
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗
🌹HAPPY READING🌹
"Zergan benar-benar memberi balasan atas apa yang dilakukan oleh Ayahnya sendiri," lanjut Mama Anak.
"Mas Zergan?" tanya Aludra.
Mama Ana mengangguk. "Karena hanya Zergan yang bisa melakukan semua ini, Nak," ucap Mama Ana menatap Aludra.
Aludra terdiam mendengar perkataan Mama Ana. Mas Zergan bisa setega ini? Setidaknya bisa di sensor bagian wajah, bukan? Batin Aludra tak percaya dengan keberanian atas apa yang sudah dilakukan oleh suaminya.
"Ma," ucap Aludra memanggil Mana Ana sambil menyandang tas di bahunya.
"Kamu mau kemana, Nak?" tanya Mama Ana lembut.
"Aludra ada perlu sebentar, Ma. Aludra titip Zayn sebentar ya, Ma. Aludra pergi dengan sopir," ucap Aludra mencium pipi kiri dan kanan Mama ana. Setelahnya wanita itu segera berjalan keluar rumah.
Mama Ana menatap bingung punggung Aludra yang sudah hilang dari balik pintu. Mata Mama Ana melebar seketika setelah sadar dengan apa yang terjadi. "Jangan sampai Aludra marah pada Zergan karena semua ini. Semoga Aludra bisa mengendalikan emosinya," harap Mama Ana. Mengingat Aludra yang tiba-tiba pergi setelah mereka membicarakan tentang kasus Adam dan Rea, pasti Aludra sekarang ini menyusul Zergan ke kantor untuk menanyakan semua ini.
.....
Benar saja tebakan mama Ana. Kini Aludra sudah melangkahkan kakinya memasuki AluZer Corp. Dengan senyum ramah wanita itu membalas setiap sapaan hormat yang diberikan oleh karyawan Zergan. Aludra merupakan istri bos yang ramah. Tidak seperti istri bos kebanyakan yang bersikap angkuh dan semena-mena.
Aludra menaiki lift dan menekan tombol dengan angkat paling tinggi di gedung tersebut sebagai tempat ruangan Zergan.
Ting.
Lift berbunyi. Aludra keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan Zergan. Aludra mengernyit heran melihat seorang lelaki muda yang sangat rapi dan tampan duduk di depan ruang suaminya dengan meja dan kursi khusus yang sudah disiapkannya.
Aludra mendekat dan bertanya pada lelaki tersebut. "Selamat siang," ucap Aludra ramah.
Laki-laki yang tadinya menulis itu mengangkat kepala dan tersenyum. Dia langsung berdiri dan membungkuk hormat. "Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya lelaki itu sedikit terpana melihat Aludra yang sangat cantik dan natural.
"Saya ingin bertemu dengan Pak Zergan. Tapi sebelumnya saya mau bertanya, apa kamu sekretaris barunya?" tanya Aludra lembut.
Lelaki itu mengangguk. "Saya Niko, sekretaris baru tuan Zergan," jawabnya ramah.
__ADS_1
"Ah baiklah. Syukurlah, sekretarisnya bukan perempuan," Batin Aludra senang dalam hatinya. Karena jika perempuan, berarti dia harus lebih waspada lagi. Sama seperti saat ada Rea dulu. Tapi sekarang Aludra bisa bernafas lega karena Zergan mencari sekretaris laki-laki.
"Apa Tuan Zergan ada di dalam?" tanya Aludra.
Niko mengangguk. "Apa Nyonya ini adalah Nyonya Aludra?" tanya Niko.
Aludra mengangguk.
Nika tiba-tiba saja gugup dan sedikit takut. "Maaf, Nyonya. Saya sungguh tidak tahu jika Nyonya adalah istrinya Tuan. Kalau begitu langsung masuk saja, Nyonya," ucap Niko tak enak karena sudah berani menahan istri bosnya.
Sebelum mulai bekerja, Zergan memang mengatakan pada Niko jika ada seorang perempuan yang bernama Aludra, maka dia dibebaskan untuk masuk ke ruangan Zergan karena Aludra adalah istrinya.
Aludra tersenyum melihat tingkah Niko. "Tidak apa-apa. Namanya juga tidak tahu, jadi wajah saja. Kalau begitu saja masuk dulu, ya," ucap Aludra santun.
Niko mengangguk. "Sekali lagi maaf, Nyonya" ucap Niko.
Aludra tersenyum dan mengangguk. Kakinya melangkah mendekati pintu ruangan Zergan dan memasuki ruangan suaminya itu.
Niko memandang takjub pada Aludra. "Istri tuan Zergan benar-benar cantik, lebih dari itu juga baik hati," ucap Niki kagum. Andai saja Zergan tahu jika Niko memuji istrinya, maka sudah dipastikan lelaki itu akan kehilangan pekerjaannya saat ini juga.
