Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - BAB 77


__ADS_3

Jangan lupa like


Jangan lupa komen


Jangan lupa favorit


Jangan lupa kasih vote


Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗


🌹HAPPY READING🌹


"Bangun," ucap Adam mengguncang tubuh Rea.


Tanpa sulit, Rea terbangun dari tidurnya. Wanita itu menguap dan memperjelas penglihatannya. Matanya melebar dan berbinar menatap Adam. "Mas Adam."


PLAK.


Satu tamparan dari Adam mendarat begitu saja di pipi mulus Rea. Pipi yang semula putih ini kini memerah karena tamparan Adam.


Rea memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan Adam. "Kenap-"


PLAK.


Belum selesai Rea menuntaskan apa yang akan dia tanyakan, tangan Adam kembali melayangkan tamparan di pipi Rea bagian lainnya.


Kedua tangan Rea kini menagkup kedua pipinya yang terasa sangat perih. "Kenapa?" tanya Rea dengan mata yang berkaca-kaca menatap Adam.


"Sudah berapa lelaki yang tidur denganmu?" tanya Adam menatap tajam Rea. Sama sekali tidak ada penyesalan dari lelaki itu atas tamparan yang sudah dia berikan kepada Rea.


"Tentu hanya denganmu, Adam," jawab Rea menatap Adam lembut dengan mata berairnya. Air mata yang mengalir di pipi Rea menambah rasa sakit di pipi itu hingga membuatnya meringis.


"Benarkah? Lalu bagaimana dengan Dewa yang memasuki lubang mu itu?" tanya Adam menatap sinis Rea dari atas sampai bawah.

__ADS_1


DEG


Jantung Rea berdetak cepat mendengar perkataan Adam. Darimana Adam tahu mengenai semua ini? Bagiamana Adam tahu mengenai dirinya dan Dewa dalam video itu? Sungguh, saat ini Rea akan pasrah atas apa yang akan terjadi.


"Maaf Adam. Aku melakukan itu agar rencana kita terus berjalan," ucap Rea menunduk. Sungguh, dia takut melihat Adam yang seperti ini. Adam yang menatapnya penuh amarah. Tidak pernah Adam menatap Rea seperti ini. Biasanya Adam akan selalu menatap Rea penuh kasih sayang, cinta, dan tentunya nafsu.


"Kau bisa menanyakannya dulu padaku, Rea!" bentak Adam menatap Rea.


"Jika bertanya padamu, maka itu bisa membuat rencana kita berjalan semakin lama. Sedangkan saat itu, posisinya aku hanya ingin semuanya cepat diselesaikan," ucap Rea menunduk mencoba menjelaskan maksud dibalik semua yang dia lakukan.


"Maaf jika saat itu aku tidak memberitahumu. Tapi percayalah, tidak ada rasa apapun dari hatiku untuk Dewa. Semua itu benar-benar hanya untuk rencana yang sudah kita siapkan, Adam," sambung Rea menjelaskan semuanya.


"Kau membuktikan bahwa kau memang benar-benar ******, Rea!" ucap Adam yang membuat Rea langsung mengangkat kepalanya.


Rea menatap sendu lelaki paruh baya itu. Hati Rea sakit mendengar apa yang dikatakan oleh Adam. Namun dia bisa apa, dia memang hanya seorang ****** yang dipungut Adam dari panti asuhan.


"Aku memang sudah ****** sejak lama, Adam. Bahkan sejak usia enam belas tahun, seseorang sudah merebut kehormatan ku. Dan tentunya kamu tahu siapa orang yang sudah merenggutnya, bukan?" ucap Rea.


"Dan kau dengan suka rela memberikannya padaku, Rea. Apa yang kita lakukan atas dasar suka sama suka," ucap Adam menjawab perkataan Rea dengan menatap tajam pada wanita itu.


Rea juga paham sekarang, apa yang dia lakukan dimasa lalu sudah tidak bisa dia kembalikan. Semua sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur. Lebih baik dia memakan bubur itu daripada kelaparan karena tidak mendapat apapun sama sekali. Dalam hati kecilnya, Rea sudah memberikan hatinya kepada Adam, lelaki yang selalu menjadi pelindung dan penolong dalam hidupnya.


