
🌹HAPPY READING🌹
Diruang kerja, Zergan langsung menelpon seseorang. Tanpa sudah payah mencaritahu sendiri, dia sudah melihat sendiri di tubuh Aludra.
"Bagaimana Wira?" tanya Zergan setelah sambungan teleponnya terangkat.
"Itu tato, Tuan. Bukan Hena," jawab Wira dari seberang sana.
Zergan menutup mata mendengar jawaban Wira. "Jadi tanda yang ada di bawah dada dekat punggung wanita di video itu adalah tato?" tanya Zergan lagi memperjelas jawaban yang ingin dia terima.
Dari balik telepon Wira mengangguk. "Benar, Tuan. Tanda yang tuan dapatkan di video itu adalah tato. Saya sudah memeriksanya," jawab Wira sedikit terdiam. "Boleh saya tanya sesuatu, Tuan?" lanjut Wira.
"Apa?" jawab Zergan pelan.
"Apa Nyonya Aludra memiliki tato seperti wanita di video itu?" tanya Wira memastikan.
"Aku tutup dulu teleponnya," ucap Zergan tanpa mau menjawab dan langsung memutus sambungan teleponnya bersama Wira.
Zergan terduduk di kursi setelah teleponnya dan Wira terputus. Lelaki itu memijit pelipisnya untuk menenangkan sejenak pemikirannya.
.....
Aludra dan Zayn duduk bersama di meja makan. "Mama nggak makan?" tanya Zayn dengan terus menerima suapan makan malam dari Aludra.
Aludra menggeleng. "Mama tunggu Papa saja, Nak," ucap Aludra.
"Nanti pelut Mama sakit kalau telat makan," ucap Zayn perhatian.
Aludra tersenyum dan mengecup pelan pipi tembem anaknya. "Mama masih belum terlalu lapar, Nak. Jadi Mama nunggu Papa saja. Yang penting sekarang, Zayn sudah makan dan kenyang," jawab Aludra lembut.
Zayn hanya mengangguk. Setelahnya, anak itu kembali melanjutkan makan malamnya dengan Aludra yang senantiasa menyuapi.
Ditengah kegiatan Aludra dan Zayn, terdengar suara langkah kaki dari ruang keluarga.
"Selamat malam," ucap Rea yang datang dengan riang dan wajah yang bahagia seperti biasanya.
"Selamat malam, Aunty," jawab Zayn dengan mulut penuh, sedangkan Aludra tersenyum menatap adik iparnya itu.
"Kamu sudah makan malam, Rea?" tanya Aludra.
Rea yang sudah duduk disebelah Zayn menggeleng. "Aku males di apartemen sendirian, Kak. Jadi aku kesini deh. Sekalian numpang makan malam," jawab gadis yang datang dengan pakaian tidurnya itu. Jarak apartemen yang Rea tempati memang tidak terlalu jauh dari rumah Zergan dan Aludra.
Rea memang tinggal di apartemen. Gadis itu malas untuk tinggal sendiri di rumah besar milik orang tuanya. Sangat sepi dan membosankan. Jadi dia memilih untuk tinggal di apartemen pemberian Zergan sebagai hadiah ulang tahunnya saat berusia tujuh belas tahun. Lagian, jarak rumah keluarganya dengan rumah Zergan cukup jauh, jadi dia lebih nyaman tinggal berdekatan dengan Abangnya itu.
"Kebetulan kamu datang. Kamu makan malam aja, ya. Bareng sama Zayn," ucap Aludra.
"Loh, kakak nggak makan?" tanya Rea bingung.
Aludra menggeleng. "Kakak bareng sama Abang kamu nanti," jawab Aludra.
"Memang Abang kemana, Kak?"
__ADS_1
"Abang kamu lagi di ruang kerjanya. Mungkin ada sedikit kerjaan yang harus dia selesaikan," jawab Aludra.
"Mama bawa makanan buat papa aja ke luang kelja papa, Ma. Bial Zayn makan sendiri," ucap anak itu mengambil sendok di tangan Aludra.
"Biar Aunty yang suapi ya, Zayn?" tawar Rea.
Zayn menggeleng. "Aunty makan juga. Zayn bisa makan sendili kok. Temani Zayn makan aja Aunty," jawab Zayn sopan.
"Baiklah anak tampan," jawab Rea menggoda Zayn dan mulai memakan makan malamnya.
"Kalau gitu Mama nyusul Papa dulu ya, Nak," ucap Aludra yang dianggukki oleh Zayn.
Aludra berjalan dengan sebuah nampan ditangannya. Wanita itu mengetuk pintu ruang kerja Zergan.
"Kenapa?" tanya Zergan datar.
Aludra tersenyum dan langsung masuk sebelum Zergan kembali menutup pintu dan mengusirnya. "Aku bawa makan malam, Mas. Kamu pasti lapar setelah kerja seharian," ucap Aludra meletakkan nampan diatas meja.
Tanpa mendengarkan perkataan Aludra, Zergan menarik kasar tangan wanita itu. "Ini apa, Aludra?" tanya Zergan menunjuk gambar kecil ditubuh Aludra yang sama dengan milik wanita di video itu.