.....
"Mas."
"Kamu kesini?" tanya Zergan senang.
Aludra mengangguk. Dia berjalan menuju sofa dengan Zergan yang sudah merangkul pinggangnya. Padahal di ruangan ini hanya mereka berdua, tapi Zergan masih saja bersikap posesif.
"Sekretaris kamu baik, Mas. Untung saja dia laki-laki, jadi aku tidak perlu khawatir," ucap Aludra setelah mereka duduk berdua. Dengan Aludra yang kini duduk di pangkuan Zergan dengan menghadap lelaki itu.
"Jangan memujinya, Sayang. Aku cemburu," ucap Zergan to the poin dengan gaya ketusnya.
Aludra tersenyum. "Tapi yang terbaik tetap suamiku," ucap Aludra mengecup lembut sudut bibir Zergan.
Senyum tertahan nampak di wajah Zergan. Dia dengan sekuat tenaga mempertahankan mode ketusnya.
"Jangan ngambek, Mas. Nanti aku ngambek balik kamu gila lho," ucap Aludra yang langsung menimbulkan senyum di bibir Zergan.
"Maaf, Sayang," ucap Zergan lembut yang dianggukki oleh Aludra.
"Jadi apa yang membuat istriku ini datang kesini?" tanya Zergan sambil menyelipkan rambut Aludra ke belakang telinganya.
Aludra yang mengingat tujuannya langsung turun dari pangkuan Zergan dan duduk di sebelahnya.
"Kenapa Sayang?" tanya Zergan heran.
__ADS_1
"Apa benar kamu yang nyebarin video Ayah sama Rea, Mas?" tanya Aludra menatap Zergan lekat.
GLEK.
Zergan menelan ludahnya susah payah mendengar pertanyaan Aludra. Tidak ada jalan lain lagi selain jujur. Melihat wajah istrinya yang serius, membuat Zergan sedikit merinding. Karena hubungan mereka baru saja kembali normal, tapi kini sepertinya akan ada sedikit perdebatan lagi.
Zergan mengangguk ragu. "Dan Wira, Sayang. Gak sendiri," jawab Zergan jujur. Karena memang benar bukan? Dia hanya menyuruh, dan Wira yang melakukan. Itu artinya dia dan Wira yang terlibat.
Aludra menghela nafas pelan. "Tidak apa-apa jika kamu memang menghancurkan perusahaan Ayah, Mas. Tapi video itu? Aku bukannya membela Ayah ataupun Rea. Pikirkan perasaan Kakek Fatih," ucap Aludra yang membuat Zergan terdiam.
"Kakek sudah mengizinkan, Sayang," ucap Zergan membela diri.
"Memang Kakek mengizinkan. Tapi tidak ada yang tahu hati kecilnya, bukan? Karena mulut berbicara sering kali lebih memilih logika daripada hati, Mas. Apalagi itu keluar dari mulut seorang lelaki," jawab Aludra memberi pengertian pada Zergan.
"Jika tidak begitu, maka Adam Bailey tidak akan pernah jera, Sayang," ucap Zergan lagi.
"Tapi setidaknya buramkan wajah mereka, Mas. Ini bukan skandal kecil. Ini menyangkut nama besar semua keluarga. Keluarga Bailey, Mas," ucap Aludra.
"Sudah terlanjur, Sayang," ucap Zergan lagi.
Lagi dan lagi Aludra hanya bisa menghela nafas pelan. "Sekarang ikut aku," ucap Aludra memegang tangan Zergan.
"Kemana?" tanya Zergan yang enggan untuk berdiri.
"Kita temui Kakek Fatih. Sama seperti Mama, Kakek juga butuh keluarga disisinya. Paman Anwar saja tidak akan cukup, Mas," ucap Aludra.
"Eits, tunggu dulu," ucap Zergan menarik tangan Aludra dan sehingga membuat wanita itu kembali terduduk di pangkuannya.
"Kamu udah lihat video Ayah?" tanya Zergan memastikan.
Aludra mengangguk.
"Kalau begitu, sekarang ayo kita buat dulu video kita berdua," ucap Zergan langsung mengangkat tubuh Aludra dalam gendongannya dan membawa ke kamar pribadi lelaki itu.
Aludra menjauhkan wajah ketika Zergan akan menciumnya. "Kenapa Sayang?" tanya Zergan bingung melihat Aludra yang menahan sesuatu di mulutnya.
Aludra memberontak dalam gendongan Zergan hingga terpaksa Zergan melepaskan tubuhnya. "Hoek, Hoek, Hoek."
"Sayang kenapa?"
......................
Dukung novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yang lainnya. Tentunya ada info Alu dan Zergan jugaa. Terimakasih 🤗😉
__ADS_1