Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - BAB 95


__ADS_3

WELCOME BACK TO THE STORY!!!!!!


🌹HAPPY READING🌹


Sedangkan di tempat yang sambat berbeda, justru kini kesedihan menyelimuti hatinya, kekacauan memenuhi pikirannya. Rea, wanita itu merasa bahwa karma semakin di depan matanya. Entah ini adalah hadiah atau justru cobaan yang harus dia lalui. entah ini kabar baik atau buruk bagi seseorang yang akan dia beritahu nantinya.


Rea nampak duduk di kamarnya dengan air mata yang tak henti menetes. tangannya terangkat mengusap perut yang masih rata itu. "Aku harus bagaimana?" Ucap Rea lirih dengan dagu bergetar.


"apa aku harus mempertahankanmu atau menyerahkanmu kembali pada Tuhan? Kau hadir disaat yang tidak tepat, Nak."


Rea benar-benar tak tahu harus bagaimana. Rea sudah merasakan hal aneh pada dirinya beberapa minggu ini. tapi dia mencoba untuk mengabaikan. namun, tadi saat hendak mengisi perut, perut Rea kembali tak enak hingga dia melakukan apa yang selama ini ada dipikirannya dengan mengecek kehamilannya menggunakan testpack.


Positif.


Hamil.


Ya, saat ini Rea tengah mengandung anak dari ayah tirinya sendiri, adam bailey. perasaan takut dan senang itu bercampur menjadi satu. Rea senang karena saat ini ada anak lelaki yang sudah menjadi pemilik hatinya. Ya, Rea sudah menyerahkan segala hatinya untuk mencintai adam bailey. tapi disisi lain Rea juga takut untuk memberitahu adam mengenai semua ini mengingat betapa bencinya adam pada ReaRea sekarang.


"Aku harus menganggapmu apa? apa aku harus menganggapmu cobaan? atau kamu adalah berkah yang tuhan kirim ditengah kesedihanku ini? aku harus bagaimana?" tanya Rea terisak pada perutnya sendiri.


"Aku takut nanti kamu akan bernasib sama seperti ku jika sudah lahir nanti. aku takut tidak akan ada orang yang mau menerima kamu. aku takut tidak akan ada kebaikan yang menghampirimu nanti, hiks," ucap Rea lagi. ketakutan itu benar-benar nyata. mengingat masa kecilnya yang tidak bahagia hingga masa dewasa yang penuh dengan kejahatan, benci dan ambisi, Rea tidak mau anaknya nanti yang akan menerima semua karma atas kelakuannya.


"kenapa dia harus hadir sekarang, Tuhan? ada apa dibalik semua rencanamu, Tuhan?" lirih Rea menengadah ke langit-langit kamarnya.


Pandangan Rea beralih ke dalam lemari. wanita itu berdiri dan berjalan mendekati benda persegi panjang yang berdiri tegak di sudut ruangan. tangannya terulur membuka lemari dan menatap kain putih yang berada di rak paling bawah. Rea berjongkok dan mengambil benda itu.


"Mulai sekarang aku akan menggunakanmu. Jangan bersedih ya. maafkan aku yang sudah sangat lama tidak pernah menyentuhmu," gumam Rea membawa benda itu ke kasur.


setelah meletakkan, Rea berjalan menuju kamar mandi.


Wudhu.


Ya, Rea pergi untuk mengambil wudhu. memang benar ternyata, setelah kesedihan mendalam baru manusia akan ingat tempat dia mengadu. mau bagaimanapun dunia memanjakanmu, tetap kesedihan yang akan kau Terima jika menomor duakan akhirat. itulah yang selama ini Rea lakukan. Dunia segalanya hingga dia lupa bahwa keabadian itu adalah akhirat.

__ADS_1


Setelah selesai, Rea menggelar sajadah sesuai arah kiblat dan mulai melakukan kewajibannya.


AllahuAkbar.


Sejak kata itu dia ucapkan, air mata ikut nenetes di wajahnya. sejak beberapa menit dari niat hingga salam, tidak hentinya air mata mengalir di pipi Rea. saat sujud terakhir, kejahatan itu berputar seolah kaset rusak yang memenuhi pikirannya hingga tangisnya semakin pilu.


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


setelah kepalanya menoleh ke kanan dan kiri sebagai pertanda bahwa sholat yang dia lakukan telah selesai, Rea menatap lurus kedepan. kosong, pandangan itu benar-benar pasrah dan tidak tahu harus berkata apa untuk meminta kepada Yang Maha Kuasa. hanya tangis yang menandakan semua penyesalannya.


"Tidak pantas rasanya jika aku meminta, hiks," lirih Rea kembali menurunkan tangan yang tadi sudah terangkat untuk berdoa.


