Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
BAB 154


__ADS_3

WELCOME TO THE STORY


HAPPY READING


Aludra keluar dari ruangan dokter arumi bersama dengan zayn. Anak itu setia menggandeng tangan mamanya dengan sebelah tangannya lagi masih memegang ponsel untuk video call dengan zergan.


“hati-hati! Nanti istri papa jatuh,” ucap zergan menyindir dan mengingatkan anaknya.


Zayn berdecak malas. “Zayn gak kayak papa, ya!”


Skak!


Zergan kalah jika sudah berusan dengan anaknya. Lelaki itu terdiam mendengar ucapan telak dari zayn. Inilah bahayanya jika zayn tahu aludra menangis karena dirinya.


Aludra yang melihat itu tersenyum sambil menggeleng. Anak dan ayah itu memang sering beradu mulut namun bisa akur juga dalam lain waktu.


“papa gimana disana? Berobatnya aman kan?” tanya zayn perhatian.


“aman, nak. Nenek kan ada disini,” jawab zergan jujur.


“awas kalua papa ganggu pelawat-pelawat disana. Zayn jodohin mama sama papanya bima disini!” ucap zayn memberi ancaman pada zergan.


“kamu yang papa sunat kalau berani kayak gitu, ya. Awas aja!” balas zergan sengit menatap ponsel yang menampilkan wajah tengil anaknya.


Bukannya takut, zayn malah tertawa mendengar perkataan papanya. Aludra juga ikut tertawa. Zergan nampak sangat lucu jika sudah cemburu dan cemas seperti itu.

__ADS_1


“udah dulu, pa. nanti telfon lagi. Zayn sama mama udah sampe di apotik rumah sakit,” ucap anak itu pamit.


Zergan mengangguk. “jagain mama dan jangan bandel. Jangan buat mama nangis!”


Klik.


Panggilan video call diakhiri oleh zergan. Laki-laki itu lebih dulu mengakhiri daripada nanti mendengar jawaban anaknya yang membuat dia kesal.


Zayn menggeleng sambil berdecak. “sama anak aja gak mau ngalah,” ucap anak itu yang bisa di dengar oleh aludra.


“jangan ngatain gitu, nak. Nanti kamu bakal dewasa juga lho,” ucap aludra meledek.


“zayn usahain gak mau kayak papa. Ribet,” jawab anak itu santai.


Aludra terkekeh. Semoga kamu lebih baik dari kami, nak. Batin aludra menatap penuh harap pada zayn. Setelah meletakkan resep obat di keranjang yang disediakan, aludra harus menunggu antrian sampai namanya di panggil untuk menerima obat.


…..


“apapun yang sudah kamu dengar, percayalah itu bukan dari hatiku, wira,” gumam grace dengan mata berkaca-kaca menatap jalanan yang kini dipadati kuda besi berjalan.


…..


Pintu ruangan wira terbuka. Anwar masuk tanpa menunggu persetujuan dari anaknya itu.


“izin dulu biar sopan,” ucap wira menatap sekilas ayahnya.

__ADS_1


Anwar hanya diam. Dia duduk tanpa permisi di kursi depan meja kerja wira yang tadi diduduki oleh grace. “hangat juga kursi bekas dari calon mantuku,” ucap anwar tanpa menolah pada wira sedikitpun.


“calon mantu gak jadi,” jawab wira sok sibuk dengan laptopnya.


“kau yakin tidak mau lagi dengannya?” tanya anwar menatap anaknya.


Wira mengangguk. “perbedaan kami sangat mencolok. Temboknya sangat kokoh dan gak bisa dihancurkan oleh apapun,” jawab wira.


“mudah saja sebenanya. Kau bawa saja dia ke agama kita,” ucap anwar enteng.


“orang tua ngerti apa sih?” tanya wira greget dengan ayahnya itu.


“kalua ayahmu ini tidak mengerti apa-apa, maka dirimu gak bakal ada,” jawab anwar tengil.


“kau benat tidak mau lagi dengan grace?” tanya anwar lagi.


Wira mengangguk.


“kau yakin?” tanya anwar lagi.


Lagi dan lagi wira mengangguk.


“kalua begitu ayah akan menjodohkanmu dengan seseorang.”


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @nonamarwa_ untuk melihat info mengenai novel aku yaa!!!!


SELAMAT MEMBACAAAA!!!!!


__ADS_2