Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - BAB 81


__ADS_3

Jangan lupa like


Jangan lupa komen


Jangan lupa favorit


Jangan lupa kasih vote


Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗


🌹HAPPY READING🌹


Zergan dan Aludra saling tersenyum. Tangan Aludra bergerak merapikan rambut Zergan yang sedikit berantakan. Sungguh, Aludra sangat beruntung memiliki Zergan sebagai suaminya. Kamu bentuk pemberian Tuhan paling sempurna untuk aku, Mas. Batin Aludra tulus.


Setelah rapi, Aludra menurunkan tangannya. "Ayo kita ke rumah Kakek," ucap Aludra tersenyum menatap Zergan.


"Yakin kamu kuat, Sayang? Kita ke rumah sakit dulu, ya ," ucap Zergan meminta lembut pada istrinya.


"Aku udah gak kenapa-napa, Mas. Tadi itu cuma pusing sedikit aja. Sekarang udah kuat lagi," jawab Aludra semangat.


Zergan tersenyum. Istrinya memang selalu bisa menerbitkan senyum di wajah Zergan. Tapi Zergan selalu memberikannya kesedihan dengan berita miring dan kejahatan yang dilakukan oleh keluarganya.


"Ayo Mas," ajak Aludra lagi yang melihat Zergan masih duduk di sofa.


"Sayang," panggil Zergan lembut dan kembali menarik Aludra hingga duduk di sofa.


"Kenapa Mas?" tanya Zergan bingung.


"Maaf ya," ucap Zergan tulus memandang Aludra.


Kerutan di dahi Aludra semakin bertambah mendengar kata maaf dari mulut Zergan. "Maaf? Maaf untuk apa Mas?" tanya Aludra tak paham.


"Maaf, Sayang. Karena menikah dengan aku, kamu harus merasakan masalah sebesar ini. Karena menikah dengan aku, kamu harus mendapat perlakuan tidak baik dari keluargaku. Karena menikah denganku, kamu menjadi ikut berpikir dalam menyelesaikan masalah ini," ucap Zergan menyesal.

__ADS_1


"Apa kamu menyesal menikah dengan aku, Mas?" tanya Aludra menatap Zergan.


Zergan menggeleng. "Aku bahkan sangat bersyukur karena ada kamu, Sayang,", jawab Zergan.


"Lalu kenapa kamu bicara seperti itu? Apa ada aku mengatakan bahwa aku tidak suka dengan semua yang terjadi? Apa aku ada mengatakan jika aku menyesal dengan semua ini?" tanya Aludra lagi.


"Tidak sayang," jawab Zergan menunduk.


"Lalu kenapa kamu bilang seperti itu?" tanya Aludra mengintimidasi suaminya itu.


Zergan terus menggeleng dengan kepala menunduk. Aludra yang melihat itu menghela nafas pelan. Membawa Zergan ke dalam pelukannya dan menyandarkan kepala Zergan pada dadanya. Aludra dapat merasakan tubuh sang suami yang bergetar. Itu artinya Zergan menangis.


"Aku tahu kesakitan kamu, Mas. Aku tahu bagaimana hancurnya kamu. Sakit yang aku rasain, tidak seberapa dengan hancur dan luka yang kamu rasakan. Aku tidak pernah menyesal sedikitpun. Jika aku menyesal, sudah sejak dulu aku pergi Mas. Tapi apa? Aku masih disini dan selalu nemenin kamu, kan? Aku peluk kamu seperti sekarang agar kamu bisa lebih tenang. Tidak ada hidup yang lurus-lurus saja, Mas. Dan kita akan lewati setiap jalan berbelok dan bebatuan ini berdua," ucap Aludra lembut menenangkan Zergan.


Zergan hanya diam. Namun kepalanya mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Aludra. "Kita akan tetap sama-sama kan Sayang? Tetaplah disamping ku, ya? Karena jika kamu pergi, aku gak tahu bakal jadi apa aku nantinya," ucap Zergan mengangkat kepalanya dan memandang lembut pada Aludra.


Aludra tersenyum dan mengangguk. "Aludra akan selalu bersama Zergan. Aludra adalah bagian dari Zergan, dan Zergan adalah bagian dari Aludra. Tidak akan ada yang saling pergi. Karena jika pergi, maka kita tidak akan lengkap. Cinta itu menyatukan, bukan menyakiti lalu meninggalkan," ucap Aludra yakin.


