
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗
🌹HAPPY READING🌹
"Tapi aku sama sekali tidak berfungsi disana!" jawab Grace kesal.
"Ada," jawab Wira tegas yang membuat Grace menatap serius lelaki itu.
"Kau ada sebagai calon istriku," jawab Wira tersenyum menggoda Grace.
Grace langsung berpaling menghindari semberaut merah yang muncul tiba-tiba di pipinya karena perkataan Wira. Wira sangat pandai menerbangkan perasaanya. Lelaki itu sangat ahli dalam menyanjung wanita.
"Apa kamu malu?" tanya Wira lagi menggoda Grace dengan mencolek dagu wanita itu.
"Apa sih. Cepetan jalan," ucap Grace ketus untuk menyembunyikan kegugupannya.
"Ba-"
Tok, tok, tok.
Wira mengentikan perkataanya mendebar kaca mobilnya diketuk oleh seseorang. Grace juga ikut menoleh. Matanya membulat melihat Tuan Anwar, Ayah Wira yang mengetuk pintu.
"Ganggu saja," gerutu Wira kesal karena kedatangan Anwar.
"Kenapa, Yah?" tanya Wira setelah membuka kaca mobilnya.
"Kita pulang bersama," ucap Anwar tanpa permisi. Dan tanpa persetujuan Wira, Anwar langsung membuka mobil penumpang bagian belakang dan duduk disana.
Grace yang melihat itu merasa tak enak. "Om di depan. Biar saya yang di belakang," ucap Grace bergerak membuka pintu mobil.
__ADS_1
"Tidak usah, Nak. Saya lebih nyaman dibelakang begini daripada di sebelah lelaki ini," ucap Anwar menatap jahil pada anaknya. Dibalik sikap kaku dan dingin Anwar sebagai asisten pribadi Tuan Fatih, dia adalah lelaki yang hangat dengan keluarganya.
"Siapa juga yang mau disebelahnya," gerutu Wira kesal karena kehadiran ayahnya.
Grace yang mendengar perdebatan ayah dan anak itu hanya bisa tersenyum kaku. Suasana hangat sangat terasa diantara Wira dan Anwar. Meskipun mereka hanya berdua, tapi suasana kekeluargaannya sangat terasa. Dalam hati kecil Grace senang berada diantara kedua orang ini.
"Cepat jalankan mobilmu," ucap Anwar heran melihat Wira yang masih saja berdiam. Jangankan menjalankan mobil, mesin mobilnya saja belum dia hidupkan.
"Kalau Ayah pulang ke rumah, yang ngurus keperluan Kakek Fatih siapa?" tanya Wira.
"Tuan Fatih butuh waktu dengan keluarganya. Mereka akan pulang ke rumah Ana," jawab Anwar yang dianggukki oleh Wira.
Wira mengerti. Dia mulai menghidupkan mobilnya dan menjalankan mobil dengan perlahan.
Wira menegakkan tubuhnya dan menatap Grace yang sejak tadi menunduk dengan jari tangan saling memilin.
"Siapa namamu, Nak?" tanya Anwar.
Wira yang mendengar pertanyaan Anwar hanya bisa menggerutu dalam hati. Padahal Anwar sudah sangat tahu dengan perempuan incarannya ini.
Grace mengangkat kepalanya dan menoleh kebelakang. "Saya Grace, Om," jawab Grace lembut dengan senyumnya.
Grace yang menyadari itu mencoba menurunkan lengan kaos oversizenya yang hanya menutupi sampai siku.
"Jangan buat jodohku risih, Ayah," ucap Wira yang menyadari kegelisahan Grace.
"Cih, percaya diri sekali kau bicara seperti itu. Kau bicara seolah Grace mau denganmu," jawab Anwar meledek Wira. Lelaki itu tahu bagaimana Grace sangat menolak Wira karena perbedaan Agama mereka.
"Nak Grace," panggil Anwar lembut beralih pada Grace.
"Iya Paman," jawab Grace gugup. Dia masih memutar tubuh menyamping agar lebih sopan saat bicara dengan Anwar.
"Kenapa kamu berkali-kali menolak anakku? Apa karena dia kurang tampan?" tanya Anwar.
