Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - Bab 42


__ADS_3

Jangan lupa like


Jangan lupa komen


Jangan lupa favorit


Jangan lupa kasih vote


Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗


🌹HAPPY READING🌹


Zergan menatap sendu pada Mama Ana. "Menangislah, Ma. Zergan tahu apa yang ada dibalik senyuman Mama," ucap Zergan lembut.


Mama Ana mengalihkan pandangannya mengindari tatapan mata Zergan. "Kamu bicara apa, Nak," ucap Mama Ana sambil terkekeh pelan.


"Ayo pergi dan ikut Zergan, Ma," ucap Zergan menatap sayu Mama Ana.


"Mama akan ikut kemana, Nak? Mama nyaman disini," ucap Mama Ana tersenyum lembut.


Zergan menggeleng. "Jangan bohong, Ma. Zergan tahu bagaimana keadaannya disini," ucap Zergan yang memegang tangan Ana.


"Mama disini saja, Nak. Kalau Mama pergi, gimana sama tanaman-tanaman Mama, gimana sama binatang-binatang peliharaan Mama," ucap Mama Ana.


"Lalu bagaimana dengan hati Mama?" tanya Zergan telak menatap Mama Anak dengan mata berkaca-kaca. Sungguh, Zergan tidak bisa melihat Mamanya yang terlanjur kuat begini. Apakah semua wanita yang dia sayangi memang begini? Pertama Aludra, istrinya yang begitu sabar dan tegar, sekarang Mamanya yang sangat ikhlas menghadapi semuanya.


Mama Ana tersenyum. Wanita itu kembali duduk di ranjang dekat Zergan. Tangan Mama Ana bergerak mengusap pelan rambut Zergan masih dengan senyum yang terpatri di wajahnya. "Mama baik-baik saja, Nak. Bukankah Mama sudah bisa mengatakannya berkali-kali sejak tadi?" ucap Mama Ana lembut.


"Mama memang mengatakannya berkali-kali. Tapi bukan untuk memberitahu Zergan bahwa mama memang baik-baik saja, tadi untuk meyakinkan hati mama sendiri kalau mama akan baik-baik saja," jawab Zergan.


"Ma, ayo pergi bersama Zergan. Biarkan Papa bahagia denga-"


Perkataan Zergan langsung terhenti kala melihat Mama Ana menggeleng. "Kalau Mama pergi Papa kamu sama siapa, Nak?" tanya Mama Ana sendu.


"Setelah semuanya, Mama masih memikirkan Papa?" tanya Zergan tak percaya.

__ADS_1


"Bagaimanapun juga, dia suami Mama, Nak," jawab Mama Ana.


Zergan menggeleng. Lelaki itu berdiri dari ranjang dan berjalan ke arah pintu untuk mengunci pintu kamarnya. Zergan tak mau nanti ada telinga-telinga lain yang akan mendengar percakapan mereka.


Setalah memastikan aman, Zergan kembali menyusul Mama Ana yang duduk di ranjang.


"Tidak ada suami yang menjadikan istrinya seorang budak, Ma," ucap Zergan sendu.


"Mama tidak budak, karena memang kewajiban Mama mengurus Papa kamu," jawab Mama Ana lembut.


Zergan menghela nafas pelan dan mengusap wajahnya frustasi. Benar-benar sangat sulit untuk membujuk Mamanya.


"Apa dipasung juga termasuk kewajiban kita sebagai istri?" tanya Zergan menatap Mama Ana lekat.


Mama Ana mengalihkan pandangannya menghindari tatapan mata Zergan. Tanpa sadar, air mata wanita itu mengalir membasahi kedua pipinya.


Zergan yang melihat itu mengambil sebelah tangan Mama Ana. Zergan mengangkat lengan baju Mama anak yang menutupi sampai punggung tangannya. Hati Zergan rasanya sakit melihat bekas kemerahan yang ada di pergelangan tangan Mama Ana.


Setelah itu, Zergan turun dan bersimpuh di depan Mama Ana. "Jangan, Nak," ucap Mama Ana bergetar menjauhkan kakinya dari tangan Zergan.


Zergan menggeleng dan tetap menahan kaki Mama Ana. Dengan sedikit paksaan Zergan menyikap kain celana Mama Ana yang menutupi sampai mata kakinya. Hati Zergan semakin teriris lagi melihat pergelangan kaki Mama Ana yang juga terdapat bekas kemerahan dan beberapa memar. Serta ada bekas rantai yang sudah berdarah.


