
WELCOME TO THE STORY
🌹HAPPY READING🌹
"Ayah," panggilan lirih dari Zergan membuat pegangan tangan Adam terlepas dari lengan Ana tanpa memutar tubuhnya.
"Apa sebenarnya yang kau inginkan, Ayah?" tanya Zergan lirih.
Adam memejamkan mata sejenak. Lelaki itu kembali menghela nafas pelan mendengar pertanyaan Zergan. "Ayah ingin keluarga kita utuh, Zergan. Seperti dulu," jawab Adam pelan sambil menunduk namun masih bisa didengar oleh Ana dan Zergan.
"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan, Mas?" tanya Mama Ana yang kini sedikit menghormati Adam dengan mengubah panggilan pada lelaki itu. Adam paling tidak bisa dinasehati dengan kata-kata kasar dan keras. Karena jika begitu maka dia akan semakin memaksakan apa yang diinginkannya.
"Aku sangat sadar, Ana. Dari dalam lubuk hatiku, aku masih sangat mencintaimu. Maaf jika kemarin aku salah," ucap Adam lirih.
"Seharusnya kamu tahu, Mas. Kesalahan apa yang sudah kamu buat. Kamu harusnya berpikir seberapa besar salah yang kamu buat. Apakah masih bisa untuk dimaafkan atau tidak. Harusnya kamu berpikir bagaimana akibat semuanya sebelum kamu melakukan pengkhianatan yang menyakitkan itu, Mas," ucap Ana dengan mata berkaca-kaca.
"Setiap kesalahan berhak mendapat kata maaf, Ana. Dan setiap manusia berhak mendapat kesempatan kedua," ucap Adam menatap sendu ana.
"Maaf? saat masih bersama, sudah berapa kali aku memaafkan kamu, Mas? Sudah berapa banyak kesalahan dan kekerasan kamu yang aku maafkan? Sudah berapa banyak air mata yang aku ikhlaskan untuk semua sakit hati yang kamu berikan, Mas?" tanya Mama Ana dengan suara bergetar.
"Dan kesempatan? Saat dulu aku selalu memaafkan kamu aku selalu menyertai dengan kesempatan, Mas. Saat dulu aku selalu menghapus air mata untuk menerbitkan senyum, selalu ada kesempatan untuk kamu, Mas. Tapi apa? Kamu yang tidak memanfaatkan semuanya!" tambah Mama Ana menangis dengan suara yang sudah meninggi.
Adam hanya bisa menunduk dengan segala rasa bersalah. Sedangkan Zergan tidak kuasa menahan air matanya mendengar apa yang dikatakan Ana. Zergan menyesal karena tidak pernah ada disamping Ana saat dulu Ana sangat membutuhkannya.
"Lalu sekarang kamu meminta aku untuk kembali bersamamu membangun keluarga yang utuh seperti dulu?" lanjut Ana bertanya. dengan begitu mudah Adam meminta untuk kembali tanpa memikirkan bagaimana kerasnya perjuangan Ana untuk menjaga hatinya baik-baik saja selama beberapa tahun.
"Dengan permintaan kamu itu, bukannya menyembuhkan hatiku kamu semakin membuatnya terluka, Mas. apa pernah kamu berpikir bagaimana kerasnya aku berjuang untuk baik-baik saja, Mas? HA? PERNAH KAMU PIKIR? APA KAMU PERNAH MENGOBATI SETIAP LUKA YANG AKU DAPATKAN? MESKIPUN BUKAN LUKA BATIN, LUKA DITUBUHKU SAJA TIDAK PERNAH KAMU KHAWATIRKAN, MAS, HIKS, " teriak Ana dengan suara bergetar menyampaikan isi hati yang selama ini dia pendam seorang diri.
Dia hanya ingin Adam sadar bahwa sakitnya bukan hal sepele sampai dia bisa dengan mudah meminta untuk kembali.
__ADS_1
"Ana," panggil Adam lirih dengan air mata yang tanpa sadar membasahi pipinya.
"Maafkan aku," lanjutnya bersimpuh di depan Ana memegang pergelangan tangan Ana. "Maaf, Ana," ucap Adam berkali-kali dengan menunduk hingga dahinya bersentuhan dengan punggung tangan Ana.
"Bukan cuma aku, Mas. kamu juga merusak rumah tangga anakmu hingga dia harus menyakiti hati istrinya. Apa Rea se-istimewa itu sampai kamu menghalalkan semua cara untuk mewujudkan keinginannya, Mas? apa dia begitu berharga sampai-sampai semua permintaanya tidak bisa kamu tolak?" ucap Ana lagi.
Adam hanya terdiam.