Grace dengan cepat menggeleng. "Bukan karena itu, Paman," jawab Grace yakin.
"Apa anakku kurang kaya?" tanya Anwar lagi.
__ADS_1
"Tentu bukan juga, Paman," jawab Grace kembali menggeleng.
"Lalu? Kenapa kamu bisa menolak anak ini, Nak? Apa karena dia begitu sangat mengganggu bagimu? Jika iya, maka itu sama denganku. Dia sangat mengganggu," ucap Anwar yang mendapat tatapan tajam dari Wira.
Anwar hanya acuh. Kali ini dia ingin melihat sendiri bagaimana kepribadian wanita yang menjadi incaran anaknya itu.
"Tuan Wira adalah orang yang baik, Paman. Saya menolaknya bukan karena dia kurang tampan. Karena jika saya menerima dia karena ketampanan, lalu bagaimana jika sudah tua nanti? Ketampanan itu akan luntur. Dan mengenai kekayaan, itu semua hanya titipan, Paman. Hidup bukan hanya tentang kaya dan miskin, tapi tentang agama dan etika," ucap Grace menjelaskan jawaban yang dia berikan atas pertanyaan yang diajukan oleh Anwar.
"Kami ini berbeda, Paman. Tembok penghalang kami sangat besar. Iman kami berbeda. Lantunan merdu Al-Qur'an tidak akan mungkin sejalan dengan Alkitab saya, Paman. Tasbih di genggaman tuan Wira dan salib yang tergantung di leher saya tidak akan bisa saling menyatu. Hari Minggu tidak akan mungkin bisa mencapai hari Jumat, Paman," lanjut Grace menatap Anwar.
Anwar membalas tatapan Grace. Penampilan tidak benar-benar menggambarkan kepribadian seseorang. Batin Anwar kagum dengan Grace. Sekarang Anwar mengerti kenapa anaknya begitu tergila pada gadis di depannya ini.
"Tapi kamu bisa masuk ke dalam agama kami, bukan?" tanya Anwar lagi. Wira hanya diam. Dia ingin tahu bagaimana cara sang Ayah menguji wanita yang di sayangnya.
Grace tersenyum lembut. "Saya tidak mau membuat Tuan Wira menjadi orang jahat karena mengambil saya dari Tuhan saya hanya karena cinta, Paman. Dan saya juga tidak mau menjadi manusia egois dengan mengambil Tuan Wira dari Tuhannya. Pindah agama bukan satu hal yang mudah, Paman. Harus ada keteguhan hati dan keberanian besar," jawab Grace bijak.
Anwar tersenyum kecil mendengar jawaban Grace. Sangat kecil hingga siapapun tak bisa melihatnya. "Pertahankan prinsip mu, Nak. Tapi boleh aku katakan sesuatu?" ucap Anwar yang dianggukki oleh Grace.
"Aku yakin kau akan menjadi menantuku," ucap Anwar yang membuat Grace dan Wira saling pandang. Grace dengan wajah terkejutnya dan Wira dengan senyum senangnya.
"Takdir yang akan menentukan, Paman," jawab Grace lembut.
"Tapi kita bisa menuntun takdir sesuai dengan apa yang kita harapkan lewat doa dan usaha," jawab Wira buka suara.
Grace yang mendengar itu hanya diam. Melihat dirinya yang seperti gadis nakal, rasanya sangat tidak pantas menjadi pendamping Wira dan menantu dari Anwar.
"Antar Ayah pulang lebih dulu, Wira," ucap Anwar memerintah.
"Kenapa begitu?" tanya Wira bingung. Begitu juga dengan grace yang menatap bingung mendengar permintaan Anwar. Padahal rumah tato Grace lebih dekat dari rumah Anwar dan Wira.
"Kau masih tanya kenapa?" tanya Anwar menatap anaknya yang tidak mengerti dengan kode yang dia berikan.
Wira menatap Anwar dari kaca depan mobil. Senyum mengembang di bibirnya begitu mengerti maksud permintaan sang Ayah. "Siap ayahanda."
......................
Dukung novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
__ADS_1
Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yang lainnya. Tentunya ada info Alu dan Zergan jugaa. Terimakasih 🤗😉