Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - BAB 74


__ADS_3

Jangan lupa like


Jangan lupa komen


Jangan lupa favorit


Jangan lupa kasih vote


Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗


🌹HAPPY READING🌹


"Kenapa Gan?"


Zergan menoleh sebentar pada Fatih. "Lakukan apa yang benar menurut kamu, Nak," ucap Fatih seolah mengerti arti tatapan Zergan.


Zergan mengangguk. Kemudian dia kembali menoleh menatap Wira. "Sebarkan video Adam dan Rea," ucap Zergan yakin dengan apa yang dia katakan.


"Kamu yakin, Nak?" tanya Fatih angkat suara mendengar keputusan Zergan.


Zergan mengangguk. "Hukuman harus membuat orang jera, Kakek. Dan Ayahku pantas mendapatkan itu. Bahkan aku sedikit ragu jika dia langsung jera dengan semua ini," ucap Zergan dengan pandangan lurus ke depan.


Fatih menghela nafas pelan. Rasanya keluarga yang dia bina sejak dulu kini sudah hancur tidak berbentuk. Tidak ada lagi kenyamanan, tidak ada lagi kasih sayang di dalamnya. Yang ada hanya sebuah dendam dan aksi saling membalas satu sama lain. Sebagai kepala keluarga, hati Fatih sangat hancur saat ini.


"Ayo kita pergi, Anwar," ucap Fatih mengajak orang kepercayaannya itu pergi.


"Kakek," panggil Zergan pada Fatih yang sudah berjalan keluar rumah. Pria tua itu tidak menghiraukan panggilan Zergan sama sekali. Dia terus berjalan dengan tangan yang setia mengusap air mata yang membasahi pipinya.


"Tuan besar mungkin butuh waktu sendiri, Tuan. Jangan khawatir, Tuan besar bisa mengendalikan dirinya sendiri," ucap Anwar menenangkan Zergan.


"Aku titip Kakek, Paman," ucap Zergan sopan dengan penuh harap pada Anwar.


Anwar mengangguk. Setelahnya lelaki itu ikut menyusul kepergian Fatih.


Zergan menghela nafas pelan. "Kita semua terluka karena ini," ucap Zergan mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.


Wira mengangguk. "Apa Lo akan menginap disini?" tanya Wira melihat jam ditangannya yang menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


Zergan terdiam. Di rumahnya Aludra pasti menunggu kepulangannya saat ini. Tapi dia tidak tega meninggalkan mamanya sendiri dalam keadaan seperti ini.


"Boleh gue minta tolong, Wir?" tanya Zergan.


"Apa?" tanya Wira.

__ADS_1


"Tolong ke rumah gue dan bilang pada Aludra kalau gue nginap di rumah Mama. Gue bakal temani Mama malam ini," ucap Zergan.


Wira mengangguk. Dia mengerti bagaimana posisi Zergan sekarang. "Gue pamit dulu. Salam buat Mama Ana," ucap Wira yang dianggukki oleh Zergan.


Melihat Wira yang sudah pergi, Zergan kembali ke atas menyusul Ana. Dengan perlahan Zergan membuka pintu kamar. Lelaki itu menghela nafas melihat Mama Ana yang sudah membaringkan tubuh dengan membelakanginya.


Mama Ana yang menyadari kedatangan Zergan segera menutup mata. Mungkin berpura-pura tidur akan membuatnya bisa menghindar dari pertanyaan Zergan.


Zergan membenarkan selimut Mama Ana hingga batas lehernya. Dia membungkuk mencium lembut dahi Mama Ana. "Tidur yang nyenyak, Ma," gumam Zergan.


Setelah mengatakan itu, Zergan kembali keluar dari kamar dan pergi menuju dapur untuk mengambil minum.


Mata Mama Ana terbuka setelah mendengar suara pintu tertutup. Itu berarti Zergan sudah keluar dari kamarnya. "Dalam tidurpun aku tidak tenang, Ya Tuhan," gumam Mama Ana dengan air mata mengalir membasahi samping matanya.


.....


Wira sampai di rumah Zergan. Lelaki itu langsung turun dari mobil. Benar saja, pintu rumah masih terbuka. Wira langsung masuk dan melihat Aludra yang masih setia duduk menunggu di sofa ruang tamu.


"Kak Wira," ucap Aludra berdiri.


