
🌹HAPPY READING🌹
"Aku bisa membuat suamimu tetap senang melihat tubuh indah mu ini, Aludra. Kita gunakan hena," ucap Grace.
"Tapi Rea-"
"Satu pesanku, Aludra. Lakukan ide yang bertentangan dengan saran Rea. Bukannya aku menjelekkan adik ipar mu, tapi aku mengenal temanku itu, Aludra," ucap Grace memperingati Aludra.
Aludra terdiam mendengar perkataan Grace. Tiba-tiba senyumnya terbit dan diiringi anggukkan kepala. "Baiklah, Grace. Berikan hena di tubuhku," ucap Aludra menurut.
Grace ikut tersenyum dan mengangguk. Grace mulai memberikan Hena premium yang dia punya untuk Aludra.
"Benar tidak sakit, Grace," ucap Aludra ketika Grace mulai bekerja.
Grace tersenyum. "Sesuatu yang dihalalkan, tidak akan menyakiti kita, Aludra," jawab Grace dengan tetap fokus pada punggung Aludra.
Aludra mengangguk. "Aku minta maaf karena sempat menilai buruk padamu, Grace. Ternyata kau adalah orang yang baik," ucap Aludra menyesal.
"Terkadang penampilan hanya pembungkus luar, Aludra. Kau harus melihatnya hingga ke dalam. Baru kau akan bisa mengetahui bagaimana seseorang sebenarnya," ucap Grace bijak.
Aludra mengangguk dan tersenyum. Setelahnya, mereka berdua hanya diam dengan Grace yang tampak fokus pada pekerjaannya.
Setelah satu setengah jam, Rea dan Aludra selesai dengan kegiatan mereka. Rea nampak tersenyum lebar melihat tato kecil di pergelangan tangannya. Nampak tulisan kecil dengan huruf Arab disana.
"Tatomu bagus, Rea," puji Aludra.
"Terimakasih, Kak. Kakak bagaimana? Boleh aku melihatnya?" tanya Rea.
"Punyaku hanya untuk suamiku," jawab Aludra yakin.
"Baiklah-baiklah kakak ipar," jawab Rea riang.
Setelah melakukan pembayaran. Mereka segera pergi dari tempat itu, dan tentunya sebelum pergi mereka pamit terlebih dahulu pada Grace yang merupakan pekerja sekaligus pemilik tempat itu.
.....
Malam telah menjelang. Zergan sampai dirumahnya pukul tujuh malam. Diruang keluarga, dia melihat Zayn yang asik menggambar sendiri.
"Zayn," panggil Zergan.
"Ayah," ucap Zayn ruang dan langsung bangun untuk memeluk Zergan.
"Anak Ayah manja sekali, ya," ucap Zergan mengecup wajah Zergan yang sudah wangi.
"Ayah kenapa tadi pagi tidak bangunkan aku?" tanya Zayn merajuk.
"Ayah ada meeting penting, nak. Dimana Mama?" tanya Zergan.
"Mama tadi di kamal, Ayah. Katanya ada telpon penting dali temannya," jawab Zayn.
__ADS_1
Telepon penting dari teman? Setahuku Aludra tidak punya teman. Batin Zergan.
Tidak mau semakin penasaran sendiri, Zergan pamit pada Zayn untuk ke kamar. "Ayah ke kamar dulu, ya Nak. Mau ganti baju sebentar," ucap Zergan yang langsung dianggukki oleh Zayn. Anak itu kembali melakukan kegiatan menggambar kesukaannya.
Zergan sampai di depan pintu kamarnya. Lelaki itu dengan pelan membuka pintu kamar.
Zergan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan tidak menemukan keberadaan Aludra. Zergan meletakkan tas kerjanya di ranjang dan membuka sepatu. Lelaki itu mengganti sepatunya dengan sendal dan berjalan menuju balkon.
Zergan berdiri tepat di belakang Aludra yang nampak berbicara dengan seseorang dari balik telepon.
Tidak lama setelahnya, Aludra selesai dengan kegiatan menelponnya.
"Mas," ucap Aludra kaget melihat Zergan yang tiba-tiba berdiri dibelakangnya.
"Habis menelpon siapa?" tanya Zergan dengan tatapan mengintimidasi.
"Bukan siapa-siapa, Mas. Hanya teman biasa," jawab Aludra tenang.
"Teman? Temannya yang mana?" tanya Zergan.
"Teman lama, Mas," jawab Aludra.
"Setahuku istriku ini tidak punya teman selain suaminya sendiri. Lalu teman mana yang kau hubungi?" tanya Zergan dengan terus berjalan maju. Dan itu dengan terpaksa membuat Aludra ikut berjalan mundur agar mereka tak bertubrukan.
Aludra gugup. Tidak tahu harus menjawab bagaimana pertanyaan Zergan. Karena benar yang dikatakan oleh suaminya bahwa dia memang tak pernah memiliki teman selain suaminya sendiri.