"Apa kamu pernah bertanya pada anakmu bagaimana perasaanya saat ini? Apa kamu pernah bertanya pada anakmu bagaimana dia melukai istrinya? Apa kamu pernah bertanya pada anakmu bagaimana dia harus berperang batin untuk membenci kamu, Mas? Dia memang bukan lagi anak kecil, tapi bagaimanapun dia tetap seorang anak yang selalu menjadikan kamu panutannya," lanjut Mama Ana memberitahu lelaki yang masih bersimpuh di depannya.
"Aku mungkin bisa memaafkanmu dan melupakan apa yang sudah kamu lakukan secara perlahan meski sulit, Mas. Tapi aku tidak bisa menghilangkan rasa sakitnya, Mas. Sebagai seorang ibu aku gagal menjaga mental anakku. Sebagai istri aku gagal menjaga kesucian rumah tangga ku. Dan sebagai wanita aku gagal mempertahankan hatimu agar tetap untuk aku, Mas. Terimakasih atas semua kegagalan ini. Terimkasih, hiks," tangis Ana begitu tak terbendung saat ini. Berkali-kali wanita itu menghela nafas untuk meredakan tangisnya.
Dengan sedikit memaksa Ana melepaskan tangannya dari genggaman Adam. "Kamu juga sudah mengucapkan talak. Lanjutkanlah perceraian ini. Maaf jika sekarang aku menolak keinginanmu."
"Dan satu lagi, Mas. Jangan berikan sakit ini pada wanita lain. Aku takut nanti dia tidak akan sanggup menahannya," ucap Ana berlalu keluar dari ruangan itu dengan tangan yang tak henti menghapus air matanya.
.....
"Mama mau apa lagi?" tanya Zayn dengan senyum manisnya menatap Aludra. Kini mereka berdua sedang duduk diruang keluarga menikmati waktu berdua.
Aludra menghela nafas pelan. "Zayn, Mama ini gak sakit, Nak. Mama sehat," ucap Aludra berusaha membujuk anaknya agar membiarkanya melakukan sesuatu.
Zayn menggeleng. "Mama mau apa lagi?" tanya Zayn dengan senyum manis anak itu.
Aludra memutar bola matanya malas. "Mama mau jalan ke taman belakang," jawab aludra sedikit jutek.
"Harus pakai kursi roda dan Zayn bantu dorong," jawab anak itu tegas.
Lagi dan lagi Aludra menghela nafas pelan. Di meja depannya bahkan sudah lengkap berbagai cemilan, kue dan minuman. Zayn benar-benar bekerja sama dengan bibi dirumah untuk menjaga Aludra. Semua ini karena Zergan yang memberi pesan pada anaknya.
__ADS_1
Zayn jangan biarin Mama jalan dan ngapa-ngapain, ya. Zayn harus jadi Ksatria Mama yang siap membantu selagi Papa belum pulang.
Dan pesan itu berakhir seperti sekarang ini. "Mama hamil, Nak. Bukannya lumpuh. Mama masih bisa jalan," ucap Aludra memelas mencoba bernegosiasi dengan anaknya. Dia kesal karena sejak tadi bangun berteman dengan kursi roda.
"Pakai kursi roda dan Zayn bantu dorong atau gak ke mana-mana!" ucap Zayn tegas menolak layaknya Zergan yang sangat posesif pada Aludra.
"Huft, kalau sudah patuh sama bapaknya bikin kesal setengah mati," ucap Aludra menggerutu pelan. Akhirnya wanita itu hanya duduk diam di depan televisi dengan cemilan ditangannya.
Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Aludra sangat senang karena itu menunjukan betapa Zayn sangat menjaga pesan Papanya dan juga sangat sayang kedua orang tuanya.
.....
Kini diruangan itu hanya ada Zergan dan Adam. Kedua lekaki berbeda generasi itu hanya terdiam. Namun mata mereka kini sama sama basah dan memerah menunjukan betapa dalam kesedihan itu.
Tidak ingin emosinya lepas kendali, Zergan memilih untuk berjalan melewati Adam untuk keluar ruangan itu.
"Tunggu, Nak," ucap Adam mencegat langkah Zergan.
Zergan berhenti. Mendengar Adam yang kembali diam, lelaki itu berbalik.
Adam mengangkat kepalanya dan berdiri dari posisi bersimpuh nya tadi. Lelaki itu menatap anak satu-satunya dengan air mata mengalir. "Maaf."
................
Hai temanku semua Aludra dan Zergan masih berlanjut, ya. Bagi yang sedikit lupa, kalian bisa baca bab sebelumnya ya, dijamin tetap seru.
Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yaa!!!!
Selamat membaca!!!!!!!!
__ADS_1