Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setalah Salah Paham - BAB 49


__ADS_3

Jangan lupa like


Jangan lupa komen


Jangan lupa favorit


Jangan lupa kasih vote


Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗


🌹HAPPY READING🌹


Aludra mengangkat tangannya meminta Wira untuk menghentikan perkataanya. Wanita itu berdiri dari duduknya dan hendak pergi. Namun sebelum pergi, Aludra menatap sendu pada Wira.


"Aku memang tidak marah, Kak. Tapi sedikit kecewa hinggap disini," ucap Aludra dengan suara bergetar menunjuk dadanya yang terasa sesak. Bahkan ini sama sakitnya seperti Zergan memberikan kata-kata kasar kepadanya dulu.


"ALUDRA TUNGGU!" teriak Wira hendak mengejar Aludra. Namun terlambat, wanita itu sudah lebih dulu memasuki lift.


Wira menghela nafas pelan. Dia kembali keruangannya dan mengambil ponsel. Mencari sebentar kontak seseorang, Wira langsung menekan tombol panggilan.


"Kenapa?" tanya seseorang diseberang sana setelah mengangkat panggilan Wira.


"Gue udah kasih tahu Aludra," ucap Wira.


Terdengar helaan nafas dari sebrang sana. Ya, yang di telpon oleh Wira adalah Zergan. Bagaimanapun, Wira harus segera meminta Zergan pulang untuk bicara dengan Aludra. Jika tidak, takut Aludra akan berpikiran pendek dan pergi meninggalkan mereka semua.


"Lalu gimana?" tanya Zergan dari seberang sana.


"Cepat balik. Lo harus menjelaskan semuanya pada Aludra," ucap Wira tanpa menjawab pertanyaan Zergan. Dia tahu pasti Zergan akan paham dengan apa yang dia katakan.


Lagi dan lagi terdengar helaan nafas dari Zergan. "Gue udah duga ini. Tapi ini lebih baik daripada salah paham lagi. Gue udah di bandara. Tolong terus awasi Aludra, Wir," ucap Zergan pelan.


"Pasti. Lebih cepat lebih baik, Gan," ucap Wira.


Ditempatnya Zergan mengangguk. Segalanya sambungan telepon mereka terputus.


"Semoga tidak ada kata terlambat," gumam Wira dengan memandang jauh ke depan.


.....

__ADS_1


Di tempat lain, Zergan menghela nafas kembali. Terhitung sudah lima kali lelaki itu menghela nafas sejak dia menerima panggilan dari Wira.


Mama Ana yang duduk disebelah anaknya menatap Zergan Iba. "Apa semua baik-baik saja, Nak?" tanya Mama Ana lembut.


Zergan menggeleng. "Aludra marah, Ma," jawab Zergan memeluk Mama Ana dari samping.


"Wajar Aludra marah, Nak. Tugas kamu untuk membujuknya," ucap Mama Ana lembut.


"Tapi semua demi kebaikan kami, Ma. Demi rumah tangga kami," ucap Zergan.


"Mama setuju. Semua memang untuk rumah tangga kamu dan Aludra. Tapi apapun alasannya, tidak ada pembenaran untuk sebuah kebohongan, Nak," ucap Mama Ana menasehati Zergan.


"Aludra pasti akan kecewa. Sebagai wanita, Mama tahu bagaimana rasanya dibohongi, Nak. Apalagi oleh suami kita sendiri. Orang yang paling kita sayangi. Orang yang menjadi kepercayaan kita, ternyata dia yang memberi luka dan sakit dari kebohongan. Tanpa kamu sadar, sebenarnya korban disini adalah Aludra sendiri. Sudah tidak bersalah, harus menjadi umpan untuk kebohongan suaminya," lanjut Mama Ana.


Zergan terdiam mendengar penuturan Mama Ana. Zergan tidak menampik bahwa apa yang dikatakan oleh Mama Ana memang benar adanya.


"Zergan akan berusaha agar Aludra tidak marah terlalu lama, Ma," ucap Zergan.


Mama Ana mengangguk. "Jangan hanya redakan marahnya, Nak. Hilangkan juga kecewanya. Karena jika wanita sudah kecewa, maka hidupmu akan terasa hambar, Nak," jawab Mama Ana lembut.


Zergan mengangguk yakin. Aku akan lakukan apapun asal menerima maaf dari kamu, Sayang. Batin Zergan mengingat kesalahannya pada Aludra.


.....


Sopir yang mendengar perkataan Aludra menatap majikannya itu dari kaca spion.


