
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗
🌹HAPPY READING🌹
Setelah kembali dari ruangan rahasia tadi, Zergan kini sudah sibuk dengan pekerjaannya. Lelaki itu sibuk menggores tinta diatas kertas putih yang sudah terisi oleh tulisan-tulisan penting.
Disela pekerjaannya, pintu ruangan Zergan terbuka. "Kenapa?" tanya Zergan setelah melihat Wira yang memasuki ruangannya.
"Tuan besar akan datang," ucap Wira yang membuat Zergan melototkan matanya tak percaya.
"Kakek datang?" tanya Zergan memastikan.
Wira mengangguk. "Baru saja asisten pribadi Tuan besar menelpon saya, Pak," jawab Wira.
Zergan menghela nafas kasar. "Gak mau tau, kau harus disini bersamaku!" ucap Zergan tanpa bantahan.
"No!" reflek Wira menjawab dengan sangat tegas. Berada diruangan yang sama dengan kepala keluarga besar Bailey? Itu sama artinya kamu masuk kandang singa.
"Kalau gak mau, siap-siap gaji bulan ini gak keluar," ucap Zergan mengancam.
"What the f-"
"Tidak ada bantahan pada bos, Asisten Wira," ucap Zergan tersenyum senang.
Wira yang mendengar itu mendengus kesal. Zergan jika sudah mengancam tidak akan main-main. Dulu, pernah Wira dengan sengaja melanggar perintah lelaki itu untuk ikut lembur bersamanya, dan Zergan mengancam tidak akan memberikan gajinya selama tiga bulan. Dan benar saja, selama itu tidak ada gaji untuk Wira.
Wira berjalan dengan lesu menuju sofa yang ada diruangan Zergan. "Kenapa juga Tuan besar harus datang sekarang?" tanya Wira tak paham.
"Apa kau berpikir hal yang sama denganku?" tanya Zergan setelah menyusul Wira untuk ikut duduk di sofa.
Zergan dan Wira saling pandang. Baru Wira akan membuka mulutnya untuk bicara, pintu ruangan Zergan sudah dibuka dari luar.
Zergan dan Wira menelan ludahnya melihat seorang lelaki paruh baya dengan tongkat ditangannya berjalan dengan angkuh memasuki ruangan Zergan.
"Selamat datang, Kakek," sapa Zergan sesantai mungkin.
__ADS_1
Diikuti Wira yang ikut menunduk. "Selamat datang, Tuan besar," sapa Wira sopan.
Lelaki tua yang nampak gagah dengan pakaian santainya itu mengangguk. Kulitnya yang keriput tidak melunturkan kadar tampan dalam dirinya. Meskipun sudah Tua, lelaki itu masih terlihat bugar. Hanya saja, jalannya yang menggunakan tongkat.
Dengan santai, Lelaki tua itu berjalan menuju sofa yang ada disebelah Zergan. Namun, belum dia duduk, seorang asisten pribadi yang sejak tadi mengekor dibelakangnya lebih dulu membersihkan sofa tersebut sebelum diduduki oleh tuannya.
Padahal sofa itu setiap hari dibersihkan. Batin Zergan yang tak habis pikir dengan Kakeknya yang sangat menyukai kebersihan dengan sedikit berlebihan.
"Silahkan duduk, Tuan Fatih," ucap asisten pribadi itu sopan dan mengangguk.
"Kau juga duduk, Anwar," jawab lelaki tua yang bernama fatih itu dan langsung dituruti oleh Anwar sang asisten.
Ya, dia adalah al-Fatih Bailey. Kepala keluarga besar Bailey. Lelaki Tua yang hanya memiliki satu anak, dan memiliki satu cucu kandung dan satu cucu tiri.
"Kau tak senang aku datang?" tanya Fatih pada Zergan yang langsung dibalas gelengan kepala oleh lelaki itu.
"Aku hanya sedikit terkejut, Kakek," jawab Zergan mencoba santai.
Pandangan Fatih beralih pada Wira yang sejak tadi diam. Wira yang melihat itu memperlihatkan senyum polosnya dengan menampilkan deretan gigi rapinya. "Saya juga senang, Tuan besar," jawab Wira kikuk.
"Anwar," panggil Fatih pada Asisten pribadi yang duduk disebelahnya.
"Ya Tuan," jawab Anwar sopan.
Anwar yang mendengar itu langsung melototkan matanya menatap Wira. Ya, Wira adalah anak dari Anwar, Asisten pribadinya Tuan Fatih yang sudah empat puluh tahun bersama lelaki itu. Karena hubungan yang baik itulah, Zergan dan Wira sudah berteman sejak mereka duduk di bangku sekolah.
