
Selamat datang kembali teman-teman. kisah aludra dan zergan balik lagi nih, yeaaayyy!!!!
Selamat membaca dan semoga kalian selalu menikmati walau sudah lama kita tak bersatu hati. HAPPY READING!!!
"Gimana obrolan kita malam itu?" tanya Khadijah lembut.
"Obrolan yang mana?" tanya Wira bingung. Grace juga menantikan apa yang dimaksud oleh Khadijah, dan semoga hatinya tetap tegar mendengar apapun itu.
"Tentang perjodohan kita."
DEG
Jantung Grace rasanya ingin copot mendengar apa yang baru saja khadijah katakan. Jadi khadijah dan Wira sudah dijodohkan? Pasti mereka berdua dari kalangan yang sepadan, tidak seperti dirinya yang hanya kalangan bawah.
Sedangkan Wira? lelaki itu juga terkejut mendengar apa yang Khadijah sampaikan. dia tidak menyanhka jika khadijah akan membahas hal itu di depan grace. "Em itu, bisa kita bahas nanti saja, dija?" tanya Wira menatap khadijah.
"O gitu, baik Kak," jawab Khadijah patuh.
Wira menatap Grace, sangat Wira yakini bahwa wanita itu kini dalam keadaan yang tak baik.
"Kalau begitu aku permisi dulu, ya," ucap Grace dan tanpa banyak bicara lagi langsung berjalan keluar dari ruangan Wira.
__ADS_1
"Kakak ke toilet sebentar," ucap Wira yang juga keluar dari ruangannya meninggalkan Khadijah yang mengangguk polos.
"Grace tunggu!" ucap Wira memanggil Grace yang sudah dekat dengan lift.
Grace tetap berjalan tanpa mendengar panggilan Wira. Melihat itu, Wira melebarkan langkahnya hingga dia bisa menggapai pergelangan tangan Grace.
"Tunggu, Grace," ucap Wira menghentikan Grace.
Grace berhenti. Wanita itu menetralkan detak jantungnya dan berusaha terlihat tenang di depan Wira. "Ada apa?" tanya Grace pelan.
"Apa yang tadi kamu dengar, tidak benar," ucap Wira memberitahu.
"Dengar apa? aku tidak dengar apa-apa," jawan Grace mengelak.
"Aku hanya ada urusan, lagi pula tidak enak rasanya harus mengganggu kalian," jawab Grace tanpa menatap Wira. Wanita itu bahkan lebih tertarik untuk menatap lantai saat ini.
"Lagi pula, makanan ku juga gak ke makan, jadi sebenarnya aku udah gak ada urusan disana," lanjut Grace menjawab.
"Tatap aku, grace," ucap Wira yang tak dihiraukan oleh Grace.
Wira berdecak. Lelaki itu memegang dahulu grace dan mengangkatnya agar kepala wanita itu bisa mendongak untuk menatapnya. "Lalu kenapa pandangan mu kecewa?" tanya Wira menatap. dalam. mata grace.
__ADS_1
"Jangan mengelak karena mata tak akan pernah bohong," tambah Wira yang membuat Grace tersenyum menatapnya.
"Aku kecewa kenapa? Apa yang aku dengar bukan masalah besar. Lagi pula, aku sama sekali tidak ada hak untuk marah. siapa aku hingga bisa marah dan kecewa? Tenang saja, aku baik," jawab Grace memberikan senyumnya.
"Jangan sembunyikan kesedihanmu," ucap Wira tetap yakin dengan pendapat dan pandangannya.
"Jangan terlalu percaya diri, Wira, aku sama sekali tidak kecewa ataupun sedih karena mendengar ucapan kalian. Kita ini tidak ada hubungan apa-apa, untuk apa aku sedih? Dan jangan merasa tak enak begitu," jawab Grace yang sebenarnya malah meyakinkan dirinya untuk tetap santai dan tenang.
"Lagi-lagi, jangan bohongi dirimu," ucap Wira menatap Grace.
Grace menggeleng. "Aku tidak bohong."
"Sekarang kembalikan ke ruangan mu, jangan buat Khadijah menunggu, tidak baik," ucap Grace dan berbalik meninggalkan Wira yang masih menatapnya.
"Lagi-lagi kamu munafik terhadap hatimu, Grace," ucap Wira menghentikan langkah kaki Grace.
Grace membalikkan badannya dan tersenyum. "Karena aku sadar diri."
...----------------...
Peluk jauh dari Nona Marwa dan enjoy your reading 🤗🥰**
__ADS_1
Jangan lupa masukan cerita ini ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya ya teman-teman, dan follow juga akun penulis aku untuk dapatin notifikasi karya baru, terimakasih.