
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗
🌹HAPPY READING🌹
"Mas mau kemana?" tanya Aludra yang turun dari tangga.
Ya, sejak tadi dia memang mengintip pembicaraan para lelaki itu dari lantai dua. Tapi melihat suaminya dan yang lain akan pergi, Aludra memutuskan turun dan bertanya.
"Aku harus pergi sebentar, Sayang," ucap Zergan.
"Kemana?" tanya Aludra lagi.
"Kakek tunggu di mobil," ucap Fatih yang merasa Zergan butuh bicara dengan istrinya. Fatih berjalan keluar rumah diikuti Anwar dan Wira.
Zergan mengangguk mengiyakan perkataan kakeknya. Dia menolehkan kepalanya kembali dan tersenyum menatap Aludra. Tangan Zergan melingkar di bahu sang istri dan membawanya untuk duduk di sofa.
"Aki harus ke rumah Mama, Sayang. Aku harus menyelesaikan semuanya," ucap Zergan.
"Tapi Mas-"
"Restui aku, Sayang. Aku lelah hidup seperti ini. Aku mau kita keluar dari masalah ini dan melepaskan mama dari belenggu lelaki brengsek itu," ucap Zergan memotong perkataan Aludra.
"Bukan itu yang aku bilang. Aku tidak mencegah kamu pergi, Mas," ucap Aludra menatap Zergan.
Dahi Zergan berkerut bingung. "Lalu?" tanya Zergan.
"Kasih ke aku yang ada di celana kamu," ucap Aludra menampung tangannya ke depan Zergan.
Reflek Zergan langsung memegang pusaka berharganya. "Gak bisa, Sayang. Kalau ditinggal Gianna aku bisa pergi. Aku tahu kamu rindu, tapi gak gini juga dong," ucap Zergan menatap Aludra memelas.
Aludra berdecak malas. "Dasar mesum emang. Siapa yang minta singkong kamu itu," ucap Aludra gemes dan malam menepuk pusaka premium milik Zergan.
"Aahhh Sayang. Kamu membangunkannya kalau begini," rengek Zergan mengelus lembut benda itu dari balik celananya.
__ADS_1
"Dasar mesum, ya. Aku minta pisau sama pistol kamu. Cepat!" ucap Aludra menekankan perkataanya pada Zergan.
Zergan menghela nafas pelan. Kalau saja Aludra bicara dengan jelas sejak tadi di tidak akan bingung seperti ini. "Coba kamu ngomong jelas dari tadi. Kan dia gak perlu tegang begini, Sayang. Syukurlah bisa reda," ucap Zergan melihat celananya yang tidak lagi menonjol.
"ZERGAN!" teriak Fatih dari luar rumah memanggil Zergan yang tak kunjung datang.
"Kakek udah manggil aku, Sayang. Aku harus segera pergi," ucap Zergan hendak pergi dan langsung ditahan oleh Aludra.
"Cepat kasi sini," ucap Aludra mengalihkan perkataan suaminya. "Kalau gak Kakek dan yang lain akan menunggu semakin lama," sambung Aludra.
"Ini penting, Sayang," ucap Zergan merengek.
"Aku gak mau ada pertumpahan darah, Mas. Jangan kotori tangan kamu dengan benda-benda itu dan melukai ayah kandungmu sendiri. Kesiniin gak," ucap Aludra menatap tajam suaminya itu dengan membesarkan matanya.
Bukannya takut, Aludra nampak lucu Dinata Zergan. Dengan liciknya Zergan mencuri satu kecupan di bibir manis Zergan.
"Iiihhhh," kesal Aludra.
"CEPAT ZERGAN!" teriak Fatih dari luar rumah. Para penghuni mobil itu sudah bosan menunggu Zergan.
"Itu Kakek udah manggil. Aku pergi dulu, Sayang. Cup," ucap Zergan dan langsung kabur begitu saja meninggalkan Aludra yang masih kesal dengan suaminya itu.
Aludra menghirup udara banyak dan melepaskannya perlahan. "Semoga semua baik-baik saja, Ya Tuhan, walau keadaan sangat kacau sekarang ini," ucap Aludra berharap.
.....
"Lihat saja nanti, Kakek," jawab Zergan menoleh kebelakang dimana Fatih duduk bersama Anwar.
Sedangkan Wira yang duduk di kursi kemudi hanya tersenyum menatap wajah Ayahnya yang menatap kaca depan mobil. "Sedikit kejutan, Ayah," ucap Wira yang membuat Zergan ikut terkekeh.
