
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa ππ€
πΉHAPPY READINGπΉ
"Tapi bagaimana jika Aludra tidak mau?" tanya Zergan ragu akan jika Aludra ingin menuruti apa yang dia katakan mengingat kemarahan istrinya nanti.
"Menantu mama itu wanita dengan pikiran yang bukan anak kecil lagi. Berbeda dengan kamu."
"Huft, semoga saja Ma," ucap Zergan pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti.
Zergan tidak akan menyerah. Meskipun takdir memang milik Allah, tapi usaha manusia juga sangat berpengaruh dalam menentukan takdir. Oleh karena itu Zergan tidak akan pernah berhenti untuk berusaha.
.....
Setelah menenangkan hatinya di taman, Aludra memutuskan untuk pulang. Wanita itu sebagai untuk tidak pulang agar Zayn tidak melihat dia sedang menangis.
Sepuluh menit, mobil yang ditumpangi Aludra sampai di pekarangan rumahnya. Wanita itu turun dari mobil dan langsung melangkah memasuki rumah setelah mengucapkan terimakasih pada Pak Sopir.
"Zayn!" teriak Aludra mencari keberadaan anaknya.
Aludra celingukan ke arah dapur dan ruang keluarga. Dia tidak menemukan anaknya disana. Aludra menaiki tangga untuk mencari ke kamar anak itu.
Kosong. Zayn juga tidak ada disana. "Kemana anakku?" gumam Aludra bertanya pada dirinya sendiri.
Aludra Memutuskan untuk ke kamarnya meletakkan tas yang sejak tadi tergantung bahunya. Tidak langsung keluar, Aludra lebih dulu mengecek ponselnya melihat pesan yang tadi masuk namun belum sempat dia baca.
Suamiku π
Aku udah di pesawat ya, Sayang. Tunggu aku sampai rumah π
"Iya, aku menunggu kamu pulang. Hukuman menanti kamu, Mas," gumam Aludra dengan kekesalan tingkat dewa pada suaminya itu.
Namun setelahnya, Aludra terkekeh geli melihat emot yang dikirim lelaki itu. "Selalu hot," gumamnya tak habis pikir dengan Zergan yang selalu saja membuatnya tersenyum.
.....
Aludra turun dari lantai dua. Dia berjalan ke taman belakang untuk mencari Zayn.
"Zayn," panggil Aludra ketika melihat Zayn sedang disuapi makan oleh Bibi sambil memainkan legonya diatas karpet yang dibentang oleh Bibi.
"Mama."
"Nyonya."
__ADS_1
Sapa Zayn dan Bibi secara bersamaan.
"Biar aku yang suapin Zayn, Bi. Bibi pasti capek jaga Zayn seharian. Maaf ya, Bi," ucap Aludra tak enak.
"Tidak apa, Nyonya. Sudah tugas saya," jawab Bubu lembut.
"Bibi istirahat aja, ya. Makan siang dulu jangan lupa," ucap Aludra perhatian.
Bibi tersenyum. Beruntung rasanya memiliki majikan sebaik Aludra. Wanita itu begitu tulus dan penuh perhatian.
"Kalau begitu saya permisi ke dalam, Nyonya," ucap Bibi pamit dengan ramah.
"Iya, Bi," jawab Aludra.
"Mama udah pulang aja?" tanya Zayn.
Aludra mengangguk dengan senyum. "Zayn mau bantu Mama gak?" tanya Aludra mengajak anaknya bekerja sama.
"Apa Ma?" tanya Aludra.
"Besok kalau Papa pulang, kita kasih kejutan," ucap Aludra.
Zayn langsung menghentikan kegiatan bermainnya. Anak itu nampak bersemangat dan tertarik dengan apa yang Aludra sampaikan.
"Calanya?" tanya Zayn.
Aludra tersenyum. Wanita itu mendekatkan mulutnya ke telinga Zayn dan membisikkan sesuatu.
Wajah Zayn berbuah berbinar dan mengangguk mantap. "Sesekali Papa yang kita buat jantungan," jawab anak itu setuju dengan apa yang baru saja di sampaikan oleh Aludra.
"Bima gak jadi kemari, Nak?" tanya Aludra teringat saat Zayn mengatakan bahwa anak itu akan bermain dengan Bima.
Zayn menggeleng. "Katanya Bima ke lumah neneknya hali ini, Ma. Besok jadinya main sama Zayn," jawab anak itu. Tadi Rio menelpon ke rumah untuk mengatakan bahwa Bina tidak bisa ikut bermain bersama Zayn karena ada acara di rumah neneknya.
.....
Sesuai dengan apa yang dikatakan Zayn, hari ini Bima sampai dirumahnya sangat pagi. Bahkan pukul tujuh anak itu sudah nangkring di ruang tamu kediaman Zergan.