"Aku minta maaf, Adam," ucap Rea tulus menatap lembut pada Adam.


Adam hanya diam. Tangannya masih mengepal menahan luapan emosi yang sejak tadi dia tahan.


Rea tersenyum kecut. Tapi sedetik kemudian dia kembali tersenyum. "Aku sudah masak makanan kesukaanmu. Kau pasti laparkan? Ayo kita makan," ucap Rea.


Adam masih tetap diam. Dengan sedikit keberaniannya, Rea memegang tangan Adam dan menarik lembut lelaki itu menuju meja makan.


Adam mengedarkan pandangannya menyapu meja makan yang penuh dengan berbagai jenis makanan. Lalu matanya menangkap satu makanan yang merupakan makanan kesukaanya, yaitu Rendang.


Adam tahu jika Rea memang pandai dalam memasak. Tapi Adam juga tahu bahwa Rea tidak bisa memasak rendang. Apa lagi ini bukan Indonesia, pasti dia akan sangat sulit untuk mendapatkan rempah untuk membuat makanan itu. Adam ingin menghargai apa yang Rea buat, tapi kemarahannya pada Rea masih di ubun-ubun hingga membuat seleranya hilang.

__ADS_1


Adam melepaskan tangan Rea pada pergelangan tangannya dengan kasar.


PRANG!!


"AAAAAA!!!" jerit Rea menutupi kedua telinga dengan telapak tangannya ketika melihat semua yang ada di meja makan berhamburan ke lantai dalam sekejap mata.


Rea memandangi Adam yang pergi begitu saja menaiki tangga dengan air mata yang semakin membasahi pipinya.


Sungguh, tidak pernah Adam bersikap sekasar ini kepadanya. Dengan penuh emosi Adam membuat meja makan kayu itu terbalik begitu saja dengan sekali tendangan dari kakinya. Kakinya menendang, namun pandangan marah tetap dia layangkan pada Rea.


Dengan sesegukan Rea berjongkok membersihkan makanan yang berserakan dimana-mana, serta pecahan beling yang setiap saat bisa saja melukai telapak kakinya jika Rea melangkah. Tangan yang bergetar itu mulai membersihkan lantai yang sudah kotor.


"Tidak apa, Rea. Mungkin memang seperti ini jalannya. Ini resiko karena berani bermain dibelakang Adam," gumam Rea menyemangati dirinya sendiri. Sekarang Rea paham, cinta memang sangat sakit dan butuh perjuangan. Pantas saja Zergan dan Aludra saling memperjuangkan satu sama lain. Karena jika mudah melapaskan, maka akan sia-sia semua yang sudah mereka korbankan.


.....


Aludra menatap tak percaya berita yang kini tayang di televisi nasional itu. Matanya melirik kesebelah dimana Mama Ana ikut menonton dengan tenangnya.


"Ma," ucap Aludra menggenggam lembut tangan Ana.


Mama Ana menoleh dan tersenyum. "Mama baik-baik saja, Nak," jawab Mama Ana.


Setalah itu dia kembali melihat berita tersebut. "Biasanya saat dalam keadaan genting atau mendesak, Ayah mertuamu akan memeluk Mama. Tapi sekarang dia menemukan pelukan ternyamanya. Jadi Mama tidak begitu khawatir," ucap Mama Ana tersenyum.


Justru dengan Mama berkata seperti itu membuat kami semakin khawatir, Ma. Rasanya lebih baik Mama menangis karena semua ini dari pada tersenyum untuk menunda sakit yang akan sekarat itu. Batin Aludra sendu.


"Zergan benar-benar memberi balasan atas apa yang dilakukan oleh Ayahnya sendiri," lanjut Mama Anak.


"Mas Zergan?" tanya Aludra.


Mama Ana mengangguk. "Karena hanya Zergan yang bisa melakukan semua ini, Nak."


................

__ADS_1


Dukung novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗


Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yang lainnya. Tentunya ada info Alu dan Zergan jugaa. Terimakasih 🤗😉


__ADS_2