Aludra tersenyum. "Kamu suka, Mas?" tanya Aludra senang.
Wajah Zergan semakin merah. Lelaki itu menarik tangan Aludra untuk memutari meja kerjanya. Setelahnya, dia menyalakan laptop untuk memutar video itu.
Saat video itu memperlihatkan dengan jelas tanda di tubuh wanita itu, Zergan menjeda video itu.
"Kamu lihat tanda di tubuh wanita ini, Aludra?" tanya Zergan tajam.
Jantung Aludra rasanya ingin lepas saat itu juga. Itu sama persis dengan hena yang baru dia buat kemarin. Kenapa bisa? Pikir Aludra tak percaya.
"Mas, ini hena, bukan tato," ucap Aludra cepat mencoba meyakinkan Zergan.
"Kau pikir Aku bodoh? Kau pikir aku bodoh tidak bisa membedakan antara hena dan tato?" tanya Zergan tajam.
"Mas percayalah. Ini hena, Mas. Dan aku ba-"
"Kau terus saja mengelak, Aludra!" potong Zergan tajam.
Aludra menggeleng tegas. "Percayalah, Mas. Ini hena, bukan tato seperti yang ada di tubuh wanita di video itu," ucap Aludra meyakinkan Zergan.
"Tidak ada maling yang akan mengakui bahwa dia maling, Aludra!" ucap Zergan tajam.
"Percayalah, Mas. Itu bukan aku. Ini adalah hena. Coba tanya sama Rea. Rea tahu kalau ini hena, Mas," ucap Aludra memohon.
"Jangan membawa-bawa adikku dalam masalah ini, Aludra!"
"Aku tidak bohong, Mas. Tunggu sebentar," ucap Aludra. Wanita itu keluar dengan tergesa-gesa sambil terus mengusap air matanya dengan kasar.
Di meja makan, Aludra sudah tak melihat Rea dan Zayn.
"Kakak," panggil Rea yang datang dari tangga.
__ADS_1
"Zayn mana, Rea?" tanya Aludra.
"Dikamar, Kak. Tadi aku dan Zayn main di kamarnya. Ini aku mau ambil minum karena Zayn haus," jawab Rea.
"Baguslah. Kamu ikut Kakak sebentar," ucap Aludra dan langsung menarik tangan Rea untuk mengikutinya.
"Ada apa, Kak?" tanya Rea bingung.
Aludra hanya diam hingga mereka sampai diruang kerja Zergan.
"Kamu tanya, Rea Mas. Ini hena," ucap Aludra.
Zergan hanya diam. Melihat itu, Aludra beralih pada Rea. "Rea, ini hena kan Rea? Ini hena buka tato kan?" tanya Aludra memperlihatkan gambar ditubuhnya pada Rea.
"Ini Tato, Kak," jawab Rea.
"Bukan! Ini hena, Rea!" ucap Aludra tak terima.
"Jangan membentak adikku, Aludra!" ucap Zergan tak terima melihat reaksi Aludra pada Rea.
"Ini Tato, Kak. Kan waktu itu Kakak minta aku untuk menemani Kaka untuk buat tato ini," ucap Rea lagi yang membuat Aludra menatapnya tak percaya.
"Kamu bohong, Rea. Kamu yang mengajakku membuat ini tadi siang," jawab Aludra tak terima.
Rea memasang wajah bingungnya. "Tadi aku meeting sama klien sampai sore, Kak. Abang sendiri yang minta aku untuk meeting," jawab Rea polos.
Aludra menggeleng kuat. Dia beralih pada Zergan yang menatapnya dengan penuh kecewa. "Mas, percaya sama aku, Mas. Wanita yang di video itu bukan aku. Percayalah, Mas. Itu bukan aku," ucap Aludra memohon agar Zergan mempercayainya.
"Kamu mau mengelak apa lagi, Aludra?" tanya Zergan lemah.
"Itu bukan aku, Mas," jawab Aludra dengan suara bergetar.
"Aku berusaha untuk tidak mempercayai semua ini. Aku berusaha mencari bukti bahwa itu bukan kamu, Aludra. Tapi ini? Pantas saja sudah dua bulan belakangan kamu tidak mau aku sentuh karena tanda di tubuhmu itu, Aludra. Aku berpikir bahwa kamu tidak memiliki tanda itu. Tapi ini? Kamu mengkhianati semuanya, Aludra. Keluargaku, bahkan cintaku padamu, Aludra," ucap Zergan sendu.
"Percaya sama aku, Mas. Ini pasti fitnah. Ada orang yang sedang mencoba menghancurkan hubungan kita, Mas. Percaya sama aku," ucap Aludra lirih.
"Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana sekarang padamu, Aludra," ucap Zergan dan langsung keluar begitu saja dari ruang kerjanya.
Melihat Zergan yang pergi, Aludra langsung mengejar lelaki itu.
Rea yang melihat itu tersenyum menyeringai. "Rea dilawan."
............
......................
Satu kata untuk Rea dan Zergan adalah .......
Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
Kalian bisa follow Instagram aku @yus_kiz buat lihat visual dan segala perkataan indah yang berkaitan dengan novel ini 😉🤗
__ADS_1