"Kita ke taman sebentar," ucap Aludra memberitahu tujuannya pada Sopir.


Sopir mengangguk. Sebenarnya dia ingin sekali bertanya pada majikannya apa yang terjadi. Tapi dia tidak berhak untuk itu.


"Boleh saya bicara, Nyonya," ucap Pak Sopir.


"Iya Pak," jawab Aludra sambil mengusap air matanya.


"Percayalah, Nyonya. Bagaimanapun masalahnya, Tuan Zergan adalah orang yang berbeda ketika Nyonya masuk dalam kehidupannya," ucap Pak Sopir.


"Maksudnya, Pak?" tanya Aludra tak paham.


"Dulu, Tuan Zergan adalah orang yang tak tersentuh. Sangat kaku, pendiam dan tempramen, Nyonya. Tapi setelah menikah dengan Nyonya, tuan kehilangan sikap buruknya itu dan menjadi orang yang lebih baik sekarang," ucap Sopir tadi memberitahu Aludra.

__ADS_1


Aludra menatap bingung pada Pak sopir. "Saya tahu, karena saya sudah bersama keluarga Tuan sejak Tuan masih duduk di bangku sekolah, Nyonya," ucap Sopir memberitahu Aludra mengenai kebingungan wanita itu.


Aludra hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Rasanya sangat sulit sekali untuk bisa menerima semua ini. Sakit sekali rasanya dibohongi oleh orang yang sangat dia cintai.


"Apapun masalahnya, selesaikan dengan kepala dingin, Nyonya. Karena sesuatu yang dituntaskan dengan emosi, akan berujung penyesalan," ucap sopir itu lagi.


Aludra tersenyum dan mengangguk. "Terimakasih, Kap," ucap Aludra sopan yang dibalas anggukan kepala oleh pak sopir.


sepuluh menit, mobil Aludra sampai di taman kota. Disini, Aludra bisa mengurangi sedikit kesedihannya. Udara sejuk dan pemandangan indah mengenai bunga-bunga taman yang nampak bermekaran.


Aludra menghela nafas pelan. Matanya memandangi anak-anak seusia Zayn yang nampak bermain ayunan dan perosotan dengan begitu antusias. Tapi itu semua tidak serta Merta menghilangkan apa yang saat ini mengusik pikiran Aludra.


Saat akan teringat sesuatu, Aludra mengeluarkan ponsel dari saku tasnya. Dia kembali membuat galeri ponsel yang menampilkan gambar yang tadi dia dapat dari nomor yang tidak di kenal.


Hati Aludra sebenarnya sakit, tapi dia harus mengamati foto itu dengan seksama.


Sekitar sepuluh menit Aludra menatap layar ponselnya. "Ini editan," gumam Aludra setelah melihat dengan jelas.


"Aku memang sedang marah dengan suamiku. Tapi siapapun tidak bisa mempengaruhi pikiran kami untuk saling berpikiran buruk," ucap Aludra meremas kuat ponselnya.


Aludra menghela nafas pelan. Wanita itu menetralkan gemuruh di dadanya agar lebih tenang. "Kamu harus dihukum, Mas," ucap Aludra kesal mengingat Zergan.


.....


Setelah mengudara beberapa jam, Zergan sampai di bandara Soekarno-Hatta. Saat ini, dia dan Mama Ana sedang berada di mobil untuk menuju rumah kedua orang tua Zergan untuk mengantar Mama Ana terlebih dahulu.


"Mama yakin mau ke rumah itu? Ikut Zergan ke rumah saja, ya," ucap Zergan untuk kesekian kalinya membujuk Mama Ana.


Mama Ana menggeleng. "Nanti jika kamu sudah sampai rumah, ajak istri dan anak kamu. Mama ingin menyambut kedatangan kalian disana," ucap Mama Ana kekeuh dengan pendiriannya.


"Tapi bagaimana jika Aludra tidak mau?" tanya Zergan ragu akan jika Aludra ingin menuruti apa yang dia katakan mengingat kemarahan istrinya nanti.


"Menantu mama itu wanita dengan pikiran yang bukan anak kecil lagi. Berbeda dengan kamu."


"Huft, semoga saja Ma."


................


Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗

__ADS_1


Masih dalam suasana lebaran, aku ucapin selamat hari raya idul Fitri teman-teman. Semoga kita semua mendapatkan berkah dan kembali fitrah 😉😉. Minal aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir batin 🤗🙏


__ADS_2