"Aludra. Kau istirahatlah. Malam ini Zergan berpesan bahwa dia tidak akan pulang. Dia anak menginap di rumah Mama Ana untuk menemani Mama Ana," ucap Wira menyampaikan pesan Zergan.


"Apa yang sudah terjadi, Kak?" tanya Aludra.


Aludra menutup mulut tak percaya mendengar Ayah dan Mama mertuanya yang sudah bercerai. Dan satu lagi hal yang mengejutkan bagi Aludra, bahwa wanita yang ada di video itu adalah Rea sendiri.


"Kakak tunggu disini," ucap Aludra dan berjalan menaiki tangga dengan berlari.


Sepuluh menit, Aludra kembali dengan Zayn yang tertidur dalam gendongannya.


"Kamu mau kemana, Aludra?" tanya Wira bingung.


"Antar aku ke rumah Mama, Kak," ucap Aludra sedikit kesusahan menggendong Zayn.


"Zergan berpesan agar kau tetap beristirahat di rumah. Disana Zergan akan menemani Mama Ana," ucap Wira mencoba mencegah Aludra.


"Aku tahu. Setelah Mama Ana tenang dan tertidur, suamiku akan sendirian. Siapa yang kan menemaninya jika bukan aku? Suamiku butuh aku, Kak," ucap Aludra kekeuh.


"Tapi-"


"Jika Kak Wira tidak mau, biar aku pergi dengan sopir," ucap Aludra dan langsung berjalan keluar rumah.


"Aludra tunggu! Aku yang akan antar," putus Wira menuruti keinginan Aludra. Dia tidak peduli nanti Zergan akan marah padanya atau tidak. Yang pasti dia harus memastikan agar Aludra dan Zayn selamat sampai di rumah Mama Ana.

__ADS_1


.....


Zergan duduk di kursi meja makan sambil memainkan gelas yang berisi air putih itu. Matanya menatap air yang tinggal sedikit di dalam gelas. Hatinya juga sangat hancur mengingat apa yang sudah terjadi. Tangan Zergan terulur mengeluarkan suatu yang terselip di pinggang celananya. "Beruntung aku tidak menggunakan kalian," gumam Zergan meletakan kisah dan pistol miliknya di atas meja makan.


"Mengapa aku harus tercipta dari benih mu, Adam Bailey?" gumam Zergan bertanya mencengkram kuat gelas yang ada di genggamannya.


"Mengapa darahmu harus mengalir dalam tubuhku, Adam Bailey?" gumam Zergan lagi dengan mencengkram erat gelas untuk menyalurkan emosinya yang sudah sangat memuncak.


PRANG!!!!


"Mas!" pekik sebuah suara ketika gelas yang ada di tangan Zergan pecah begitu saja.


Zergan tersadar dari lamunannya. Dia menatap gelas yang sudah tak berbentuk itu dan orang yang baru saja datang dengan bergantian.


"Sayang," panggil Zergan pelan melihat Aludra yang ada berjalan mendekatinya.


Aludra menatap sendu suaminya. Setalahnya dia meminta bantuan pada Wira untuk membawa Zayn tidur di kamar mereka. Wira yang cepat mengiyakan. Aludra dan Zergan butuh waktu untuk berdua.


"Mas," panggil Aludra lembut.


"Kamu disini sayang?" tanya Zergan.


Aludra mengangguk. "Suamiku membutuhkan aku disini," jawab Aludra menagkup kedua rahang Zergan dengan kedua telapak tangannya hingga tatapan mereka saling bertemu.


"Kita obati tangan kamu, ya," ucap Aludra lembut sambil melirik tangan Zergan yang berdarah.


Zergan hanya mengangguk menuruti apa yang Aludra katakan. Aludra beranjak sebentar menuju lemari obat untuk mengambil kotak obat disana.


"Sayang," panggil Zergan lembut dengan pandangan yang tak lepas dari Aludra yang kini dengan fokus mengobati tangannya.


"Iya Mas," jawab Aludra.


"Ayah dan Mama sudah bercerai," ucap Zergan sendu.


Aludra mengangkat pandanganya menatap Zergan. "Mungkin memang itu yang terbaik untuk Ayah dan Mama, Mas," jawab Aludra.


"Kita tidak akan seperti mereka kan, Sayang?"


......................


Dukung novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗


Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yang lainnya. Tentunya ada info Alu dan Zergan jugaa. Terimakasih 🤗😉

__ADS_1


__ADS_2