
WELCOME TO THE STORY
🌹HAPPY READING🌹
Zergan terdiam. Dia hanya bisa menangis dengan kepala tertunduk. tidak sanggup rasanya menatap wajah sang istri yang sangat terluka.
"Jawab Mas?" ucap aludra lagi. setiap kata yang terucap dari bibirnya menyiratkan luka dan kecewa.
"Kamu berhasil, Mas. Kamu berhasil bungkam aku dengan menjadikan aku sebagai alasannya," ucap aludra yang melihat zergan diam tanpa kata.
"Aku menyesal udah jadi wanita yang lemah, Mas. Harusnya aku kuat biar kamu gak harus rahasiain semua ini dari aku. harusnya aku gak cengeng kayak gini. dan harusnya aku gak hamil kan, Mas?"
"Jangan ngomong gitu, Sayang," ucap zergan menggeleng dengan tangisnya.
"Aku harus gimana, Mas? aku terlihat seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa disaat semuanya gak baik-baik aja, Mas. perasaan aku sakit saat suami aku berjuang dengan kesehatannya, aku malah santai di rumah memanjakan diri. aku benar-benar gak berguna saat suamiku harus berobat setiap waktu. aku merasa tidak ada artinya saat suamiku malah mempercayakan untuk menceritakan ini pada orang selain istrinya, Mas, hiks. Aku benci pada diri aku, Mas. Aku merasa jijik sama diri aku sendiri, hiks," ucap aludra bicara menyampaikan perasaanya.
Zergan mengangkat kepalanya. dia menggekemg menyalahkan semua yang aludra sampaikan. "Aku yang salah, Sayang. Aku yang salah, bukan kamu. berhenti ngomong kayak gitu, Sayang," ucap zergan dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Mama ana yang mendengar semua itu berjalan mendekati zergan dan aludra. "Mama Minta maaf, Nak," ucap mama ana dengan rasa bersalah yang teramat dalam.
"Hiks! Alu benci keadaan seperti ini," ucap aludra menangis keras.
Mama ana memeluk tubuh bergetar menantunya dengan sangat erat. Tangannya masih berada digenggaman Zergan. Saat ini aludra benar-benar terluka.
"Hati alu sakit, Ma. Sakit sekali. Suami alu sakit dan alu tidak tahu sama sekali. Dada alu sesak," ucap wanita itu menyampaikan apa yang dirasakan pada mama ana.
"Kami minta maaf, Nak," ucap mama ana menangis.
Cukup lama mama ana menenangkan aludra. Kini wanita muda itu melepaskan pelukan mama ana dari tubuhnya. Dia beralih menatap sang suami yang masih setiap menunduk. kedua tangan aludra terangkat memegang kedua pundak zergan.
"Kembali ke ruangan kamu, ya Mas. Aku akan pulang sebentar buat ambil keperluan selama kamu di thailand," ucap aludra sesegukan.
"Aku gak mau pergi kalau kamu belum maafin aku, Sayang. Aku bisa berobat disini," ucap Zergan menatap aludra lembut.
"Aku udah maafin kamu. Sekarang ke kamar kamu, ya," ucap aludra lembut.
"Kak wira, tolong bantu Mas Ze-"
__ADS_1
"MAS ZERGAN!" teriak aludra reflek saat tubuh zergan jatuh tak sadarkan diri dalam pelukannya.
"Angkat zergan wira," ucap fatih yang segera menjauhkan tubuh zergan dari aludra. fatih, anwar dan wira mengangkat tubuh zergan dan membawanya kembali ke kamar.
"Mama panggil dokter dulu," ucap mama ana pada aludra.
Aludra mengangguk. dia ikut berjalan cepat menuju ruangan Zergan. sungguh, hatinya semakin tak rela melihat keadaan sang suami yang jauh dari kata baik-baik saja.
Dari arah luar terdengar langkah kaki yang sangat cepat. Dokter rizal masuk bersama mama ana dengan tergesa-gesa ditambah seorang perawat. tidak ada dokter David karena dia harus melakukan kunjungan pada pasien lain.
"Pasang kembali infus pasien, suster," perintah dokter rizal yang langsung dianggukki oleh perawat.
"Maaf permisi, Bu."
