
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗
🌹HAPPY READING🌹
Aludra memandang lekat Zergan. "Mas," panggil Aludra lembut.
Zergan memandang Aludra dan menaikan sebelas alisnya menunggu apa yang akan Aludra katakan.
"Sikap kamu yang berubah-rubah membuat aku bingung harus bersekspresi bagaimana. Bolehkah aku menganggap khawatir kamu ini sebagai bentuk cinta? Atau hanya formalitas suami kepada istrinya?" tanya Aludra memandang sendu mata elang itu.
Zergan terdiam. "Buatlah dirimu senang, Aludra. Jangan pikirkan hal yang menyakitkan saat ini," ucap Zergan tanpa mau menjawab.
Aludra menggeleng. "Tidak bisa, Mas," jawab Aludra.
"Kenapa?" tanya Zergan.
"Karena dalam setia detik selalu ada bayang ketakutan akan hubungan ini. Bisakah aku meminta sebuah akhir yang indah untuk kita, Mas?" tanya Aludra lagi.
Zergan hanya diam. Lelaki itu mengusap lembut rambut Aludra dengan telapak tangannya. "Biar takdir yang menjawab, Aludra. Ikuti saja alurnya meskipun penuh air mata," jawab Zergan.
Aludra hanya tersenyum mendengar perkataan Zergan. Kamu saja ragu dengan masa depan kita, Mas. Batin Aludra sendu.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Aludra lembut.
Zergan menggeleng. "Aku langsung melaksanakan tugas sebagai suami tadi saat istirahat," jawab Zergan yang membuat Aludra tersipu.
"Terimakasih, Mas," ucap Aludra tulus.
Alis Zergan berkerut mendengar perkataan Aludra. "Untuk apa?" tanya Zergan.
"Untuk semuanya," jawab Aludra.
Zergan hanya diam tanpa ekspresi. Entahlah, setiap perkataan Aludra saat ini menyiratkan makna untuk Zergan.
Saat perbincangan mereka, pintu ruangan Zergan terbuka dari luar.
__ADS_1
"Rea," ucap Zergan ketika melihat adiknya masuk kedalam ruangannya.
Rea tersenyum. Pandanganya beralih pada Aludra yang duduk sangat dekat dengan Zergan.
"Abang sudah makan siang?" tanya Rea manja dan berjalan mendekat kepada Zergan.
"Nanti kami akan makan siang bersama, Rea," ucap Aludra cepat yang membuat Zergan langsung menoleh dan menatapnya.
Zergan kaget? Tentu saja. Pasalnya, Aludra langsung duduk dipangkuan lelaki itu saat menjawab pertanyaan. Rea.
Aludra dengan berani mengalungkan tangannya di leher Zergan. Wanita itu nampak tidak malu dengan apa yang dia lakukan di depan Rea. Lelaki ini suamiku. Jadi aku berhak melakukan apapun. Batin Aludra meyakinkan dirinya. Tidak tahu saja, sebenarnya dalam hati wanita itu ketar-ketir dengan apa yang akan terjadi nanti jika Rea sudah pergi dari ruangan Zergan. Dia takut Zergan akan marah dengan apa yang dia lakukan.
Zergan yang melihat itu tersenyum senang dalam hati. Jarang-jarang sekali istrinya itu akan bersikap manja seperti ini didepan orang lain. Tapi untuk wibawanya, lelaki itu tetap saja memasang wajah datar.
Rea yang melihat itu menatap tak percaya. Karena kalah cepat dari Aludra, Rea hanya duduk di sofa seberang Zergan. "Tadi Rea mau menawarkan makan siang bareng, Kak," ucap Rea.
Aludra menggeleng. "Kita jadi makan di luar kan Mas?" tanya Aludra beralih pada Zergan.
Zergan hanya diam. Dia masih terus menatap Aludra tanpa kedip.
"Katanya tadi waktu kita berhubungan kamu minta makan siang diluar," ucap Aludra manja dengan menyandarkan tubuhnya di dada Zergan.
Tangan Rea mengepal erat melihat itu semua. Wanita ini benar-benar mengajak perang. Awas saja kakak ipar. Rumah tanggamu akan segera berakhir. Batin Rea kesal.
"Kalau begitu Rea keluar dulu, Bang, Kak. Rea akan ajak teman yang lain saja buat makan," ucap Rea pamit dan langsung keluar dari ruangan Zergan.
Rea mengepalkan tangannya kuat dan menatap tajam ke depan. "Kau sudah mulai berani sekarang, Aludra," desisnya tajam.