Wira yang mendapat tatapan dari Ayahnya tersenyum canggung. "Aku senang Kakek datang," jawab Wira sopan menatap Fatih.
Fatih yang mendengar itu mengangguk saja. Pandanganya beralih pada Zergan yang hanya diam. "Kau tahu kedatangan Kakek kesini karena apa?" tanya Fatih.
"Pasti ada hal penting," jawab Zergan pelan.
"Kakek rasa kau tidak pikun untuk lupa siapa kakekmu ini, Zergan!" ucap Fatih tegas yang membuat Zergan dan Wira menelan ludahnya dalam.
"A-apa maksud Kakek?" tanya Zergan pura-pura tak paham.
"Kau mau main rahasia sama kakekmu ini?" tanya Fatih menatap Zergan tajam.
Zergan menghela nafas pelan. Sepertinya rencana yang sudah dia susun dengan sangat matang akan sedikit berubah karena orang tua keras kepala yang ada didekatnya ini.
Fatih yang melihat Zergan diam beralih menatap Wira. Wira yang ditatap mencoba mengalihkan pandangannya. Mereka berdua bukannya takut dengan Fatih, hanya saja ketegasan Fatih membuat nyali mereka sedikit berkurang.
Baru Fatih akan membuka mulut untuk bertanya pada Wira, pintu ruangan Zergan kembali terbuka dari luar.
__ADS_1
Senyum mengembang di bibir Fatih ketika melihat cucu buyut kesayangannya yang datang. Zayn yang melihat keberadaan Kakek buyutnya itu langsung berlari ke pangkuan Fatih. "Buyut," panggil Zayn senang dengan riangnya.
Sedangkan Aludra yang melihat itu hanya tersenyum kaku. Pasalnya, Fatih adalah salah satu keluarga yang tidak dekat dengan Aludra. Entahlah, susah sekali bagi Aludra untuk akrab dengan Fatih yang sangat tegas.
Fatih tidak membenci Aludra, hanya saja dia menjaga jarak dengan istri cucunya itu.
Melihat Aludra yang hanya berdiri di pintu ruangan Zergan, Fatih menatap wanita itu. "Apa kau harus izin untuk masuk dulu, Aludra?" tanya Fatih tegas.
"Em, iya Kakek," ucap Aludra gugup dan berjalan memasuki rungan Zergan.
Aludra memilih duduk di sebelah Wira. Dia takut, jika dia duduk disebelah Zergan maka akan membuat suaminya tak nyaman nanti.
Zergan yang melihat itu mendengus kesal dalam hati. Andai baik-baik saja, aku sudah memangku Aludra saat ini juga. Salah paham sialan! Batin Zergan kesal.
Fatih sedikit melirik Zergan. Sudut bibir lelaki tua itu terangkat membentuk senyum yang sangat tipis. Sangat tipis sehingga tidak ada yang menyadari senyum manis lelaki tua itu.
"Zayn," panggil Fatih pada Zayn yang sudah anteng di pangkuannya.
"Iya buyut," jawab Zayn pelan. Anak itu seakan lupa dengan tujuan awalnya yang ingin minta maaf pada Zergan malah berganti pada Fatih.
"Zayn main di kamar pribadi dulu sama Mama, ya," ucap Fatih singkat yang langsung dianggukki oleh anak itu.
Zayn langsung menarik tangan Aludra. Anak itu baru ingat jika diruangan pribadi Papanya itu banyak sekali mainannya. Aludra yang tangannya langsung ditarik belum sempat berpamitan dan hanya sedikit menunduk.
Fatih memandang Anwar sebentar. Anwar yang paham akan tatapan Fatih langsung bangun dari duduknya dan berjalan menuju pintu ruangan pribadi Zergan.
"Pintunya benar-benar tertutup kan, Anwar?" tanya Fatih memastikan pada Anwar setelah lelaki itu kembali ke sofa.
Anwar mengangguk. "Tertutup rapat, Tuan," jawab Anwar sopan.
Fatih beralih menatap Zergan. "Jadi tidak ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Fatih beralih pada Zergan.
Zergan menghela nafas pelan. Lelaki itu menunduk sedikit. Setelahnya Zergan mengangkat kepala dan memandang lekat Fatih. "Anakmu, Kakek. Yang sialnya adalah Ayah kandungku."
......................
Semuanya akan terjawab di part flashback nanti yaa
Untuk visual Zergan dan Aludra, silahkan lihat di instagram aku yaaa @yus_kiz
Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga setiap ikhlas menjadi berkah, dan setiap sabar menjadi anugrah 🤗😉
__ADS_1