"Oh, iya silahkan, suster," ucap aludra sedikit bergeser memberi ruang pada perawat untuk bisa memasang infus di tangan zergan.
"Pasang alat pendeteksi detak jantungnya," ucap dokter rizal saat perawat itu telah selesai memasang infus.
"Baik dokter," jawab perawat patuh.
Aludra yang melihat itu tidak kuasa menahan air matanya. tangannya terulur mengusap lembut perut yang sudah buncit itu. Bilang sama Allah buat kasih papa umur panjang, ya Nak. Batin Aludra berharap.
"Bagaimana, Dokter?" tanya fatih saat dokter rizal selesai memeriksa zergan.
"Denyut jantungnya tidak normal, Tuan. Tapi semua baik-baik saja. Kita akan menunggu sebentar sampai zergan sadar," jawab dokter rizal membuat semuanya lega. Tapi tidak dengan aludra. dia khawatir melihat begitu banyak kabel di tubuh sang suami.
"Kenapa begitu banyak alat ini, dokter?" tanya aludra.
"Ini tidak apa-apa. Semua ini untuk memantau detak ja tung pasien," jawab dokter rizal lembut.
Ada rasa iba dalam diri dokter rizal melihat kondisi aludra. Wajah yang sembab dan merah, perut yang buncit sehingga membuatnya seperti kesulitan sendiri. Tapi beruntung sekarang sudah terlewat. Dia yakin, setelah aludra tahu semua ini, perkembangan kesehatan zergan akan semakin baik karena dukunganya.
Kini hanya aludra yang duduk di kursi dekat ranjang zergan. satu jam setelah kejadian tadi, Laki-laki belum kunjung membuka matanya. Sedangkan mama ana dan fatih duduk di sofa. sedangkan wira kembali ke perusahaan dibantu oleh ayahnya, anwar.
Aludra menatap sendu wajah suami yang nampak tidur tenang. Wajah yang pucat, tubuh yang sedikit kurus tidak mengurangi ketampanan suaminya. Tangan aludra tak henti mengusap perutnya. "Papa bentar lagi bangun kan, Nak?" tanya aludra bicara pada perutnya.
"Mama juga percaya kalau papa bakal sembuh," ucap aludra seolah-olah calon bayinya menjawab apa yang dia tanyakan.
__ADS_1
Mama ana dan kakek fatih yang melihat itu tersenyum. aludra sungguh wanita berhati besar. sangat beruntung zergan memilikinya sebagai istri. Wanita berkelas dengan pemikiran yang sangat dalam. Jika saja wanita lain, mungkin dia sudah meninggalkan zergan saat ini. Sudahlah sakit, tidak jujur pula. Banyak sudah kekurangan zergan yang bertambah.
Tangan Aludra terulur berpindah mengusap lembut dahi zergan. "Masih ganteng suami aku," ucapnya tersenyum.
"Sayang," sebuah suara yang sangat lemah terdengar hingga aludra menjauhkan tangannya.
"Kamu udah bangun, Mas?" tanya aludra perhatian. dia merubah ekspresi dengan mode ngambeknya pada zergan.
Zergan mengangguk. Matanya terus menatap aludra dengan penuh kasih sayang.
Mama ana dan fatih yang melihat itu memilih untuk keluar ruangan zergan.
"Tunggu, Ma, kakek," panggil aludra yang menghentikan langkah keduanya.
"Kenapa, Nak?" tanya mama ana lembut.
"Mama disini saja. Biar aludra yang pergi," ucap aludra yang membuat zergan melotot.
"Sayang, aku minta maaf," ucapnya menyesal.
Aludra tersenyum dan mengangguk. "Alu minta tolong mama buat disini. Biar alu bisa pulang buat nyiapin keperluan mas zergan selama ke thailand nanti," ucap aludra.
"Sayang."
"Ikuti saran dokter jika kamu gak mau aku semakin marah, Mas," ucap aludra yang membuat zergan terdiam.
"Baiklah. Mama akan disini."
"Kakek antar kamu, Nak," tawar fatih yang dianggukki oleh aludra.
"Kamu baik-baik ya, Mas."
......................
Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yaa!!!!
SELAMAT MEMBACAAAA!!!!!
__ADS_1