"Saya titip Bima disini ya, Aludra. Pengasuh Bima tidak bisa masuk hari ini," ucap Rio merasa tak Enak sebenarnya.
"Boleh, Tuan Rio. Saya senang jika Zayn ada temannya," ucap Aludra tulus.
Rio mengangguk dan tersenyum. Biasanya, jika pengasuh Rio tidak bisa hadir, maka lelaki itu akan libur untuk menemani anaknya dirumah. Tapi, berhubung ada meeting penting yang tak bisa dia tinggalkan, alhasil dia menitipkan Bima pada Aludra. Sekalian kedua anak kecil itu sudah berjanji untuk bermain bersama hari ini.
"Bima jangan nakal, ya. Jangan bikin rusuh dan jangan repotin Tante Aludra," ucap Rio menasehati Bima.
Bima mengangguk patuh. "Bima gak lepotin kan, Tante?" tanya Bima pada Aludra.
"Tentu tidak, Nak," jawab Aludra lembut.
"Tuh Papa," ucap anak itu membanggakan diri pada Rio.
__ADS_1
Rio terkekeh pelan. Melihat anaknya yang nampak bahagia membuat hatinya sedikit menghangat. Melihat senyum anaknya, rindu terhadap mendiang istrinya sedikit terobati.
"Kalau begitu Papa pergi kerja dulu, ya. Ini buat jajan," ucap Rio memberikan salah satu kartu tipis berwarna hitam dari dompetnya pada Bima.
Aludra yang melihat itu melongo tak percaya. Dia saja tidak pernah menggunakan black card. Meskipun Zergan sudah memberinya, tapi wanita itu lebih suka memegang uang cash.
Tapi Bima? Benar-benar anak sultan. Aludra tidak sadar saja, anaknya juga lebih parah boros kalau bersama Zergan.
"Saya permisi, Aludra," ucap Rio pamit yang dianggukki oleh Aludra dengan kaku.
Saat mobil Rio keluar dari pekarangan rumah Zergan, tidak sengaja dia berpapasan dengan mobil Zergan yang baru saja memasuki pagar rumahnya.
Rio membunyikan klakson untuk menyapa. Tidak ada waktu untuk turun dan menanyakan kabar.
Zergan yang melihat itu mendengus kesal. Lelaki itu memukul kursi penumpang di sebelahnya melampiaskan rasa kesal. "Dasar duda!" gerutu Zergan mengumpati Rio.
Aludra, Zayn dan Bima yang ada di dalam rumah saling tatap ketika mendengar suara mobil yang baru memasuki pekarangan rumah.
"Papa," ucap Zayn senang yang hafal dengan bunyi mobil Zergan.
"Kita mulai rencana," ucap Aludra tak sabar.
Zayn dan Bima mengangguk. Kedua anak itu mengikuti langkah kaki Aludra ke taman belakang rumah untuk mengambil sesuatu yang sudah mereka siapkan.
Bima memang sudah diberitahu oleh Zayn bahwa mereka akan memberi kejutan untuk Zergan. Mengetahui ide Zayn dan Aludra, Bima dengan semangat ikut membantu.
Sampai di taman belakang, Aludra memasukan apa yang dia perlukan ke sebuah kantong plastik.
"Sudah?" tanya Aludra pada Zayn dan Bima.
Kedua anak itu saling mengangguk.
Mereka kembali memasuki rumah. Dengan senyum mengambang Aludra meletakkan apa yang tadi dia ambil di ruang tamu hingga ruang tamu itu dipenuhi oleh makhluk hidup lain.
"Ayo sini," ucap Aludra mengajak Zayn dan Bima untuk bersembunyi dari balik gorden ruang tamu.
.....
Zergan melangkahkan kakinya turun dari mobil. Lelaki itu langsung masuk rumah dengan terus menggerutu mengenai Rio.
"Duda meresahkan. Berani-beraninya ke rumah orang pagi-pagi. Cari istri kek buat jaga anaknya. Malah titip disini. Dia pikir disini play group. Duda sialan!" umpat Zergan dengan segala kekesalannya pada Rio.
Zergan tidak marah, lebih tepatnya cemburu dan kesal. Zergan tahu Rio adalah orang baik, tapi tetap saja dia tidak rela ada lelaki lain baik kepada istrinya.
Zergan menormalkan nafasnya yang memburu sebelum membuka pintu.
"Assalamu'a- AAAAAAAA MAMAAAAAAA!!!"
................
Kira-kira apa ya???
__ADS_1
Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa π€
Masih dalam suasana lebaran, aku ucapin selamat hari raya idul Fitri teman-teman. Semoga kita semua mendapatkan berkah dan kembali fitrah ππ. Minal aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir batin π€π