"Teman yang mana, Alu?" tanya Zergan yang membuat Aludra menatap sendu wajah itu.
"Mas," panggil Aludra senang.
Zergan semakin mendekat. Tangannya terulur memeluk erat pinggang Aludra yang sudah menyender di pagar balkon.
Zergan semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri. Jujur saja, Zergan sangat merindukan sentuhan Aludra. Dia tidak bisa munafik, Aludra adalah satu-satunya wanita yang bisa menarik dirinya kedalam ruang kenikmatan.
Tangan Aludra terulur mengusap lembut pipi Zergan. "Mas," panggil Aludra dengan suara yang terdengar sangat merdu di telinga Zergan.
Zergan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Aludra. Lelaki itu menghirup kuat aroma tubuh Aludra yang sudah sangat lama dia rindukan.
Aludra meremang. Wanita itu hanya menurut apa yang Zergan lakukan karena sebenarnya dia juga merindukan sentuhan suaminya itu.
"Mas," ucap Aludra lembut ketika Zergan memberikan tanda di lehernya.
Hanya satu. Zergan tidak mau kelepasan saat ini. Lelaki itu menjauhkan wajahnya dan menatap Aludra dengan mata tajamnya.
"Pergilah. Kau meninggalkan anakku sendiri dibawah," ucap Zergan dingin dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Aludra yang mendengar itu hanya mematung. Matanya menatap sendu lelaki yang baru saja pergi meninggalkannya setelah meninggalkan satu jejak cinta di lehernya.
"Setelah menyentuh pun, itu tak membuat rasa marah kamu reda, Mas," gumam Aludra sendu.
__ADS_1
.....
Dikamar mandi, Zergan sibuk dengan kegiatannya. Lelaki itu melakukannya dengan cepat agar segera sampai pada puncaknya.
"Aahhhh," desah Zergan ketika cairan itu keluar begitu saja dan jatuh dengan mubadzir ke lantai kamar mandi.
"Andai kamu tidak berkelakuan diluar batas, maka ini akan menjadi benih untuk adik Zayn, Aludra," gumam Zergan.
Setelah selesai dengan kegiatannya, Zergan segera mandi dan membersihkan diri.
Lima belas menit, Zergan selesai dengan mandinya. Lelaki itu keluar kamar dengan handuk yang melilit pinggangnya. Wajahnya nampak lebih segar dari biasanya. Mungkin karena hasratnya sudah lepas, tidak ada beban tertahan di wajah tampan lelaki itu.
Zergan memakai pakaian rumahnya. Setelah selesai, dia turun kebawah untuk bergabung bersama Zayn yang sudah duduk di meja makan untuk segera melaksanakan makan malam.
"Ayo makan, Ayah. Zayn lapar!" teriak Zayn dari meja makan ketika melihat Zergan melangkah menuruni tangga.
Zergan tersenyum. Aludra yang datang dari dapur dengan sup ditangannya ikut tersenyum. "Ayo makan, Mas," ucap Aludra lembut.
Zergan hanya mengangguk singkat. Sampai dimeja makan, Zergan duduk di kursi yang biasa dia tempati. Matanya tak henti melihat kearah tubuh Aludra.
"Kenapa, Mas?" tanya Aludra.
Wanita itu memang sengaja memakai pakaian dengan lengan terbuka yang cukup lebar agar Zergan dengan leluasa bisa melihat karya baru ditubuhnya. Dengan harapan, lelaki itu tertarik untuk kembali menyentuhnya.
Pandangan Zergan terhenti ketika Aludra sedikit menunduk dan memperlihatkan bagian tubuhnya yang memiliki gambar kecil.
"Aku akan ke ruang kerja lebih dulu," ucap Zergan menatap datar Aludra. "Zayn, makan duluan ya, Nak. Ayah ke ruang kerja sebentar," lanjut Zergan beralih pada Zayn.
Anak itu mengangguk. Dia tidak mau menahan Papanya karena memang sudah merasakan lapar yang sejak tadi dia tahan.
Aludra ingin menyahuti, tapi belum bibirnya bicara, Zergan sudah lebih dulu pergi dari meja makan.
.....
Diruang kerja, Zergan langsung menelpon seseorang. Tanpa sudah payah mencaritahu sendiri, dia sudah melihat sendiri di tubuh Aludra.
"Bagaimana Wira?" tanya Zergan setelah sambungan teleponnya terangkat.
"Itu tato, Tuan. Bukan Hena."
............
......................
Kesalahpahaman akan diceritakan pada flashback nanti yaaaa 😉
Terimakasih sudah mampir di cerita baru ini, semoga kalian suka dan bermanfaat 🤗😉
Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
__ADS_1
Kalian bisa follow Instagram aku @yus_kiz buat lihat visual dan segala perkataan indah yang berkaitan dengan novel ini 😉🤗