"Ini hanya luka karena mama tersandung saat berjalan tadi, Nak," ucap Mama Ana masih tidak mengakui semuanya.


Zergan menatap sendu mamanya itu. Sungguh, begitu setia Mamanya sampai tidak mau mengakui semua kelakukan bejad Adam.


"Begitu cinta Mama pada Adam Bailey hingga sekeras ini hati Mama untuk tidak mengakui semuanya?" tanya Zergan sendu.


"Karena begitu tugas sang istri, Nak," jawab Mama Ana menunduk dengan suara bergetar.


"Bukan, Ma. Tugas istri bukan menutupi kesalahan suaminya. Tapi tugas istri ikut membimbing kelakuan suaminya agar lebih baik. Bukan diam dan membiarkan begitu saja. Bukan hanya hati sang suami yang harus dijaga, hati Mama juga butuh kesehatan," ucap Zergan lembut.


"Tapi Mama ikhlas, Nak," ucap Mam Ana.


"TIDAK!" reflek Zergan langsung berdiri dan menatap penuh marah mendengar jawaban Mama Anna yang pasrah akan semuanya.

__ADS_1


"Zergan."


"Tapi Zergan yang tidak bisa melihat Mama begini. Zergan anak Mama. Zergan tahu semuanya, tapi Zergan hanya diam dan membiarkan? Mama yang mengajarkan Zergan untuk selalu berdiri pada hadapan terdepan demi sebuah kebenaran. Lalu kenapa sekarang Mama yang mengajak Zergan untuk berbaris di belakang, Ma?" tanya Zergan tak habis pikir dengan Mamanya itu.


Tangis Mama Ana sudah tak tertahan lagi mendengar apa yang Zergan katakan. Wanita paruh baya itu menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. "Mama harus bagaimana, Nak? Mama hanya bisa diam melihat semuanya," ucap Mama Ana menangis.


"Pergi dan ikut Zergan, Ma!" ucap Zergan tegas.


"Dan membiarkan Papa kamu semakin menghancurkan keluarga kamu, Nak?" tanya Mama Ana menatap Zergan dengan mata basahnya.


"Dia tidak akan pernah bisa melakukan itu, Ma," jawab Zergan lagi.


Zergan kembali bersimpuh di hadapan Mama Ana. Matanya menatap sendu Mama Ana. "Mau ya, Ma," ucap Zergan memohon.


Tanpa aba-aba, Mama Ana memeluk tubuh Zergan yang kini lebih rendah dari tubuhnya. "Hiks, Mama sakit disini, Nak. Tapi kembali ke rumah di tanah air membuat mama lebih sakit," ucap Mama Ana mulai mencurahkan isi hatinya.


"Setiap sudut mama melihat perselingkuhan Papa kamu dengan Adik tiri kamu sendiri. Setiap waktu hati Mama terluka jika kembali ke rumah itu. Mama belum siap," ucap Mama Ana lagi.


"Bahkan ranjang yang Mama gunakan untuk tidurpun mereka pakai untuk bertukar keringat, Nak. Mama gak sanggup, hiks," ucap Mama Ana menangis hebat.


Zergan tak kuasa menahan tangisnya mendengar semua ini. Lelaki itu membalas pelukan Mama Ana dengan sangat erat.


"Tapi disini Mama juga terluka. Mama dipasung dan baru dilepaskan jika Zergan datang, bukan? Zergan tahu semuanya, Ma. Tidak ada anak yang tega melihat Ibunya seperti itu," ucap Zergan.


"Zayn pernah bilang, anak akan bahagia bersama Ayahnya, tapi anak tidak bisa hidup dan tidak akan baik-baik saja tanpa ibunya, Ma," tambah Zergan.


"Pasung ini tidak seberapa dengan semuanya, Zergan. Batin Mama lebih terluka," jawab Mama Ana.


"Tapi setidaknya fisik Mama tidak lagi mengalami sakit," ucap Zergan cepat.


"Ayo ikut Zergan ya, Ma."


......................


Nanti siang kita update lagi, jadi jangan sampai ketinggalan notifnya ya 🤗😉

__ADS_1


Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Nanti berbukalah dengan yang manis-manis ya 🤗😉 Semoga setiap ikhlas menjadi berkah, dan setiap sabar menjadi anugrah.


__ADS_2