Rea mengangkat kepalanya dan melihat Al-Quran yang terletak di meja rias. Rea berdiri dan mengambil kitab suci untuk dibacanya.


"Sejak mama ana pergi tidak ada lagi yang membacamu. Maaf, ya. Karena kejahatanku, kamu harus ikut bersedih hingga berdebu begini karena sudah lama tidak dibuka," ucap Rea membersihkan debu yang ada di bagian depan Al-Quran.


Ceklek.


Langkah kaki Rea terhenti ketika dia akan kembali untuk bersimpuh di sajadah. dia menoleh ke pintu dan menatap seorang lelaki yang kini bertahta di hatinya.


Adam memandang aneh pada rea. Satu alis lelaki paruh baya itu terangkat. "Kau yakin dengan apa yang kau pakai ini?" tanya Adam tak percaya sekaligus meremehkan apa yang Rea lakukan.


Rea menatap dirinya sendiri. "Tidak ada yang akan marah, kan?" tanya Rea beralih menatap adam.


Adam terkekeh pelan. "Apa kau tak merasa hina? kita suci itu akan ternoda saat kau menyentuhnya," ucap adam sarkas.


Rea hanya tersenyum meskipun hatinya ikut sakit dan menjadi ragu mendengar apa yang dikatakan adam.


"Ada apa, Mas?" tanya Rea mengalihkan pembicaraan.


"Ah iya aku sampai lupa menyampaikan maksudku. besok, kau sudah harus pergi dari rumah ini," ucap adam santai.


"Kamu mengusirku?" tanya Rea sendu.

__ADS_1


"Kau sudah suci kan? Setahuku wanita yang baik tidak mau tinggal dengan lelaki yang bukan pasangannya," jawab Adam tak berperasaan.


Rea memejamkan mata mendengar apa yang disampaikan Adam. Benar apa yang disampaikan oleh adam, tapi saat ini Rea masih sangat bergantung pada lelaki itu.


"Tidak ada bantahan. Saat aku bangun besok aku harap kau sudah angkat kaki dari sini!" ucap adam berlalu pergi meninggalkan Rea yang menatap sedih pada punggung adam.


Tangan Rea terulur mengusap perut dari balik mukenah yang dia kenakan. "dia begitu karena kesalahanku. Kamu jangan membencinya, ya," ucap Rea lirih.


Rea mengusap air matanya. Tidak ada lagi pandangan cinta yang adam berikan saat menatapnya. Memang benar ternyata, cinta karena nafsu tidak bertahan lama. tidak ada namanya jika seorang penggoda menjadi pemenang. dia akan tetap menerima karma atas segala air mata yang dia berikan pada Mama Ana.


Rea menerima semuanya, Ma. Rea akan ikhlas atas karma ini, Mama Ana. Batin Rea berusaha menegarkan hati dan pikirannya.


"Aku harus kembali ke kantor, ya. Kamu baik-baik dirumah, ya," ucap Zergan pada aludra yang kini sudah duduk di ranjang rumahnya. Ya, setelah dari dokter kandungan aludra sudah diperbolehkan pulang. wanita itu juga tidak betah jika harus lama di rumah sakit.


meski sudah sore, zergan harus kembali ke perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaan yang mendesak untuk dia kerjakan. disana juga masih ada fatih dan wira yang menunggu kedatangannya.


aludra mengangguk dan tersenyum. "Kamu hati-hati, ya Mas."


Zergan mengangguk. "Zayn jaga mama, ya," ucap zergan pada anaknya yang kini duduk di kasur bersama aludra.


"Siap, Papa. Zayn akan jaga mama dan adik," jawab Zayn tegas yang membuat zergan dan aludra tersenyum. Akhirnya anak itu kini bisa paham dan. menerima keadaan.


Setelah memastikan aludra dan Zayn baik-baik saja, zergan berjalan keluar kamar.


"Apa mama harus ikut, Nak?" tanya Mama ana setelah Zergan sampai di ruang tamu.


Zergan mengangguk. "Ada sesuatu yang harus mama ketahui. Nanti kakek adak memberitahu. Ayo Ma," ucap Zergan menggandeng tangan mama ana untuk keluar rumah menuju mobil.


Terdengaf bunyi mobil pergi dari rumah, Aludra yakin pasti suaminya sudah pergi bersama Mama ana. Tadi zergan mengatakan bahwa ada keperluan dengan mama ana di perusahaan.


Apa ini menyangkut Ayah dan Rea? bagaimana keadaan Rea sekarang? haruskah aku menelponya?


................

__ADS_1


Hai temanku semua Aludra dan Zergan masih berlanjut, ya. Bagi yang sedikit lupa, kalian bisa baca bab sebelumnya ya, dijamin tetap seru.


Selamat membaca!!!!!!!!


__ADS_2