Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - BAB 12


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Zergan menoleh dan menatap istrinya. "Tempat istri memang disebelah suaminya," jawab Zergan.


Aludra tersenyum. "Tapi tadi tempat ini diisi oleh orang lain," jawab Aludra sambil duduk.


"Dia adikku, Aludra" jawab Zergan tegas.


"Aku tidak mau berdebat hanya karena hal yang sama, Mas. Jadi, kapan kita pergi?" tanya Aludra.


"Ayo," ajak Zergan dan langsung berdiri.


Aludra menurut. Wanita itu ikut berdiri dan berjalan mengikuti langkah kaki suaminya dari belakang.


Rea yang melihat dari pintu ruangannya tersenyum senang. "Tidak akan ada yang bisa kamu buktikan, Aludra bodoh!" gumamnya tajam dengan senyum penuh kemenangan.


"Kebodohan apa?!"


.....


Aludra dan Zergan hanya diam sampai mereka masuk ke dalam lift. Pintu lift terbuka, dengan segera Zergan menggandeng tangan Aludra dan berjalan keluar lift menuju lobi.


Aludra tersenyum menatap tangannya. Mau semarah apapun, kecemburuan Zergan tidak pernah hilang. Lelaki itu masih saja terus membuktikan pada semua karyawannya terutama lelaki bahwa Aludra adalah istrinya.


Sampai di depan mobilnya, Zergan membuka pintu untuk Aludra. Setelahnya baru lelaki itu menaiki tempat kemudi. Kali ini Zergan sendiri yang akan menyetir mobil karena ini berkaitan dengan urusan pribadi mereka.


"Mas," panggil Aludra setelah beberapa menit mereka hanya saling diam.


Zergan yang fokus pada jalanan di depannya hanya berdeham. "Apa kamu akan semarah ini juga pada Rea, jika dia melakukan kesalahan?" tanya Aludra lembut.


"Aku benci kesalahan, Aludra. Tentu aku akan marah," jawab Zergan tegas.


Aludra tersenyum lembut mendengar jawaban Zergan. "Pertahankan itu, Mas," ucapnya lembut. "Tapi jangan benci diri kamu sendiri nanti. Aku tidak menyukai itu," lanjut Aludra menatap dalam Zergan.

__ADS_1


Zergan menoleh mendengar perkataan Aludra. "Kamu tahu, Aludra? Saat ini aku membenci diriku sendiri karena gagal menjadi suamimu. Aku gagal menjagamu dari perbuatan yang tidak pantas," ucap Zergan.


Aludra memejamkan mata sebentar mendengar perkataan Zergan. "Aku tidak akan meminta kamu percaya lagi, Mas. Sampai kamu sendiri yang mengatakan padaku, bahwa aku memang tidak bersalah," jawab Aludra.


Zergan diam. Rasanya sangat sulit untuk membalas apa yang Aludra katakan. Rasanya sangat sulit untuk mempercayai bahwa sekarang hubungan yang dulunya begitu mesra dan intim, kini tiba-tiba dingin dan hambar. Bukan karena cinta mereka yang kian memudar, tapi kesalahpahaman yang menghancurkan semuanya.


Setelah dua puluh menit, mobil Zergan sampai di depan sebuah tempat yang membuat mereka sama-sama bingung.


Aludra segera turun dari mobil dan memandang bangunan di depannya dengan sangat tidak percaya.


"Kamu membuat tato di kamer sebuah club', Aludra?" tanya Zergan yang sudah berdiri disebelah Aludra.


Aludra menggeleng. "Percaya sama aku, Mas. Kemarin ini adalah tempat aku buat Tato," ucap Aludra.


Zergan tertawa hambar. "Apa kamu buta, Aludra. Ini adalah club, bukan rumah pembuatan tato," ucap Zergan dan langsung masuk kembali ke mobil meninggalkan Aludra sendiri.


Aludra menyusul. "Mas, ada yang tidak beres, Mas. Ini tempat kemarin aku buat Tato, Mas. Nama pemiliknya adalah Grace, dia yang kemarin membuat hena ini," ucap Aludra meyakinkan Zergan.


Zergan tertawa hambar sambil menyalakan mesin mobilnya. "Apa yang kau sampaikan adalah sampah, Aludra."


