
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗
🌹HAPPY READING🌹
Fatih mengangguk. "Wajar jika Zergan melakukan ini. Apa yang diperbuat Adam sungguh diluar kendali, Anwar. Sulit untuk memberi maaf atas apa yang dia lakukan," ucap Fatih tanpa mengalihkan pandangannya.
"Aku tidak menyangka. Hasil kerja kerasku dulu, kini hancur karena darah daging ku sendiri," ucap Fatih sendu.
Anwar hanya diam menatap iba pada tuannya itu. Sudah berpuluh tahun Anwar mengabdi menjadi orang kepercayaan Fatih, ini adalah patah hati yang paling dalam yang pernah dialami oleh Fatih. Dulu, saat kehilangan istrinya, Fatih tidak terlihat sehancur ini. Tapi kali ini, cahaya kehidupan seperti hilang dari diri Fatih.
"Aku sangat patah hati sekarang, Anwar. Ternyata begini rasanya. Patah hati terbesarku bukan saat dikhianati oleh istriku. Tapi saat kejar kerasku dihancurkan dengan sekejap oleh anakku sendiri," ucap Fatih dengan shalat bergetar. Dengan sekuat hati lelaki tua itu mengusahakan agar air matanya tak jauh membasahi pipinya.
"Perusahaan yang aku bangun dengan sepuluh jariku kini hancur karena kebejatan anakku. Andai aku tidak lengah pada Adam, semua tidak akan terjadi. Tidak aku sangka, anak yang dulu aku besarkan dengan penuh kasih menjadi lelaki yang tidak punya belas kasih," sambung Fatih mengeluarkan isi hatinya pada Anwar.
Anwar hanya diam. Lelaki itu hanya ingin mendengarkan apa yang disampaikan oleh Fatih. Karena sangat jarang sekali Fatih menyampaikan apa yang ada dihatinya, kecuali jika itu memang terasa sangat melukai baginya.
"Usia ternyata tidak membuat Adam sadar akan tindakannya," ucap Fatih menunduk.
"Ini semua sudah diatur oleh pemilik takdir, Tuan," ucap Anwar menatap Fatih sendu.
Fatih membalas tatapan Anwar. Dia tersenyum sedikit menatap wajah orang kepercayaannya itu. "Kau tahu jika aku paling tidak suka ditatap dengan tatapan iba, Anwar," ucap Fatih miris.
"Maaf Tuan," ucap Anwar tak enak dan segera menunduk.
Fatih nampak terkekeh pelan. "Tidak apa, Anwar. Aku rasa, sekarang aku memang layak mendapatkannya," ucap Fatih.
"Kau tahu Anwar, sesalahnya seorang anak, maka orang tuanya yang paling salah," ucap Fatih.
"Dan orang tua Adam Bailey bukan hanya anda saja, Tuan besar. Ada Nyonya besar. Meskipun sudah tiada, namun darah Nyonya besar mengalir deras dalam diri Adam Bailey, Tuan. Jadi jangan menyalahkan diri Tuan. Jangan mengklaim diri kita jahat, Tuan. Karena bisa jadi, dibalik itu semua kita diciptakan untuk memberikan contoh bagi manusia lainnya. Sama halnya dengan Tuan, jika tidak menjadi contoh untuk Adam Bailey, tapi Taun menjadi contoh bagi Zergan. Cucu anda benar-benar sangat mirip dengan anda dalam bertindak, Tua," ucap Anwar.
Fatih tersenyum kecil. "Terimakasih Anwar," jawab Fatih tulus.
__ADS_1
"Aku tidak takut kehilangan hartaku, Anwar. Tapi aku takut kehilangan sosok anak kandungku. Dan semua itu terjadi sekarang," ucap Fatih.
"Suatu saat akan ada penyesalan yang diterima sebagai balasan dari semua perbuatan Adam, Tuan," ucap Anwar.
Fatih mengangguk. Lelaki itu berdiri dari duduknya dan hendak pergi ke kamarnya sendiri.
"Tuan," panggil Anwar yang membuat Fatih membalikkan badannya.
"Zergan adalah duplikat Tuan. Dan saya percaya, dia tidak akan membiarkan Tuan hancur," ucap Anwar yang dibalas senyuman dan anggukkan oleh Fatih.