"Lihat saja nanti!" ucap wanita itu penuh kebencian dengan seringai jahat di bibirnya.
.....
Setelah Rea keluar dari ruangan Zergan. Aludra segera bangkit dari pangkuan Zergan. Namun kegiatannya terhenti ketika tangan Zergan menahan pinggangnya.
"Mas," ucapnya gugup sekaligus takut menatap Zergan yang memandangnya entah bagaimana.
Aludra menunduk takut. "Maaf, Mas. Bukannya lancang, tapi aku hanya ing-"
"Kamu harus bertanggungjawab, Aludra," ucap Zergan dan tanpa aba-aba langsung menyambar bibir mungil milik Aludra.
Sudah sejak tadi Zergan menahan hasratnya untuk tidak menyerang Aludra lagi. Tapi sikap perempuan itu saat kedatangan Rea membuat semua pertahanan Zergan hancur.
Untuk kesekian kalinya, Zergan dan Aludra kembali merenggut kenikmatan bersama-sama.
__ADS_1
.....
Aludra tersenyum senang menatap jendela mobil. Waktu sudah menunjukan pukul lima sore. Wanita itu harus pulang sendiri karena Zergan harus lembur untuk pekerjaan yang sangat menumpuk.
Hari ini adalah hari yang menyenangkan untuk Aludra. Karena setelah cukup lama tidak berhubungan, akhirnya dia dan Zergan kembali menerima hak dan memberi kewajiban sebagai sepasang suami istri.
Lima belas menit, Aludra sampai di pekarangan rumahnya. "Terimakasih, Pak," ucap Aludra pada sopir yang membukakan pintu mobil untuk dia turun.
"Sama-sama, Nyonya," jawab Sopir ramah.
Aludra berjalan memasuki rumah. Saat sampai di ruang keluarga, dia melihat Zayn yang bermain dengan seorang anak lelaki seumurannya ditemani oleh Bi Nurma.
"Zayn punya teman baru?" tanya Aludra berjalan mendekat. Karena jarang-jarang sekali anaknya itu mau berteman dengan orang baru jika bukan anak dari kolega bisnis Papanya.
Bi Nurma yang mendengar suara Aludra menoleh. "Maaf, Nyonya. Saya sudah bilang pada Tuan Muda untuk main diluar saja, tapi Tuan Muda menolak," ucap Bu Nurma tak enak. Karena Zergan pernah mengatakan jika Zayn tidak boleh membawa teman yang baru dikenalnya ke dalam rumah jika bukan atas izin dirinya.
Aludra tersenyum. "Tidak apa-apa, Bi. Biar Zayn main sama temannya," ucap Aludra.
"Ini Bima, Mama. Anaknya Paman Lio," ucap Zayn mengingatkan pada Aludra.
"Oh Bima. Aunty kira tadi teman baru Zayn," ucap Aludra baru sadar kalau itu adalah Bima. Anak dari teman bisnisnya Zergan yang bermana Rio. Karena tadi wanita itu hanya menatap punggung Bima. Tapi setelah melihat wajahnya, ternyata benar itu adalah Bima.
Pantes. Batin Aludra. Pantas saja Zayn mau berteman dan bermain dengan anak itu. Ternyata memang orang yang sudah di kenalnya.
"Kenapa Bima bisa sampai dirumah, Bi?" tanya Aludra pada Bi Nurma.
"Tadi diantar sama sopirnya, Nyonya. Katanya dia mau main sama Zayn," jawab Bu Nurma.
Aludra hanya mengangguk. Bima memang sudah terbiasa seperti ini. Beberapa kali anak itu akan main ke rumah mereka untuk bertemu Zayn dan akan pulang nanti dengan dijemput oleh Rio, Papanya. Kenapa tidak ada Mamanya? Karena Rio adalah singel parent. Istrinya meninggal saat melahirkan Bima.
Semoga nanti anakku selalu mendapat kasih sayang lengkap kedua orang tuanya. Batin Aludra berharap menatap Zayn yang bermain dengan Bima.
.....
Rea menatap seorang lelaki yang berada di depannya. Lelaki itu berbalik menatapnya dengan senyum manis menunjukan cinta untuk wanita itu.
"Aku mau kamu lakukan sesuatu," ucap Rea.
Lelaki itu tersenyum manis. Dia menarik tangan Rea dan mendudukkan wanita itu diatas pangkuannya. "Apa?" tanya lelaki itu lembut.
"Segera hancurkan rumah tangga Zergan dan Aludra."
......................
__ADS_1
Untuk visual Zergan dan Aludra, silahkan lihat di instagram aku yaaa @yus_kiz
Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