Jantung Aludra seakan berhenti berdetak mendengar ucapan datar Zergan yang sangat menusuknya. Wanita itu terdiam dengan badan panas dingin karena perasaan yang tak karuan menjalar disepanjang tubuhnya.


Untuk beberapa saat mereka terdiam. Keduanya sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Zergan yang masih tak.pervaya dengan Aludra. Dan Aludra yang masih bingung dengan semuanya.


Aludra yakin, tempat yang tadi dia datangi bersama Zergan adalah tempat yang juga dua datangi bersama Rea kemarin. Lalu, kenapa.tsdi tempat itu berubah menjadi sebuah club' malam yang masih belum buka jam kerjanya.


"Mas," panggil Aludra pelan setelah asik dengan pikiran masing-masing.


Zergan hanya diam. Tapi dalam hati dia menunggu apa yang akan disampaikan oleh aludra.


Aludra benci keadaan seperti ini. Dia tidak menangis, tapi air matanya selalu mengkhianati ketegaran hatinya. Air mata Aludra jatuh begitu saja dari mata bening itu meskipun dia tak ada tangisan di bibirnya.


"Itu memang tempat yang kemarin aku datangi untuk membuat hena. Tapi entah mengapa, gedung yang ada diatas tanahnya malah berubah menjadi club' malam. Aku berani bersumpah bahwa aku tidak berbohong, Mas," ucap Aludra.

__ADS_1


"Aku tidak tahu harus percaya siapa, Aludra. Kau atau hati dan pikiranku," jawab Zergan lirih.


"Aku tidak minta kamu untuk percaya, Mas. Tapi aku berani bilang kalau aku tidak berbohong. Aku hanya ingin menyampaikan saja. Toh, apa yang aku sampaikan memang tidak akan kamu percayai lagi. Tambah lagi saat ini, aku gagal membuktikan bahwa apa yang aku bilang kemarin adalah benar, Mas," ucap Aludra sendu.


"Kau terdengar menyerah, Aludra. Apa kau tidak akan bertanggung jawab lagi untuk memperbaiki hubungan ini?" tanya Zergan.


Aludra menatap Zergan sebelum menjawab pertanyaan lelaki itu. Mendengar pertanyaan Zergan, Aludra merasa seperti ditahan untuk menyerah dan terus diminta untuk berjuang. Tapi melihat sikap Zergan padanya, rasanya Aludra tidak punya siapa-siapa untuk dia jadikan semangat.


"Apa kamu nyaman dengan mulutku yang akan terus bilang jika aku bohong, Mas?" tanya Aludra balik.


Zergan hanya diam.


"Kamu tahu, Mas. Kenyamanan orang yang aku cintai adalah nomor satu. Bahkan jika itu memaksaku untuk mengalah dengan semuanya, akan aku lakukan," jawab lanjut Aludra memperjelas maksudnya pada Zergan.


Zergan menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan. "Aku jauh lebih nyaman saat dulu hubungan kita baik-baik saja, Aludra," jawab Zergan menatap Aludra dengan pandangan sendu.


"Kamu tahu apa yang aku butuhkan saat seperti ini, Mas?" tanya Aludra lagi.


"Semangat dariku," jawab Zergan tepat sasaran yang dianggukki oleh Aludra.


"Lalu kenapa kamu tidak berikan itu?" tanya Aludra lagi.


"Kamu sudah terlalu mematahkannya dengan semua perkataanya yang tidak bisa kamu buktikan, Aludra. Aku harus bagaimana? Apa aku harus tetap percaya dan menunggu bukti lagi? Bukankah kesempatan yang aku berikan sudah menjadi bukti bahwa aku memberi semangat padamu untuk menyelesaikannya? Kamu sendiri yang mendustai dengan kebohongan," jawab Zergan dengan mata merah menatap Aludra.


Aludra mengalihkan pandangannya. Rasanya dia tidak sanggup melihat pandangan Zergan yang sangat terluka karena semua ini.


"Apa kamu memintaku menyerah, Mas?" tanya Aludra dengan mata berair.


"Apa dengan kepergian mu bisa membuat semuanya baik?"


................


Untuk visual Zergan dan Aludra, silahkan lihat di instagram aku yaaa @yus_kiz

__ADS_1


Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗


Kalian bisa follow Instagram aku @yus_kiz buat lihat visual dan segala perkataan indah yang berkaitan dengan novel ini 😉🤗


__ADS_2