.....
Seperti apa yang dikatakan oleh Zergan, hari ini Rio datang ke perusahaan Zergan memenuhi panggilan lelaki itu lewat Wira.
Rio memasuki ruangan Zergan bersama dengan Wira di depannya.
Zergan yang mendebat pintu ruangannya terbuka mengangkat pandangan. "Kau sudah datang rupanya," ucap Zergan berdiri.
"Mari duduk," ucap Zergan mempersilahkan Rio untuk duduk dan diikuti dengan baik oleh lelaki itu. Begitu juga dengan Wira. Ketiga lelaki tampan itu kini duduk di sofa ruang kerja Zergan.
"Satu hal yang sangat langka diundang oleh Tuan Zergan untuk datang ke perusahaanya," ucap Rio.
"Jangan merendah untuk meninggi, Tuah Rio. Kau tentu tidak lupa bahwa kita tidak beda jauh," ucap Zergan.
"Kau mengundangmu bukan sebagai rekan bisnis, tapi sebagai teman. Jadi jangan terlalu formal begitu," ucap Zergan. Dalam dunia bisnis, Zergan dan Rio memang cukup dekat. Bahkan mereka menjalin kerjasama yang sudah cukup lama dan masih berlanjut sampai sekarang.
"Baiklah. Jadi ada apa kau mengundangku kesini?" tanya Rio.
Zergan dan Wira nampak saling pandang mendengar pertanyaan Rio.
"Ada apa?" tanya Rio semakin penasaran.
Zergan nampan mengangguk pada Wira. Wira mengeluarkan ponselnya dan mencari sebuah gambar.
"Kau tahu lelaki ini?" tanya Wira memperlihatkan foto yang kemarin dikirim oleh Zergan ke ponselnya.
Rio mengambil ponsel Wira. Lelaki itu memperbesar foto tersebut dan mempertajam pandanganya untuk melihat dengan jelas.
Rio menatap Wira dan Zergan secara bergantian. Setelahnya lelaki itu kembali menatap foto tersebut.
__ADS_1
"Ini asik iparku," jawab Rio mengembalikan ponsel Wira.
Zergan mengangguk. Wajahnya tetap tenang agar tak mudah terbawa emosi. Setelahnya Zergan berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil laptop.
Zergan kembali duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya. Setelah menghidupkan laptop, Zergan membuka sebuah video dan memperlihatkannya pada Rio.
Mata Rio membulat sempurna dengan apa yang dia lihat. Dengan seksama dia melihat dua orang yang sedang menyatu itu.
"Sudah," ucap Zergan segera menekan tombol silang untuk mengeluarkan video itu.
"Lama-lama melihat ini kau bisa terangsang. Kau ini duda, jadi aku takut kau tidak ada pelampiasan untuk menuntaskannya," ucap Zergan yang dibalas tatapan kesal oleh Rio.
"Bukankah itu Aludra dan,,,"
"Dan adik iparmu?" tanya Zergan cepat.
"Dia bukan Aludra," tambah Zergan.
"Video ini jebakan untuk memfitnah istriku dengan tujuan menghancurkan rumah tangga kami. Dan seperti yang kau lihat, lelaki di video ini sudah sangat jelas adalah adik iparmu, Rio," ucap Zergan.
Rio nampak terdiam dengan wajah yang ketara dengan pikiran-pikirannya. Lelaki itu memang sedikit terkejut tadi, tapi setelahnya Rio dapat mengembalikan lagu ketenangan dalam dirinya.
"Kau tidak terkejut atau marah?" tanya Wira yang melihat Rio cukup santai.
Rio hanya diam. Bukanya menjawab pertanyaan Wira, Rio beralih menatap Zergan. "Kapan kejadiannya?" tanya Zergan
"Tiga bulan yang lalu," jawab Zergan.
Tiga bulan yang lalu? Batin Rio menerka-nerka.
"Ada apa? Apa ada sesuatu? Atau kau memang terlibat?" tanya Zergan beruntun.
Rio berdiri dari duduknya.
"Kau akan kemana?" tanya Zergan sedikit emosi.
"Ikut aku."
......................
__ADS_1
Dukung novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yang lainnya. Tentunya ada info Alu dan Zergan jugaa. Terimakasih 🤗😉