Beberapa menit perjalanan, Zergan dan yang lainnya sudah sampai di depan rumah Ana. Dan benar saja, disana ada mobil Adam yang diparkir sembarangan.
Mereka semua berjalan memasuki rumah. Di ruang tamu, terlihat Adam dan Ana yang duduk di sofa dengan kebisuan menemani mereka.
"Kalian," ucap Adam terkejut ketika melihat Zergan dan yang lainnya memasuki rumah Ana dan langsung duduk di sofa.
"Tidak dapat jalan keluar anaknya, kau mau memaksa mamaku, Ayah?" tanya Zergan yang mendudukkan diri disebelah ana dan merangkul bahunya.
"Ini ada apa, Nak?" tanya Ana yang masih bingung. Sejak kedatangan Adam, mereka memang hanya saling diam. Dan tak lama setelah itu, Zergan datang dengan yang lainnya.
"Lelaki yang duduk berhadapan dengan kita ini tadi datang ke rumah Zergan untuk minta tanggung jawab, karena dia menuduh Zergan sudah mengganggu kenyamanan perusahaannya di New Zealand, Ma," jawab Zergan tenang.
__ADS_1
"Tapi memang itu yang terjadi. Anakmu ini telah membuat harga saham perusahaan turun hingga mengalami kerugian yang cukup banyak," ucap Adam menjawab.
"Harga saham turun tidak akan membuat kamu miskin, Mas," ucap Ana menatap Adam. Lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya.
Adam terkekeh pelan. "Pantas dia bersikap tak tahu diri begini. Itu karena didikanmu yang selalu membelanya," jawab Adam tak terima.
"Jangan menyalahkan mama! Semua yang terjadi karena kebejatanmu!" ucap Adam menatap tajam pada Zergan.
"Lihatlah. Anakmu sungguh tak punya sopan santun," jawab Adam menatap Ana meremehkan wanita itu.
"Aku tak akan marah jika anakku bersikap seperti itu sama kamu, Mas," jawab Mama Ana berani.
Zergan menatap mamanya tersenyum. Dia senang dengan mamanya yang kali ini bisa melawan perkataan Adam.
"Urusanmu dengan anakku, bukan? Maka bicaralah dengannya," ucap Ana berdiri dan hendak pergi dari sana.
"Kau memang sama sekali tak berguna, Ana. Sama sekali kau tidak membelaku," ucap Adam tajam menghentikan langkah mama Ana.
"Perhatikan apa yang keluar dari mulutmu, Adam!" ucap Fatih tegas yang sejak tadi diam.
"Memang begitu kenyataanya, Papa. Dia memang istri yang tak berguna!"
"KAU!"
"Sudah Zergan," ucap Ana lembut mengentikan aksi Zergan yang akan mengambil sesuatu dari belakang tubuhnya.
Adam yang melihat itu kembali terkekeh. "Kau sungguh sangat jauh berbeda dengan Rea. Dia bisa memberikan apa yang aku inginkan dan bisa menempatkan diri sebagai istri, meskipun dia adalah selingkuhanku," ucap Adam yang sangat menusuk di hati Mama Ana.
Mama Ana hanya diam. Dia menunggu kelanjutan apa yang akan diucapkan oleh Adam selanjutnya.
"Sekarang juga aku menceraikanmu, Ana!" ucap Adam tegas.
Ana yang mendengar itu hanya berekspresi datar. Berbeda dengan yang lainnya nampak terkejut. Tapi dalam hati zergan tersenyum. Penyesalanmu datang, Adam Bailey. Batin Zergan puas.
Mama Ana mengangguk. Setelahnya dia menatap Fatih yang juga menatap sendu padanya. "Ana izin ke kamar, Papa," ucap Ana lembut dan langsung berjalan meninggalkan mereka semua begitu saja. Siapa yang tahu, ada sakit yang tak terkira yang sekuat hati dia tahan.
Melihat Mama Ana yang sudah pergi, Wira mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memberikan pada Zergan.
"Aku ada hadiah untukmu, Ayah," ucap Zergan menyeringai dan menekan tombol untuk memutar sebuah rekaman suara yang dapat membuat Adam diam tak berkutik.
......................
__ADS_1
Dukung novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yang lainnya. Tentunya ada info Alu dan Zergan jugaa. Terimakasih 🤗😉