Zergan tersenyum dan mengangguk. Tangannya bergerak menghapus air mata yang membasahi pipinya. "Ayo ke rumah Kakek," ucap Zergan.


.....


Mobil Zergan berhenti di depan sebuah rumah besar nan mewah. Aludra juga ikut memandangi rumah besar di depannya. Mereka masih di dalam mobil. Belum ada niatan untuk turun sedikitpun. "Rumah sebesar ini, Kakek hanya tinggal bersama Anwar," ucap Aludra miris.


"Berat sekali kesepian yang harus Kakek alami selama ini, Mas," ucap Aludra yang dianggukki oleh Zergan.


"Aku sudah berulang kali mengajak kakek tinggal bersama kita. Tapi Kakek selalu menolak, Sayang. Tidak mudah untuk Kakek meninggalkan semua kenangan yang ada di rumah ini," ucap Zergan sendu.


"Nanti kita coba bicara lagi dengan Kakek ya, Mas," ucap Aludra lembut.


Zergan mengangguk. Mereka turun dari mobil dan berjalan memasuki pintu rumah yang sudah dibukakan lebih dulu oleh penjaga di depan pintu masuk. "Tuan besar ada di ruang baca, Tuan muda," ucap penjaga itu menunduk sopan.


Zergan mengangguk. Dengan bergandengan tangan mereka berjalan menuju ruang baca yang ada di sebelah ruang kerja Fatih yang ada dirumah itu.

__ADS_1


Dengan perlahan Zergan membuka pintu ruang baca. Dari ambang pintu, mereka dapat melihat Fatih yang duduk di sofa bersama Anwar yang juga duduk di sofa seberangnya. Zergan dan Aludra berjalan masuk. Dari jarak dekat Dalat Zergan lihat bahwa Kakeknya sedang memandangi dan melihat-lihat album lama.


"Kakek," panggil Zergan lembut.


"Aku tahu kalian akan datang. Duduklah," ucap Fatih pelan namun terdengar sangat lembut.


Zergan dan Aludra memilih untuk duduk di sebelah Anwar. Mereka ingin melihat dengan jelas wajah Fatih. Hati Zergan rasanya teriris melihat kantung mata Fatih yang cukup besar dan lingkaran hitam di sekitar matanya. Masalah ini membuat lelaki yang bisanya rapi dan tampan itu menjadi berantakan. Tapi Fatih menahannya dan bersikap tetap tenang dan tegas.


"Apa yang membuat kalian datang?" tanya Fatih.


"Apa Kakek baik-baik saja?" tanya Zergan tanpa menjawab pertanyaan Fatih.


Fatih mengangguk. "Seperti yang kau lihat. Kakek baik-baik saja. Ada Anwar yang selalu mengingatkan dan mengurus Kakek," jawab Fatih.


"Jadi ada apa, Zergan?" tanya Fatih lagi.


Zergan menghela nafas pelan. "Zergan kesini mau menyampaikan bahwa nanti malam, kita akan mengadakan konferensi pers, Kek," ucap Zergan memberitahu maksud dan tujuan kedatangannya.


Fatih terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jam berapa?" tanya Fatih.


"Nanti malam setelah isya," jawab Zergan.


"Malam hari?" tanya Fatih bingung. Karena biasanya konferensi pers akan lebih baik diadakan siang atau lagi hari.


Zergan mengangguk. Akhirnya dia menceritakan rencana yang juga dilakukan oleh Adam Bailey. Fatih yang mendengar itu mengepalkan tangannya kuat. Anaknya itu benar-benar tidak ada habisnya dan selalu mencari kambing hitam atas apa yang terjadi.


"Lakukanlah, Zergan," ucap Fatih yakin.


"Tapi aku mau Kakek juga ikut," ucap Zergan meminta Fatih.


Fatih terdiam sebentar. Tidak lama kemudian dia mengangguk. "Aku akan ikut."


..........

__ADS_1


Dukung novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗


Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yang lainnya. Tentunya ada info Alu dan Zergan jugaa. Terimakasih 🤗😉


__ADS_2