali menjalari hatinya karena membiarkan mertuanya seorang diri disini mengurus zergan. Harusnya ini adalah tugasnya sebagai seorang istri, tapi aludra malah lebih mementingkan dirinya sendiri.


Di dalam kamar inapnya, zergan tidak bisa memejamkan mata. Lelaki itu memilih untuk bangun dan hendak turun dari Kasur. Sebelah tangan zergan dia gunakan untuk mendorong tiang infus yang menancap di tangannya. Semakin dia memejamkan mata, semakin besar kerinduannya kepada aludra dan zayn. Lebih baik dia mengajak mamanya untuk ke taman rumah sakit mencari angin segar.


Tangan zergan terulur membuka hendel pintu. Mama ana yang mendengar pintu terbuka menolehkan kepalanya. “kenapa keluar, nak?” tanya mama ana berdiri menatap khawatir pada zergan.


“zergan capek di dalam, ma. Bisa bantu zergan ke taman, ma? Pakai kursi roda. Kaki zergan tidak kuat untuk berjalan lama,” ucapnya dengan wajah yang masih pucat.


Mama ana mengangguk. “sebentar mama ambilkan dul-”


Ucapan mama ana terputus kala dia menoleh dan matanya menangkap tiga sosok yang sangat dia rindukan. Zergan yang melihat itu ikut menoleh. Wajah terkejut nampak jelas dari ekspresinya. “sa-sayang.”


“Mas.”


...****************...

__ADS_1


__ADS_2